Hadiah Untuk Adel

1964 Words
Adel yang ketakutan memejamkan matanya tidak berani melihat. Saat membuka mata, betapa terkejutnya dia saat melihat siapa orang yang sekarang ada di depannya dan sedang menahan tangan para preman tersebut. Preman yang ada di depan mereka langsung berlari terbirit-b***t. Tubuh tegap dan bogem mentah yang dilayangkan lelaki itu mampu membuat mereka kapok. "Pak Adit?" Ucap Adel kaget. "Kamu ini, jam segini baru pulang. Sendirian lagi." Protes Adit khawatir. "Iya, Pak Adit kenapa ada disini mau ketemu saya?" Tanyanya sedikit gagap, tangannya masih gemetar dengan kejadian tadi. Adit menghela napasnya, "Nih, sapu tangan kamu jatuh kemarin di mobil saya." Adit menyodorkan sapu tangan tersebut yang diambil oleh Adel dengan ragu-ragu, dia baru ingat bahwa sapu tangannya hilang. Dasar Adel memang teledor. "Yaampun maaf ya pak. Makasih juga sudah nolongin saya tadi." "Hhmm, pulang sana sudah malam." Ucap Adit dengan nada dalam dan tegasnya. "Makasih sekali lagi ya pak." Adel tersenyum berterima kasih pada Adit sebelum dia berlari ke kosannya. Adit yang melihat Adel dengan selamat sampai kosannya lalu menjauh dan membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba dia terdiam dan kembali menatap ke arah kosan wanita yang sudah membuatnya khawatir, Dalam hati dia berkata "Dia itu nggak ada takutnya ya, coba kalau tadi gue nggak ada gimana itu? Aahh tahu ah, kenapa jadi mikirin dia gini sih." Adit lalu masuk ke dalam mobil dan pergi. *** "Caffe Latte satu ya Mba." Pagi Adel harus diawali dengan kopi untuk menghilangkan kantuknya. Kalau tidak bisa-bisa dia sambil merem menyerahkan obat kepada pasien. Bisa berabe. "Sama Americano satu Mba." Tiba tiba suara berat dan dalam terdengar di kuping Adel. Dia sepertinya kenal dengan suara itu Adel kemudian menoleh, "Eh pak Adit. Selamat pagi." Sapa Adel yang tidak biasanya begitu ramah. Adit yang mendengar hal tersebut sama sekali tidak bergeming, dia terus memainkan ponselnya "Mba dia yang bayar ya." Ucap Adit kepada pelayan tersebut dengan wajah datar. Adit lalu menoleh kepada Adel, "Anggap ini ucapan terima kasih kamu ke saya Del." Ucapnya dengan tetap berwajah datar. "Tappii... yaudah Mba berapa semuanya?" Adel pasrah, dia mana mungkin menolak permintaan atasannya. Belum lagi dia sudah menyelamatkan hidupnya semalam. Setelah dibayar Adit langsung pergi ke kantornya dengan wajah tersenyum sumringah. Dia senang sekali bisa mengambil kesempatn dapat traktiran dari karyawannya. Kapan lagi kan, sepertinya Americanonya akan jadi lebih manis hari ini. "Dia itu kenapa sih? Aneh." Ucap Adel yang terheran bingung. Karena sedang suntuk dan pasien belum ramai, Adel berjalan keluar Rumah Sakit untuk mencari cemilan di kantin sebrang, di sana banyak gorengan dan makanan lain yang enak dan mengenyangkan. Lalu terdengar suara motor yang goyang dan menabarak seseorang tepat di belakang tempat Adel berada. Bbrraakkk….. "Aarrghhh, haduh." Seorang wanita langsung teriak kesakitan setelah tertabrak tadi. Dan orang yang menabrak tersebut langsung kabur. Adel yang segera menoleh, kaget melihat apa yang terjadi. "Oooyy jangan lari lo." Karena tidak sempat mengejar, Adel akhirnya menyerah dan langsung menghampiri wanita yang terduduk kesakitan di bawah. Tanpa ia tahu bahwa wanita yang tertabrak itu adalah Sella. "Ibu nggak papa?" Tanya Adel. Sella kaget, matanya terbelalak ketika Adel menghampirinya. Dirinya terdiam melihat Adel begitu dalam, tatapannya sangat sendu hingga Adel melihatnya dengan dahi berkerut. “Ibu bisa dengar saya?” Adel kembali bertanya, “Ibu nggak papa?”  "I..iya saya tidak apa-apa." Sella yang tersadar menjawab dengan terbata-bata. Dia sampai tidak merasakan kalau lututnya berdarah. "Lutut Ibu berdarah, ke IGD saja ya Bu, saya antar." Ajak Adel lembut. "Nggak usah saya nggak papa kok." Sella mulai panik, dia mencari cara agar bisa menolak ajakan anaknya. "Nggak papa gimana? Ayok saya bantu." Adel akhirnya sedikit memaksa karena Sella tidak mau di bawa ke IGD. Adel dengan sekuat tenaga memopoh Sella yang lebih tinggi sedikit darinya. Adel dan Sella pun datang ke IGD. Sella bingung harus bersikap seperti apa. Dia tidak bermaksud seperti ini, biasanya dia datang hanya untuk melihat Adel dari kejauhan. Tapi malah jadi seperti ini, harusnya dia tidak usah datang. Setelah lukanya dibersihkan dan dibalut Sella diberi resep oleh Dokter. Dia juga sudah diperbolehkan pulang. "Dok saya alergi sama antibiotik golongan sefalosporin, jangan di kasih itu ya dok." Ungkap Sella kepada dokter yang berjaga saat itu. Sedangkan Adel membantu mengurus masalah administrasi. "Oh ibu alergi, yasudah nanti saya resepkan antibiotik lain." Adel yang datang setelah selesai mengurus administrasi lalu kembali menghampiri Dokter untuk mendapatkan resep. "Nih Del, resepnya." Ucap sang Dokter yang memang sudah kenal Adel lama, dia biasa nongkrong di tempat farmasi karena dokter tersebut adalah kekasih Mba Lia teman kerja Adel. "Sip Dok, makasih ya." Tandas Adel "Ibu kamu ya Del?" Tanya Ridwan, nama Dokter tersebut. "Bukan Dok." Jawab Adel bingung. "Ohh kirain, habis mirip." Ucap Dokter yang heran melihat kemiripan Sella dan Adel. Mereka begitu mirip, orang yang melihat pasti akan mengira mereka adalah ibu dan anak. Adel hanya tersenyum mendengar perkataan sang Dokter. Dia dan Sella kemudian keluar dari ruang IGD dan menuju farmasi untuk menebus obat. "Terima kasih ya, kamu baik sekali." Ucap Sella. "Sama-sama Bu, sudah tugas kita sebagai manusia untuk saling membantu." "Hmm, kamu kerja disini?" Pura-pura Sella bertanya. "Iya saya kerja di bagian farmasi. Apotekernya." "Wah, hebat ya Apoteker. Kamu tinggal dimana?" Berada di depan anaknya seperti ini membuatnya ingin tahu lebih dalam. "Saya ngekost di dekat sini, sebentar saya siapin obatnya dulu ya. Ibu tunggu saja disini." Seru Adel sambil mendudukan Sella. Adel dengan cepat menyiapkan dua obat yang diberikan dokter kepada Sella. Antibiotik dan pereda nyeri, untungnya obatnya tidak terlalu banyak jadi bisa cepat dikerjakan. "Yang ini untuk nyerinya tiga kali sehari, sama antibiotiknya dua kali sehari dihabiskan ya." Jelas Adel dengan ramah, "Okay." "Diminum rutin jangan lupa, dan ibu harus kontrol juga lukanya. Takut kenapa-napa." "Siap boss. Yasudah saya pulang dulu ya. Nggak enak ganggu kamu kerja juga, terima kasih ya Del." Seru Sella dengan tatapan penuh terima kasih. "Sama-sama." Jawab Adel dengan ramah. Ada perasaan aneh di lubuk hatinya tapi dia tidak tahu apa itu. **** Di ruang kerja, Adit sedang berada di depan laptopnya mengamati data-data yang masuk dari seluruh departemen Rumah Sakit. Dia kemudian ingat dengan proyek Rumah Sakit baru yang sedang mereka kerjakan. "Dam, pembangunan cabang Rumah Sakit sudah sampi mana?” "Sudah 80% Pak, tinggal finishing dan mulai recruitment." Ucap Adam menjelaskan. "Untuk recruitment kita ambil dari sini beberapa orang ya, yang senior sebagai kepalanya. Biar anak baru ada yang bimbing." "Saya juga berpikir seperti itu pak, makanya saya bikin list karyawan senior di sini biar bisa bapak ajak kunjungan ke RS cabang tanggal 25 nanti." Adam lalu menyodorkan dokumen berisi karyawan senior di Rumah Sakit itu. "Wah kamu cekatan sekali ya." Sahut Adit. Dilihatlah list tersebut oleh Adit dengan seksama, tidak ada nama yang ia kenal dari daftar tersebut. “Hmm, anak farmasi siapa namanya? Hmm.. Adel. Dia tidak ada di daftar?” “Maaf Pak, tapi saya lihat dia baru bekerja di sini selama tiga tahun. Dia belum bisa dikategorikan sebagai senior. Dan masih banyak seniornya yang ada di farmasi.” Dengan datar, Adit menocarat-coret daftar yang ada ada di list tersebut. "Ini yang saya ceklist, akan berangkat tanggal 25. Dan saya mau Adel yang ikut dari bagian farmasi. Langsung bikin surat tugasnya kalau sudah selesai." Seru Adit tegas. Dia ingin sekali Adel untuk ikut menemaninya dinas. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Baik Pak.” Jawab Adam *** Tiga jam setelah surat tugas selesai, Lintang yang baru sampai di ruangannya membuka berkas yang ia terima dan menatpnya beberapa saat. Dia sedikit heran, yang diajak untuk pergi mengunjungi RS cabang semuanya senior yang sudah sepuluh tahun atau lebih bekerja. Tapi anehnya ada nama Adel di sana. Dia bahkan belum sampai lima tahun kerja. Lintang kemudian tersenyum, sepertinya atasannya ini benar-benar menyukai anak buahnya. "Adel sini!” Seru lintang memanggil Adek ke ruangannya. "Iya kenapa kak?” Tanya Adel penasaran. "Ini, kamu dapat tugas dari Direktrur untuk pergi ke Bandung tanggal 25, kunjungan ke RS cabang yang baru dibangun." "Hah saya Kak?" Tanya Adel bingung kenapa dia yang dipilih. "Iya kamu, saya juga bingung kenapa mereka memilih kamu. Karena hampir semuanya senior yang diajak untuk pergi kesana. Dari bagian lain juga ikut. Kamu mewakili bagian farmasi." Ujar Lintang dengan wajah serius. "Ok Kak. Saya siap." "Yaudah, oh ya laporan kamu sudah selesai?" Tanya Lintang. "Sebentar lagi selesai Kak, masih ada tambahan." "Yaudah selesaikan secepatnya." Ucap Lintang tegas. Adel mengangguk lalu pergi dari ruangan tersebut dan buru-buru menyelesaikan tugasnya. **** Keesookan paginya di PT I.B Indonesia, Sella memanggil sekertarisnya untuk datang ke ruangannya. "Bagaimana dengan Louis Apparel? Sudah deal?" Tanya Sella kepada anak buahnya yang sangat detail walaupun agak kemayu. "Iya Bu, ini kita sudah dapet kontraknya." Ungkap Geri. “Mana coba saya lihat?” Geri lalu menyodorkan surat kontrak yang ditandatangani oleh Louis Apparel, rekan kerja mereka sekarang. "Bagus, ok kamu boleh keluar." Seru Sella. "Baik." Dia baru saja membalikkan badan ingin keluar, "Ehh Ger,” Sella kembali memanggilnya “Nih pake kartu saya tolong beliin tas sama baju yang bagus-bagus, ukurannya M lah. Terus kirim ke alamat ini ya.” Ujar Sella sembari memberikan secarik kertas dimana alamat Adel tertera di sana. “Ini alamat siapa Bu?" Tanya Geri penasaran. "Kamu nggak perlu tahu, udah sana lebih baik kamu pergi. Barang-barang tadi harus ada di alamat itu sore ini." Tegasnya dengan wajah serius. "Baik-baik. Hmmm…. Saya boleh beli juga kan Bu sekalian. Hihi." Seru Geri dengan sedikit tertawa, dasar Geri memang selalu mencari kesempatan. "Dasar, yaudah sana beli jangan banyak-banyak tapi." “Asiik berangkat.” Ucapnya sembari membalikkan badan dengan gaya kemayu nan luwes hingga membuat Sella terkikih. *** Di RS Suharjo, pasien kembali membeludak hari ini. Ruang tunggu farmasi begitu penuh. Adel sudah tersengal-sengal karena harus bolak-balik menyerahkan obat dan juga membantu menyiapkan di belakang. Mereka hari ini kurang orang karena ada yang cuti jadi cukup kewalahan. "Yaampun hari ini pasiennya nggak berhenti-berhenti mentang-mentang ini hari sabtu." Ucap Adel dengan wajah kelelahan dan kepanasan. Dia mulai ngos-ngosan mengerjakan semuanya. "Iya Mba ampun deh, kaki mau copot rasanya." Seru Keke. “Kalian sampe rumah enak langsung istirahat, lah aku masih harus ngurus suami sama anak." Keluh Mak Yanti yang dari tadi pusing sendiri entah ngurusin apa. "Mak emang hebat ya." Sahut Keke. "Udah jangan banyak ngeluh pulang sana istirahat." Seru Mba Lia yang sedang membereskan tasnya bersiap untuk pulang. Tumben-tumbenan dia tidak mengeluh seperti biasanya. "Oke Mba." Jawab Keke dan Adel bersamaan kompak menjawab dengan lantang lalu tertawa cekikikan, Mak Yanti yang melihat itu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya itu. *** Adel yang baru sampai kosan, terdiam bingung di depan pintu kamarnya. Begitu banyak barang bergeletakkan. Diperhatikannya satu-satu barang tersebut oleh Adel dan dia juga melihat ada sepucuk surat di sana. "Maaf saya hanya bisa berikan ini, terima kasih karena sudah menolong saya, semoga Adel bisa menerima barang ini dan dapat digunakan dengan baik- Sella" Begitulah isi surat tersebut yang membuat Adel bertambah bingung. "Ini Ibu yang kemarin ya? Baik banget sampai ngasih barang segala, jadi nggak enak. Mana banyak banget lagi." Ucap Adel pada dirinya sendiri. "Wih, Adel habis belanja. Coba lihat." Tika yang tiba-tiba datang langsung meraih tas berwarna coklat dengan merk Marc Jacobs. Matanya terbelalak sambil tersenyum. "Ini dikasih sama ibu-ibu yang ditabrak motor kemarin, terus gue bawa ke IGD eh gue malah di kasih begini." "Ih Del, lihat nih bermerk semua tuh tas Charles and Keith sepatu Jimmy Choo dan ini Marc Jacob. Gila Del, pasti orang kaya banget ya Ibunya." "Gue balikin saja ah, nggak enak orang gue juga nolongnya tulus. Masa sampai dikasih barang harganya jutaan begini. Gue nggak bisa nerima." "Yaelah Del terima aja kali, lumayan orang dia udah ngasih ini. Ini kan bentuk terima kasih dia sama lo." Adel lalu menggeleng "Sini jangan di apa-apain gue mau balikin aja besok." Adel langsung menarik tas yang ada di tangan temannya itu. "Buset si Adel, di kasih nggak mau." Ujar Tika yang melihat barang-barang tersebut dengan sayang hati. Sayang sekali jika dikembalikan. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD