Lukas Weber duduk mematung di kursi ergonomisnya, membiarkan kegelapan ruang kerja pribadinya menelan sosoknya yang letih. Hanya pendar biru dari tiga monitor besar yang menerangi wajahnya, menciptakan bayangan tajam di tulang pipinya yang menonjol. Suasana sunyi apartemennya terasa mencekam, kontras dengan gemuruh badai batin yang ia bawa sejak meninggalkan gedung Meyer Tech. Aroma kopi pahit yang mulai mendingin di atas meja bercampur dengan bau khas perangkat keras yang panas, menciptakan atmosfer yang steril namun penuh tekanan. Momen di dalam lift bersama Hannah Meyer masih terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sentuhan halus di lengannya, aroma melati yang menyesakkan, dan pengakuan yang hampir meruntuhkan seluruh pertahanannya terasa seperti luka yang menolak mengering.

