Bab 8

1179 Words
"Ternyata lo bener kembaran gue, memang gue sama lo gak pernah tatap muka tapi gue yakin saat besar nanti gue bisa ketemu sama kembaran gue dan bunda. Gue hampir aja kehilangan kontak dan akhirnya gue bisa menghubungi Aira dan bunda." Aira masih tetap dengan posisinya yang masih memeluk Aina tidak ingin melepaskannya, jadi perlu dimaklumi mereka itu udah beberapa tahun gak pernah ketemu dan bertatap muka di telepon saja hanya beberapa saat setelah itu sibuk dengan diri masing-masing, semua itu dilakukan oleh kedua orang tuanya yang selalu memintingkan diri sendiri. "Apa kak Aina merindukanku?" "Pastilah, buat apa gue jauh-jauh kesini kalau bukan menemui lo sama bunda." Kata Aina membuat Aira terharu, apa yang dikatakan kembarannya itu membuat Aira tidak ingin pisah dengannya. "Bunda tolong jangan pisahkan aku dengan Aina, aku ingin tetap bersamanya." Dengan nada sedihnya, segitu besarkah kerinduan Aira menunggu Aina untuk menemuinya, Aira saja takut kehilangannya. Bisakah Aina menuruti kembarannya? Aina bisa saja diam di Korea jika itu perbolehkan oleh Ayah dan Dirga, juga dia sudah bilang kepada ayahnya dia di Korea hanya lima hari saja. Setelah itu barulah dia pulang ke Indonesia. "Aina masih belum menyelesaikan sekolahnya di Indonesia sama seperti kamu Aira." Jelas bunda dan Aira hanya mengangguk paham, Aira saja yang tidak ingin berpisah dengan kembarannya. Mereka kembar tapi sifat mereka berbeda, juga Aina yang sangat gaul dibandingkan Aira seperti anak lugu. "Iya bunda benar, Aira gak boleh sedih juga gue gak bakalan hilang pasti kita bakalan ketemu lagi. Buktinya sekarang gue ada di sini jadi lo jangan sedih." Aina menenangkannya agar Aira tidak menangis lagi, walapun begitu Aina merasa sakit karena di sini hanya sebentar setelahnya dia akan kembali. "Sudahlah, kalian berdua lapar kan?" "Iya bunda, perutku sudah berbunyi." Kata Aira sambil mengelus perutnya yang dari tadi menahan lapar dan Aina hanya menertawakannya. "Ya sudah kalau begitu bunda masak ya, kalian tunggu aja di meja makan karena bunda ingin masak spesial buat anak kembar bunda yang sangat bunda sayangi." "Aina sangat merindukan bunda." "Bunda juga sangat merindukan dan ingin sekali bertemu denganmu, harusnya bunda yang mendatangimu tapi karena bunda teralu sibuk jadi bunda gak bisa pulang ke Indonesia. Bunda minta maaf ya." "Tidak apa-apa bunda, Aina seneng kok bisa ketemu kalian berdua dan juga Aina tidak bisa menahan kerinduan Aina yang ingin sekali bertemu dengan bunda." "Aku juga sangat menyayangi kakak, aku takut tidak mengenali kembaranku sendiri." Dengan raut muka sedih, Aira membayangkan jika dia tidak akan mengenali kembarannya. "Kamu sangat berlebihan Aira, mana mungkin kamu tidak mengenalinya karena kalian dari jauh saja sudah seperti anak kembar." Kata bunda dan Aina terkekeh mendengar ucapan Aira seperti orang yang takut kehilangan. "Juga lo bisa ketemu sama gue, karena muka kita itu kembar yang membedakan itu gue punya t*i lalat kecil di dekat mata kalau Aira gak punya." Aira hanya mengangguk paham, juga dia sempat melihat Aina yang sangat beda dengannya apalagi saat ini juga bisa di bedakan dari Aina yang selalu kuncir rambut dibandingkan Aira yang jarang sekali mengikat rambutnya. "Kalian jadi bantu bunda?" "Iya bunda." Kata mereka berdua serempak. Mereka bertiga sibuk di dapur mengurus semua bahan untuk memasak yang sudah tersedia di atas meja dan bunda hanya menyuruh mereka melakukannya. # "Ayah balik lagi?" Tanya Vino. Menatap kepergian ayahnya dengan mamanya membawa koper ayahnya. "Iya vin, kata sekretaris ayah ada meeting dengan klain, jadi ayah harus pulang." "Baiklah." Singkat Vino tidak ingin banyak tanya. Lebih baik dia pergi ke kamar, dibandingkan berbicara dengan ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan melainkan mamanya yang sibuk tapi ada waktu untuk bersama dengan anaknya. Sejauh ini keluarga Vino biasa saja tidak pernah ada yang berubah kecuali saat dia masih kecil yang selalu ada orang tuanya yang selalu menyayanginya dan selalu menjaganya hingga dia tumbuh remaja di sanalah orang tuanya selalu sibuk. Jadi Vino jarang berinteraksi dengan ayahnya kecuali mamanya yang bisa di ajak mengobrol. "Jaemm!!" Panggil Jaewoo membawa secangkir teh hangat. "Apa?" Sahutnya. "Ini aku bawain teh, mau gak?" Tawar Jaewoo dan Vino mengangguk, mengambil teh di tangan Jaewoo. Mereka berdua duduk di balkon sambil menyeruput teh dengan pemandangan kota Seoul pada malam hari dan malam itu turunlah salju, menghujani kota Seoul. "Bagaimana hubunganmu dengan Yejin?" Tanya Jaewoo membuka topik memecah keheningan. "Hubungan apa maksudmu?" "Seperti yang aku tau kamu sangat dekat dengan Yejin sampai pergi ke tempat yang cewe itu mau, kamu terus menerus menurutinya. Dari sana aku berfikir kamu cocok dengannya, apa kalian berdua berpacaran?" Vino yang dari tadi mendengar walaupun dia menghadap ke depan melihat indahnya kota Seoul tapi dia langsung terkejut saat Jaewoo bertanya seperti itu. "Tidak, sudah saya bilang kalau dia itu cuma saya anggap teman saja tidak lebih, bukannya kamu yang tidak suka Yejin berada di dekat saya." Memang benar Jaewoo yang selalu menjauhkan Vino dari Yejin, karena Jaewoo tidak suka melihat adiknya di hasut oleh nenek sihir seperti Yejin. Entah kenapa Jaewoo jadi berubah seperti ini. "Y-ya emang aku gak suka Yejin tapi kalau kamu suka sama dia aku fine aja." "Saya gak suka sama Yejin dia itu cuma saya anggap teman saya saja jadi jangan pernah kamu urusi hidup saya, lebih baik kamu urusi sana urusanmu." Setelah mengucapkannya, Vino masuk ke dalam menuju kamarnya. Sementara itu Jaewoo masih di balkon berfikir jika Vino marah padanya 'apa ucapanku salah?' batinnya tapi setelahnya dia tidak memperdulikannya dan pergi menuju kamarnya. "Jika Vino sudah lulus sekolah, bawa dia ke Indonesia. Dia akan menjadi penerus perusahaan saya." "Iya mas." Perkataan ayah membuat sang mama berfikir dua kali. "Apakah Vino akan di kembalikan ke Indonesia dengan kondisinya seperti ini." Tentang penyakitnya seperti ini saja mamanya tidak bisa yakin akan anaknya akan bisa menggantikan ayahnya. "Kenapa harus Vino yang tertabrak?harusnya aku yang tertabrak" Kata mama, kembali lagi terisak dengan kejadian lima tahun lalu saat Vino tertabrak mobil di usianya yang masih remaja. Kring... Jam menunjukkan pukul enam pagi kedua putri kembar itu terbangun dari tidur nyenyaknya. "Eh ternyata udah bangun, bunda baru aja bawa ember berisi air." "Buat?" Kata Aira setengah sadar karena terbangun oleh jam alarm. "Buat siram kalian." "Astaga, bunda jahat banget!!" Kata Aina dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sama juga dengan Aira masuk ke kamar mandi tamu untuk membersihkan dirinya karena di kamarnya hanya ada satu kamar mandi. "Bunda!!" Panggil Aina yang sudah rapi dengan baju berwarna biru tua dengan rok selutut dan rambutnya di kuncir. "Iya nak." Sahutnya. "Aina ijin keluar mau cari angin segar, disini juga deket sama taman kan." "Gak tunggu adik kamu dulu?" "Dia masih rebahan bun, biarin aja. Bunda mau pesan apa nanti Aina yang belikan." "Ya sudah, belikan bunda ikan salmon dekat kok dengan taman." "Oke bunda." "Jangan sampai kamu tersesat." "Iya bunda, Aina tau kok jalannya jadi gak bakalan tersesat." Aina cengengesan, sebenarnya Aina tidak tau jalan tapi dia hanya ke taman. Aina belum tau saja taman itu luas apa lagi dengan cuaca dingin seperti ini. Aina berjalan menuju taman melihat-lihat anak-anak sedang bermain salju dengan gembira dan juga ada pasangan yang sangat romantis, Aina terus berjalan dengan santai. Sampai akhirnya dia tertabrak oleh lelaki yang berlari dengan earphone di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD