Kondisi ruang kerja kembali normal seperti biasa. Sorot-sorot mata yang sebelumnya menantang dan merendahkan, kini hilang entah ke mana. Kepergiannya selama tiga hari ternyata ampuh melenyapkan gosip itu. Reina bisa bernapas lega dan kembali pada rutinitas tanpa terusik masalah. Namun, bukan berarti dia tidak punya masalah. Tak bekerja selama tiga hari membuat mejanya penuh dengan berkas. Kepala Reina berdenyut melihat semua itu. "Rei, bagaimana dengan liburanmu?" Jihan mengekor bersama sejumlah berkas di tangan. "Liburan yang menyebalkan," sahutnya kesal sembari meletakkan tas di sisi meja. "Kau kenapa tidak bersemangat setelah mengambil cuti? Biasanya selalu ceria bagai moodboster," ucap Jihan ketika dia sudah duduk berhadapan dengan lawan bicaranya. "Aku sedang tidak ingin membahas

