. Angkasa mengira dia hanya perlu berlari lurus ke depan menghabiskan jalan lebar ini kemudian sampai pada gerbang belakang mereka, ternyata ia salah. Di ujung jalan itu hanya ada sebuah tembok yang dibuat dari susunan bebatuan kali setinggi empat meter dan berbagai persenjataan untuk pertahanan diri yang sudah disiapkan di sana. “Di mana gerbangnya?” gumamnya sambil menggeram sebal. Sampai di ujung jalan itu, ada dua jalan yang lurus di kanan dan kirinya, sama panjangnya, sama-sama tidak jelas jelas ujungnya. Napasnya tak bisa bisa bohong, Angkasa sudah sangat terengah karena berlari melebihi kapasitas jantungnya. Dia berlari lebih kencang dari kecepatan paling kencangnya selama ini. Sampai kedua tangannya menggenggam lututnya dan napas dari mulut terembus berkali-kali. Kerin

