Di kantornya, Arka Wirawan menutup telepon dengan sikap tenang namun perasaannya janggal.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Reza Kurniawan, sepupu sekaligus sahabatnya, yang duduk di seberangnya.
"Pak Rizal meninggal dunia," jawabnya sedikit lesu.
"Terus, apa pengaruhnya ke kamu?" tanya Reza sambil menatap serius.
"Kami mitra di PacificTel. Kematiannya jelas bikin masalah," jawab Arka singkat.
"Masalah itu harusnya nggak nyentuh soal finansial kan? Itu dua hal yang beda."
"Nggak, Aku nggak pernah ikut campur dalam manajemen, cuma terima persenan dari keuntungan, sesuai kesepakatan awal. Pak Rizal yang menjalankan perusahaan sepenuhnya." Jelasnya.
"Kalau gitu kenapa kamu kelihatan gugup banget?" tanya Reza lagi. "Kamu cuma perlu datang atau kirim perwakilan untuk mengungkapkan belasungkawa." Celoteh Reza.
"Harusnya begitu. Tapi tanpa pak Rizal, satu-satunya orang yang nantinya bisa gantiin dia hanya ... " Ucap Arka terpotong.
"Istrimu?" Goda Reza.
"Mantan," jawab Arka dingin.
"Omong kosong, kalian belum cere. Secara hukum dia masih istri sahmu," Reza mengingatkan.
Arka mendengus. "Cari tahu di mana pak Rizal dimakamkan. Aku datang untuk ibu, walau bagaimanapun mereka tidak berada di pihak putrinya yang memalukan itu. Titahnya
"Bilang aja kamu mau ketemu Alisha?" goda Reza.
"Bodoh!" geram Arka.
"Seenggaknya aku bukan duda patah hati!" balas Reza sambil pergi terkekeh.
Arka mengabaikan ejekan sepupunya. Ia memutar kursinya dan memandang ke arah kota dari balik kaca jendela. Enam tahun sudah berlalu sejak terakhir kali ia melihat Alisha, istrinya yang dia anggap berkhianat, Bahkan surat ceraipun belum sempat mereka tanda tangani; dokumen perceraian masih terkunci rapat di brankas pribadinya. Secara hukum mereka masih suami istri yang sah.
Tangan Arka mengepal. Ia tak sanggup melupakan wanita itu, tapi ia juga tak mampu menghapus rasa sakit dari pengkhianatan yang pernah ia terima. Ia bangkit mendadak, lalu menuangkan wiski ke dalam gelas. Hanya itu cara tercepat untuk menenangkan pikirannya sebelum menghadiri pemakaman. Ia tahu pertemuan itu tidak akan menyenangkan. Namun dia juga sedikit tak sabar ingin melihat wajah penghianat yang sudah menghancurkan hati dan hidupnya.
"Sialan!" gumamnya. Raut kesal jelas terpampang di wajahnya. "Sejak kapan aku perlu minum untuk hadapi wanita penghianat?" Sesalnya.
Dulu, pertemuan pertama mereka terjadi di Hotel Arjuna Royale sepuluh tahun lalu. Arka langsung terpikat dan mengejar Alisha selama berbulan-bulan sampai akhirnya mereka makan malam bersama. Dari sana semuanya dimulai. Bahkan segalanya terasa mudah, indah dan bahagia.
Pernikahan dan bulan madu mereka jadi kenangan indah. Arka bangga karena menjadi pria pertama dalam hidup Alisha. Bahkan berharap menjadi satu-satunya pria bagi wanita itu. Dia juga pernah begitu bangga karna bisa memiliki seorang Alisha dalam hidupnya. Semua orang memuji dan mengacungi jempol pada pribadi dan karakter yang dimiliki wanita itu. Tapi tiga tahun kemudian, pernikahan yang terlihat sempurna itu runtuh hanya karena sebuah kehamilan. Itu menjadi bukti bahwa Alisa bukanlah wanita seperti yang ia bayangkan. Sejak saat itu, Arka sengaja membiarkan paparazi memotretnya bersama wanita berbeda pada setiap kesempatan. Berharap Alisha melihatnya, itu caranya menegaskan pada Alisha bahwa wanita itu sudah tidak lagi penting baginya. Arka mengambil ponselnya, mengetik cepat, lalu mengirim pesan singkat pada salah satu wanita yang sedang dekat dengannya. Setidaknya wanita yang menurutnya paling cantik agar bisa dipamerkan di depan Alisha. Dia yakin saat membuat Alisha melihat wanitanya di pemakaman ayahnya, wanita itu akan mengalami dua hal menyakitkan sekaligus. Bahkan membayangkannya sudah memberi sedikit kepuasan karna bisa membalaskan sebagian kecil dari sakit hatinya.
Arka [ Aku jemput sejam lagi, jangan bikin aku nunggu.]
Viona [Ok, aku siap-siap sekarang.]
Gadis itu melompat kegirangan. Viona memang cinta mati pada Arka. Berbagai cara telah dia lakukan agar Arka meliriknya. Meskipun sikap Arka tidak pernah menunjukkan rasa suka, dia tetap puas selama bisa bersama Arka.
Arka melempar ponselnya ke meja dan menenggak wiski dalam sekali teguk. Panasnya membakar tenggorokan, tapi ia butuh itu. Malam ini ia bertekad menunjukkan pada Alisha bahwa dirinya sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya.
***
Sementara itu, Alisha sibuk dengan urusan lain. Arka sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Dia fokus pada ibunya dan Aiden, putra kecilnya.
"Aku ikut berduka atas kepergian ayahmu, Alisha," ucap Rachel begitu Alisha masuk ke kamar hotel.
Alisha membiarkan dirinya dipeluk. Selama beberapa jam ia berusaha tegar, tapi akhirnya ia tak sanggup lagi menahan air mata.
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Aiden butuh kamu. Kita nggak tahu harus jawab apa kalau dia lihat kamu nangis," bisik Rachel menenangkan. Alisha mengangguk.
"Aku tahu... aku cuma bingung. Haruskah aku bawa Aiden, dia juga berhak liat kakeknya, setidaknya sekali seumur hidup." Cemas Alisha.
"Jangan kawatir, kita pergi sebentar biar aku yang jagain Aiden, nanti aku bawa pulang sebelum acara selesai. Setidaknya Aiden sudah melihatnya." kata Rachel mantap.
Alisa terisak kecil. "Aku nggak tahu harus gimana tanpa kamu."
"Itu gunanya sahabat, Alisha. Aku ada buat kamu dalam suka maupun duka. Jadi tenang aja, kita pergi sekarang. Biar aku yang urus semuanya."
Alisa mengangguk. Ia buru-buru mandi, lalu berganti pakaian, dan Daniel sudah menyiapkan segala keperluan agar mereka bisa segera menemani ibunya di rumah duka.
Satu jam kemudian mereka tiba dirumah duka yang sudah dipenuhi wartawan, tokoh media, dan kolega serta rekan-rekan Rizal.
Susan terlihat tabah menerima ucapan belasungkawa, sementara doa dimulai dan semua orang duduk dalam keheningan. Alisha bersyukur Daniel dan Rachel ada di sampingnya. Sahabatnya itu berusaha menjaga agar keadaan tetap tenang, meski sulit karena ada begitu banyak orang yang berbicara di sekitar mereka. Setelah pertemuan singkat, Rachel buru-buru membawa Aiden pergi. Aiden sudah begitu penasaran dengan pria di dalam peti itu. Dia sempat bingung kenapa Susan memeluknya, kenapa dia harus menaruh bunga ke dalam peti, bahkan dia melihat Daniel mengambil poto mereka secara diam-diam. Sayangnya Arka tiba setelah Aiden pergi. Perhatiannya langsung tertuju pada pemandangan dimana Daniel begitu lengket dan perhatian pada Alisha. Orang pasti akan berpikir kalau mereka pasangan suami istri. Dari kejauhan, ia memperhatikan dengan kesal karna Alisha dan Daniel yang berdiri terlalu dekat. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Berhenti liatin dia seolah kamu pengen menyingkirkan cowok itu," bisik Reza pelan, agar Viona tidak mendengarnya. Tapi Viona juga tidak buta, dia bisa melihat dan merasakan makna pandangan Arka. Viona mengepalkan tinju menahan cemburu.
"Jangan asal ngomong!" geram Arka.
"Hati-hati, Arka. Semua mata tertuju padamu. Dan jujur aja, kamu bikin kesalahan besar bawa Viona ke sini. Kamu waras nggak sih?" Tegas Reza
"Diam!" Jawab Arka kesal.
Reza mendengus, lalu buru-buru tersenyum saat sadar kamera wartawan menyorot mereka.
"Senyum, Arka. Lagi difoto." Sindirnya.
Arka sama sekali tak peduli, dan tatapannya tak lepas dari Alisha dan Daniel. Ia menolak menyebutnya cemburu. Bagi dirinya, itu hanyalah sisa kebencian pada pengkhianatan masa lalu.
"Apa dia pria selingkuhanmu itu?" batin Arka berkecamuk.
Tanpa pikir panjang, Arka melangkah maju.
"Arka?" panggil Viona begitu melihatnya berjalan pergi tanpa menoleh.
"Jangan ikut, Viona," Reza menahan.
"Tapi kami datang bareng," protes Viona.
"Kamu cuma tameng. Kamu pun tahu itu. Jadi jangan lupakan tempatmu. Biarin Arka ngelakuin apa yang dia mau."
Viona menatap kesal, tapi ia tidak berani membantah. Reza bukan sekadar karyawan biasa dikantor mereka, dia salah satu keluarga Wirawan.
Arka akhirnya berdiri di hadapan Susan dan Alisha. Dengan suara datar, ia berkata, "Aku ikut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian ayah, bu." Tuturnya. Susan mengangguk lesu sambil menyeka air mata.
Alisa membeku. Ia bahkan tak menyadari saat pria itu berjalan ke arahnya, dan sekarang dunia seolah berhenti berputar. Air matanya semakin deras dan tubuhnya terasa lemas. Nalurinya memberi sinyal untuk memeluk Arka. Tapi ...