ten

2777 Words
Gelapnya langit Jakarta rupanya tidak seburuk yang dibayangkan seorang Samara Nadine Narendra. Bising dan polusi yang mengganggu Indra penciuman gadis itu kerap kali menjadi alasan untuk tak mengagumi kota kelahirannya itu. Jajaran lampu kota yang menerangi jalanan dan hiruk pikuk pedagang kaki lima nyatanya menjadi ketertarikan tersendiri di mata gadis itu. "Stop!", Perintah Samara tiba-tiba pada pengemudi disampingnya. "Inget itu nggak?", Mata Edwin mengikuti mata Samara yang fokus mengamati pedagang Siomay dengan gerobak sederhana di trotoar. Edwin hanya mengangkat bahunya seolah mengatakan tidak ingat. "Lo nggak ingat Ed?", Samara kembali diposisi duduknya setelah menutup kaca jendela disampingnya. "Jalan!", Perintahnya lagi. Hening, suasana menjadi hening kembali. Edwinpun kembali melepaskan pijakan remnya dan mengemudikan mobil keluaran Eropa miliknya, untuk mengantar gadisnya itu ke apartemen milik Samara. Flashback on "Kak, jadi traktir kan?". "Iya Ra, iya, nyebelin!", Edwin meletakkan tangannya pada pundak gadis berseragam putih biru itu, lalu membimbing gadis itu ke trotoar di samping Betrich Accademy, untuk menemui penjual siomay langganan mereka. "Eh neng Rara, den Edwin. Yang pake pare siapa hari ini?", tanya mang Ujang penjual siomay yang sangat akrab dengan mereka berdua. "Dia mang!", Samara tertawa dengan keras sambil menunjuk ke arah Edwin yang memasang wajah tak enak. Samara menerima sepiring siomay dengan taburan saos kacang dengan senang hati, wajahnya merona melihat susunan siomay, kentang dan kubis di piringnya. Sedangkan Edwin, dengan berat hati dia menerima piringnya, wajahnya menatap kesal pada Samara. "Seneng banget kayaknya!", Sindir Edwin pada gadis disampingnya, yang sedari tadi menyanyikan lagu dengan nada gembira. "Eh ayo makan kak, selamat makan!", Edwin memicingkan matanya mendengar ucapan selamat dari Samara. Dengan lahap Samara menandaskan isi piringnya, sesekali dia melirik Edwin yang memakan siomay dalam balutan pare. Haha wajahnya sungguh mengenaskan. "Aku udah selesai lho kak, buruan dong makannya, keburu masuk nih!". "Pait tau Ra, sabar kenapa sih?". "Sini, aku yang suapin aja kak, buka mulut", samara merebut piring di tangan Edwin, lalu menyuapkan potongan siomay pare itu. Wajah Edwin memucat saat mengunyah makanan di mulutnya, "kak kalau pait, merem deh", saran Samara yang langsung dituruti Edwin. "Tetep pait Ra", protes Edwin, namun tetep memejamkan mata. Samara terbahak melihat ekspresi wajah Edwin, "awas aja kalau besuk kamu yang kalah!", ancam Edwin. "Oke oke, aku pasti makan dengan senang hati", jawab samara dengan santai. "akkkk". "Apa kita ganti challenge aja Ra, kalau kaya gini aku terus yang kalah donk, ganti yaaaaa, lebih kejam dari guru BK emang ini sih", cerocos Edwin sambil mengunyah makanan itu. "Makanya jangan telat kak, kakak sih bandel sukanya begadang, terus bangun siang, telat deh", omel Samara sambil terus menyuapi Edwin. Flashback off. "Turun!". Samara melihat kearah Edwin, "nggak mau nganterin?". "Ngapain, elo bisa jaga diri kali!", Ketus Edwin tanpa melihat ke arah Samara. Samara melepaskan seat belt lalu membuka pintu dan turun dari mobil milik Edwin, " nggak gentle!", katanya lalu membanting pintu mobil Edwin. Samara masih memaki Edwin saat mobil yang pria kendarai itu meninggalkan gedung apartemen milik Samara, " nggak punya hati, jahat, tukang tebar PHP, gue benci sama elo Edwin, gue benci!". Reflek Samara menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia melihat kekanan dan kekiri berharap tidak ada yang melihat kelakuannya yang teriak-teriak tidak jelas malam ini. Lalu gadis itu berlari memasuki gedung itu. *** "Ungu kayaknya better deh", Samara mematutkan blazer ungu pada dirinya di depan kaca. Samara mengerucutkan bibirnya lalu memasukkan kembali kedalam almari. "Navy, oo I love Navy, gue kelihatan keren kalau pake warna ini", Samara kembali mematutkan blazer berwarna Navy pada dirinya. "Ya Allah, kok gue baru sadar kalau gue nggak punya baju sih, argggh", Samara frustasi sendiri dengan isi almarinya hari ini. No, ini bukan Samara yang biasanya, gadis itu merasa sangat insecure dengan penampilannya hari ini, dia bahkan menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mencoba semua baju kerjanya yang akan dia gunakan hari ini. Samara melebarkan matanya saa melihat kearah jam di dindingnya, "Oh no, sebentar lagi dia datang!". Samara akhirnya mengambil asal pakainnya dan memilih stelan blazer dan skinny pants berwarna gelap untuk outfitnya hari ini. Segera saja Samara sapukan make up di wajahnya Untuk melengkapi penampilannya. Setelahnya, Samara meninggalkan apartemen miliknya dan menunggu Edwin di lobi apartemen. Cukup lama Samara menunggu disana, hampir empat puluh lima menit. Sesekali Samara melihat arlojinya dan belum menemukan kehadiran Edwin di tempat itu. Dan akhirnya, gadis itu memutuskan untuk menghubungi orang yang dia tunggu. "Hallo, dimana Lo?", tanya Samara saat panggilannya diterima. "Di kantor", jawab Edwin lalu memutuskan panggilan dari Samara. What, Samara sudah menunggu dan ternyata Edwin sudah di kantor. Dengsn emosi yang masih di ubun-ubun Samara segera menghubungi taksi untuk mengantarnya ke kantor. * * * Samara mengatur nafasnya saat akan keluar dari taxi yang dia tumpangi pagi ini. Setidaknya dia tetap harus menjadi Samara si perfect untuk menemui orang-orang di kantornya. Seperti biasa Samara mendapat sapaan dari pegawai yang dia temui. Senyumnya pun mengembang untuk membalas setiap sapaan yang dialamatkan untuknya. Hingga sampailah ia pada ruangan pribadinya. Langsung saja dia melemparkan handbag miliknya ke sofa. "Edwin awas aja Lo". Samara ikut duduk di sofa itu dan mulai memijit pelipisnya. Tok tok tok "Masuk", itu suara Samara. "Mbak udah ditunggu di ruang meeting, tamu dari kantor pajak sudah nunggu dari lima belas menit yang lalu mbak!", Lian tampak sedikit buru-buru dalam menyampaikan hal itu. "s**t", umpat Samara dalam hati. "Gue kesana Li, elo bawa laporan ini ya!", Titah Samara sambil berjalan mengambil laptopnya lalu meninggalkan ruangan itu dan menuju ruang meeting. Tok tok tok Samara memasuki ruangan meeting dengan hati-hati, wajahnya langsung mengarah pada Edwin yang sudah duduk ngobrol santai dengan dua orang dari kantor pajak itu. Lalu pandangannya beralih kepada dua orang petugas itu. "Selamat pagi pak Hangga dan pak Agung, apa kabar?". Samara mendekati orang yang disapanya lalu menjabat dua orang itu. "Kami baik ibu Samara, sepertinya ibu juga baik seperti biasa!", Ungkap pak Hangga yang sangat mengenal Samara karena memang Samara adalah perwakilan dari kantor yang selalu berhubungan dengan dua petugas itu. "Mari di mulai pak!", Ajak Samara lalu di ikuti dengan Lian yang mengambilkan berbagai keperluan dua orang dari pemerintah itu, dan Samara sangat cekatan saat ada pertanyaan dari petugas mengenai perusahaan. Edwin yang mengamati Samara hanya diam dan sesekali menimpali obrolan mereka. Sungguh Edwin sangat bosan saat ini, apalagi melihat kedekatan Samara dengan Hangga yang Edwin taksir usianya tidak jauh dari dirinya, yang sedari tadi mengamati Samara dengan tatapan yang berbeda. Setelah tiga jam pengawasan, akhirnya dua orang petugas itu akan berpamitan untuk meninggalkan kantor itu. "Oiya Ibu Samara, can I have your number?", Ucap Hangga usai mereka saling berpamitan. Edwin yang mendengar itu mendelik kesal dan meninggalkan mereka begitu saja, lalu masuk keruangan ayahnya di lantai dua. Ceklek, Bukh Edwin membuka lalu menutup pintu ruangan ayahnya dengan kasar. Lalu dia mendudukkan dirinya di sofa. "Waw, apa kabar itu pintu?", Sindir pak Lewis yang melihat putranya dengan wajah tak bersahabat. Edwin hanya mendengkus kesal dengan sindiran ayahnya. "Kenapa lagi, datang-datang muka kaya gitu Hem?". Edwin tak menyahut pertanyaan ayahnya, pria itu justru lebih memilih untuk merebahkan dirinya pada sofa dan menutup matanya. Pak Lewis hanya tertawa lalu menghubungi Samara untuk datang ke ruangannya. "Keruangan saya, bawa laporan tugas hari ini". Tak lama Samara sudah tiba di ruangan pak Lewis, matanya melihat kearah Edwin yang dalam posisi rebahan di sofa milik pak Lewis, lalu gadis itu memutar bola matanya. "Ayo silahkan Samara, abaikan pemandangan yang tidak perlu ok!, Bad mood dia", sindir pak Lewis pada putranya. Mendengar nama Samara di sebut, Edwin langsung saja melihat kearah gadis itu, lalu dia kembali memejamkan matanya. Samara dan pak Lewis membahas hasil audit dari kantor pajak yang telah di tangani oleh Samara. Pak Lewis berterimakasih dengan kinerja Samara yang sangat baik di mata Samara. "Kamu memang Ter the best Samara, I proud of you!", Puji pak Lewis di akhir obrolannya, samara hanya tersenyum kecil mendapat pujian itu. "Pah, mujinya nggak usah gitu juga kali, berasa kecakepan dia", Edwin menyindir Samara lalu mengubah posisinya untuk duduk. Samara melihat kearah Edwin dengan kesal, apa maksudnya coba kalimat itu dilontarkan Edwin. Bakal meledak nih kayaknya Samara. "Maksud kamu apa boy, kerja mantu papah ini emang the best kok", puji pak Lewis lagi. "Tanyain deh berangkat kekantor jam berapa pah, kaya gitu the best". Samara kembali menatap pak Lewis, dan senyum dengan terpaksa. "Maaf pah, hari ini Samara datang terlambat, karena aku nggak bawa mobil pah, tadi malem ditinggal disini", Samara menunduk saat meminta maaf. Pak Lewis melihat ke arah Edwin, "tadi malem kamu yang anter Samara kan, kok tadi pagi nggak kamu jemput", kesal pak Lewis pada anaknya. "Mampus Lo", batin Samara. "Kok jadi aku sih pah, ya salah dia sendiri lah ngapain juga nggak berangkat pagi", protes Edwin pada ayahnya. "Kamukan tau Samara nggak bawa mobil, ya jemput lah, bener-bener minta di bilangin ke ibu ratu kamu ya", ancam pak Lewis. Dengan wajah yang menahan sumringah, Samara ikut berbicara dan sedikit mendramatisir keadaan. "Pah, ini salah aku kok pah, karena kemarin pulangnya kemaleman, aku capek banget terus ke enakan tidur eh malah kesiangan bangunnya. Mungkin Edwin capek juga sih pah, karena tadi malem juga dia buru-buru banget sampe pas nganter aku cuma di turunin di depan gedung pah". "What, dia nggak nganter kamu sampai dalem?", Samara mengangguk kecil saat mendapat pertanyaan dari pak Lewis. "Bener-bener kamu Edwin, kalau ada orang jahat gimana coba", pak Lewis melempar bolpoin yang ada di tangannya ke arah Edwin. "Kok jadi aku sih pah", Edwin mengusap wajahnya frustasi. Samara yang melihatnya tertawa dalam hati. "Minta maaf buruan!", Titah pak Lewis pada Edwin. "Nggak ngapain!", Tolak Edwin. "Papah telfon mamah nih!", Ancam pak Lewis. Edwin mendengus kesal, "iya - iya?". "Maaf". Cicitnya tanpa melihat Samara. "Buat apa, nggak usah", Samara tersenyum dan pura-pura membuang muka. "Minta maaf yang bener, salahnya disebutin!", Pak Lewis nyolot. Edwin berdiri dari tempat duduknya, lalu mendekati Samara. "Pah tutup mata pah, mau adegan panas nih pas minta maaf". Seketika pak Lewis membalik kursinya agar membelakangi mereka, Samara yang mendengar itu bergidik ngeri, lalu berusaha bangkit dari tempatnya. "Samara sayang, aku minta maaf ya, jangan mendesah ya sayang, nggak enak sama papah!", Kalimat Edwin itu sukses membuat Samara gelagapan, dan berusaha mundur dari posisinya yang terus didekati Edwin. "U udah aku maafin kok, sa saya permisi pak Lewis!", Samara langsung saja ngacir dari ruangan bosnya itu. Edwin terkekeh melihat wajah Samara sebelum meninggalkan ruangan, "dasar, muka dua yang menggemaskan", gumamnya. "Udah Ed, buka mata nih papah!", pak Lewis memutar kembali kursinya lalu membuka matanya. "Lebay pah, nggak lah ngapain juga, ngacir tuh bocah pah!". "Kelakuanmu Ed, kalau nggak ngacir, papa nikahin kalian ya!". "Nanti jangan lupa di anter pulang, papah yakin tadi dia telat karena nunggu kamu!". "Ngapain, orang mobilnya disini juga!", Jawab Edwin dengan senyum yang mengembang, dia juga meyakini apa yang dikatakan ayahnya itu. "Kalau kamu mau anterin, bisalah papah gembosin mobilnya!", seringai jahil terbit diwajah pak Lewis. * * * "Gila Edwin saraf sumpah, iyuhhhhh", Samara manutup pintu lalu mengunci ruangannya. Samara menjatuhkan dirinya pada sofa lalu mengambil beberapa kertas dan mengipaskan pada wajahnya, rasanya ruang ber AC itu sudah tidak ada hawa sejuknya sama sekali. "Tenang Samara, gue harus apa, oiya mama Farah, hahah ibu ratu iya", Samara mengambil ponselnya lalu mencari kontak ibunda Edwin itu. "Eh nggak, stop main-main sama Edwin, tidakkkkkkkkk!", Samara memijat pelipisnya. Dert Dert Dert Samara melihat kearah ponsel yang ada di meja, nomor tanpa nama, siapakah dia. "Hallo". "Hai ibu Samara, aku Hangga". "Oh hai pak Hangga, nomer Bapak ya, saya save deh nanti". "Bisa lunch bareng nggak hari ini, hehe". "Aduh sorry banget, saya males banget deh keluar, delivery kayaknya". "Eh, nggak usah delivery, aku ke kantor kamu aja, kamu mau makan apa?. "Eh balik lagi kesini, ok deh. Samain kaya bapak aja deh!". Samara mematikan panggilan telvonnya dengan pak Hangga. Hubungan Samara dengan petugas pajak itu memang cukup dekat, hal itu karena sifat supel yang dimiliki Hangga, jadi dia mudah bergaul dengan siapa saja termasuk Samara. "Lian, ntar kalau pak Hangga Dateng, langsung suruh masuk ruangan gue aja ya!", perintah Samara pada Lian melalui sambungan telepon. "Loh belum kelar apa mbak tadi?". "Udah, kita mau makan siang bareng sih!". "Eh buset mbak, apa kabar sama pak Edwin, kalian berantem mbak!". "Bukan urusan elo, emaknya Denis", tutup Samara sambil menyebut nama putra Lian. Usai menunaikan ibadah sholat Zuhur, Samara merapikan penampilannya dan sedikit menyapukan lipstik pada bibirnya. Tok tok tok "Masuk". Lian masuk bersama Hangga dengan senyum yang mengembang di wajah pria itu. "Oh pak Hangga mari silahkan, Lian pintunya jangan ditutupnya!". Perintah itu di angguki oleh Lian dan Hangga. Hangga langsung saja memposisikan dirinya pada single sofa yang ada di ruangan itu. "Btw nggak usah panggil pak Bu kali ya, usia kita kayaknya nggak jauh deh", ajak Hangga yang langsung di angguki Samara. "Bawa apa nih!, Pak agung di kemanain kok nggak ikut heh?", Samara memang sangat mengenal Hangga dan Agung karena mereka adalah teman berkuda ayah Samara. Selain itu mereka memang orang yabg sangat supel dan menyenangkan. "KFC sih, aku bingung mau bawa apa hehe, makanan sejuta umat aja deh!", Hangga tersenyum lebar dan dibalas senyuman malas Samara. Mereka asik membicarakan kehidupan mereka masing-masing, kadang mereka juga membahas ayah Samara dan hobi Hangga dan pak Arya itu. Hingga tak sadar ada seorang laki-laki yang mengamati dua orang itu dari luar ruangan. Siapa lagi kalau bukan Edwin. Edwin mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Samara, tak lama suara gadis itu berada di pendengaran Edwin. "Gue tunggu di parkiran, diajak mamah makan siang, buruan!", sambungan diputus oleh Edwin sebelum Samara menjawab. Samara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya, "gila ini orang!". "Kenapa?", tanya Hangga usai mengunyah makanannya. "Ini Bu bos ngajakin makan siang bareng, gimana ya?", Samara berlagak menanyakan pendapat kepada Hangga. "Eh, berangkat aja nggak apa sih Ra, aku udah juga sih ini!". "Ok, Santai aja sih disini, aku duluan ya!", Samara langsung pergi mengambil tas tangannya dan berlari meninggalkan Hangga disana. Edwin membunyikan klakson mobil miliknya saat melihat Samara keluar dari gedung itu, Samara langsung saja menoleh dan berlari masuk kedalam mobil itu. "Penyakit Lo itu emang telat dan lama, nggak ngehargain waktu!", sinis Edwin saat Samara masuk ke dalam mobil miliknya. Samara menunjukkan ponselnya kepada Edwin, "Lo ngabarin nya baru!". Edwin pun melajukan mobilnya menuju restauran tempat mereka akan makan siang. Suasana hening sepanjang perjalanan. Samara melirik Edwin melalui ekor matanya, pria itu hanya melihat kedepan dengan tatapan dingin dan tak bersahabat. Samara pun tak mau cari masalah dengan pria disampingnya itu jika dalam mode seperti ini. D'EML Restauran. Edwin memarkirkan mobilnya pada salah satu restauran miliknya siang ini, Edwin turun dari mobilnya lalu meninggalkan Samara dalam mobil tanpa melirik gadis itu sedikitpun. "Ni bocah kenapa sih?", gumam Samara. Gadis itupun turun dan mengikuti langkah Edwin. Samara menemukan Edwin sedang berbincang dengan seseorang dengan setelan jas, yang kemudian mempersilahkan Edwin untuk masuk kedalam ruangan yang bertuliskan, "manager room". Samara memilih untuk menunggu Edwin di kursi yang menghadap pada jendela kaca yang menyajikan pemandangan taman kota dengan pepohonan yang terlihat sangat sejuk dan teduh. "Permisi mbak, silahkan pesanannya", Samara tersenyum melihat pelayan menyajikan Red Velvet Thai tea dan sirloin steak yang dimasak dengan tingkat kematangan medium rare dihadapan Samara, dan di sisinmejsn lainnya dihidangkan Green tea dan tenderloin steak yang Samara kira untuk Edwin. "Mbak, kok cuma dua?", tanya Samara saat pelayan itu selesai menghidangkan makanan. "Oh tadi , pak Edwin hanya pesan dua mbak, ada yang mau dipesan lagi?". "Mbak kenal Edwin?", Tanya Samara Karana aneh dengan sikap Edwin direstauran ini. "Oh ya jelas mbak, pak Edwin kan owner di sini" jawab pelayan itu. "Owner, salah mungkin?", tanya Samara masih dengan wajah menuntutnya. "Apanya yang nggak mungkin?", Rupanya Edwin sudah berdiri dibelakang Samara dan mendengarkan apa yang Samara tanyakan pada pegawainya. "Makasih mbak silahkan kembali bekerja", Edwin tersenyum pada pegawainya saat mengucapkan itu. "Nyokap Lo,,,?". "Mama baru aja ngabari batal kesini, udah makan nggak usah ribet, makan !", potong Edwin lalu memberi perintah pada Samara. "Lo kenapa sih Ed, gue nggak suka Lo galak gini, mending gue nggak ikut elo kalau mama Farah nggak kesini", Samara mendorong makanannya, lalu berdiri ingin meninggalkan Edwin. "Duduk!", Edwin menarik tangan samara agar kembali duduk. Lalu pria itu mengambil steak milik samara dan memotong daging itu menjadi potongan yang lebih kecil lalu mengembalikan ke hadapan Samara. "Apa sih, gue nggak mau makan sama elo". "Emang maunya makan sama siapa heh, petugas pajak itu, nggak mutu!". "Kenapa, elo cemburu gitu?". "Maunya giman?", tanya edwin dengan wajah yang tetap datar. "Maksud Lo?". "Elo maunya gue cemburu apa gimana?". "Bodo, gerah bodi ngobrol sama elo!", Samara menarik makanannya lalu menikamati makanan itu tanpa melihat kewajah laki-laki didepannya. * * * Ehem BTW penampilan Samara cepet -cepetan ya!. Kece badai sumpah.  Samara emang selalu sekece itu... Vomen ya gaes, maafkeun yang terlalu banyak typo.. Love you. Write and publish on june 20-23 2021.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD