EPISODE 3 : Wawancara

3717 Words
Keesokan harinya, seperti biasa aku bangun pagi jam 6. Istriku tidak ada, tetapi kulihat ke garasi, mobil Toyota Rush miliknya masih terparkir dengan rapi, menandakan si Erna b*****t itu belum berangkat kantor. Aku membuat sarapanku sendiri, dan tidak lama kemudian, Erna b*****t itu muncul dari balik kamar mandi. "Pagi-pagi aku sudah mules begini. Seperti biasa." Kata Erna b*****t itu. Wah, mules karena sindrom pagi-pagi, atau karena hamil oleh si Adi b*****t itu nih? "Kamu hamil mungkin?" Tanyaku, sambil memancing. "Mungkin juga ya." Kata si Erna b*****t itu. "Hayo anak siapa? Anakku bukan nih?" Tanyaku. Mendengar pertanyaanku, si Erna b*****t itu terlihat sangat terkejut, dan ketakutan. "Ma... maksudnyaa apaa? Y... ya pastinyaa an.. anaak kamu lah kalo aku hamil." Kata Erna dengan terbata-bata. "Oh ya bagus deh." Kataku, sambil meninggalkan meja makan, mencuci piring, dan bersiap untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku mengenakan kemeja hijau muda dan celana bahan hitamku, dan langsung bergegas menuju garasi untuk memanaskan VW Touareg milikku. Setelah 2 menit memanaskannya, aku langsung pergi ke kantor, tanpa berpamitan dengan istriku. Karena tidak begitu konsentrasi dengan jalanan, aku mengemudikan mobilku dengan cukup asal-asalan, cenderung kearah ngebut. Aku sampai di kantor dalam 40 menit, yang biasanya 1 jam. Waktu telah menunjukkan pukul 7.20, dan tentu saja aku yang pertama kali datang ke kantor ini, bahkan ruangan Bu Novi pun masih kosong. Keadaan kantor yang sepi ini kugunakan untuk mencari daftar client perusahaan ini yang bergerak dibidang spionase. Aha, dengan query SQL yang mudah, aku langsung menemukan ada sekitar empat clients (query SQL adalah perintah komputer yang digunakan untuk mencari data sesuai dengan kriteria yang kita inginkan). Setelah aku mendapatkan nomor telponnya, aku langsung menelponnya. "Alan speaking here. (Dengan Alan disini)" Jawab seorang laki-laki di telpon. "Eventhough there are no bushes, the frogs keep jumping everywhere, wanting to be taken care of probably." Jawabku. "What can I do for you, Mr. Jent? (Apa yang bisa kubantu, Pak Jent?)" Jawab laki-laki itu ditelpon. "You sure catch on quick. How do you know that I phone you, Peter? (Kamu cepat tanggap. Bagaimana kamu tahu aku yang menelpon, Peter?)" Tanyaku kepada seseorang, yang sebenarnya bernama Peter. "Let's not wasting time here. I always share a unique code to different persons, and I never forget about each code. (Kita tak perlu membuang-buang waktu. Saya selalu memberikan kode yang unik kepada setiap orang yang berbeda, dan aku tidak pernah melupakan tiap kode yang kuberikan.)" Kata Peter. "Okay. Let's get to the point then. I want you to spy two persons, I'll send the detail after our conversation here. How much is the discount? (Oke. Kita langsung to the point saja. Aku mau kamu memata-matai dua orang, akan kukirimkan detailnya setelah pembicaraan kita ini. Berapa banyak diskonnya?)" Kataku. "Who are those two? (Siapa keduanya itu?)" Tanya Peter. "My wife and her gigolo (Istriku dan selingkuhannya)." Kataku. "I reckon that you have 2 points free from me. Spouse is worth for 0.5 point, and regular person is worth for 1 point. So it is still free, and you have 0.5 point left. (Setahu saya, kamu punya 2 poin gratis dariku. Suami/istri bernilai setengah poin, dan orang biasa bernilai 1 poin. Jadi masih gratis, dan kamu masih punya setengah poin lagi.)" Kata Peter. "Good. Make all the neccessary preparation then. I'll send you the detail. (Bagus. Persiapkan semua yang kamu perlukan. Akan kukirimkan detailnya)" Kataku, sambil menutup telpon. Lalu, aku menyiapkan fotocopy KTP si Erna b*****t, dan KTP si Adi b*****t yang kebetulan ada di rumah, karena istriku menyimpan arsip seluruh bawahannya di rumah. Setelah itu, aku meng-scan fotocopy KTP mereka berdua, dan mengirimkan gambar hasil scan itu ke alamat email Peter. Tidak lama kemudian, aku segera mendapatkan balasan email dari Peter. "Rest assured. You will get the recording of their activity for 2 months" (Tenang saja. Kamu akan mendapatkan video dari aktivitas mereka selama 2 bulan). Setelah itu, orang-orang sudah mulai berdatangan. Sementara aku kembali ke pekerjaanku. Aku melihat daftar pekerjaan-pekerjaan yang masih tertunda. Dari jauh, kulihat Bu Novi melangkah ke ruanganku. Ia masuk tanpa mengetuk ruanganku, dan memberikanku 3 buah dokumen. "Satu jam lagi." Kata Bu Novi. "Apa ya bu?" Tanyaku dengan bingung. "Lihat dulu saja. Nanti kalau ada yang kurang jelas, tanya ke aku." Kata Bu Novi seraya meninggalkan ruanganku. Aku melihat tiga dokumen tersebut. Ternyata dokumen calon kandidat karyawan baru. Eh tunggu, yang disebutkan di dokumen tersebut tidak ada hubungannya dengan divisi teknologi tempat aku bekerja. Ketiganya wanita semua. Setiap dokumen itu berisi tiga halaman. Halaman pertama memuat data diri termasuk foto dan pendidikan-pendidikan yang pernah dijalani. Halaman kedua memuat skill personal, mulai dari komunikasi, bela diri, sikap, serta penilaian sifat dibawah tekanan. Aku akui, skill personal mereka bertiga diatas rata-rata semua, bahkan ilmu bela diri mereka hampir sama denganku, jika kuterka. Posisi apa yang sebetulnya mereka lamar? Halaman ketiga memuat informasi yang aneh, yaitu spesifikasi badan dengan sangat lengkap... dan kemampuan seks mereka. Kalau kucermati, spesifikasi badan mereka memang seleraku semua. Tidak terlalu kurus, tapi tidak terlalu gemuk, buah d**a sekitar 34-36B, tinggi 165-175cm, kulit putih bersih, pokoknya masuk seleraku semua. Dan kemampuan seks mereka hanya dinilai dengan angka, menunjukkan indikasi nilai untuk foreplay, hand-job, blow-job, serta seks dalam berbagai posisi. Dan memang, angka untuk semuanya itu tidak ada yang dibawah 8. Apa sih maksudnya dari dokumen ini? Langsung saja kutelpon extension Bu Novi. "Yang kita bicarakan kemarin." Jawab Bu Novi singkat sebagai pengganti salam menjawab telpon. "Oh... oke bu." Jawabku sambil menutup telpon. Rupanya ini toh, masalah Elite Secretary a.k.a. Sekretaris Elit. Ya sudahlah, kantor mem-fasilitasi aku dengan tenaga tambahan untuk membantu pekerjaanku, kenapa tidak. Di tengah aku mempersiapkan bahan mengenai wawancara, tidak terasa satu jam sudah berlalu, dan telpon ruanganku berdering. "Ya halo." Kataku. "Pak, tiga orang yang mau wawancara sudah datang." Kata bagian front-office. "Baik, saya segera kesana." Kataku sambil menutup telpon. Wuih, tepat waktu sekali, beginilah yang namanya elit. Aku menelusuri lorong demi lorong di kantorku, yang cahayanya hanya berasal dari lampu saja, sebab kantorku terletak beberapa meter dibawah tanah. Ketika sampai di depan, yang sebetulnya adalah lift menuju ke kantor utamaku, aku menemui staff di front-office. "Permisi mbak. Saya wawancara mereka dimana?" Tanyaku. "Di ruangan Gamma, Pak Jent." Jawab staff front-office itu. "Baik, terima kasih." Kataku seraya menuju ruang Gamma, yang letaknya ada di sebelah kanan front-office. Ruangan Gamma ini bentuknya seperti ruang meeting biasa. Berbentuk persegi dengan luas 9 meter persegi. Ruangan ini tidak terlalu luas, karena fungsinya memang hanya untuk wawancara atau diskusi dua orang saja. Aku menarik nafas panjang, dan menghembuskannya. Aku melihat dokumen orang pertama, yang diurutkan berdasarkan waktu kedatangannya. Mina Susilawati. Di fotonya terlihat seorang wanita dengan kulit putih bersih dan rambut keriting. Usia 26 tahun, Kebangsaan Indonesia, Warna favorit putih, Hobi memasak, pendidikan terakhir SMK, pernah mengikuti kursus bela diri aikido dan karate. Keahlian komunikasi baik, cenderung bawel tapi tidak menyebalkan, kemampuan aikido 9 dan karate 9. Warna kulit putih, Tinggi 165 cm, Berat badan 55kg, Buah d**a 36B, panjang kaki 90cm, jerawat dan penyakit kulit apapun tidak ditemukan, foreplay 10, handjob 9, blowjob 9, man on top 8, woman on top 10, doggy style 9. Begitulah kira-kira gambaran besar dari apa yang tertulis di dokumennya. "Tolong panggil Mina Susilawati." Kataku di telpon. "Baik pak." Jawab front-officer. Tidak lama kemudian, masuklah si Mina Susilawati ini. Apa yang tertulis di dokumen ini sangat akurat, kalau ada yang salah, mungkin tingkat errornya hanya sebatas 0.1 saja. Seperti halnya calon karyawan baru, perusahaan mengenakan kemeja putih lengan pendek dan rok bahan hitam kepadanya. Ia masuk dan berdiri di depanku. "Selamat pagi, pak." Katanya sambil membungkukkan badan. "Selamat pagi. Siapa namamu?" Tanyaku. "Mina Susilawati, pak." Jawabnya. "Perkenalkan, nama saya Jent, yang akan mewawancarai kamu, dan partner kamu seandainya saya memutuskan untuk menerima kamu." Kataku sambil menjabat tangannya. Dia menjabat tanganku dengan senyum yang sangat kusuka, senyum lembut tanpa memperlihatkan gigi. "Jadi coba, kamu ceritakan mengenai diri kamu sendiri." Kataku. "Baik pak. Nama saya Mina Susilawati. Saya adalah..." Katanya sambil tetap berdiri. "Maaf, sebelumnya silakan duduk. Capek nanti kamu kalau berdiri terus." Kataku. "Oh, terima kasih pak." Katanya, sambil menarik kursi yang ada dihadapanku, dan duduk dengan posisi yang elegan. "Silakan dilanjutkan." Kataku. "Baik pak. Saya mulai dari awal ya pak. Nama saya Mina Susilawati. Saya adalah seorang wanita yang memiliki cita-cita untuk melayani orang lain, baik personal maupun suatu kelompok. " Kata Mina. "Ada lagi?" Tanyaku. "Saya menamatkan pendidikan saya dari TK sampai SMK di Solo, dan setelahnya saya pindah ke Jakarta untuk mengikuti kursus sebagai seorang Sekretaris Elit. Saya mengikuti kursus Sekretaris Elit selama 3 tahun, dan setelahnya bekerja di perusahaan Cina sebagai Sekretaris Elit." Kata Mina. "Apa yang kamu dapatkan disana?" Tanyaku. "Saya mendapatkan pengalaman sebagai Sekretaris Elit, bagaimana seharusnya bersikap dan bekerja sebagai Sekretaris Elit. Pekerjaan saya dulu merangkup menjaga keamanan bos saya, mengatur jadwal, menjadi penerjemah." Kata Mina. "Apakah bos kamu pernah mengajakmu untuk melakukan tindakan yang, hmmm apa kata yang tepat?, tidak senonoh?" Tanyaku. "Iya pak. Itu sudah pasti." Kata Mina. "Bagaimana reaksi kamu waktu pertama kali diajak melakukan hal seperti itu?" Tanyaku. "Awalnya sih kikuk pak, tapi lama-lama terbiasa juga." Kata Mina. "Apakah kamu menikmatinya?" Tanyaku. "Yah, kita tidak boleh berkata tidak pak untuk masalah ini. Kita harus menikmati walaupun kita tidak menikmati. Kepuasan dan keamanan bos saya adalah prioritas utama." Kata Mina dengan yakin. "Sekalipun taruhannya nyawa kamu?" Tanyaku. "Betul pak." Jawab Mina dengan yakin. Aku tahu dari pandangan mata dan sikapnya bahwa ia betul-betul serius dengan hal itu. "Baik. Lalu, seyakin apa kamu dengan kemampuan bela diri kamu?" Tanyaku. "Saya cukup yakin pak. Terbukti dengan saya mampu mengamankan bos saya, dari mafia-mafia bersenjata, baik senjata jarak dekat maupun jarak jauh." Kata Mina. "Maaf nih kalau saya bertanya demikian. Saya lihat kemampuan kamu di aikido dan karate. Kalau senjata jarak dekat, saya tidak ragu. Tetapi, bagaimana kamu mempertahankan diri sendiri dan bos kamu dari senjata jarak jauh?" Tanyaku. "Feeling pak. Setelah berada sekian lama di lapangan, saya bisa merasakan kapan musuh akan menembak, sehingga saya bisa menghindar." Kata Mina. Mendengar jawabannya, aku mencari suatu bagian di formulir aplikasi calon karyawan baru yang spesial ini, dan aku menemukannya. Ya, pernyataan bahwa "Pewawancara boleh melakukan pengetesan apabila data dalam formulir aplikasi ataupun jawaban dari terwawancara membuat pewawancara ragu.". Aku mengambil sesuatu dari laci tempatku duduk, ya sebuah revolver. Aku langsung menarik pemicu revolver, dan mengarahkan moncongnya ke kepala Mina. Mina hanya diam saja menatapku, ya... dia menatap mataku, tanpa ada rasa takut sekalipun. Aku penasaran, jika aku menarik pelatuknya, apa yang akan terjadi. "Jika aku menarik pelatuknya, apa yang akan terjadi? Apakah kamu akan mati dengan lubang dikepalamu? Akankah kamu menghindar, dan balik menyerang saya karena refleks? Atau akankah kamu simply menghindar?" Tantangku. "Silakan dicoba pak." Kata Mina dengan yakin. "Jika jawabanmu adalah kamu menghindar, dan balik menyerang karena refleks, tidakkah kamu takut akan membunuh saya?" Tanyaku. "Kalau bapak selemah itu, saya percaya bahwa bapak tidak akan mewawancarai saya. Karena Sekretaris Elit adalah obyek yang sangat berbahaya untuk diwawancarai." Kata Mina. Hmmm, aku suka gayanya. Tegas, Cerdik, Pemberani. Penampilan fisiknya pun aku cukup suka. Tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, berkulit putih bersih, berambut keriting panjang berwarna coklat, buah dadanya sintal, dan dengan melihat bentuk tubuhnya, sepertinya sih spesifikasi tentang kemampuan seks-nya di formulir itu benar. Entahlah, aku tidak peduli benar atau tidak, aku juga tidak mau mencobanya. Sifatnya mirip sekali dengan Bu Novi. "Baik, pertanyaan dari saya cukup. Dari Mina, apakah ada yang mau ditanyakan kepada saya?" Tanyaku. "Siapa orang yang paling bapak ingin bunuh saat ini?" Tanyaku. Hmmm, berbahaya. Dia bisa tahu aku sedang marah hanya dengan membaca aura-ku saja. Overall, aku sangat suka dengan orang ini. Sepertinya aku bisa cocok dengannya. "Classified. (Rahasia)" Kataku. Mina hanya tersenyum. Lalu ia menjabat tanganku. "Sudah cukup pak dari saya." Kata Mina. "Baiklah, jika ada perkembangan, akan saya hubungi. Jika sampai besok kamu belum dihubungi, artinya tidak." Kataku. Mina hanya berdiri sambil tersenyum, ya... senyum yang sangat kusukai. Setelah itu, ia berpamitan denganku, dan keluar ruangan. Lalu, aku melihat dokumen yang kedua. Saiyuna Wijaya. Namanya cukup langka, seperti orang Jepang. Di fotonya terlihat seorang wanita dengan kulit putih bersih dan rambut lurus panjang, hmmm mirip siapa ya? Familiar sekali wajahnya. Usia 24 tahun, Kebangsaan Indonesia, Warna favorit hitam, Hobi merenung (hah? Apa maksudnya ini?), pendidikan terakhir SMK, pernah mengikuti kursus bela diri taekwondo, kenjutsu, dan menembak (ini sih sama seperti keahlianku). Keahlian komunikasi baik, cenderung pendiam tapi murah senyum, kemampuan taekwondo 9, menembak 10, kenjutsu 8. Warna kulit putih, Tinggi 168 cm, Berat badan 51kg, Buah d**a 34B, panjang kaki 93cm, jerawat dan penyakit kulit apapun tidak ditemukan, foreplay 9, handjob 10, blowjob 10, man on top 9, woman on top 9, doggy style 8. Begitulah kira-kira gambaran besar dari apa yang tertulis di dokumennya. "Tolong panggil Saiyuna Wijaya." Kataku di telpon. "Baik pak." Jawab front-officer. Tidak lama kemudian, masuklah Saiyuna Wijaya. Mirip sekali dengan fotonya. Ia cukup kurus, untungnya tidak tinggal kulit dan tulang saja tetapi. Seperti halnya dengan Mina Susilawati tadi, hasil penilaian di dokumennya pun cukup akurat. Perusahaan ini memang tidak pernah error dalam memberikan penilaian, aku salut itu. Ia berjalan ke meja didepanku, dan langsung menjabat tanganku. "Yuna." Katanya sambil tersenyum. Senyumnya berbeda dengan Mina. Ia senyum dengan memperlihatkan giginya, meskipun begitu, aku tetap menyukainya. "Jent. Silakan duduk, Yuna." Kataku. "Terima kasih, Pak Jent." Kata Yuna. Ia duduk dengan posisi yang tidak kalah elegan dari Mina. Setelah duduk dengan sempurna, ia menatap mataku dengan senyum. "Kamu tahu arti dari nama kamu?" Tanyaku. "Saya tidak tahu persisnya, Pak Jent. Tapi ada sebuah harapan yang terkandung dalam nama saya. Ibu saya berharap saya itu menjadi wanita yang berbakti kepada orang-orang yang saya cintai." Kata Yuna. Hmmm, sejauh ini Mina dan Yuna memiliki cita-cita dan impian yang mulia. Kenapa mereka berakhir di tempat seperti ini ya? Takdir memang membingungkan, tidak bisa ditebak. "Baik. Berapa lama kamu menjalani kursus Sekretaris Elit?" Tanyaku. "Belum pernah, pak." Kata Yuna. "Oh oke. Kamu sudah tahu apa pekerjaan kamu nanti?" Tanyaku. "Ya, saya sudah tahu pak. Melayani bapak." Kata Yuna. "Itu saja?" Tanyaku. "Saya rasa itu sudah mencakup keseluruhannya, betul pak?" Kata Yuna. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang... menurutku agak polos, tapi mengena. "Yuna. Kalau kamu tidak pernah menjalani pendidikan sebagai Sekretaris Elit, darimana nilai-nilai ini berasal?" Tanyaku. "Saya sendiri juga tidak tahu pak." Kata Yuna. "Jika saya melakukan pengecekan terhadap data-data yang ada disini, apakah kamu bersedia?" Tanyaku. Yuna diam sebentar, menutup matanya, dan kemudian membukanya sambil mengangguk dengan yakin. "Bagaimana jika kamu gagal memenuhi ekspektasi saya?" Tanyaku. "Artinya, saya tidak akan berada disini sejak semula, Pak Jent." Jawab Yuna dengan yakin. Suasana di ruangan ini menjadi hening. Ia hanya melihat terus kearah mataku. Aku bermaksud melakukan sesuatu yang ekstrim. Revolver yang ada di tangan kananku ini, akan langsung kutembak ke kepalanya. Aku siap-siap, menarik pemicunya tanpa suara, mengambil posisi, dan... "Percuma pak, tidak akan kena. Bapak hanya buang-buang peluru saja." Kata Yuna sambil tersenyum. "Not bad, Yuna. (Lumayan juga, Yuna)" Kataku sambil mengangkat tangan kananku yang memegang pistol, lalu mengosongkan pelurunya, dan menembak peluru kosong ke kepalanya. Yuna hanya diam saja sambil tersenyum. "Apa rencana kamu 10 tahun kedepan?" Tanyaku. "Menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, istri yang baik bagi suaminya, dan anak yang berbakti kepada orang tuanya." Kata Yuna. "Hadeeh, ini sih sama sekali tidak cocok untuk pekerjaan ini." Pikirku. Meskipun begitu, kejujurannya patut diacungi jempol. "Baiklah, jika ada perkembangan, akan saya hubungi. Jika sampai besok kamu belum dihubungi, artinya tidak." Kataku sambil menjabat tangan Yuna. "Saya mengerti, pak." Kata Yuna. "Oh iya, berikan saya satu alasan kenapa saya harus menerimamu." Kataku. "Tidak ada, Pak Jent." Kata Yuna. Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar jawabannya, kemudian mempersilakan dia pergi dari ruangan ini. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12.20. "Wila, itu kandidat yang ketiga, mau makan siang dulu atau mau langsung wawancara?" Tanyaku kepada staff front-office, yang sebetulnya bernama Wila, melalui telpon. "Sebentar pak." Jawab Wila. Tidak lama kemudian, Wila menjawab. "Katanya terserah bapak." Jawab Wila. "Baik, panggil kesini ya." Kataku. "Baik pak." Jawab Wila. Eri Novita. Dari namanya saja sudah mirip Bu Novi. Tidak hanya namanya, wajahnya pun sangat mirip dengan Bu Novi, bedanya sepertinya ia terlihat lebih kurus dari Bu Novi (hanya melihat dari foto dan mengira-ngira sih). Usia 27 tahun, Kebangsaan Indonesia, Warna favorit merah muda, Hobi merakit alat elektronik (cukup langka untuk seorang wanita, menurutku), pendidikan terakhir SMK, pernah mengikuti kursus bela diri brazilian jujitsu dan muay thai (kok dua bela diri yang tidak berkorelasi satu sama lain ya? Menurutku sih). Keahlian komunikasi baik, cenderung tidah banyak bicara dan tegas, kemampuan brazilian jujitsu 9 dan muay thai 9. Warna kulit putih, Tinggi 166 cm, Berat badan 51kg, Buah d**a 34B, panjang kaki 91cm, jerawat dan penyakit kulit apapun tidak ditemukan, foreplay 8, handjob 10, blowjob 10, man on top 10, woman on top 10, doggy style 8. Begitulah kira-kira gambaran besar dari apa yang tertulis di dokumennya. Aku tiba-tiba jadi merinding, memikirkan orang-orang seperti ini yang akan menjadi sekretaris elit-ku. Namanya wanita, jika sudah emosi itu paling memuakkan. Apalagi yang tipe model-model masih labil. Jangan-jangan nanti saking emosi-nya, mereka melancarkan ilmu bela dirinya kepadaku. Mending kalau aku bisa mengatasinya dengan ilmu bela diriku, kalau tidak habislah hidupku. "Bapak bisa bengong seharian dan begitu tersadar bapak sudah mati, atau bapak bisa keluar dari lamunan bapak dan menghindari tembakan saya dalam tiga detik." Jawab sebuah suara wanita yang tiba-tiba terdengar. Begitu aku tersadar dari lamunanku, didepanku sudah berdiri sesosok wanita. Wajahnya sangat mirip dengan Bu Novi, hanya saja ia lebih kurus dan pendek. Buah dadanya pun sekal sekali, seperti Bu Novi. Kakinya begitu putih bersih dan mulus. Rambutnya lurus panjang, seperti Bu Novi. DOORR! Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang berasal dari depanku. Rupanya dia sudah mengacungkan pistol ke kepalaku. "Bapak tidak menghindar karena melamun, atau tahu bahwa ini peluru kosong?" Tanya wanita itu. "Sebetulnya dua-duanya. Saya tidak merasakan aura membunuh dari kamu, karena itu saya tetap melamun." Kataku. Wanita itu hanya tersenyum. Senyum yang mirip Bu Novi, walau tidak sama identik. Aku langsung mengambil revolver yang ada di laci mejaku, dan menembak tangannya, hanya melewati bagian bawah tangannya sedikit. Ia tidak menghindar dan tidak bergeming. Hebat, boleh kukatakan. Aku yakin ia merasakan aura membunuhku, tapi ia tidak bergeming sedikitpun, aku rasa tanda bahwa ia sudah pernah menghadapi sesuatu yang sangat dekat dengan ajalnya selama lebih dari tiga kali paling tidak. "Berhati-hatilah, saya yang mewawancarai kamu, saya yang menguji kamu. Bukan sebaliknya." Kataku sambil melemparkan kotak P3K kepadanya, yang langsung ia tangkap. Ia mengobati luka gores di tangannya dengan alkohol dan perban kecil. "Maafkan kelancangan saya pak. Karena saya harus tahu apakah saya harus mengambil pekerjaan ini atau tidak." Kata wanita itu. "Apa maksudnya?" Tanyaku. "Caraku melindungi adalah dengan cara menghabisi semua musuhku. Jika bosku begitu lemah, aku yakin bosku akan mati selagi aku membasmi musuh-musuhku." Kata wanita itu. "Dan apakah kamu harus mengambil pekerjaan ini?" Tanyaku. "Ya." Katanya singkat. "Oke. Jabarkan dirimu dengan menggunakan tidak lebih dari 20 kata." Kataku. "Eri. Observatif, dingin, tegas, menggoda." Kata Eri. Aku tahu dia observatif, dari caranya mengambil kesempatan untuk memulai serangan disaat aku sedang melamun. Dingin dan tegas, dari caranya menembakku tanpa ampun, walau tidak dengan aura membunuh. "Jelaskan pengertian menggoda." Kataku. Dia mengambil sebilah pisau dari kotak P3K yang tadi kuberikan, dan kemudian mengacungkannya keatas kepalanya, sambil terus menatapku, kemudian diturunkan pisau itu, dengan ujungnya mengarah ke tubuhnya. Kemudian ia menggerakan bahunya dan pahanya, sehingga seluruh pakaiannya, termasuk pakaian dalamnya terbuka karena terbelah dua. Rapi sekali potongannya, sepertinya ia cukup berpengalaman dalam membunuh. Tetapi yang langsung membuatku terpana adalah tubuh Eri yang tidak terlindungi apapun. Tubuhnya putih seperti kulit mukanya, buah dadanya bulat dengan p****g berwarna coklat kemerahan, perutnya cukup indah, sedikit berlemak di bagian tengahnya, pusarnya begitu menawan, kedua pahanya indah, dan diujung kedua pahanya, terdapat rambut kemaluan yang tipis, serta onggokan daging yang menonjol diselangkangannya. Kalau saja aku tidak terbiasa mengontrol diri karena digodok latihan bela diri, pastilah aku sekarang sudah memperkosanya. Aku hanya tersenyum melihat perbuatannya itu. Sungguh berani, dan tubuhnya memang menggoda. Tidak banyak bicara, tetapi tegas dan jelas. Dari ketiganya, dia memang memiliki penampilan fisik yang paling mendekati Bu Novi. "Kamu punya bayangan siapa saja yang akan saya hadapi?" Kataku. "Saya tidak perlu punya bayangan. Siapa saja yang mengancam nyawa bapak, akan saya habisi duluan. Begitulah cara kerja saya." Kata Eri. "Metode apa yang kamu sukai untuk menghabisi orang?" Tanyaku. "Yang penting berhasil, saya tidak peduli dengan cara apapun." Kata Eri. Nah, ini yang profesional. Tidak peduli harga diri, yang penting tugas beres. Yah yang namanya di dunia gelap, harga diri hanya akan membawamu ke gerbang akhirat, begitulah yang aku tahu selama ini. "Berapa gaji yang kamu harapkan?" Tanyaku. "Sudah saya tulis di formulir." Kata Novi. "Kenapa kamu tidak jawab saja?" Tanyaku penasaran, sambil memancing. "Bagaimana saya tahu di ruangan ini yang mendengarkan hanya bapak saja?" Tanya Eri. "Memang kenapa kalau ada yang mendengarkan selain saya?" Tanyaku. "Kecemburuan sosial pak. Saya masuk kesini untuk melayani bapak, bukan untuk menjadi penyebab perpecahan." Kata Eri. Sudah kuduga, dia memang paling profesional dan bisa untuk menjalani posisi ini. Yah tapi tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Aku juga masih memiliki pertimbangan lain untuk kedua kandidat sebelumnya. "Baik, kamu boleh pergi. Jika ada perkembangan, akan saya hubungi. Jika sampai besok kamu belum dihubungi, artinya tidak." Kataku. "Baik pak." Kata Eri sambil melangkah keluar... masih dalam keadaan telanjang. Setelah selesai, aku pun keluar dari ruangan itu untuk makan siang. Haah... hari yang panjang dan melelahkan. Untungnya begitu kembali ke kantor, aku tidak begitu sibuk, jadinya bisa sedikit santai. Siang-siang, aku sudah mendapatkan kabar dari Bu Novi, bahwa perusahaan sudah setuju dengan segala pengajuan kandidat tiga sekretaris elit tersebut, jadi tinggal aku saja yang menentukan, apakah mau memilih salah satu dari tiga orang itu atau memanggil kandidat lain untuk mendapatkan lebih banyak pilihan. Aku tidak memutuskan saat itu juga. Jam kantor pun berlalu, dan aku langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku mendapati si Erna b*****t itu belum pulang. Aku langsung mengecek email, dan sudah mendapati bahwa ada pesan dari Peter, yang sangat kutunggu-tunggu. "Just arrived in Jakarta. Will commence tomorrow. (Baru tiba di Jakarta. Operasi dimulai besok.)". Aku membalas singkat, "Copy that.". Setelah itu, aku langsung menelpon seseorang, yang merupakan salah satu dari ketiga kandidat yang kuwawancarai hari ini, yang diangkat tidak lama kemudian. "Kapan kamu bisa mulai bekerja?" Kataku. "Detik ini, pak." Terdengar suara seorang wanita di telpon. "Bagus. Saya tunggu besok di kantor. Ketemu dengan Wila agar ditunjukkan dimana meja kerja kamu." Kataku. "Baik pak." Kata wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD