Giska memiliki tubuh mungil, pipi chubby yang menggemaskan, dan juga kulit seputih s**u. Ia terlihat cantik sekaligus imut, membuat siapapun tak akan bosan melihat wajahnya.
Itu juga yang membuat Andra sangat bucin dengan Giska. Namun alasan sebenarnya bukan itu.
Andra menyukai Giska karna Giska sangat jujur, ia selalu mengatakan apa yang ia rasakan secara terang-terangan. Giska juga tak menye-menye seperti gadis kebanyakan. Giska berbeda di mata Andra.
Sebenarnya itu hanya alibi, Andra sendiri tidak tau mengapa ia menyukai Giska. Itu terjadi tiba-tiba saja. Cinta tak butuh alasan bukan?
"Lo mau nikah sama gue gak?"
Pertanyaan tiba-tiba Andra membuat Giska melotot kaget.
"Sinting, lo kerasukan?" kesal Giska menatap Andra nyalang.
Andra menggeleng. "Gue ngelamar lo."
"Modal dikit kek anjir, lo orang kaya, masa ngelamar gue di parkiran sekolah gini, mana gak pake bunga, gak make cincin," gerutu Giska.
"Emang kalau gue kasih bunga dan cincin lo mau?"
Giska menggeleng. "Gak mau, lo banyak bacot, bisa darah tinggi gue jadi istri lo."
Andra terkekeh. "Gue tunggu kata gak mau itu jadi yes, i will."
"Sudahi halu mu, dan antar aku pulang," ujar Giska menahan kesal.
"Gue udah jadi ojek lo hampir setengah tahun, masa gak pernah di kasih bayaran?" ucapan Andra membuat Giska urung menaiki motor sport pria itu.
"Lo gak ikhlas?" Giska berkacak pinggang, menampilkan raut garang, namun itu malah membuat Andra menahan gemas.
"Gak ada yang gratis di dunia ini, Gis."
"Hilih! Males gue nebeng lo lagi, mending naik angkot," ujar Giska kesal. Padahal Andra yang selalu memaksanya untuk pulang bersama.
Andra tertawa. "Ayo cepetan bayar!" ujar pria itu.
"Bayar apa? Uang? Uang lo udah banyak gilak," saut Giska.
"Siapa juga yang bilang gue butuh uang."
"Terus lo mau apa?"
Andra menunjuk bibirnya, dan memonyongkannya membuat Giska merasa geli sendiri.
"Cipok basah bibir gue."
"DASAR i***t!"
****
Cukup! Giska capek, ia ingin menghilang dari dunia rasanya, tidak sanggup meladeni keidiotan Andra lagi.
"Ayolah, Gis, dikit aja. Nempel doang juga gak papa." Andra mendorong motornya mengikuti Giska.
Andra terus membuntuti Giska yang berjalan di trotoar. Pria gila itu merengek ingin meminta ciuman pada Giska. Katakan, bagaimana Giska tidak setres menghadapi pria ini?
"Astaga, lo bisa gak sih, sehari aja waras. Gue bisa ikutan gila gara-gara lo." Giska mengacak rambutnya frustrasi.
"Gue gak gilak, gue cuman minta cium, salah?" tanya Andra polos.
Giska memelototi Andra. "Salah lah g****k! Lo fikir gue cewek apaan bisa di cium-cium!"
"Lo cewek gue."
"Kita udah putus," ujar Giska tegas.
"Itu sih menurut lo, menurut gue belum, malah gue mikirnya kalo sekarang kita suami istri bukan pacaran lagi."
"Gila ya lo!"
"Cium dulu biar gilanya ilang." Andra memonyongkan bibirnya.
Giska mendekati Andra, lalu menjambak rambut yang baru di potong lebih pendek beberapa hari lalu untuk menaati peraturan sekolah tentang panjang rambut siswa laki-laki. Andra memang sangat taat peraturan, berbanding terbalik dengan Giska.
Giska menjauh setelah puas melampiaskan kekesalan nya. "Mati kek lo, ilang dari dunia, demi Tuhan gue capek ngadepin lo."
Andra melajukan bibir bawahnya. "Ntar gue beneran pergi, lo nangis."
"Enggak lah! Justru gue bakal jadi orang paling bahagia sedunia, buat hajatan tujuh hari tujuh malem kalau perlu."
"'Jahat banget buset."
Giska tak menjawab, ia mempercepat langkahnya. Beruntung rumah Giska tidak terlalu jauh dari sekolah, jadi bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
"Gis, bentar aja, yang penting nempel." Andra kembali buka suara.
"ALLAHUAKBAR! BELUM NYERAH JUGA?!"
Andra menyengir. "Gue pantang nyerah anaknya."
"Lo minta cium sama cewek lain sana, gue ogah."
"Gak mau, cewek gue kan lo, masa gue ciuman sama cewek lain, ntar lo cemburu lagi."
"Kagak lah!"
"Udah, sana pergi, kurang kerjaan banget lo buntutin gue sampe rumah gini," usir Giska setelah sampai di depan rumahnya.
"Gue kan cuman mau mastiin cewek gue sampe di rumah dengan selamat."
Kini Giska menghela nafas. "Ndra, gue bukan cewek lo lagi, kita udah putus. Lo mending cari cewek lain yang lebih baik dari gue, gue gak baik, gue gak suka ngejalin hubungan serius," tutur Giska pelan.
Andra menggeleng. "Karna lo gak baik, gue berniat buat lo jadi lebih baik."
Andra mengelus kepala Giska. "Gue cuman mau sama lo, cuman lo yang cantik di mata gue, yang lain b***k, juga cuman badan lo yang teposnya pas di mata gue," Andra menyengir.
Giska menghela nafas, menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Lo tau gak, Ndra?" tanya Giska terdengar lembut.
Andra tersenyum senang. "Apa?"
"Lo, mantan gue yang paling i***t!" Giska mengehempaskan tangan Andra di rambutnya lalu berjalan masuk ke rumah dengan kaki di hentakan.
Surat terbuka untuk Tante Ranti, tolong masukan kembali Andra ke dalam rahim-mu, Giska tidak kuat.