Tiba-tiba, mimpi tadi terputar dalam benak Frank. Mengingat bagaimana sentuhan itu terasa nyata, ia terkesiap. "Astaga!" Dengan mata terbelalak, Frank menatap tangannya sendiri. "Aku sungguh menyentuhnya?" Setelah menelan ludah, ia mulai terbata-bata. "Jangan salah sangka, Kara. Aku tidak bermaksud mencuri kesempatan. Aku bahkan tidak sadar dengan apa yang kulakukan." Kara tidak menjawab. Ia terlalu sibuk mengatur napas agar tidak meloloskan isakan. “Percayalah padaku. Aku tidak bermaksud—” "Dasar pria b***t! Jangan harap aku akan memaafkanmu. Mulai hari ini juga, aku berhenti." Usai melempari Frank dengan bantal, Kara turun dari ranjang. "Tunggu dulu, Kara. Tolong jangan gegabah." Frank mencoba menghentikan Kara, tetapi gadis itu menepis tangannya. "Aku tidak mau punya bos c**

