Bab 2

1075 Words
Bab 2 Samudera menatap gadis yang berdiri di hadapannya dengan tatapan mengintimidasi. Membuat gadis itu menundukkan kepalanya takut. Ia seolah menjadi tersangka di sini, padahal jelasnya ia adalah korban dari keegoisan ibunya. “Angkat kepalamu,” ucap Samudera dingin. Samara tidak langsung mengangkat kepalanya. Ia masih menunduk, takut melihat wajah pria yang berstatus suaminya itu. Pria yang seharusnya menikah dengan sang kakak, Seruni. Hanya karena ia melarikan diri dari pernikahan, Samara harus menjadi korban. Menjadi pengantin pengganti untuk menggantikan posisi sang kakak. Tak pernah terbayangkan oleh Samara jika ia saat ini akan berada di posisi seperti sekarang. Ia yang hanya seorang anak yang tak di anggap, justru menjadi penyelamat bagi hidup keluarganya dari aib yang di ciptakan oleh Seruni. Anak yang menjadi kebanggan dan tolak ukur bagi keluarganya. Anak yang menjadi perbandingan untuk dirinya. “Kau tidak mendengar ucapanku?” suara Samudera begitu dingin, membuat tubuh Samara bergetar takut. “Bereskan barang-barangmu, mulai hari ini kau akan tinggal di Mansionku. Hanya saja bukan sebagai seorang istri, melainkan seorang … pelayan.” Deg Samara terdiam. Sebegitu lucunya takdir mempermainkan kehidupannya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak toh takdir tidak ada yang bisa mengubahnya. “Baik, Tuan,” jawab Samara pelan. Gadis itu mulai membereskan barang-barang yang sebenarnya tidak seberapa banyak. Apalah ia yang hanya akan menerima barang bekas pemakaian sang saudara. Beberapa menit kemudian … “Sudah, Tuan,” ucap Samara pelan. Lelaki berwajah dingin itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Lantas ia pun berlalu keluar dari kamar yang bahkan luasnya tak sebanding dengan luas kamar miliknya. Ia bahkan heran, kenapa perempuan itu bisa betah hidup di dalam kamar yang bahkan lebih mirip gudang. Samara mengikuti langkah kaki pria di depannya. Tas lusuh menjadi wadah barang-barangnya yang tak seberapa itu. Begitu sampai di lantai bawah, Samara melihat sang ibu tengah memarahi para pelayan. Mungkin saja ia memarahi mereka karena lalai dan membiarkan Seruni pergi dari rumah. Samudera sama sekali tak menyapa perempuan paruh baya itu. Muak sekali rasanya, Sekar yang melihat menantu dan putrinya hendak pergi langsung menghentikan aktivitasnya. “Mau kemana kalian?” Tanyanya pongah. Lagi dan lagi Samudera sama sekali tak memperdulikannya, membuat Sekar mendengus malas. “Samara, mau pergi kemana kau?” Serunya menghentikan langkah kaki gadis itu. Samara menoleh dan menatap sang ibu, “Aku … mulai malam ini aku tinggal di rumah tuan Samudera, Ibu,” ucapnya pelan. Sekar menggeleng keras, “Tidak! Aku sama sekali tidak mengizinkanmu untuk langsung pergi meninggalkan rumah. Samudera setidaknya semalam kau tinggal di sini.” Samudera tersenyum sinis, ia berjalan berbalik mendekati Samara. Lalu menggenggam tangan gadis itu dan membawanya keluar dari rumah itu. Masa bodoh dengan perempuan paruh baya itu, Samudera akan melakukan perhitungan dengannya, nanti. Setelah ia menemukan keberadaan kekasihnya, Seruni. Sekar langsung melotot kala melihat Samara di tarik begitu saja oleh Samudera. Perempuan paruh baya itu langsung menyusul keduanya. “Samudera, tunggu. Kamu tidak bisa seperti ini. Samara, masih ada satu tugasnnya di rumah ini dan dia harus memenuhinya sebelum ia pergi dan tinggal di mansionmu.” Samudera menarik tubuh mungil Samara dan menyembunyikannya di balik tubuhnya yang kekar. Samudera menatap tajam wajah Sekar. “Sejak aku mengucapkan ijab kabul, dia sudah bukan menjadi tanggung jawabmu melainkan tanggung jawabku. Jadi, aku tidak perduli kalaupun ia masih memiliki sangkut paut dengan rumah ini, karena mulai saat ini hidupnya ada di tanganku. Nasibnya aku yang menentukan, anda mengerti nyonya Sekar yang terhormat.” Deg Samara terdiam di tempatnya. “Tuhan, sebercanda inikah kau memberikan kehidupan untukku?” Batin Samara berbicara. “Tapi, Nak ….” “Aku tidak perduli,” sela Samudera memotong ucapan Sekar. Setelahnya ia berbalik dan menarik Samara, mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sekar hanya mematung, kala melihat anak yang ia perlakukan bak seorang pelayan pergi dari rumahnya. Ada sedikit rasa sesal kala meminta Samara untuk menggantikan putrinya, Seruni. Sekar takut, jika hidup Samara akan jauh lebih baik setelah menikah dengan Samudera. Sekar juga tidak bisa melampiaskan kemarahannya kepada gadis itu lagi. “Seruni, semua ini ulahmu. Mengapa kau malah kabur di hari pernikahanmu itu. Dasar anak tidak tahu di untung,” desis Sekar. Sekar menyesal karena dulu ia terlalu memanjakan Seruni hingga akhirnya anak itu menjadi liar dan tak terkendali serta keras kepala. Jika sudah seperti ini, Sekar tidak bisa menyalahkan siapapun sebab semua Seruni penyebabnya. Di dalam mobil, Samara hanya diam saja memandangi jalanan. Begitu juga dengan Samudera yang fokus menatap kedepan. Ketika di lampu merah, Samara melewati tempat yang biasa ia berjualan. Seulas senyum getir terbit di bibirnya, entah ia bisa kembali berjualan atau tidak. Sebab hidupnya sekarang tidak seperti dulu, saat ini ia sudah berstatus menjadi seorang istri. Meskipun istri yang tak di inginkan. Samudera melirik Samara melalui ekor matanya, ia akui jika Samara jauh lebih cantik di banding dengan Seruni. Wajahnya alami tanpa polesan makeup, bibirnya yang merah ranum, serta mata bulat dan pipi sedikit chubby. Sedangkan Seruni, perempuan itu cantik karena hasil polesan make up dan juga hasil oplas. “Tuan, kita sudah sampai,” ujar sang sopir. Samudera hanya menjawab dengan anggukan, berbeda dengan Samara yang mengucapkan terima kasih serta tersenyum. Bukan karena ia tengah tebar pesona, tetapi sifat Samara memang seperti itu. “Jangan sok ramah pada orang lain jika keramahanmu hanya sebuah topeng belaka. Sama seperti saudaramu yang tak tahu diri itu,” ucap Samudera dingin seraya menatap tajam Samara. Para pelayan berjejer menyambut kedatangan sang tuan muda, tidak boleh ada satupun yang ketinggalan. Ya sesempurna itu memang hidup Samudera. “Masuklah,” ucap Samudera dingin. Samara menganggukkan kepalanya, dan ia pun masuk mengikuti langkah kaki Samudera. Mansion mewah dengan hiasan dinding yang begitu estetik menyambut Samara. Gadis itu sama sekali tidak menyangka akan menginjakkan kakinya di rumah yang mewah dan besar. Langkah kaki Samudera terdengar begitu menggema di ruangan itu. Lalu lelaki itu duduk di sofa, dan menatap Samara yang masih setia berdiri. Samara sama sekali tidak berani menatap kepada Samudera. Sungguh ia takut, namun ia tidak bisa memperlihatkan ketakutannya itu. “Duduklah,” titah Samudera datar. Samara pun melakukan perintah Samudera tanpa membantah. Ia duduk di kursi tepat di seberang Samudera. Samudera sendiri menatap wajah cantik yang setia menunduk itu. “Kau tahu, di sini statusmu hanyalah seorang pengantin pengganti?!” Samara menjawab dengan anggukan kepalanya. “Maka dari itu, aku ingin kau tahu diri. Statusmu di sini tidak lebih hanya sebatas istri di atas kertas saja. Namun, hidupmu akulah yang menentukan. So … jangan pernah berpikir untuk lepas dariku, selain jika bukan aku yang melepaskanmu dan menyuruhmu pergi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD