Chapter 1. Pria Gila

1222 Words
"Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk menebar cinta atau saling membenci. Namun Tuhan selalu mempertemukan dua hati dengan cara yang istimewa." -Imajindah - *** “Kara, semoga kamu bahagia di sana. Maafkan aku!” Setetes bulir menciptakan satu jalur basah di pipi Reina. Tanpa jeda dia menatap nama yang menghias batu persegi di atas gundukan tanah. Kesunyian serupa hatinya, terasa benar di tempat ini. Hanya embusan angin yang menjadi teman dan juga hati yang masygul. Satu tahun berlalu, selama itu pula sesal terus bertalun dalam sanubari, terpatri menjadi sebuah janji. Ikrar tanpa suara. Namun, tumbuh seindah Edelweis di puncak renjana. Tak ‘kan lagi dia mengungkap kata cinta pada manusia berjenis kelamin pria. Cukuplah dia yang menjadi pengunci rasa. Wanita dengan blouse putih dipadu blazer merah membalik punggung, menjejakkan kaki perlahan, seakan tak ada gairah dalam setiap entakkan. Getar terasa dalam saku celana, memaksa Reina untuk meraihnya. MAMA, kontak yang terlihat di layar smartphone. “Halo, iya, Ma.” “Rei, kamu bisa bantu mama?” “Bantu ... apa?” *** Entah sejak kapan pesan terakhir sebelum kematian menjadi keramat. Wejangan menjadi panutan, dan keinginan tertunda harus diwujudkan. Seperti apa yang dilakukan Reina saat ini. Hampir saja dia terlupa pada bangku besi yang menjadi permintaan terakhir Kara. Dudukan yang telah menjadi saksi ciuman pertama mereka. Lebih tepatnya, momen di mana Kara mencuri ciuman pertama Reina. Jika saja ibu mertuanya tidak menghubungi, apa yang akan dia katakan pada Kara di surga nanti. Freed putih melaju dengan kecepatan sedang. Sebuket bunga mawar putih menemani perjalanan panjang menuju Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Jika tak ada kemacetan, Reina bisa menempuhnya dalam waktu dua jam. Tempat itu masih sama. Jalan beraspal di antara savana yang membentang di sisi kanan dan kiri. Barisan palma menyapa dengan senang hati. Semakin dalam, kesejukan terasa benar kala pohon-pohon besar nan rindang berdiri kokoh, menyombongkan bentuknya. Tatanan bunga Bougenville, terlihat di depan mata. Warna merah muda tampak cantik bermekaran. Melukis senyum di wajah penikmatnya. Reina memutar pandang, mencari lokasi yang tepat untuk menepikan kendaraan lapis baja. Desir angin menyapa kala wanita itu menginjak rumput, lalu melenggang bersama buket bunga di tangan. Ubin tak berdosa dia lewati menuju kursi panjang berongga. Namun, gerak heels merah tiba-tiba terhenti. Bukan lampu merah lalu lintas yang menghadangnya, tapi seorang pria yang duduk di bangku kenangan. Dia berambut kecokelatan sedikit panjang, hampir menutup telinga. Bentuk rahangnya tegas, bibir tipis itu mungkin akan indah bila melengkung ke atas. Matanya memandang penuh tanya pada wanita yang mematung. "Hei!" sapa pria itu, segan. Reina celingak-celinguk, mencari sosok yang sedang disapa oleh manusia di hadapannya. Namun, sejauh mata memandang, tak ada orang lain. "Aku sudah lama menunggumu. Apa bunga itu untukku?" Suara merdu kembali mengalun, bagai burung yang menyombongkan kicaunya. Pandangan lelaki itu jatuh pada buket di tangan. Membuat Reina semakin tak mengerti kegilaan jenis apa yang sedang diderita pria asing itu. Dia berdecap, lalu kembali berucap, "Hah, dasar wanita! Tidak usah malu-malu." Pria itu beranjak dari dudukan, mendekati Reina tanpa ragu. Dia pun tak enggan berbagi senyum yang ternyata indah untuk dinikmati, tetapi tidak demikian yang dirasakan wanita itu. "Oke, oke. Walau aku tidak tahu kenapa kamu membawa mawar putih, never mind. Aku akan tetap jalan denganmu. Bukankah itu yang kamu mau? Ayo!" Reina mengernyit. Kalimat yang terucap dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit itu membuatnya jijik. Tanpa memedulikan air muka Reina,  lelaki tanpa nama mengalunkan lengan kekar di bahu berbalut blouse merah. Sentuhan terlarang, menyemai benih kebencian di hati wanita bergincu peach. "Apa maksudmu?" tanya Reina ketus. "Hei, bukankah kamu yang menginginkan kencan ini? Lalu, kenapa kamu sejutek itu? Apa karena kita telah lama tak bersua?” ucap pria itu lagi, masih dengan tingkat kepercayaan diri yang tampak memutar di ubun-ubun. Seakan telah menjadi identitas diri. "What!” Reina tersentak dengan