Suka

1023 Words

Ian pergi ke tempat Julian. Julian menyambut kedatangan Ian dan mengajak Ian bersantai di ruang kerjanya. Begitu masuk, Ian merebahkan tubuhnya di sofa. Julian menatap Ian dengan salah satu alisnya terangkat. Tumben sekali ini manusia satu, datang-datang dengan wajah murung seperti itu. Julian duduk di samping Ian. "Kenapa lo?" Ian mengelusi kepalanya, dia bingung cara menyampaikannya kepada Julian, tetapi dia butuh teman juga sarannya. "Lo enggak mungkin datang tiba-tiba kalau bukan ada maksud tertentu." Perkataan Julian tentu benar adanya. Ian duduk tegak, dia menatap Julian sambil mengatur nafas. "Elah, lama banget lo. Tinggal bilang, apa susahnya?" "Susahlah, enggak segampang itu buat gue ngomong, Abang." "Lo marahan sama Bella?" "Enggak." "Terus?" Julian menatap Ia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD