Seperti biasa Samara memulai paginya dengan menjalankan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim, yaitu beribadah sholat Subuh. Kemudian memulai rutinitasnya didapur, samara menyiapkan sarapan paginya berupa nasi goreng pedas dan untuk makan siangnya dia akan membuat spicy tuna sandwich. Oh tunggu hari ini sepertinya dia akan free dari tugas membuat makan siang untuk Edwin. Senyumnya mengembang membayangkan itu.
"Aghhhhhak". Samara bersendawa lalu menutup mulutnya dan tertawa setelahnya.
***
Samara menyempurnakan penampilannya hari ini dengan menyapukan lipstik berwarna Terakota yang memberikan kesan elegan pada wajah cantiknya. "Perfect". Ucapnya lalu meninggalkan apartemen miliknya dan menuju basemen untuk mengambil mobil sport kesayangannya.
Samara mengetuk kemudinya mengikuti alunan lagu yang terdengar melalu audio mobil itu. Mulutnya sesekali mengikuti lirik yang dia hafal. Hingga tak terasa dia telah sampai di gedung kantornya. Langsung saja samara memposisikan mobilnya pada parkiran khusus level manajer dan direktur disana.
Langkah kaki samara selalu yakin dan penuh percaya diri disana. Wajahnya lurus memandang kedepan dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Semua karyawan di gedung itu menyapa Samara seperti biasa, dan samara pun membalas sapaan itu dengan ramah. Hingga akhirnya dia sampai di ruangannya, ruangan yang seolah menjadi penyelamat hidupnya.
Usai menutup pintu kaca itu, Samara menghela nafasnya panjang, lalu menunduk dan merasakan sesuatu yang berbeda. Tentu saja karena tidak ada si pengusik hari tenangnya, gadis itu merindukan kehadiran Edwin di pagi harinya. "Focus Samara", gumamnya, lalu memulai menyalakan laptop dan menyiapkan peralatan kerjanya. Dia berhenti sejenak, kembali memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. "Oh, kok gue inget tu kampret satu sih, huh, no Samara, dia cuma bad boy yang suka PHP iyuhhhh". Gumamnya lagi.
"Lo nggak boleh luluh sama tu kampret Samara, playboy sok kecakepan yang sukanya mainin perasaan cewek, inget Ra". Samara berkata pada dirinya sendiri.
"Tapi gimana donk, dia itu first love elo Samara!". Seolah sosok lain dari gadis itu mengingatkan kembali masa lalunya.
Flashback
Samara tersenyum melihat Edwin yang datang ke kelasnya membawa redvelvet Thai tea kesukaan gadis itu, sedangkan Edwin sudah menyesap minuman greentea Thai tea hingga menyisakan separuh gelas saja.
Hati samara sangat hangat mendapat perhatian yang manis dari kakak seniornya itu. Mungkin banyak siswa lain yang memberi perhatian pada Samara saat itu, namun hatinya sudah terpaut padi Edwin. Yang sudah perhatian padanya saat samara masih dengan penampilan terburuknya. Itulah yang membuat Samara mengagumi Edwin. Dan rupanya rasa kagum itu telah bermetamorfosis menjadi perasaan cinta.
Namun dunianya luruh saat tanpa sengaja Samara mendengar dari mulut laki-laki itu bahwa kedekatannya dengan Edwin hanya karena laki-laki itu kasihan padanya. Kemudian tak lama dia melihat Edwin sangat dekat dengan siswi lain di kelas senior.
Kebencian Samara semakin menjadi pada Edwin saat mereka bertemu kembali ketika Samara menjadi mahasiswa baru dimana Edwin juga berkuliah disana. Edwin kembali mengambil hati Samara dan seolah-olah memberi harapan pada gadis itu, namun saat Samara mulai baper, Edwin justru meninggalkan Samara tanpa kabar.
Flashback Off.
*
*
*
"Wake up Samara, dia cuma tukang bikin orang baper doang!". Batin Samara yang kali ini bicara. Dia menggeleng beberapa kali lalu mulai fokus pada laptopnya.
Kring kring
Samara mengambil gagang telvon di samping kirinya tanpa melihat benda itu.
"Ya".
"Ok after lunch ya!".
"Thanks".
Samara memiliki janji untuk meeting di kantornya dengan devisi pemasaran, untuk mendiskusikan masalah launching produk yang akan di laksanakan Minggu depan. Hal itu akan menjadi pekerjaan yang cukup menyita waktu untuk devisi dimana Samara menjadi manager, karena devisi operasional harus menyediakan tempat dan konsep yang menarik untuk kegiatan itu.
Samara masih fokus dilaptopnya untuk memeriksa konsep launching yang akan dia jelaskan kepada anggota meeting nya hari ini. Sampai sebuah ketukan mengagetkannya.
Tok tok
Tanpa dipersilahkan masuk oleh Samara, seorang laki-laki dengan stelan jaket kulit dan celana jeans telah masuk di ruangan khusus manager operasional itu. Siapa lagi kalau bukan Edwin. Samara memutar bola matanya malas saat itu. Namun tanpa dia sadari ada rasa senang di hatinya menyaksikan laki-laki itu ada didepannya lagi.
"Sayang, makan siang aku, aku makan sekarang ya, laper banget aku", Edwin menampilkan deretan gigi putihnya kepada Samara.
"Hah", Samara diam sejenak. "Gue cuma bawa satu porsi Ed, gue kira elo nggak datang hari ini!". Samara menatap Edwin sambil menopang dagunya dengan tangan kanan nya.
"Lah kok gitu?". Protes Edwin lalu menghampiri sofa Samara, dan mengambil paper bag yang biasa Samara gunakan untuk membawa bekal.
"Ok , aku makan yan, aku laper banget, ntar aku pesenin makan siang deh!". Tawar Edwin sambil membuka kotak makan berwarna kuning milik Samara.
"Ya ya ya, terserah elo, asal inget ganti aja deh Lo Ed!". Kesal Samara.
"Emmm sandwich, I like it". Edwin mengusap tangannya menggunakan hand sanitizer, tanpa melepaskan pandangannya pada makanan di depannya
Samara terlonjak saat mendengar kata sandwich dari mulut pria itu, bila sandwich biasanya akan berisi daging dan sayuran yang dibungkus dengan roti. Berbeda dengan sandwich buatannya, karena dia menggunakan tuna disana bukan daging. Dan dia tau persis kalau Edwin itu alergi dengan makanan laut.
"Ehhh wait, no, no, no Edwin, Lo nggak boleh makan itu". Samara sedikit berlari mendekati Edwin untuk mengambil makanan yang hampir sampai di muat edwin.
"Kenapa sih yank, kamu nggak rela banget ya aku makan, aku ganti entar ya Allah sayang!"
"Pokoknya elo nggak boleh makan itu, itu makanan gue". Tolak samara sambil terus berusaha meraih sandwichnya yang di pegang Edwin.
"Sayang apa sih, aku laper tau nggak sih yank, aku ganti entar suwer".
"No, siniin nggak, bawa sini, itu punya gue Ed".
Mereka saling kejar diruangan itu sampai mereka tidak menyadari kehadiran seseorang disana.
"Ehem". Suara deheman itu menghentikan aktivitas Edwin dan Samara.
Mata dua orang itu menangkap sosok sang CEO disana, Samara pun mengangguk memberi hormat kepada atasannya itu, sedangkan Edwin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ini tadi kalau kejar-kejaran dibawah pohon, udah mirip film India ya!".
Blush
Pipi Samara memerah karena malu mendengar kalimat yang di lontarkan pak Lewis.
"Aku Sharukh Khan berarti pah, Samara Kajol, haha". Edwin tertawa sambil kembali duduk di sofa nya.
Samara menatap tajam pada Edwin, berharap laki-laki itu tidak bicara sembarangan.
"Kalian kenapa kaya bocah kaya tadi hah?".
"Ini lho pah, mantu papah nggak ngebolehin anak papah makan, padahal cuma sandwich doang". Terang Edwin dengan santainya.
Samara kembali memelototkan matanya kepada Edwin. "Bukan gitu Pak Edwin, tapi itu sandwichnya".
Belum sampai Samara menyelesaikan kalimatnya, pak Lewis menghampiri makanan itu dan melihatnya. Pak Lewis tersenyum setelahnya,
"Kelakuanmu Ed, Ed, nih lihat ikan laut, mau gatel-gatel kamu heh". Pak Lewis menunjukkan potongan daging ikan tuna yang terlihat berada dibawah irisan daun bawang.
Edwin ikut melihat daging yang ditunjukkan oleh papahnya, dan dia kembali menggaruk tengkuknya karena malu. Pria itu melihat ke arah Samara dan mendapatkan tatapan tajam dari Samara.
"Samara, besuk akan ada audit dari kantor pajak, kamu siapkan semua dan handle it, ok !". Ucap pak Lewis sambil menyerahkan map yang dia bawa untuk Samara.
"Yaelah pak CEO gitu doang, nggak bisa telvon atau nyuruh siapa gitu, harus banget nyamperin kesini!", Cibir Edwin pada papanya.
"Kantor ini masih punya papah lho Ed, jangan lupa!, Lagian Samara ini kerja sama papah, ngapain juga kamu sewot heh?".
Samara memutar bola matanya sebal, melihat adu mulut ayah dan anak itu. Keduanya bahkan saling ejek, sungguh mereka tak jauh berbeda, hilang sudah rasa kagumnya pada sang CEO.
"Stop it". Spontan kata itu keluar dari Samara, gadis itu sungguh terganggu dengan kehadiran mereka berdua.
Benar saja pak Lewis dan Edwin langsung berhenti berdebat dan langsung melihat kearah Samara.
"Kamu merintah saya Samara?", tanya pak Lewis dengan heran, Samara langsung saja membekap mulutnya sendiri.
"Maksud saya nggak gitu pak, ", panik Samara berusaha menjelaskan.
Pak Lewis mendekati meja samara dengan langkah lebarnya, "pacar kamu itu yang mulai duluan!". Kata pak Lewis sambil menunjuk kearah Edwin.
Samara hanya melongo mendengar kalimat yang dilontarkan atasannya itu. Sungguh respon yang diluar dugaan.
"Hei pah, papah itu yang nggak paham situasi, dasar penguntit!", Edwin masih dengan seringai liciknya. "Sayang come on, usir aja orang tua itu", lanjutnya.
"Hei, kamu yang harusnya keluar dari sini, bahkan dari gedung ini. Dan lagi Samara nggak mungkin ngusir papah yang notabenenya atasan dan calon mertuanya, fikir itu baik-baik son!".
Samara semakin kesal dibuatnya, "sorry sorry, saya yang keluar, permisi pak Lewis dan pak Edwin". Akhirnya samara angkat tangan dan memilih untuk keluar dari ruangannya.
Samara masih mendengar pertengkaran antara Edwin dan pak Lewis yang ada didalam ruangnya itu. Dia memutuskan untuk menunggu mereka dan duduk di meja sekertaris nya yang bernama Lian.
"Kenapa mbak?", Tanya Lian yang kaget melihat atasannya tiba-tiba duduk didepannya.
"Nggak apa-apa, itu pak Edwin dan pak Lewis lagi ngobrol, makanya aku keluar aja, nggak enak". Jawab Samara sekenanya.
"Kok mbak Samara malah keluar, sama calon mertua dan pacar ini?", goda Lian pada bosnya.
"Hei, gosip dari mana sih?".
"Satu kantor ini udah tau kali mbak, kalau mbak Samara sama pak Edwin pacaran, kan udah officialy di Ig juga kan mbak, pake buat siluet gitu dari mbak Samara masih SD sampai sekarang udah dewasa gini, kalau aku bilang sih pak Edwin itu jagain jodoh dari bocah, hahaha", Lian tertawa senang dapat menggoda Samara. Sedangkan yang di goda hanya membulatkan matanya karena tak percaya.
Langsung saja gadis itu melihat akun instagramnya, dan benar saja apa yang diceritakan Lian ada disana. Samara langsung saja berdiri dan kembali keruangan itu, dia dapati Edwin dan ayahnya masih sama seperti saat dia tinggalkan.
"Mohon maaf pak Lewis, bisa tinggalkan saya dan pak Edwin dulu". Mohon Samara dengan nada tegasnya.
"Kamu ngusir saya Samara?".
"Bener itu sayang, usir aja papah!".
"Diem kamu Edwin!", Samara dan pak Lewis saling tatap saat mengatakan hal itu bersamaan.
