Terlalu menyakitkan, melihat orang yang kita sayangi tak lagi memilih kita, memandang kita, bahkan mengingat kita. Wulan sendiri tidak sanggup. Serasa menjadi orang paling bodoh yang senang berhalusinasi dan menyakinkan diri bahwa setiap kisah cinta akan berakhir dengan happily ever after—bahagia untuk selama-selamanya. Kini tubuhnya seakan menghempas tanah kembali, ketika melihat Bimo di sana. Wulan berlari keluar menuju halaman depan, tak acuh akan panggilan Reno, dan ketika tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang, membuatnya tersungkur. Tidak seberapa sakit, memar dan lecet yang ada di lutut Wulan dibandingkan dengan sakit di dadanya. “Lo nggak apa-apa? Ayo gue bantu.” Wulan menerima uluran tangan itu. Diusapnya cepat air mata dari pipinya ketika mendapati sosok yang memberinya

