Part 19

800 Words
Ada yang aneh di jam istirahat ini, kantin yang biasanya ramai jadi kosong melompong, hanya ada beberapa murid dan penjaga stand makanan. Giska menggaruk tengkuknya. Kemana semua orang? "GISKA!" Giska menutup telinganya mendengar teriakan yang melengking itu. "Apa Dar? Jangan teriak-teriak kenapa!" Dara tak menjawab, ia langsung menarik tangan Giska pergi dari kantin. Membuat Giska mendengus kesal, padahal perutnya sudah meronta-ronta minta di isi. "Mau ke mana sih?" tanya Giska ketus. Dara membawa Giska menuju tangga ke lantai dua sekolah, Giska hanya mengikuti dengan decakan kesal. Mereka berhenti di tembok pembatas yang langsung menghadap ke lapangan. Sekarang Giska tau kenapa kantin sangat sepi, ternyata mereka berada di sini. Sepanjang tembok pembatas itu di penuhi oleh murid-murid. "Ada apa sih? Ngapain mereka kumpul di sini?" tanya Giska. "Mantan lo." Dua kata yang keluar dari mulut Dara sudah menjawab semuanya. Apa lagi yang di lakukan oleh pria itu, keluh Giska dalam hati. "Minggir!" Giska menerobos kerumunan orang-orang itu menuju tempat terdepan, saat itu juga Giska menganga melihat pemandangan di depannya. "ANDRA, LO NGAPAIN b**o?!" Teriakan Giska membuat semua yang di sana menutup telinganya dan berujar protes, namun Giska tak perduli, ia lebih memilih menatap Andra yang kini menyengir ke arahnya. Pria itu berdiri di atas tembok pembatas gedung seberang, entah apa yang ia lakukan di sana. Tembok itu jelas terlalu tipis, jika Andra meleset sedikit saja maka ia pasti akan terjatuh ke bawah. "LO MAU BUNUH DIRI YA? TURUN CEPET!" Andra menggeleng. Ia terlihat menjinjit dan menarik-narik sesuatu di atasnya lalu secara tiba-tiba sebuah banner besar terlihat turun. Banner itu di gantung di atasnya namun tadi menyangkut, jadi Andra menariknya agar tulisan di sana dapat terlihat. Giska melongo, di banner itu ada foto selfinya dan Andra yang menampilkan wajah cemberut Giska dan juga Andra yang tersenyum lebar. Giska ingat foto itu di ambil saat mereka pertama kali jadian, saat itu Giska di paksa Andra untuk berfoto padahal Giska anti kamera. Banner itu sangat besar, panjangnya bahkan hampir mencapai lantai satu, di sana juga bukan hanya ada foto mereka, tapi ada beberapa candid Giska yang Andra ambil diam-diam. Giska bahkan tak sadar jika Andra memotretnya. Gadis itu semakin melongo saat membaca tulisan besar di bawah foto-foto itu. Will you marry me, Giska Arabella? "CIEEE!" "TERIMA! TERIMA!" "GILAK LAMARANNYA ANTI MAENSTRIM!" Giska langsung di serbu dengan sorakan heboh murid murid di sana. Gadis itu hanya terdiam, syok dengan apa yang ia lihat. Mengapa Andra melakukan ini? Tidak, Giska tidak baper, justru dia merasa cringe, mengapa harus mengajaknya menikah? Mereka bahkan belum lulus sekolah, belum lagi foto-foto Giska yang membuat Giska berfikir jika Andra penguntit dan terobsesi padanya seperti di film-film psikopat. "JAWAB! JAWAB!" Giska tersadar mendengar teriakan-teriakan itu. Ia mendengus, lalu berjalan ke sisi kanan menuju tangga yang langsung membawanya ke lapangan. Mereka semua menatap Giska kepo dan langsung merapat ke dinding pembatas, melihat gadis itu yang berjalan di tengah lapangan dan kini menaiki tangga menghampiri Andra. "Sayang?" Andra langsung menyambut Giska hangat. Andra maneguk ludahnya kasar melihat wajah tak bersahabat gadis itu. "Kenapa? Gue salah?" Giska berjalan menghampiri Andra tatapan tajamnya tiba-tiba hilang, ia langsung menangis, dan itu membuat Andra tersenyum senang. "Lo terharu ya? Ini baru hari ke-tiga, tapi gue udah berhasil buat lo luluh kan?" tanya Andra antusias. Giska memukul laki-laki itu membabi buta membuat Andra berusaha menghindari serangan bertubi-tubi gadis itu. "Aduh, sakit heh," ujar Andra. "Dasar manusia i***t! Gilak! Hilang harga diri gue!" teriak Giska. "Kenapa?" tanya Andra. "Kenapa?" Giska menatap Andra berang. "Kenapa lo bilang?!" teriak nya. "I-iya, kenapa?" "Lo yang bener aja anjing! Foto gue lagi ngupil lo cetak di banner ini! s****n!" tunjuk Giska ke banner di sampingnya. Andra terkekeh. "Tapi lo lucu di situ." "Lucu dimananya syaitonn!" Giska mendekati banner itu, lalu menarik-nariknya agar terjatuh ke bawah. Giska tidak bisa membiarkan foto aibnya di lihat satu sekolah. Ya, semua foto candid yang Andra ambil tidak ada yang benar. Di bawah foto selfi mereka ada foto Giska yang sedang mencolok hidungnya dengan jari kelingking, di bawahnya lagi ada Giska yang tidur dengan mulut terbuka lebar, lalu ada Giska yang sedang marah-marah sambil berkacak pinggang, namun di foto itu mulutnya terlihat menyon karna sedang mengoceh, matanya juga terbuka lebar seperti akan keluar dari tempatnya. Kurang ajar sekali bukan seorang Andra Gilbert yang menjadikan foto aibnya sebagai tontonan publik?! "Percuma, gak bakal bisa jatoh, gue suruh orang masang itu kuat-kuat supaya lo bisa lihat setiap hari dan inget kalau gue ngelamar lo." Giska melotot. "ANDRA!" "Yes, babe?" Andra menampilkan raut wajah berbinar, sama sekali tak ada rasa bersalah di wajahnya. "Jadi jawabannya?" Giska menggeram. Kemudian ia tersenyum manis membuat Andra ikut tersenyum. "Yes, i will," ujar Giska. Giska mendekat lalu menjambak Andra secara tiba-tiba. "I WILL KILL YOU!" teriaknya bagai kesetanan. Baru saja Giska berfikir Andra waras, namun pria itu kembali melakukan hal i***t seperti ini. Benar-bener menjengkelkan! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD