. Naviza berdiam di posisinya, tak beranjak kemanapun. Dalam kegelapan ini kemampuan mereka sedang diuji. Tak hanya Angkasa yang merasakan kehadiran orang lain, dirinya pun merasakan tanda-tandanya meski samar. “Mereka memang tidak tinggal di desa ini, tapi mengawasi tempat ini seolah ini adalah pintu gerbang,” bisik Naviza membuat kesimpulan. Kini mereka menghadap arah yang berlawanan dengan saling memunggungi. Masing-masing sudah menghunus senjata dengan posisi siaga di atas kuda. Kali ini aura kehadiran Vocksar makin jelas dan kuat. Naviza tak bisa menemukan mereka, tempat ini terlalu hitam untuk melacak dimana posisi orang-orang itu sedang mengintai. Dia melirik Angkasa, dalam temaram malam ini, lelaki itu seakan tengah melihat musuhnya pada satu titik. Tidak, tak hanya

