Cuaca ini sangatlah dingin, tepat di malam hari sabtu, butiran salju jatuh menjadi gundukan tanah putih dan jalanan yang sangat licin membuat semua orang berjalan kaki atau tidak menggunakan sepeda bagi anak sekolah.
Perjalanan ke rumah dan ke sekolah memanglah jauh tapi jika menggunakan sepeda, mungkin lebih cepat sampai.
"Aira!!" Panggil Jaewoo yang tepat di belakangnya, Aira yang sedang mengayuh menoleh kebelakang.
"Kukira kau memakai mobil." Kata Aira mengayuh sepeda sedangkan Jaewoo selalu memperhatikannya.
"Tidak, ini musim salju jika aku berkendara dengan kecepatan tinggi. Aku bakalan jatuh kepelukanmu haha." Ucapnya sambil tertawa pelan.
"Terserah kau, tapi aku hanya mengingatkan kau berkendara harus berhati-hati. Kau pikir ini jalanan tempat balapan hah?" Gerutu Aira dengan tatapan malasnya.
"Aku gak ngebut kok."
"Terserahlah, kenapa kau tidak bersama Vino?"
"Mana aku tau, paling dia pake mobil sama ayah."
Aira hanya mengangguk dan tetap melanjutkan mengayuh sepedanya sampai di parkiran sekolah. Ada rasa apa di dengan Aira hingga mencari Vino di lapangan basket tapi tidak ada dan di perpustakaan juga sama dia tidak menemukannya.
"Itu anak kemana sih?" Gumam Aira. Sampai koridor kelasnya Vino pun dia tidak menemukannya, karena tidak menemukannya. Akhirnya dia ke rooftoop siapa tau dari atas sana dia bisa melihat Vino.
"Udaranya sangat segar."
"Tentu saja, di sini sangat nyaman."
Suara itu membuat Aira menoleh kebelakang dan membuat hatinya meronta-ronta, entah apa yang di rasakannya apa itu cinta atau hanya kerinduan?
"Vino! kenapa kau disini?"
"Saya bolos jadinya saya kemari hanya ingin menetralkan pikiran saja."
"Kau adalah juara sekolah, tapi bisa-bisanya kamu bolos." Gerutu Aira geram dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Kamu adalah orang yang pernah melihat saya bolos dan ini pertama kalinya." Jelas Vino dengan tatapan datarnya ke arah Aira.
"Sebenarnya kau ada masalah apa?"
"Masalah tentang ingatanku."
"Ada apa dengan ingatanmu?"
"Entahlah, setiap saya bermimpi pasti ada saja perempuan itu yang selalu hadir di dalam kehidupan saya."
"Kau mencintai seorang perempuan ya?" Tanya Aira sampai membuat Vino melongo, menatap Aira datar.
"Tidak, tapi saat saya melihatnya dia tidak menoleh berhadapan denganku dan pergi begitu saja."
"Mungkin itu pertanda kalau perempuan itu adalah jodohmu."
"Tidak mungkin, perempuan seperti apa dia yang selalu menghilang saat saya melirik kearahnya."
"Sudahlah jangan kau pikirkan, hari ini sangatlah indah, aku menyukainya."
Aira berdiri melihat pemandangan dengan menghirup udara yang membuatnya nyaman, perkataan Vino memang benar.
Hujan salju terus turun hingga membasahi mereka berdua seperti saat inilah yang Aira sukai saat bertemu dengannya.
'Siapa lelaki itu dia sangat romantis, tapi itu hanyalah mimpi' Batin Aira, mengingat kejadian di mimpinya bertemu dengan seorang lelaki, entahlah siapa lelaki yang ada di mimpinya.
"Disini sangat dingin, kau tidak membawa syal apalagi jaket." Kata Vino dan memasang jaketnya kepada Aira dengan memeluknya.
"Badanmu terasa hangat" Membuat hati Aira tak karuan dan melepaskan tangan Vino yang memeluknya erat.
"Jangan berlebihan vin, aku udah gak apa-apa ini jaketmu gak perlu." Lirih Aira, melepaskan jaket dan memberikannya kepada Vino.
Aira dengan muka merahnya pergi meninggalkan rooftoop sambil berlarian ke kelas, banyak sekali orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Aku gak bisa seperti ini terus apa lagi melihatnya saja membuatku terasa nyaman." Rasa gugup Aira mulai terasa seperti gigit kukunya yang sudah lama Aira tahan tapi tak bisa.
"Kau kenapa?" Tanya Hyemi hang berada di dekatnya saat ini.
"Tidak ada." Tentu saja Aira berbohong, tapi Hyemi mengetahui kebiasaan Aira yang selalu seperti ini.
"Yakin?jika kau ada apa-apa cerita saja padaku, jangan mengganggapku seperti orang asing."
Aira hanya diam saja saat Hyemi menatapnya sayangnya Aira hanya menghiraukannya saja. Entahlah apa yang akan dilakukan Aira pada dirinya yang selalu menyendiri.
"Aira!!" Seru Hyemi karena tidak direspon oleh Aira.
"Aku ingin sendiri."
"Baiklah."
#
"Aku ingin bicara padamu." Kata Jaewoo terlihat serius dengan Vino yang masih dengan muka datarnya.
"Kau ingin bicara apa?" Dengan nada malas Vino melihat ekspresi dari tatapan sepupunya yang sekarang notabene adalah kakaknya itu seperti tidak suka.
"Jauhilah Aira."
Perkataan Jaewoo memanglah singkat tapi itu membuat Vino terkejut apa yang baru di sampaikan oleh Jaewoo dan Vino bukanlah lelaki yang suka kekerasan.
"Apa maksudmu?"
"Aku menyukainya jadi jangan harap kau rebut dariku, cukup Yejin saja milikmu." Jaewoo memutar bola matanya malas.
"Baiklah tapi asal kau tau Aira itu hanya sahabatku dan saya tidak akan merebutnya darimu." Kata Vino dengan senyuman tipis dan Jaewoo yang mendengar perkataan Vino sangat bahagia.
Jaewoo berfikir Aira akan menyukainya, apa itu akan benar-benar terjadi? Aira saja hatinya masih tertutup untuk menentukan lelaki pilihannya kelak yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti.
"Kenapa aku selalu memikirkannya?"
Gumam Aira dengan ekspresi wajah berserinya saat mengingat kembali masa romantis bersama Vino, apa lelaki itu akan membuat hati Aira luluh?
Musim dingin adalah kesukaan mereka berdua entahlah apa mereka berdua berjodoh? Tidaklah hatinya Aira masih tertutup, bagaimana dia bisa mencintai lelaki?atau mungkin dia sekedar mengagumi saja?
"Apa lelaki itu seperti di mimpiku dengan senyum manisnya membuat hatiku berdebar kencang dan seorang lelaki yang sangat romantis bisa-bisa menaklukkan hatiku?" Aira terus bertanya-tanya sampai selalu berfikir lelaki itulah jodohnya "itu tidak mungkin." Lirihnya karena tau Vino ada perempuan lain mendekatinya.
"Jika kau berusaha kau pasti akan mendapatkannya." Kata bundanya berdiri di ambang pintu kamar Aira dengan membawa kotak berpita merah.
"Sejak kapan bunda berdiri disitu?" Tanya Aira malu-malu dan juga ia takut kalau sampai bundanya tau apa yang dia bicarakan.
"Saat kamu mimpikan seorang lelaki." Kata bundanya membuat Aira semakin gugup, Aira takutnya bundanya tau siapa lelaki yang dia maksud.
"Bunda..." Keluh Aira dengan tatapan sendu.
"Apa nak?"
"Jangan bilang kalau bunda udah denger semuanya, hayoo ngaku??"
"Nggak, bunda gak denger dengan jelas tapi bunda tau apa isi hati kamu."
Perkataan bundanya membuatnya lega tapi apakah bundanya bisa membaca pikiran anaknya itu? bundanya bukanlah seorang ahli psikologi tapi dialah seorang dokter spesialis bedah.
Ayahnya saja beda profesi yaitu sebagai seorang perusahaan terbesar di Indonesia setelah perusahaan ayahnya Vino yang sangat berbakat di bidang seni. Ayah Aira sangatlah orang yang profesional sampai kedua orangtuanya saja lebih mementingkan perkejaan dibandingkan bersenang-senang ataupun berlibur.
"Lo jadi pergi?" Tanya abangnya bernama Dirga.
"Jadi bang, abang mau dibeliin apa?"
"Gak ada sih, jaga baik-baik diri lo di sana."
"Iya, jagain ayah baik-baik bang. Aina bakalan sering ngabarin."
"Kabarin gue kalau dah sampai di Korea Selatan."
"Iya bang."
Setelah itu barulah Aina pamit dan masuk ke dalam taksi menuju bandara.
"Paspor gue kemana?" Aina mencari sekeliling dimana paspornya jatuh.
"Ini paspor lo jatuh tadi." Kata lelaki berbaju coklat memakai syal berwarna merah dan berkulit putih.
"Maka__sih." Aina mengucapkannya terbata-bata saat melihat lelaki di hadapannya.
"Gavin?"
"Kenapa?lo kaget gitu. Gue tampan?"
"Biasa aja, lo dari kemarin kemana aja?gue telpon sibuk terus." Sebal Aina melihat kelakuan pacarnya itu.
"Maaf deh gue pergi gak pamit sama lo dulu, gue habis pergi ke Korea Selatan waktu itu. Sekalian aja gue perawatan bukan berarti gue operasi plastik."
"Gue tau kok, lo itu udah ganteng dari lahir. Sekarang lo mau kemana lagi?"
"Ke Korea lagi, ayah gue suruh balik lagi. Lo mau kemana?"
"Kok sama sih, gue juga mau ke sana."
"Ketemu sama bunda sama kembaran kamu yang pernah kamu ceritain itukan?"
"Iya, itu keluarga gue yang ke pisah."
"Gue juga pengen ketemu sama ibu lo sama kembaran lo."
"Jangan sampe lo selingkuh sama adek gue!" Ancam Aina mengepalkan tangannya.
"Gue gak bakalan naksir sama adek lo."
"Awas aja!!"
"Iya ratu baweh."
"Apa?"
"Ratu bawel."
"Gavin!!"
Mereka berdua berlarian di bandara yang sangat ramai sampai mereka tidak sadar banyak orang yang melihatnya seperti anak kecil yang suka berlarian kesana kemari.