Tak terasa ia sudah hampir tamat dari baju merah putih itu, meski nilai pelajarannya tak semuanya bagus, apalagi Matematika yang masih standar. Namun Dewi Fortuna masih berpihak padanya. Karna ia berhasil meraih nilai IPA tertinggi se Provinsi ketika ujian Nasional inilah yang akhirnya menganggat derajatnya yang awalnya rangking 20 ke atas jadi 10 besar. Setidaknya nilai IPA tertinggi itu menyokong nilai nilai mata pelajarannya yang lain. Ia bisa dapat masuk ke sekolah sekolah terpilih yang jadi Rayon sekolahnya dulu karna nilainya itu.
Dengan percaya diri ia ingin masuk ke SMP 34 yang menjadi idola semua anak anak ketika itu, karena yang masuk sekolah disana dianggap keren dan punya orang tua tajir, tapi kali ini keberuntungan tak lagi bersamanya. Seketika ia terhenyak ketika tau Orang tuanya sudah memilihkan sekolah yang tepat untuknya. Ya, “pesantren” sepertinya itu pilihan yang tepat untuk mendidik Vivin, pikir mamanya, ia akan tobat dan tidak berkelahi lagi disekolah dan bisa jadi anak baik-baik yang rajin belajar, tidak bolos, dan sering berkelahi.
Lama ia termenung, berharap mamanya bisa di ajak bernegosiasi, atau setidaknya memberi Vivin kebebasan Hak Azasi, dikeluarganya yang sama sekali tak Demokrasi. Mendengar kabar itu Vivin tidak berkutik sama sekali, dan mau tak mau menerima saja keputusan sepihak itu, berharap pada ayahnya pun percuma karena masih sering keluar kota dan pasti menyetujui saja pendapat mama. Lama ia melamun dan mengerutkan bibirnya Karena tidak ada pilihan lain, setidaknya ia masih mau sekolah dari pada berakhir jadi gelandangan dan tidak punya masa depan, mau tak mau ia harus turuti saja perintah mamanya untuk masuk pesantren tinggal di Asrama yang dilihatnya bagai penjara itu.
Sungguh seperti mimpi buruk yang mengutuk hidupnya dan ingin sekali memaksakan diri agar terjaga dan merasakan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara dengan bermain dan bermain seperti sediakala.
Vivin mendengus kasar, fikirannya gusar namun ia tetap ingin memberontak, tapi ada baiknya pelan pelan saja membujuk mamanya.
“Ma, padahal nilai ku sudah bagus, kenapa ga masuk SMPN 34 saja?” selain lebih dekat jaraknya dari rumah aku suka disana karna ada lapangan Basketnya, kenapa harus dipesantren?” tatapannya lesu dan terdunduktak berdaya.
“Memangnya kenapa jika dipesantren, kan sama sama sekolah yang penting tetap lanjut sekolah kan dari pada kamu tidak serius belajarnya, main terus gak pernah serius!” Sebagian orang tua selalu begitu, merasa paling benar dan pilihannya lah yang terbaik dari apapun.termasuk mamanya Vivin.
Sambil mengangkat alis mamanya masih kekeh ujarnya ” Pokoknya Jangan membantah, sekolah saja disana! Itu sudah pilihan yang tepat, teman mama bilang sekolah itu bagus, dan kamu bisa lebih disiplin dan mandiri disana” Sambil menyibukan diri mama Vivin masih diktator dan tak memberi kesempatan bagi Vivin dalam memilih.
“Tapi ma, aku janji ga berantem lagi dan sekolah dengan serius”, lagi lagi Vivin masih memelas agar rasa iba mamanya timbul, tapi sayangnya tidak sama sekali.
“mama sudah daftarkan ya, dan sudah bayar pula, gak ada ceritanya. Pokoknya tetap harus sekolah dipesantren itu!” tegas mamanya seolah mengakhiri perdebatan.
Adik Vivin tertawa cekikian menambah geram Vivin yang tak mampu berbuat apa-apa. Boneka yang tak jauh dari jangkauannya itu dilempar ke adiknya dengan jengkel. Dan ia keluar dengan marah
Vivin memang keras, tapi tak ada yang lebih keras dari mamanya, mungkin orang lain dengan mudah ia takhlukan tapi jika berhadapan dengan mamanya sendiri ia ibarat Harimau dibawah kendali sang pawang. Menurut saja, patuh saja agar tidak terjadi perang dunia. Ia keluar sejenak menenangkan diri dan berlalu pergi dari mamanya. Memang selalu begitu, ketika tidak menemukan kenyamanan dirumah Vivin selalu keluar rumah, entah bertemu temannya, bermain, atau menyibukan dirinya sendiri dengan melakukan hobynya. Kali ini ia membaca buku ditempat biasa tongkrongannya.
Tak seperti biasanya disana sepi tak seperti biasanya selalu ada Rafli atau faisal dan Fadli yang bermain Bola atau Bulutangkis dilapangan. Tiga teman akrabnya itu entah kemana, lapangan sama sekali tak berpenghuni.
“Vin ku dengar kamu masuk pesantren ya? ” kata itu terdengar dari arah belakangnya, menganggu konsentrasinya membaca. Tepat saja, Elsa rupanya, entah dari mana ia tau kabar itu. Mungkin dari mamanya karna mamanya elsa dengan mama Vivin berteman baik.
“mmm, iya mama udah daftarkan aku sekolah disana.” Ujarnya pelan dan pasrah sembari menahan gengsi karna diketahui Elsa. Ya, Elsa adalah murid pintar disekolahnya dulu dan ketika guru membullynya itu membanding-bandingkan Vivin dengan Elsa ia merasa lebih tau diri dan menjarak, bahkan bu Sari bilang nilai Elsa turun gara berteman dengan Vivin. Sejak saat itu mereka tidak begitu akrab lagi, dan Vivin hanya berteman dengan anak-anak cowok saja yang juga sama, ga pintar pintar amat dikelas, dan nakal pula. Sudah jadi budaya tiap sekolah selalu ada kubu-kubu nya, kubu anak pintar, anak pemalas, anak nakal, anak kutu buku dan cupu dan kubu-kubu lainnya yang tak pernah berdaulat.
“Vin, emang kamu mau sekolah di Pesantren? Kan katanya aturan disana ketat gitu, belum lagi tinggal di Asrama” gak bebas tuh kemana-mana. Lagi-lagi komentar Elsa membuat ia gusar.” Ya, mau bagaimana mama ku yang suruh bukan aku yang mau.
“Masuk pesantren itu sama saja merusak reputasiku selama ini. Harus pakai gamis tiap hari, harus syar’i pula kan aku ga percaya diri dengan penampilan seperti itu, ya mau tidak mau, belum lagi dengan seribu satu aturannya. Ahh aku muak, ingin kabur saja, tapi tidak tau kemana.” Vivin melipat tangannya di atas meja dan membenamkan muka disana.
“Iya gak apa-apa juga sih Vin, mana tau kamu bisa juara disana dan fokus belajar dan ga berkelahi lagi, hahahaha.” Vivin tak bergeming ucapan Elsa itu entah suport atau hinaan baginya. ”Emang kamu jadinya masuk sekolah dimana? Kali ini Vivin yang balas bertanya pada Elsa
“Aku ikut saudara mama dan tinggal disana, karena ia tak punya anak, jadi ku disekolahkan mereka di Bandung. Sekolahnya jauh lebih baik dari pada disini, dan gedung gedungnya megah juga. Disana kan kota, apalagi keluarga mamaku kaya kaya, Aku pasti betah berada disana” tukasnya dengan panjang lebar meskipun terkesan pamer. Vivin hanya mengangguk anggukan kepala, bagaimanapun dulu mereka pernah bersahabat baik, dan mendengar hal itu Vivin merasa kehilangan juga.
“Oo iya itu bagus, semoga kamu betah ya.” Vivin menepuk pundak Elsa karena memang begitu caranya menunjukan rasa simpati kepada teman-temannya entah cewe maupun cowok, tidak seperti anak perempuan lain yang saling peluk cipika-cipiki atau nangis bombay saat bersedih karena perpisahan.
***