“Kau pikir aku masih anak-anak?” selidik Frank dengan nada sinis. Ia tidak lagi berpura-pura. Wadah yang dipilih oleh Kara memang menyinggungnya, mengingatkan tentang bocah laki-laki yang membuatnya “tidak rasional” semalam. “Maaf, Tuan. Saya belum sempat membeli kotak bekal khusus untuk Anda. Jadi, saya terpaksa ... meminjam milik tetangga.” Tak ingin Frank berlama-lama membahas tentang ilustrasi lucu itu, Kara bergegas membukakan kotak. Tepat pada saat itulah, jarinya menyentuh label. Dalam sekejap, geraknya terhenti dan matanya melebar. “Gawat! Kenapa aku bisa lupa? Bagaimana jika Setan c***l ini melihat nama anak-anak?” Sambil menelan ludah, Kara berusaha memecah ketegangan. Ia menyingkirkan penutup kotak lalu memperlihatkan isinya kepada sang CEO. Dengan sangat hati-hati, ia be