penuturan lelaki berkemeja putih, “hah, sorry. Kamu salah orang,” pungkasnya, lalu melangkah tak peduli. Bagaimanapun buket dalam genggaman harus berada di atas jejeran besi panjang berkaki empat, sebelum Kara mengamuk di atas awan. Namun, siapa sangka, kelengahan Reina membuka peluang bagi lelaki berpostur tinggi. Dalam sekelebat dia merebut segenggam tangkai bermahkota putih. "Terima kasih bunganya,” ucap pria itu dibarengi senyum santai. Lagi-lagi, dia melakukan kelancangan, menghirup aroma kembang--yang seharusnya untuk Kara--dengan lengkung bibir kemenangan. "Kau ....” Reina mengepal kuat, menahan tindak kekerasan yang mungkin akan dia lakukan, “kembalikan bunga itu!" Lelaki itu masih bergeming. Meneliti setiap inci bagian-bagian mawar putih dan mulai berhati-hati dengan durinya. Dasar pria gila! Dari planet mana dia berasal? Jika saja bisa dilempar, akan aku kukirim dia ke negeri penyamun, kicau Reina dalam hati, mengernyih tak suka. Terdengar lagu karya Alan Walker mengalun lirih dari balik saku celana pria beralis tebal. Dengan tenang, dia mengeluarkan benda tipis menyala. "Halo," sapanya. Lelaki itu terdiam. Tak lama kemudian, alisnya terangkat, lalu mengerut dan bergumam, “Ah, sial! Jika dia tidak datang, lalu siapa wanita itu?" Dia melirik Reina sekilas, kemudian memasukkan smartphone ke tempat semula. Pipinya mengembung sesaat, dan terdengar desah di detik berikutnya. Naluri seorang wanita sangat bermanfaat dalam hal ini. Reina melipat kedua tangan, menatap setajam mata panah, mendengkus. Sementara isi kepala menyusun strategi pembalasan. "Emm, sorry," ucap pria tak dikenal, sembari menyodorkan hasil rampasannya. Tanpa basa-basi, Reina menyahut benda itu, lalu menjauh. Dia tak ingin amarah merusak hari peringatan kematian Kara. Terlebih, yang dia hadapi adalah seorang pria. Entah apa yang akan dipikirkan Kara di alam sana nanti. "Hei, tunggu!" Lelaki itu membuntuti setiap langkah wanita yang tak lagi menganggapnya ada. Memperhatikan setiap gerak Reina yang mengusik tanya. Wanita itu meletakkan buket di bangku besi, menatap jejak masa lalu yang terukir di sana. Kemudian menengadah, mencegah bulir bening yang hendak jatuh membasahi pipi. Reina tak ingin Kara bersedih, dan melihatnya lemah. "Kamu baik-baik saja?" Pria itu terlihat khawatir. Namun, tak ada niat sedikit pun dalam benak Reina untuk menjawab. Dia memilih pergi dan tak peduli. Baginya, menanggapi lelaki itu hanya akan membuang waktu. Dia tak suka jika ada orang lain yang mencampuri urusan pribadinya. Apalagi pria asing itu. "Hei!" seru pria itu. Seakan ingin meminta penjelasan dan balasan akan kata maaf yang sempat terucap. Reina berbalik, lalu menatap tajam pemilik suara lantang. Dengan geram, dia berkata, "Aku tak akan pernah memaafkanmu. Jadi, lebih baik untukmu menjauhi dariku. Atau aku akan .... Sengaja Reina menahan kalimatnya. Dirasa percuma mengucapkan ancaman kepada pria asing yang tak ‘kan pernah dia temui lagi. Hanya buang tenaga. "Huft, sudahlah." Langkah panjang kembali dia jejakkan. Hancur sudah hari yang seharusnya istimewa. Seorang pria gila telah memorak-porandakan susunan acara yang tertata rapi dalam imajinasi. Reina harus bergegas kembali ke Surabaya. Untuk mempersiapkan laporan dan beberapa berkas lain yang diminta oleh General Manajer kemarin. Dia pun harus datang pagi-pagi sekali untuk meeting. Setahun sudah dia berjuang di salah satu perusahaan ternama Indonesia, Savana Corporation. Perusahaan multinasional yang mencakup beberapa bidang, seperti : property, perhotelan, resort, dan yang paling menarik, perusahaan ini menguasai beberapa sistem keamanan kota-kota besar di Indonesia, yang berpusat di cabang Jakarta, Savana Tech. Banyak yang berebut ingin bergabung. Gaji yang tinggi menjadi incaran. Padahal, cara kerja mereka dituntut maksimal. Dinding gedung seakan memiliki mata yang mengawasi setiap detik. Bila kedapatan bersantai ria atau malas-malasan, jangan harap bisa bertahan lama. Karena itulah Reina sangat betah dan tak henti bersyukur atas hasil kerja kerasnya. Dia penggila kerja dan hobinya, pulang paling akhir. Gaji yang dia terima pun lumayan cukup. Cukup untuk beli mobil dan apartemen mungil, juga biaya berobat sang ayah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD