Samara membuka pintu rumahnya dengan hati-hati. Dia mengedarkan pandangannya mencari siapa saja yang ada dirumah nyamannya itu. Semuanya tidak berubah, meskipun saat ini ibunya meninggalkan Samara demi karirnya, lalu ayahnya menikah lagi dengan wanita lain yang sampai hari ini Samara panggil Mama.
"Kak Rara pulang?", Suara Pria kecil menyapa Samara seperti biasa.
"Iya kenzie!", Samara mensejajarkan dirinya dengan Kenzie adiknya yang baru berusia lima tahun.
"Kamu dianter siapa?".
"Taksi online Mah".
"Ada ya taksi online pake mobil Eropa", goda Mama Sania pada Samara.
"Adalah tuh buktinya, Ongkosnya mahal banget pasti itu", tambah Papa Arya menggoda putrinya.
"Apaan sih!", Ketus Samara. Lalu di tanggapi kekehan kedua orang tuanya.
"Kakak belanja ya, aku di beliin nggak kak?", Tanya Kenzie antusias.
Samara menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Yah karena biasanya Samara akan membelikan adik dan orang tuanya sesuatu saat dia belanja seperti ini.
"Kak, jangan-jangan kamu di belanjaain sama driver online itu, waw!", Mama Sania menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa sih mah, ihhh, Ken next time Kak Rara beliin ya, tadi kakak lupa", Samara mencium pucuk kepala Kenzie lalu berlari menuju kamarnya.
Ceklek
Samara menutup pintu kamarnya lalu dia melihat paper bag yang dia dapet dari Edwin. Samara membuka dua paper bag dengan ukuran kecil dan Logo toko yang Samara kenali, "waw Jam yang tadi", antusias Samara melihat jam yang memang di sukai dan ingin dia beli tapi urung karena jengah dengan sikap Edwin yang sok tau dan banyak komen.
"Jangan bilang ini cincin yang gue tadi coba", Samara membuka paper bag selanjutnya, dan dia melonjak antusias.
Lalu Samara membuka paper bag lain, dan dia dapatkan barang-barang yang memang ingin dia beli namun dia urungkan tadi.
Ting
"Sayang, lagi apa?", Pop up ponsel Samara menunjukkan pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun sudah di hafal oleh Samara, siapa lagi kalau bukan dari Edwin Malik Lewis.
Ting
"Sayang bales donk"
"Sayang aku V-Call ya!".
"Sayangggggggggg".
Samara membaca pesan yang masuk kedalam ponselnya, seperti biasa pesan itu selalu membuat Samara merasa melambung ke angkasa melewati jagat raya kemudian berakhir di wastafel untuk memuntahkan isinya. Ya Samara merasa mual dengan pesan receh yang sering di kirimkan oleh Edwin.
"Apaan?", Ketik Samara karena malas jika benar Edwin akan melakukan panggilan video.
"Lagi apa?".
"Kepo".
"Sayang".
"Udah adzan Gue mau sholat, Lo sholat aja sana".
Balasan terakhir adalah emoticon tersenyum dari Edwin.
Samara menutup harinya dengan menunaikan ibadah sholat Maghrib berjamaah dengan keluarganya. Hal yang pasti dilakukan keluarga itu setiap hari. Samara mencium punggung tangan papanya lalu beralih mencium tangan ibu tirinya, lalu dia bisikan " thanks ya mah, udah mau jadi mama aku selama ini", selalu seperti itu, karena Samara merasa beruntung dengan kehadiran ibu sambungnya itu saat dia kehilangan sosok ibu kandungnya.
Mama Sania mencium kening gadis itu lalu ikut berbisik, "makasih udah jadi anak yang baik buat mama sama papa".
Mereka melanjutkan kegiatan mereka dengan makan bersama, keluarga Samara memang keluarga yang hangat, mereka saling mencintai.
"Kak, jujur ke papa, tadi yang nganter kamu siapa?", Tanya papa Arya hati-hati.
Uhuk
Sania memberikan air minum kepada Samara, "pelan-pelan kakak, papah udah deh introgasinya!". Sania menepuk punggung Samara.
Papa Arya menggaruk kepalanya karena mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Lanjut maemnya kak", perintah Sania yang diangguki putrinya itu.
"Kalau tadi jalan-jalannya asyik nggak kak?", Tanya papa Arya lagi.
"Papah!, Udah !", Mama Sania memberi peringatan pada suaminya.
"Iya mah, iya. Ya ampun galak banget, baru PMS apa ya!", Cibir papa Arya.
"Salah sendiri anaknya lagi makan ditanya-tanya nggak penting", jawab Bu Sania telak.
"Tau ih papah, nyebelin!", Samara ikut mengomentari ayah kandungnya itu.
"Dasar kalian ya, para cewek nggak asyik, kaya Kenzie donk best friend papah selamanya ya boy?", Papa Arya membuat tos dengan putra kecilnya.
Usai menjalankan sholat isya, Samara dan ibunya duduk diruang keluarga untuk menyaksikan acara komedi favorit mereka, sedangkan ayah dan adiknya masih berada di masjid.
"Mah", panggil samara sambil mendekatkan dirinya kepada ibunya.
"Hem", jawab Mama Sania.
"Kakak mau cerita mah, hehehe".
"Masalah driver online?", Jawab Sania antusias. Dan dibalas dengan anggukan kecil Samara.
"Jadi yang tadi itu namanya Edwin mah, dia anak bos kakak mah". jelas Samara kepada mamanya.
"Serius mah, dia bukan pacar kakak. Tapi memang yaaaaaa dia ngejar - ngejar kakak", tambahnya lagi.
"Tapi kakak suka nggak?", Tanya mama Sania sambil melihat ekspresi wajah putrinya. "Mama bisa tebak sih, kakak nggak suka". Lanjut mama Sania.
"Lha gimana kakak mau suka juga Mah, dia itu Playboy tau mah, ceweknya berderet, lebih lagi dia itu tipe orang yang ngandelin harta bokapnya doank gitu mah, pokoknya bukan kakak banget lah".
"Tapi kok kakak mau jalan sama dia?".
"Ceritanya nggak gitu mah, mamah Taukan kalau akhir bulan kaya gini kakak pasti me time gitu. Nah kakak udah ngelist kegiatan kakak dari pagi sampe sore ya mah, ehh tiba-tiba dia Dateng tau mah". Cerita Samara dengan nada kesalnya.
"Terus".
"Dia itu udah nongol aja di TDL kakak yang pertama, terus kakak inisiatif ganti daftar kegiatan kakak kan mah, yaitu facial dan spa, yang seharusnya di akhir kegiatan, kakak majuin jadi kegiatan kedua, niatnya sih biar dia bosen nunggu gitu mah jadi nggak ganggu kakak, ehhhh ternyata klinik yang kakak datengin malah klinik mamanya dia tau mah, ya dia enjoy aja gitu nunggu kakak, apa lagi dia ngenalin kakak sebagi pacar dia mah eh ralat calon istri tau mah, OMG bener nggak tuh".
"Terus pas keluar klinik, tiba-tiba dia sama keluarganya ada diparkiran nungguin kakak, nah mau nggak mau kakak ikut mobil dia lah, secara ada mamanya dia, istri bos kakak kan mah", lanjut gadis itu lagi.
"Bentar keluarganya nunggu kakak?", Tanya Sania bingung.
""Iya, mama dia pemilik klinik itu sekaligus dokter, kakak dia dokter juga di sana, sama adik cewek dia, terus ada baby boy kecil anak kakaknya yang dokter itu".
"Ohhh gitu, terus belanjaan yang tadi kakak bawa dia yang belanjaIn?". Tanya mama Sania antusias.
"Maafin kakak ya mah", Samara tertawa kecil, "jadi critanya, kakak kan mau belanja nih mah, ya jam tangan, ya cincin, ya baju pokoknya sesuai TDL kakak lah, tapi pas di TKP pas kakak lagi milih-milih dia itu komen Mulu mah, kakak kan jadi sebel jadinya kalau kakak udah suka sama satu barang nih ya, kakak urungin aja, kakak males tau mah denger dia nerocos aja, eh tapi tiba-tiba dia ngasih kakak barang itu mah, tapi suwer terkewer kewer mah, kakak nggak minta beneran". Samara menunjukkan tangannya hingga membentuk huruf V.
"Kalau kakak yang minta udah mamah jewer kamu kak, berhubung dia yang ngasih yaudah sih diterima aja, namanya juga rejeki, tajir gini orangnya, paling belanjaan segitu bagi dia upil donk". Komentar mama Sania santai.
"Tapi entar kakak utang Budi mah".
"Ya udah kakak kasih dia barang juga gitu yang dia pengen atau apa kek yang dia suka".
"Gitu ya mah?".
"Iya", mama Sania mengusap lembut rambut Samara, anak yang dulu meminta dia untuk menjadi mamanya.
"Hayo pada ngobrolin apa?", Papa Arya memeluk dua wanita yang sedang duduk santai di sofa mereka.
"Kepo!", Jawab Samara cepat, " Mau tau aja!", Timpal mama Sania. Merekapun meninggalkan sofa itu, lalu berlari ke kamar mereka masing-masing. Sebelumnya mama Sania menggendong Kenzie yang hampir terlelap.
"Pada jahat banget sama papa, kenapa sih?", Umpat papa Arya kesal. Tapi jauh dilubuk hati terdalamnya, laki-laki itu sangat bersyukur karena Samara mendapatkan ibu sambung sebaik dan setulus istrinya saat ini, yaitu Sania.