"Kamu mau ngelabrak anak saya Samara?", pak Lewis masih melihat kearah Samara. "Waw, silahkan, barangkali habis kamu labrak dia otaknya jadi bener". lanjut pak Lewis sebelum meninggalkan tempat itu.
"Edwin, Lo apa-apaan hah?", Bentak Samara sambil meraih kerah kemeja Edwin.
"Wait sayang, wait kenapa ini?".
"Hapus postingan Ig elo, SEKARANG".
,lanjut Samara.
"Eits sayang jangan gini donk", mohon Edwin pada gadis yang sudah terbakar emosi itu.
"HAPUS, atau gue bonyokin wajah playboy elo ini".
"Come on sayang".
Bug
Satu tinju mendarat di muka Edwin tepat di hidungnya. Edwin hanya meringis merasakan nyeri di hidungnya.
"HAPUS". bentak Samara lagi.
Bug
Kali ini rahang Edwin yang menjadi sasaran, dan darah segar mengalir dari bibirnya. Edwin masih mengerang menahan nyeri.
"Oke gue hapus Ra!", Kalimat Edwin itu menyadarkan emosi Samara, dan membuat gadis itu melepaskan tangannya dari kerah kemeja yang dikenakan Edwin.
Samara kembali berdiri tegak dihadapan Edwin dengan rasa yang sedikit nyeri dihatinya, dan Edwin mulai bangkit dari duduknya. Tangannya masih menghapus darah yang mengalir dari bibirnya.
"Gue hapus postingan gue di Ig, gue hapus juga video elo kemarin pas di apartemen". Edwin memperlihatkan ponselnya pada Samara, bukti bahwa dia sudah melakukan kemauan gadis itu. Samara yang melihat itu hanya diam dan membeku.
"Lima belas tahun yang lalu gue selalu ingin menjaga seorang gadis lemah yang selalu jadi korban bullying disekolah Ra, harusnya gue nggak perduli, toh bukan urusan gue, tapi gue selalu ingin, dan belakangan gue sadari rasa itu adalah cinta. Satu tinju elo di hidung gue rasanya impas buat kebodohan gue yang malu mengakui rasa itu, yah hanya karena level pendidikan kita yang berbeda. Kemudian gue kehilangan elo gitu aja. Setelah sekian lama akhirnya gue menemukan elo lagi Ra, dan dengan bodohnya lagi gue nggak mau memperjuangan elo hanya karena gue nganggep elo beda dan lebih milih untuk pergi, gue anggap tinju elo di rahang gue buat ganjaran atas perbuatan gue yang kedua Ra". Kalimat Edwin itu membuat hati Samara berdesir dan sakit, air matanya bahkan sudah mengapung memenuhi mata.
"Hanya saja Ra, gue masih bingung gimana perasaan elo ke gue, apa iya elo juga cinta sama gue, karena sikap elo dulu begitu manis ke gue Ra, dan gue ngartiinnya cinta. Apalagi tadi elo masih aja inget alergi gue sama ikan laut", Edwin menunjuk sendwich uang masih di meja.
"Gue melambung Ra atas perhatian itu, baru saja gue yakin kalau elo juga cinta ke gue". Lanjutnya.
"Tapi rasanya, gue terlalu berharap sama elo Ra. Samara yang gue cinta adalah Samara yang manis, Samara yang lembut dan Samara yang baik sama siapa saja. Dan satu lagi, dia memakai ilmu bela dirinya hanya untuk membela diri, bukan menyakiti".
Edwin menepuk bahu gadis itu, "gue rasa gue salah orang Ra, oiya masalah belanja elo yang waktu itu, anggap aja itu bonus dari gue karena kerja elo disini bagus, elo nggak ada kewajiban buat bayar apapun".
Samara masih terdiam ditempatnya saat Edwin telah keluar dari ruangan itu, kakinya lemas dan dia mulai luruh ke lantai dan mulai memeluk lututnya. "Elo cowok brengsek Edwin, Lo nggak bisa gini terus ke gue". Dadanya berguncang menahan isakan tangisnya.
*
*
*
Waw konflik pertama ya guys.
Maafkan yg penuh typo. Kl berkenan mohon untuk vomen ya..
Write and edit on 15 - 17 Juni 2021