Sebelum waktu makan malam tiba, Alexa pergi menuju kamar Sunny atas suruhan sang ibu yang merasa khawatir kalau-kalau Sunny akan melakukan upaya yang bisa membuat acara perjodohan ini batal. Demi mengantisipasi hal tersebut sekaligus demi menyukseskan acara perjodohan sang kakak, Alexa sengaja membawa serta perlengkapan make up miliknya karena tahu Sunny tidak begitu lihai merias diri dan dia berencana membuat Sunny terlihat secantik mungkin di hadapan laki-laki yang akan kakaknya nikahi.
Sesampainya Alexa di depan kamar Sunny, dia dengan sopan mengetuk pintu sebagai bentuk basa-basi kendatipun kunci kamar sang kakak sudah berada di tangannya. "Kakak? Apa kau sudah siap?" kata Alexa seraya melongok ke dalam.
Sunny yang saat itu sedang duduk diam di depan meja rias langsung menoleh ke arah Alexa tanpa minat. Melihat Sunny sudah siap dengan gaun serta high heels yang dia pilihkan untuknya tadi pagi, senyum secerah matahari terbit di bibir Alexa, kontras dengan ekspresi wajah Sunny yang seperti sedang mempersiapkan pemakaman untuk dirinya sendiri.
"Syukurlah kalau Kakak sudah siap. Aku jadi merasa lega. Oh, iya. Apa kau suka gaunnya?" Alexa melangkah riang mendekati Sunny yang kembali menatap hampa pantulan dirinya di cermin. Setelah meletakkan beauty case di atas meja rias, Alexa pun berkata lagi. "Kak, aku akan membantumu berdandan."
"Aku sudah memakai make up omong-omong."
"Akan aku tambahkan sedikit."
"Tidak perlu karena aku tidak menyukai riasan yang tebal."
"Kalau begitu, aku akan membantumu menata rambut. Bagaimana, kau lebih suka rambutmu diikal atau disanggul?"
Sunny mengedikkan bahu bersikap masa bodoh. Meski merasa kesal melihat sikap dingin Sunny yang menurutnya sangat tidak tahu diri, fakta kalau dia masih harus bersikap baik kepada Sunny supaya perjodohan yang sudah disusun oleh kedua orangtuanya berjalan lancar, membuat Alexa terpaksa mengabaikan percikan kecil amarah dengan mengukir senyum manis penuh kepalsuan.
"Aku lihat, tadi siang kau sempat pergi bersama kekasihku." Sunny mulai membuka pembicaraan setelah bermenit-menit lamanya suasana diselubungi senyap. Lewat pantulan di cermin, pandangan mata mereka saling bertemu. Saling menatap penuh api, saling melempar isyarat amarah yang tidak bisa mereka ungkapkan secara terus terang.
"Itu benar. Apa kau keberatan?"
"Jika aku keberatan, apa kau mau berhenti mendekatinya?"
Pertanyaan tak terduga dari Sunny membuat Alexa mematung. Sunny menepis tangan sang adik dari rambutnya kemudian berdiri menghadap Alexa.
"Apa kau bisa menjauhi Oh Sejun jika aku berkata bahwa aku sangat keberatan melihatmu mendekatinya?"
"Kak...."
"Untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang sedalam ini. Untuk pertama kalinya juga, ada seseorang yang begitu tulus mencintaiku sampai aku merasa sulit untuk bernapas jika dia tidak ada. Jadi... jika aku tidak bisa merelakan Oh Sejun untukmu, apa kau—"
"Tidak! Kau harus merelakan Oh Sejun untukku!" Napas Alexa naik turun diburu angkara seiring terbentuknya kepalan tangan yang membuat buku-buku jarinya memutih. "Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk menjauhinya?"
"Sejun mencintaiku, Alexa. Dia tidak mencintaimu."
"Cinta datang karena terbiasa, Kak. Jadi jika kau membiarkan Sejun terbiasa denganku, aku yakin suatu hari nanti dia pasti menyukaiku."
"Alexa, please." Sunny berkata dengan nada memohon. "Kau boleh meminta apa pun dariku. Apa pun, Alexa. Asal jangan Sejun. Dia satu-satunya hal yang tidak bisa aku berikan kepadamu."
"Tapi hanya dia yang aku inginkan! Lagi pula, memangnya apa yang bisa kau berikan kepadaku sampai-sampai kau menyuruhku meminta hal yang lain? Memangnya apa yang kau punya selain kewajibanmu untuk membalas budi kepada kami? Jika kau berkata bahwa aku akan mendapatkan pria lain yang lebih baik dari Sejun, bukankah aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu?"
"Dari awal dia milikku. Kau tidak boleh mencurinya."
Alexa mendengus kasar. Tatapannya semakin nyalang, namun Sunny tidak terlihat mau mengalah seperti yang biasanya dia lakukan.
"Apa kau bilang? Pencuri? Kau mengataiku sebagai pencuri?"
Sunny memilih diam meski nyaris mengiyakan perkataan Alexa dengan suara lantang.
"Bersikap tidak tahu diri pun ada batasnya, Sunny!" Suara lain yang berbaur di tengah perdebatan membuat perhatian kedua gadis itu teralih. Di ambang pintu, Jonathan diiringi wajah segarang hantu menguliti Sunny dengan tatapan tajam seumpama belati. Derap langkahnya mengundang tremor hingga Sunny kesulitan mempertahankan keberaniannya untuk melawan demi memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
"Asal kau tahu, kau bukan istrinya Oh Sejun. Kau juga tidak berhak mengatai putri kandungku sebagai pencuri, padahal bertahun-tahun lamanya kau hidup dengan nyaman di bawah belas kasihan kami. Apakah pantas seorang pengemis memaki-maki orang yang memberinya makan dan tempat tinggal?"
Sunny merasakan kepingan hatinya lebur di bawah kaki dan dia kembali terkunci oleh fakta yang tidak akan pernah bisa dia tepis tak peduli seberapa inginnya dia menyangkal. Ketidakberdayaan yang datang seperti lecutan cambuk berduri menghadirkan tangis tanpa suara. Butuh kekuatan ekstra bagi Sunny untuk tetap berdiri di atas kedua kaki di saat jantung yang menopang semestanya serasa dicabut oleh tangan besi kesedihan.
"Dengar," Jonathan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Sunny lalu memaksanya duduk, "jangan membuat Ayah kehilangan kesabaran. Karena kalau tidak, kau akan tahu akibatnya."
Jonathan lantas menoleh ke arah Alexa.
"Cepat bantu Kakakmu. Jangan sampai kita terlambat hanya karena masalah kecil seperti tadi."
"Baik, Ayah."
Selaras dengan debaman pintu yang tertutup, kelopak mata Sunny pun terkatup ditimpa sendu.
Oh Sejun, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.
...
"Aku tidak menyangka kalau putrimu berkali-kali lipat jauh lebih cantik dibandingkan dengan yang aku lihat di foto, Ilana-ssi." Laki-laki berstatus duda itu mendongak menatap Ilana sebelum mengalihkan pandangannya kepada Sunny yang sejak awal memang tidak banyak bicara. "Apa kau menyukai makanannya, Sunny-ssi."
Sunny memindahkan fokusnya dari daging steak yang sedang dia potong ke wajah pria yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Makanannya sangat enak. Terima kasih banyak, Ahjussi."
"Tuan Park masih cukup muda untuk dipanggil dengan sebutan ahjussi olehmu, Sunny." Jonathan meralat perkataan Sunny sambil menyembunyikan perasaan geram dalam lengkung senyum di bibir tetapi tidak di mata. Pandangan Sunny yang sempat bersirobok dengan Jonathan langsung dibekuk oleh peringatan tajam hingga dia otomatis tertunduk dan refleks meminta maaf.
"Maaf, Tuan Park. Aku... aku sudah salah bicara."
"Tidak masalah. Aku memang pantas dipanggil dengan sebutan paman karena bagaimanapun juga, aku jauh lebih tua darimu. Justru aku yang penasaran, apa kau benar-benar tidak masalah dengan perjodohan ini?" Tuan Park meletakkan alat makannya, mengaitkan semua jemarinya, menaikkan sebelah alis menunggu jawaban dari sang calon istri yang membeku di tempat dia duduk selagi semua mata tertuju kepadanya.
Sorot mata menanti yang Sunny lihat tak ubahnya seperti pedang yang menghunus tenggorokan. Gadis itu kesulitan menenggak salivanya sendiri, pun terlalu letih untuk menghadirkan getaran yang menggerakkan pita suara. Bungkamnya Sunny tentu saja membuat Jonathan meradang. Pria itu berdehem, melirik tajam ke arah Alexa yang duduk tepat di samping Sunny. Mengerti isyarat dari sang ayah dan tahu kalau dia juga harus bertindak, Alexa buru-buru menginjak kaki Sunny sebelum mengambil alih pembicaraan.
"Tuan Park. Sebenarnya kakakku ini sangat pemalu. Meski dia sangat antusias dengan perjodohan ini, Kakakku tidak akan terang-terangan mengakuinya di hadapan Anda."
Perkataan Alexa membuat Tuan Park tertawa. "Apa benar yang dikatakan oleh adik Anda, Nona Sunny."
Alexa meletakkan tangannya di atas paha Sunny. Meremas gaunnya, kemudian tersenyum memaksa sebagai isyarat kalau Sunny tidak boleh merusak suasana jamuan makan malam mereka.
"Jangan biarkan Ayah menghukummu lagi, Kak," bisik Alexa hati-hati, ketika dia pura-pura ingin mengambil sendoknya yang sengaja dia jatuhkan.
"Benar. Aku tidak keberatan." Sunny yang merasa tidak berdaya oleh tekanan yang menghimpitnya dalam waktu bersamaan, terpaksa mengakui apa yang tidak dia rasakan.