Pulang Bersama

1857 Words
"Hallo... " Adel menjawab dengan suara khas orang mengantuk. "Del ke tempat saya dong penting!" Ucap Adit dengan tegas, dari suaranya bisa terdengar kalau dia seperti sedang terburu-buru. "Eh, iya Pak sebentar." Adel langsung loncat dari tempat tidurnya dan pergi dalam hatinya "Kok Pak Adit nelpon tengah malem begini, Ada apa ya?" Dengan cepat dia mengetuk kamar atasannya itu, "Kenapa Pak? Ada masalah?" Tanya Adel saat sampai di kamar Adit. "Saya laper bikinin mie instan dong." Ucap adit yang tengah malam masih berkutat dengan dokumen-dokumennya. Dia sedang mereview kontrak-kontrak dan laporan yang dikerjakan oleh anak buahnya. "Hah? tadi bukannya bapak sudah makan?" "Laper lagi, udah cepet bikinin. Biar saya bisa fokus lagi kerjanya." Dalam hati Adel berkata "Astaga ini orang bener-bener nyebelin banget, jam 12 malam di suruh ke ke kamarnya cuma buat bikin mie instan" Adel ngedumel sambil membuat mie. "bettee.." Kesalnya sambil menatap Adit yang sedang bekerja dengan mata tajamnya. Mata itu seperti ingin mengeluarkan laser. "Ini Pak mienya, saya balik ke kamar dulu." Pamit Adel dengan wajah cemberut. "Eh tunggu-tunggu sini duduk di samping saya." Seru Adit sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya "Karena saya makan mie, kamu tolong kerjain laporan saya. Nih tinggal dikit lagi.” "Tapi pak..." "Udah sini mau pulang besok nggak? Biar cepet selesai, kamu kerjain dulu." Adel mau tidak mau akhirnya duduk dengan kasar dan membantu Adit dengan hati dongkol, sesekali dia bertanya pada atasannya yang asik makan mie jam dua belas malam. Dan ternyata laporannya masih banyak, Adel menghela napas sambil memjamkan matanya, "Ini mah bakal melek sampai pagi.” Gumamnya dalam hati. Setelah selesai makan Adit kemudian kembali mengerjakan laporannya, namun tetap dibantu oleh Adel. Laporan dan kontrak yang harus ia periksa banyak sekali dan dia tidak mampu melakukannya sendiri. Akhirnya mereka berdua mengerjakan laporan sampai jam tiga pagi dan tertidur di sofa berdua. Tanpa sadar mereka berhadapan satu sama lain dalam pulasnya malam. "Hhooaammm..." Adel yang mulai terbangun menggerakan tubuhnya, menaikkan tangannya ke atas dan mengulet "Hmm jam berapa ini?” Tanyanya dengan mata setengah terbuka “Wwoaah jam 9 pagi." Dia terkejut, matanya langsung terbuka lebar. Dia seharusnya kembali ke Jakarta pukul delapan pagi dan sekarang sudah jam sembilan. "Aduh kenapa sih berisik?" Tanya Adit yang terganggu dan baru tersadar dari mimpi indahnya. "Wwoaaah Pak Adit." Teriak Adel yang kaget dan langsung loncat dari sofa. Kenapa ada laki-laki di samping dia? Dia tidak melakukan apa-apa kan semalam? Lalu Adel mengamati tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. "Berisik, lupa ya semalem ngapain?" Tanya Adit yang kepalanya pusing mendengar ocehan wanita di sampingnya ini. "Emang semalem ngapain Pak?" Adel mulai panik namun penasaran. "Kita ketiduran habis ngerjain laporan bareng, tenang saya nggak ngapa-ngapain kamu kok." Ucap Adit sambil tersenyum geli manahan tawanya. "Huft, untung deh." Ucap Adel dalam hati sambil menghela napas. "Mandi sana terus habis ini kita jalan." "Jalan kemana pak? Kenapa sama saya? Kan ada sekertaris Bapak." Tanya Adel bingung. "Sekertaris saya sudah pulang semalam, sudah cepat sana mandi kita mau beli oleh-oleh.” "Pemaksaan ini namanya." Adel menggerutu mengerutkan wajahnya sambil berjalan ke kamar mandi. Adit yang melihat itu semua hanya tersenyum dalam diam. **** Satu jam kemudian, akhirnya mereka berkeliling Bandung mulai dari beli pisang bollen Kartika Sari, brownis Amanda lanjut ke Ciampelas untuk beli baju dan makan siang. Dengan kacamata hitam dan setelas kemeja mewah, Adit berjalan begitu angkuhnya bak raja yang sedang ditemani sang permaisuri. Berjalan terus menyusuri setiap toko, tanpa sadar mereka berdua bersenang-senang dan nyaman satu sama lain. Adel adalah anak yang mudah bergaul walau terkesan judes, sedangkan Adit pria yang tidak terlalu suka keramaian dan penyendiri membuat mereka cocok satu sama lain walau sering berselisih pendapat. Adit memang tertarik dengan Adel sejak awal mereka bertemu, mata Adel membuat Adit penasaran. Mata yang kesepian dan terluka. Ingin rasanya ia melindungi mata itu. Setelah semua terbeli mereka beristirahat di sebuah taman. Sambil memakan semangkuk es krim, mereka menikmati suasana sore hari di taman Bandung tersebut. "Maaf pak, kita kenapa nggak bareng dengan rombongan?" "Rombongan sudah pulang dari tadi, kamu ketinggalan. Mereka baru saja masuk tol. Tadi Adam baru memberitahu saya." "Oh, gitu toh wah kita bisa sampai Jakarta malam ini." "Ya, semoga aja nggak macet, kamu beli oleh-oleh banyak banget buat siapa?" Tanya Adit yang melihat oleh-oleh begitu banyak yang dibawa oleh Adel. "Ohh, itu buat Ibu panti sama anak-anak di panti. Mereka pasti seneng saya bawain oleh-oleh." Jawab Adel dengan mata berbinar. "Kamu masih sering ke panti?" "Masih dong pak, saya nggak mungkin melupakan panti itu. Disanalah saya dibesarkan, walau tidak punya orang tua tapi saya punya Bu Reka dan teman panti lainnya. Mereka banyak berjasa untuk saya, dan saya tidak akan bisa melupakan itu." Adit hanya mengangguk sambil menatap Adel dengan penuh kebanggaan, dia salut dengan semangatnya yang tidak pernah pudar. Matanya begitu terang memancarkan gairah dan antuasias luar biasa. Sangking terpananya, matanya tidak berkedip menatap Adel. Saat Adel menoleh, Adit langsung membuang wajahnya. Adel yang bertanya-tanya mengerutkan dahinya bingung. “Esnya rasa apa?” Tanya Adit. “Ini? Strawberry.” “Cobain dong.” Ucap Adit menggoda. Dia kemudian mencoba mendekati es krim milik bawahannya itu. Tapi Adel tidak kalah jahil, hidung Adit dia remas agar tidak mendekati esnya “Ah..aaahh. AArrgghh.” Dia lalu menapat Adel tak percaya, “Sakit.” “Sukur.” Sahut Adel. Adit yang sedikit kesal menyinggungkan bibirnya ke samping.   Perjalanan dari bandung ke Jakarta benar-benar macet, Adel ketiduran di dalam mobil. Tujuh jam mereka berada di dalam mobil dan akhirnya sampai kosan adel jam satu malam. Adel yang tertidur dibangunkan Adit dan langsung masuk ke dalam kosan, Adit pun langsung pulang karena sudah lelah. Rasanya seluruh badannya terasa sakit. Ini pertama kalinya Adit menyetir selama ini. Kakinya pegal sekali. **** Kembali pagi ini RS. Suharjo dikunjungi oleh begitu banyak pasien. Entah kenapa semakin hari semakin bertambah pasien yang berobat. Indonesia harus benar-benar belajar untuk hidup sehat. "Mba kok lama banget sih obat anak saya?" Seru pasien yang mukanya sudah di tekuk enam bagian. "Sebentar ya Bu, saya cek dulu atas nama siapa?" "An Haikal Iswandi. Pasien lain setelah saya sudah beberapa orang menerina obat. Tapi kenapa punya anak saya belum?" "Ya, maaf ibu sedang di racik obatnya. Racikannya masih menumpuk mohon di tunggu ya." Pasien anak memang kebanyakan obatnya racikan dan biasanya Ibunyalah yang tidak sabar menunggu maklum bisa berjam- jam baru selesai. Dengan wajah kesal, ibu itu berkata "Ah lama banget sih dari tadi." ngomel-ngomel sambil pergi. "Adel," Sella menyapanya dengan ramah. Dia tersenyum melihat Adel "Bu sella? Check up ya hari ini?" Tanya Adel, dengan mata berbinar. Hatinya selalu senang ketika melihat Sella entah kenapa. "Iya, nih saya bawain kue buat kamu. Karena kemarin kamu menolak hadiah dari saya. Hari ini kamu nggak boleh nolak lagi pokoknya." "Makasih bu, kalau ini saya nggak nolak deh, hehe kan bisa di makan bareng- bareng juga sama yang lain." "Iya, kamu selesai jam berapa dinesnya?" Melihat jam tangannya "Sebentar lagi saya selesai, kenapa?" "Saya mau minta tolong boleh? Saya mau bicara sebentar." "Oh boleh dimana?" "Saya tunggu di restaurant depan RS ya." Ucap Sella yang dijawab anggukan oleh Adel. Dia kemudian pergi tidak mau mengganggu Adel bekerja. *** Jam dinas Adel selesai tepat pukul 15.00 dan diapun langsung menemui Bu Sella yang sudah menunggunya di Restaurant depan RS. Adel yang datang langsung memesan minuman dan tenderleon steak. "Ibu mau bicara apa?" Tanya Adel yang senang sekali bertemu Sella. "Gini Del, di kantor mau ada acara perayaan ulang tahun perusahaan. Nah saya ingin bikin acara berobat gratis, jadi pasien bisa datang ke posko yang sudah kita siapkan untuk check up lalu dapat obat. Saya ingin bekerja sama dengan RS Suharjo." Tutur Sella menjelaskan keinginannya. "Wah ide bagus Bu, apakah sudah bicara dengan Direktur?" "Tadi saya sudah bicara dan mereka setuju, mungkin sebentar lagi akan ada follow upnya. Saya ingin minta bantuan untuk bagian farmasi, apa saja obat dan alkes yang kira-kira dibutuhkan." Sebenarnya itu hanya alasan Sella agar bisa berbincang dengan Adel walau hanya sebentar. "Ohh okay, kalau soal daftar obat dan alkes biar nanti saya dan Pak Lintang yang bantu bu." Ucap  Adel "Makasih ya, maaf ganggu waktu kamu. Oh iya, kamu tinggal dimana biar Ibu antar." Adel melambaikan tangannya, "Kosan saya deket kok bu, saya bisa jalan kaki." "Udah ayok Ibu antar, anggap ini ucapan terimakasih ibu. Nggak boleh nolak lagi." Ucap Sella menatap Adel dengan penuh paksaan. Dia tidak mau Adel menolak bantuannya lagi. Adel tersenyum sambil mengangguk dan akhirnya mau di antar oleh Bu sella. Ini merupakan salah satu cara Sella untuk bisa memasuki kehidupan Adel. Mengetahui tentang Adel dan berada di dekatnya membuatnya semakin ingin terlibat dalam kehidupan anak kandungnya itu. Andaikan dia bisa berbicara yang sebenarnya dan andaikan dia bisa melakukan ini lebih cepat. **** Adel baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, ada pesan wahatsapp yang masuk. "Del kapan mau ke panti?" Pesan itu datang dari Adit, membuat Adel heran setengah mati Dalam hati "Ngapain nih orang tiba-tiba nanyain panti. Aneh banget." "Lusa mungkin Pak.” Balas Adel "Oh hari libur ya, saya ikut ya." "Bapak mau ikut ? ngapain?" Tanya Adel penasaran. "Saya mau ada proyek tentang anak panti asuhan. Jadi saya perlu mendatangi panti. Boleh kan saya ikut?" Tuturnya berbohong, dia hanya ingin agar bisa bersama wanitanya itu. "Boleh kok pak, hehe nanti Adel shareloc alamatnya ya." "Saya jemput kamu saja besok. Titik. Tidak ada bantahan." Kalau sudah begini mau apapun alasannya Adit tidak akan terima. Dia tetap akan menjemput Adel. Adel bingung ada apa sebenarnya dengan atasannya itu, selalu mengusik hidupnya. **** Keesokan paginya, Sella sengaja membawa kotak yang berisi barang-barang dan foto-foto Adel. Kotak itu bahkan bertuliskan nama anaknya. Dia takut kalau terus disimpan di rumah, suatu saat ayahnya akan tahu. Lebih aman jika ia menyimpannya di kantor.                  Tanpa diduga ternyata Irwan berada di ruang tamu sedang menikmati teh hangatnya, dia lalu melihat Sella yang membawa sebuah kotak.                 “Kamu bawa apa itu?” Pertanyaan Irwan seketika membuat Sella terkejut dan panik.                 “Ah?” Sella memutar bola matanya mencari-cari alasan “Ini barang-barang yang Sella butuhin di kantor. Biasa pah ATK.”                 Irwan mengangguk, dia curiga dengan tingkah anaknya. Dia bukan orang yang mudah untuk dibohongi.                 “Sella ke kantor dulu ya pah.” Ucapnya buru-buru masuk ke dalam mobil. Dia mendesah lega sambil terus menatap ayahnya dari kaca spion mobil. Dia sungguh takut kalau sampai ayahnya tahu dan semuanya jadi berantakan. ****                 Adit berjalan di sebuah Mall bersama anak buahnya untuk membelikan pakaian dan mainan pada anak-anak panti yang akan ia kunjungi besok. Ia begitu bersemangat dan antusias saat berbelanja. Di belakang dua anak buahnya sudah sibuk membawakan barang belanjaan yang sudah dia beli. Menyembangi hampir setiap toko, tapi Adit sama sekali tidak merasa lelah. Hatinya begitu gembira.                 Tanpa sengaja, Adit yang tidak melihat lingkungan sekitar menabrak seorang wanita. Tas belanja yang wanita itu pegang terjatuh ke lantai. Adit yang kaget lalu membantunya merapikan kembali tas tersebut. Dari pakaian yang dikenakan, jelas wanita di depannya ini bukan orang biasa. Tas Chanel, dan baju keluaran Versace membuatnya terlihat seksi dan mewah.                 “Maaf.” Ucap Adit singkat.                 “Jalan hati-hati. Pake mata.” Ucap wanita itu dengan kasar.                 Adit yang mendengarnya hanya diam, sementara perempuan itu dengan acuh berjalan meninggalkannya. Bersambung....    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD