Bab 2: Di Balik Tembok Es

224 Words
Hari-hari berlalu, dan perlahan Destia mulai membaur dengan teman-teman sekelas. Ia ceria, cepat akrab, dan senang membantu. Namun hanya satu orang yang tetap sulit ditembus: Levi. Sampai pada suatu hari, guru Bahasa Indonesia mengumumkan proyek kelompok. Nama mereka berdua disebut dalam kelompok yang sama. Destia sedikit kaget, sekaligus penasaran. Levi hanya mengangguk pelan saat ia mengajak diskusi. “Aku bisa ke rumah kamu sore ini. Kita kerjain bareng,” kata Destia. “Jam empat. Jangan telat,” jawab Levi, tanpa nada. Rumah Levi sunyi. Tidak ada suara TV, radio, atau orang lain. Destia sempat ragu saat melangkah masuk. Rumah itu besar tapi terasa kosong. Seperti Levi. Mereka mulai bekerja. Destia mencoba mencairkan suasana dengan candaan ringan, tapi Levi hanya menjawab seperlunya. Hingga akhirnya, Destia melihat tulisan tangan Levi—cerita pendek tentang kehilangan dan sepi. “Kamu yang nulis ini?” tanyanya takjub. “Keren banget. Dalem banget.” Levi menoleh cepat, seolah tak percaya mendapat pujian tulus. Bibirnya nyaris tersenyum, tapi kemudian kembali datar. Saat Destia pamit pulang, hujan kembali mengguyur. “Payungmu kecil,” kata Levi, mengambilkan payung hitam besar dari rak. Ia menyerahkannya pada Destia. “Kamu sendiri gimana?” “Aku biasa.” Saat Destia melangkah keluar, ia sempat menoleh. Levi berdiri di ambang pintu, menatap hujan. Entah kenapa, ia tampak lebih sendiri dari siapa pun yang pernah ia lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD