Two

1430 Words
"sayang, t shirt yang warna navy ini bagus nggak buat aku?". "Hem". "Sayang beneran bagus nggak, apa yang hitam ini aja!". "Navy". "Ok aku ambil yang navy sayang!", Edwin mengambil tujuh potong t shirt berwarna Navy kedalam bag belanjanya. "Sayang baju itu cantik di kamu", Edwin memasang senyum manisnya saat mengucapkan itu. "Ah nggak jadi", Samara mengembalikan baju yang baru dia paskan di badannya. "Kok nggak jadi sayang!", Tanya Edwin heran. "Elo nggak asik, kebanyakan ngomong, sumpah!", Samara berjalan malas. "Mbak bungkus yang ini, langsung ke kasir aja ya!". Perintah Edwin pelan pada pramuniaga saat Samara berjalan agak jauh. Selalu seperti itu, saat Edwin melihat samara memilih barang namun di urungkan. "Hancur rencana gue hari ini, hancur sehancur-hancurnya", samara memajukan mulutnya karena sebal. "Sayang tunggu!", Panggil Edwin sambil berlari kecil. Samara melihat Edwin dengan tatapan malas, lalu dia melihat bag belanja yang laki-laki itu bawa, "siniin bag Lo", perintahnya. Edwin langsung saja memberikan bag itu kepada Samara, "Lo gila, beli t shirt warna dan ukuran sama tujuh biji!", Kata Samara ketus. Edwin hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya, "habis kata kamu bagus, aku ambil tujuh biar tiap hari bisa pake pilihan kamu". "Sini Lo", Samara menarik lengan laki-laki itu mengajaknya ke stand pakaian pria, lalu memilih beberapa T shirt untuk Edwin. Dia beberapa kali mematutkan kaos pilihannya pada Edwin. " Tuh ambil yang itu aja, masa tiap hari mau pakai yang kaya gitu, udah sana bayar, gue tungguin, gue mau pulang", Samara masih memajukan bibirnya kesal. "Makasih sayang, makin cinta deh!", Edwin tersenyum lebar, lalu berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan miliknya. Sedangkan Samara hanya menunduk dan meratapi weekend nya yang sangat buruk, "Pengen nangis gue, hiks". Samara mengambil kertas yang berisi daftar kegiatannya hari ini dan bolpoin yang sudah tersemat disana. Weekend TDL 1. Deposito Koperasi ✓ 2. Beli jam tangan× 3. Beli cincin× 4. Nonton × 5. Lux lunch 6. Shoping time× 7. Spa facial manja✓ 8. Go home "Beli jam tangan dan cincin gagal, gara-gara dia kebanyakan komen", samara memberi tanda silang pada poin nomor 2 dan 3. "Nonton nggak habis gara-gara filemnya diluar expektasi". Gadis itu memberi tanda silang pada poin nomor 4. "Shoping udah bad mood, ya apalagi kalau nggak gara-gara itu anak bos sableng", poin ke 6 di silang pula. "Lunch nggak ya?, kok gue udah males, makan dirumah papa aja, sekarang pulang". Samara membuang catatannya di tong sampah. "Sayang udah nih, capek belum, kita cari tempat makan yuk, udah laper kan!", Edwin membawa beberapa paper bag di tangannya. "Perasaan tadi t shirt doang, kok paper bagnya banyak!". Tanya Samara heran. "Oh, ini sekalian beli buat orang tersayang yang spesial!", Jawab Edwin singkat. Dan Samara hanya ber Oh ria. Mereka menuju basemen mall itu lalu segera memasuki mobil milik edwin. "Mau makan dimana?", Tanya Edwin lagi. "Aku mau pulang!". "Maksudnya mau makan di rumah sayang, kamu mau masakin aku?". "Aku mau pulang mau tidur, nggak makan apalagi masakin kamu, big no!", Jawab Samara kesal. "Emang nggak laper sayang?". "Enggak!". "Tapi aku laper, temenin dulu ya, ini udah sore lho, kita harus makan". Rayu Edwin. "Serah Lo!". "Kamu ada mau makan apa gitu?". "Nggak ada dan terserah elo, gue nggak perduli". Samara memakai sabuk pengaman. "Oke terserah aku ya!". Tanya Edwin sekali lagi. Samara menutup matanya lalu menyandarkan dirinya malas. Sedangkan Edwin dengan senyum mengembang dia mengemudikan mobilnya. Sun set Caffe Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Edwin memarkirkan mobilnya. "Sayang, hei Samara sayang wake up sayang!", Edwin menggoyangkan pundak Samara lembut. "Emmm, dimana ini?", Tanya Samara serak khas bangun tidur. "Sun set Caffe sayang, ayo lunch yang tertunda dulu". Edwin membukakan pintu untuk Samara. "Dimana ini?". Tanya Samars heran. "Let's go". Edwin menarik Samara cepat. Kali ini mereka mengunjungi Sun set Caffe yang berada dipinggir kota dengan pemandangan yang menghadap ke danau di sebelah baratnya. Edwin memilih meja yang langsung menghadap ke arah matahari tenggelam. Semburat jingga sore ini memang membuat Samara takjub dan speechless kagum. "Suka?", Bisik Edwin saat melihat Samara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya. Gadis itupun hanya mengangguk lalu mendudukkan dirinya di sofa yang telah dipesan Edwin. "Sayang makan dulu, kita belum makan siang lho tadi", Edwin menggerakkan tangan samara yang masih mengagumi keindahan langit sore ini. "Ok, kapan Lo pesennya?", Samara melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja mereka. "Tadi pas kita masuk, suka kan sirloin steak dan redvelvet Thai tea?". Edwin menaikkan alisnya beberapa kali untuk menggoda gadisnya. "Hem", jawab Samara singkat lalu dia masukkan potongan dagingnya kedalam mulut. Matanya pun kembali menikmati langit senja yang sangat cantik sore itu. "Sayang banget gue nggak bawa kamera!", Gumam Samara namun terdengar oleh Edwin. "Nihhh aku bawa, habisin makannya dulu, ntar kita abadikan sun setnya!". Perintah Edwin yang mendapat anggukan dari samara. Merekapun menyelesaikan kegiatan makannya, lalu mereka mengabadikan matahari yang akan kembali di peraduannya dengan kamera DSLR yang Edwin bawa. Edwin melihat senyum yang mengembang di bibir Samara, wajahnya sangat ayu dan tenang disana beberapa kali Samara membidikkan kameranya ke arah barat, lalu dia melihat kedalam kamera sekilas dan selalu keluar kata "waw" dari mulutnya. "Kalau lagi judes aja cantik apalagi kaya gini", gumam Edwin pelan. Ditempat lain. "Pah, papah kenal Samara nggak?". "Samara Nadine Narendra maksud mamah?". "Ehh, nggak tau, pokoknya yang karyawan papah". "Ohh iya, papah kenal lah, dia manajer operasional yang baru, gimana?". "Dia pacar Edwin ya pah?". Uhuk, pak Lewis tersedak mendangar pertanyaan dari istrinya. "Pantesan, Edwin itu ngotot banget pingin belajar manajerial sama Samara". "Jadi beneran pah?, Mama seneng banget tau pah, Samara itu cantik, sopan , elegan dan berkelas, mama suka". "Mah, tapi masa iya sih Samara mau sama Edwin, mama tau sendiri kan, anak kita playboy, dan lagi Samara itu anaknya workingholic dan kaya cool gitu mah, masa mau sama Edwin yang pecicilan". "Ihh papah nggak tau sih, tadi itu Edwin nganter Samara treatment di klinik mamah tau nggak pah, nggak cuma itu, dia nungguin lho pah, sampai dia ketiduran tau nggak, dan satu lagi tadi Edwin ngenalin Samara sebagai calon istri pah". "Samara ngerespon gimana?", Pak Lewis terlihat penasaran. "Yaaa, Samara sih kaya ngelak gitu, tapi kata Edwin dia cuma malu". "Aduh papah jadi penasaran banget mah", Pak Lewis dan ibu Farah tersenyum lebar membayangkan putra mereka. Di dalam mobil Edwin. "Tau nggak, itu tadi sinar mataharinya mantul langsung sama air danau jadi keren banget tau Ed, gue suka", samara masih melihat hasil jepretan miliknya dari kamera Edwin. "Iya", Edwin tersenyum melihat Samara yang masih saja mengagumi tempat yang sudah mereka tinggalkan. "Ehhh, kok udah sampai sini, mobil gue masih di tempat yang tadi pagi". Protes Samara karena baru menyadari mobil yang dia tumpangi mengarah ke rumahnya. "Aku Anter langsung kerumah kamu aja ya sayang, hari Senin aku jemput pas mau kerja". "Modus banget sih Lo". Cibir Samara. Dan jangan tanya, Edwin tersenyum lebar mengiyakan cibiran Samara itu. "Bisa aja sih sayangggggg". Tak lama mobil Edwin sudah terparkir di halaman rumah orang tua Samara. "Ngapain Lo?", tanya Samara saat Edwin membuka pintunya untuk keluar dari mobil. "Mau bukain kamu pintu, terus mampir ketemu camer". Jawab Edwin tanpa dosa. "Ehhhh, nggak usah kali Ed, gue marah nih kalau elo ikut keluar!", Gertak Samara. "Tapi sayang", Edwin menunjukkan muka melasnya. "Nggak ada tapi-tapian, kalau elo tetep keluar, gue bakal keluar dari kantor papa Lo, gue bakal pergi jauh yang elo nggak akan tau gue dimana", ancam Samara Serius. "Aku bisa cari kamu meski keujung dunia". Jawab Edwin yang semakin membuat samara emosi. Samara diam sejenak, karena memang manusia disampingnya itu tidak pernah bisa ditolak. Akhirnya dia menunduk dan berusaha menitikan air mata, Samara berusaha menampilkan wajah sedihnya. "Sayang, ayo turun!", Edwin melihat Samara dengan tatapan bingung. Lalu Samara menghadapkan wajahnya pada Edwin, " please Lo jangan turun Ed". "Eh iya aku nggak turun kok sayang, tapi jangan nangis gini ya, udah aku nggak turun kok kalau kamu belum siap". Edwin menghapus air mata yang ada di pipi Samara. "Yey berhasil", sorak samara dalam hati. Memang air mata bisa jadi senjata sih, kaya di sinetron. "Udah sana turun, oiya nih buat kamu", Samara mengernyitkan alisnya melihat beberapa paper bag yang diserahkan Edwin untuk dia. "Katanya buat orang tersa,,,,, Oh ya I know", Samara mengambil paper bag itu meski dengan berat hati, karena menolak pun rasanya percuma, karena laki-laki disampingnya itu tidak pernah menerima penolakan, except bila air mata Samara ikut berperan. "Iya karena kamu orang spesial tersayang aku sayang, gemes pingin cium tapi takut di gablok" Edwin berkata lembut lalu terdengar manja di akhir kalimatnya. "Awas aja Lo, gue terima paper bag ini aja Lo harusnya bilang Alhamdulillah". omel samara sambil turun dari mobil mewah itu. *02-06-2021*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD