"Bunuh diaaa!" pekik tuan Vincent saat memberi perintah. Kedua bola matanya seakan ingin keluar dari kelopak mata aslinya. "Tidaaak!" teriak Felix lebih kuat dari papanya. Ketika lima orang melepaskan dirinya dan beralih target kepada Luna. Luna berdiri tegak. Ia sama sekali tidak mundur selangkah pun, ketika banyak tubuh berukiran besar dengan wajah mengerikan, bergerak cepat ke arahnya untuk menghabisi nyawanya. Sambil menggenggam erat pisau yang berada ditangan kanannya, Luna mengatur napas bersama bulir-bulir air mata yang terus menetes. Getaran di bibir ranumnya pun, tampak kian kuat. Di belakang musuh-musuhnya, sudah menyusul Felix Vincent yang berlari sangat cepat dengan tubuh sempoyongan. Saat ini, yang ada di dalam pikirannya hanyalah, jika harus mati, maka dia dululah yang

