“SELAMAT Pagi dunia!” Ucapku seraya meregangkan otot-ototku yang kaku.
Kenapa pagi aku ini terasa semangat sekali? Ada apakah gerangan?
“Jam Empat lebih lima puluh menit,” Ucapku melihat jam dinding.
Ketika peregangan otot ku selesai. Aku pun bergegas ke kamar mandi buat mandi dan ngambil air wudhu.
“Assalamualaikum warrohmatullah,
Assalamualaikum warrohmatullah,"
“Alhamdulillah hirrobil allamin.”
Setelah selesai melaksanakan kewajiban ku, aku melanjutkan kegiatan mengaji di fajar hari.
Aku meneliti tas selempang yang ku pakai untuk kuliah hari ini. Busana yang aku pakai hari ini pun gak terlalu repot yang menurutku sederhana tapi tetap staylish.
“Handphone, Libbam, softek, airponds, chase handphone, kunci mobil, dompet.., semuanya sudah,” Ucapku lalu menutup tasku kembali.
Aku berjalan menuju kebawah, seperti kebiasaan ku di pagi hari setelah semuanya selesai, kayak, ngebantu Amma memasak.
Nambah pahala pagi di hari.
“Assalamualaikum Amma!” Salam ku setelah meletakkan tas selempang ku di kursi bar.
“Waalaikumsalam. Baru turun? Kalau gitu kesini cepetan! Bantuin Amma masak biar cepet selesai,”
Aku pun mengambil alih pisau yang dipegang Amma memotong wortel.
“Masak apa hari ini?”
“Sayur Sop sama ayam goreng.”
Menggiurkan sekali.
“Assalamualaikum!” Salam orang lain dari arah pintu
Wah-wah ternyata anggota keluarga yang lain pada muncul dari persembunyian nya.
“Waalaikumsalam”
“Abel bantuin ya Ma?!”
Abel Dongsaeng perempuan satu-satunya yang ku punya ikut bantuin mencuci daging ayam yang udah tersedia di mangkuk.
*Dongsaeng : Adik
Tiga laki-laki pada anteng duduk di meja makan sambil nungguin makanan matang, sedangkan kita para perempuan yang capek masak mereka yang bakal terima matang.
Kalau ada perempuan di rumah ya gitu.
Cukup memakan waktu tiga puluh menit masakan kita bertiga sudah matang, dan disinilah kita perempuan merasa bahagia karena karya kita sudah selesai.
“Wuihhh Daebak!”
*Daebak: luar biasa
Keluargaku emang campuran darah Korea-Indo. Darah Korea dari Appa, tepatnya di daerah Busan. Itu loh kalau orang tua kita sama orang tua suami.., canda-canda itu mah besan.
Kalau darah Indonesia dari Amma yang berasal dari suku Jawa. Berarti Campuran wong medok karo wong putih.
▪▪▪
“LAMA banget sih lu? Ngapain aja? Ngepet?” Tanya Dimbul padaku.
Baru sampai di kantin kampus udah di kasih kultum hangat dari para sahabat gilaku.
“Gak! Tadi nyebokin kuda dulu baru kesini,” Ucapku sedikit sengit. Mon maap.
Mereka bertiga malah ngakak ditempat lihat ekspresi mukaku. Emangnya aku topeng monyet apa?
“Gak ada yang lucu!” gertak ku sedikit galak. Aku malas mengurusi mereka bertiga yang gak ada kapoknya.
“Santai lah Rin! Rileks-rileks!” Ujar Uyi, sahabat-ku yang paling ngeselin. Aku juga ngeselin sih, tapi kan, kadang-kadang... hehehehe.
“Rileks pala lu lima. Emosi nih gue lama-lama. Pagi-pagi gak nambah pahala malah nambah dosa. Nasib-nasib,” Ucapku sambil mengelus d**a.
Mereka bertiga diam sebentar sebelum Siska ngomong.
Mereka mana mungkin bisa diam walaupun hanya lima menit, dua menit aja udah ngap-ngap kayak ikan ditaruh di darat.
“Oke abaikan! Ouh iya Rin. Lu masih mau nikah setelah kuliah ini selesai?” Tanya Cwet padaku. Cwet itu ada singkatannya ‘Cewek Cerewet’ nah itu pas banget buat kutu kupret kayak Siska.
Prok, prok, prok
“Selamat Anda mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah dipotong pajak lima ratus ribu rupiah buat a ongkos kirim,” Ucapku bangga sambil ber tepuk tangan.
“Garing lo! Next! Lah terus gimana? Ada perkembangan? Kayak dia tumbuh kumis? Tumbuh rambut walaupun Cuma satu centi?” Dimbul ‘Dita gembul’ Tanya sesuatu yang bikin aku tambah semangat.
“Lu kira gue cenayang apa yang tahu begituan? Tapi ya kemarin gue ketemu Lelaki... Beihhh dia tuh Suamiable banget deh. Suer!!” Ucapku lagi sambil mengingat kejadian kemarin.
Aku pun Cuma senyum-senyum memikirkan kejadian kemarin yang membuat jantung hatiku berdegup kencang kayak lagi konser Sahrono.
Tuak..
“Aduh!” Ringis ku memegangi tangan yang bekas kena pukul batangan coklat punya Dimbul.
Patas saja gembul, Lah makannya aja tiap hari coklat terus. Lebih gilanya lagi sampai i********: nya dinamakan Ditacoklat's.
“Ngapain senyum-senyum? Kesambet lu?” Tanya Dimbul.
Lucu imut-imut kalau dari luar tapi galaknya nauzubillah.
“Maap-maap. Tapi beneran gak bohong deh. Dia itu Suamiable banget. Akhhhh senengnya.” Ucapku dan refleks berdiri berputar-putar kayak orang gila
“Siapa Namanya?” Tanya Cwet tiba-tiba. Ini nih yang aku pikir kan dari tadi malam.
“Gak tahu. Tapi kan kalau jodoh gak memandang apapun termasuk nama,” Jawabku enteng lalu duduk sambil menyeruput es teh didepan.
Mereka bertiga kompak melotot, berdiri kemudian berkacak pinggang. Kompak banget loh cuyy.
Udah pantes jadi Girlsband lokal.
Trio BS ‘BS itu dari singkatan Berisik’ jadinya ya Trio Berisik.
“Gak gitu juga dodol,” Ucap mereka sekali lagi secara kompak.
Aku mah Cuma cengar-cengir gak bersalah, kan emang aku gak bersalah.
Mereka bertiga kembali duduk di kursi yang masing-masing, duduknya aja lagi-lagi kompak.
Cuma kalau posisi mereka beda, Dimbul duduk tenang sambil makan coklat. Uyi duduk make kursi yang masih kosong buat selonjoran. Sedangkan Cwet duduk sambil nyangga kepala ngadep ke arahku.
“Gila lu ya. Kalau lu gak tahu namanya mana bisa lu sholat meminta dia jadi jodoh lu. Iya tau kalau Allah maha tahu, tapi kan kalau salah sasaran gimana? Bisa jadi lu nikah bukan sama dia tapi malah sama sepupunya.” Gertak Uyi.
Ini-nih yang bikin aku makin takut dan menganggap aku bodoh ya karena gak tahu nama orang yang disukai.
“Doa lu gak baik. Sekarang gue tanya sama lu. Lu itu siapa buat gue? Sahabat kan? Lah tugas sahabat apa? Yaitu bantuin sahabatnya buat wujud in mimpinya bukan malah doakan buruk. Paham sayang?” Ucapku sambil nyomot potongan satu coklat.
“Iyain biar seneng.” Jawab Cwet.
“Nah itu baru bener.... Ihhhh makin sayang deh,” Ucapku memberikan tatapan sayang yang kkubuat-buat.
"Hwek,” Loroh mereka bertiga dan berlaga’ kayak orang lagi muntah.
Aku pun tertawa geli lihat mereka bertiga.
“Oih iya Cwet. Kata lu, elu mau ke rumah Bang Doni itu jadi gak?” Tanyaku setelah melahap Coklat tadi.
“Jadi. Minggu depan sama bang Izi. Kenapa? Lu mau ikut?” Tanyanya.
Akupun mengangguk kan kepala membenarkan,
“Hu’um, gue mau nebeng sekalian kerumah Eyang uti. Udah lama juga gue gak kesana, Kangen.”
Cwet menghembuskan nafas panjang, “Yaudah tapi nanti pulangnya sendiri, Gue disana Cuma dua hari.”
Ahh bisa di pertimbangkan.
“Oke sip!” ucapku sambil memberikan jari jempol tangan kanan.
Kami berempat pun diam sebelum jam menunjukan angka 11.00 yang berati aku dan Uyi ada kelas.
“Eh udah jam 11. Kita duluan ya, Assalamualaikum.” Salam ku dan Uyi lalu berjalan meninggalkan mereka
“Yoi Waalaikumsalam”