. Kali ini sekujur tubuh Angkasa basah. Ia terbaring lurus menghadap langit. Tetes demi tetes air mengguyur wajahnya. Ia buka kelopak matanya. Rintik hujan yang tak berwarna itu bersinar diterpa cahaya dari sebuah lampu minyak kecil. Angkasa melihat sorot cahaya kuning yang cukup terang dari sebuah jendela kecil tepat di samping ia merebah. “Apakah aku pingsan sampai malam hari ataukah aku melompati waktu?” gumam Angkasa. Kali ini denyut di kepalanya tak kunjung usai. Rasanya masih tetap sama, bahkan bayangan anak lelaki yang sangat persis dirinya di masa kecil, masih juga terpampang jelas di depan matanya. Lalu tiba-tiba getar tanah merambat mendekat. Angkasa bergegas bangun. Seseorang sedang berlari mendekat dengan tergesa. Ia bisa tahu itu dari ritme langkahnya serta kece

