Udara di lantai empat puluh dua Meyer Tech pagi ini terasa sangat kering, seolah-olah sistem pendingin ruangan telah menyedot seluruh kelembapan dan menyisakan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Lukas Weber duduk di meja asistennya, memandangi cangkir kopi hitam yang uapnya perlahan menghilang ditelan suhu ruangan. Pikirannya masih tertambat pada pemandangan semalam; wajah Hannah Meyer yang sembab dan kerentanan yang ia tunjukkan di balik pintu kaca kantornya. Empati itu masih ada, mengendap di dasar hati Lukas seperti sedimen yang tidak diinginkan, mengaburkan objektivitas yang selama ini menjadi senjatanya sebagai seorang agen. Lukas menarik napas panjang dan mencoba memfokuskan pandangannya pada layar monitor. Ia harus bekerja. Ia harus memastikan bahwa perbaikan darurat yang ia la

