Saat Kara hendak mengalihkan topik, Rowan sudah lebih dulu menerima tawaran. Ia tidak punya jalan lain selain menjaga si Kembar tetap berada di dekatnya. Beruntung, kondisi di kantin cukup ramai. Kecil kemungkinan anak-anaknya diserang di sana. “Tuan, kenapa kita langsung duduk di meja? Bukankah kita seharusnya memilih menu di sana?” tanya Louis, diiringi anggukan Emily. Telunjuknya meruncing ke arah long counter—meja panjang dekat sekat kaca di area pelayanan. “Itu karena kalian tamu spesial. Kalian tidak perlu memesan lagi. Kantin ini akan segera menghidangkan menu terbaiknya,” Rowan melirik Kara dengan senyum simpul. “Benarkah?” Mata Louis berbinar. Ia melirik Emily dan memainkan alis. “Kita mungkin saja mendapat es krim yang mahal itu.” Emily mengangguk dengan senyum manis. “Aku

