Malam kembali menyelimuti Frankfurt dengan keheningan yang menyesakkan, namun di lantai empat puluh dua gedung Meyer Tech, cahaya dari monitor Lukas Weber masih berpendar terang. Aroma kopi yang sudah mendingin dan udara pengap dari mesin server yang bekerja keras menemani kegelisahan pria itu. Setelah penemuan dokumen bocor di babak sebelumnya yang menyeret nama Sebastian Koch secara langsung, Lukas merasa tidak bisa lagi sekadar menjalankan perintah. Ia harus memahami apa yang sebenarnya menggerakkan pria yang ia panggil mentor itu. Mengapa seorang jenius seperti Sebastian bersusah payah menghancurkan warisan yang dulu ia ikut bangun? Lukas menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, membiarkan jemarinya memijat pelipis yang berdenyut kencang. Ia mulai melampaui perintah harian yang dibe

