KASTA TIGA

1421 Words
Tangan kananku memegangi leher bagian belakang seraya menghempaskan badan ke atas ranjang yang luasnya bisa ditiduri empat orang. Layar ponselku terus menyala dan berdering. Anak-anak di sekolah masih sibuk membicarakan kejadian tadi siang. Mataku terpejam, berbagai pikiran terus menjalari otakku. “Jika aku berhenti sekolah, sama artinya aku mengakui peraturan kasta tak masuk akal di sekolah.” Batinku bergumam dan memiringkan badan ke kanan, “atau kembali ke Kanada?” batin lainku menjawab. Aku menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Argh! Inginku berteriak rasanya. Tapi takut membuat seisi rumah panik. Aku mendesah pelan lalu bangkit dari tempat tidur. Meraih ponsel di atas kasur dan membuka ruang obrolan sekolah. Benar saja. Aku masih menjadi topik hangat. Tapi, malam itu aku mengambil keputusan yang sebenarnya tak tahu ujungnya. *** Tok Tok Tok. “Sarapannya sudah siap nak,” ajak Bi Ruri untuk sarapan bersama. Bi Ruri sudah kuanggap seperti keluarga inti, begitu juga dengan orang tuaku yang mempercayai Bi Ruri untuk mengasuh aku dari kecil. Kepulanganku ke Indonesia juga ditemani oleh Bi Ruri, sedangkan ibuku tetap tinggal di Kanada karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebagai seorang designer. “Dijadikan bekal saja Bi, udah gak sempat, takut telat ke sekolahnya,” pintaku sambil menyerngitkan hidung memelas kepada Bi Ruri. Seakan mengerti, Bi Ruri tersenyum mengangguk meninggalkan kamar. Aku masih sibuk memasukkan buku kedalam tas dan membaca secarik kertas yang sudah kutulis tadi malam. Mataku tertuju ke sudut meja. Sebuah surat yang sudah dimasukkan ke dalam amplop coklat membuat aku ragu. Apa aku yakin? Semua akan baik-baik saja bukan? “Setidaknya aku harus mencoba sekali.” Aku menghela nafas pelan mencoba meyakinkan diri. Tanganku meraih surat itu dan memasukkannya kedalam tas. “Aku berangkat dulu ya Bi,” salamku kepada Bi Ruri yang mengantar sampai ke depan pintu. Ayah sudah tidak, semenjak kemarin aku sudah memutuskan untuk tidak memanggil ayah lagi pada orang yang paling dihormati di sekolah, sudah menyiapkan mobil plus sopir yang akan mengantar ke mana pun aku pergi. Aku melambaikan tangan ke Bi Ruri sebelum masuk mobil. *** Aku memasuki kelas. Suasananya terasa tegang. Semua mata mengarah padaku. Belum ada guru yang masuk, jadi semua masih bersantai bercengkrama satu sama lain. Setidaknya tepat sebelum aku memasuki kelas. Mataku menangkap sebuah kursi kosong paling belakang di samping jendela yang mengarah ke belakang sekolah. Aku dipindahkan dari kelas lantai lima gedung utama ke kelas lantai satu di gedung lama paling belakang untuk Kasta Tiga. Lagi-lagi. Kasta sekolah dibedakan menjadi tiga. Tapi kasta tiga bukan berarti yang paling buruk. Masih ada anak konglomerat yang terdampar di kasta ini. Bisa jadi karena tidak pintar, tidak cantik, tidak tampan, atau pembuat onar. Sama halnya seperti yang kualami. Walau sebenarnya aku tidak mengerti betul apa standar sekolah menetapkan sistem kasta seperti ini. Tapi tak apa. Ini pilihanku. Selain memang anak-anak kemarin yang menghinaku di kantin menolak untuk sekelas denganku. Aku menarik kursi dan duduk. Aku mengedarkan pandangi ke seluruh isi kelas. Tidak berisik. Semua sibuk dengan dunia masing-masing. Sampai akhirnya seorang anak laki-laki berkacamata menyuruhku pindah ke kursi sebelah. “Hei, ini kursiku, pindah ke sana!” Hentaknya mengangkat tangan menunjuk kursi di sebelah. Aku menoleh ke samping. Tak memilih untuk berdebat. Aku segera menurut pindah ke kursi sebelah sambil menyunggingkan seulas senyum ke anak laki-laki itu. Dia tak membalas tapi langsung duduk setelah aku pindah. Aku memandangnya di sebelahku. Dia berkulit putih, tidak terlalu tinggi tapi masih lebih tinggi dariku. Dia memakai kacamata berwarna orange yang bertengger di hidung mancungnya. Warna yang mungkin bisa di lihat dari jarak seratus meter.      Seketika dia menoleh. “Apa yang kau lihat?” Aku menoleh kaget. Memalingkan pandangan. Hampir copot jantungku. Tanganku sontak memegangi d**a. Apa itu tadi? matanya yang bulat hitam langsung menatap tajam bertemu mataku. Sesekali aku meliriknya, memastikan apakah dia masih menatap ke arahku. Aku menghembuskan nafas pelan ketika kudapati dia sudah kembali fokus pada bukunya yang terkambang. Aku menggelengkan kepala menyegarkan kembali pikiran. Sudahlah masih banyak yang harus dilakukan. Ini bukan saatnya bermain-main. Aku menatap amplop coklat di dalam tas yang tergantung di samping meja. Aku berpikir sekali. Dua kali. “Huft! Aku benar-benar tak suka melakukannya sendiri,” gumamku pelan. Tanpa kusadari, anak laki-laki berkacamata di sebelahku sudah menatap ke arahku sedari tadi. *** Aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanan. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku terlambat datang ke sekolah. “Pak Andra, nanti kita lewat belakang saja ya, gerbang depan sudah dikunci kalau jam segini,” pintaku pada sopir pribadi yang telah disiapkan Mister Han. “Bukankah gerbangnya hanya satu ya, nak?” Pak Andra sedikit bingung dengan permintaanku. “Ada pak, jalan tikus,” kataku sambil terkekeh. Pak Andra tak lagi bertanya. “Baik nak,” jawab Pak Andra sambil menginjak pedal gas. Mobil melaju meninggalkan kepul asap di belakang. “Nak Jia kenapa lama? bapak kira nak Jia langsung berangkat dari sana ninggalin Bapak,” tanya Pak Andra membuka obrolan di dalam mobil. Aku terkekeh ringan. “Karyawan di tempat lesnya ngasih aku teh pak, jadi gak enak kalau ditinggal begitu saja,” jawabku mengada-ngada sambil tertawa mencairkan suasana curiga. Tidak lama setelah mobilku meninggalkan rumah tadi pagi, aku meminta Pak Andra mengantarkanku ke sebuah tempat bimbingan belajar sebelum ke sekolah. Dengan alasan ingin mendaftar kelas tambahan. Namun bukan itu yang kumau sebenarnya. Tidak jauh di balik gedung bimbingan belajar itu, sebuah gedung putih menjadi alasanku sudah membohongi Pak Andra pagi itu. Aku terpaksa lewat jalan rahasia di belakang sekolah yang tidak sengaja kutemukan ketika berjalan-jalan dihari pertama bersekolah. Jalanan kecil yang ditumbuhi rumput liar sepinggang. Jalan ini jarang dilewati karena berdekatan dengan gedung kelas lama yang sudah tidak dipakai. Kuakui sebenarnya jalan ini lebih dekat dengan kelasku sekarang. Belum sampai kakiku menginjak jalan sempit berumput itu, terdengar suara sekelompok pria mengucapkan kata hati-hati serempak dan tegas. Sontak aku memegangi d**a terkejut. Mataku liar memandangi sekeliling. Tampak segerombolan lelaki bertubuh kekar dibaluti jas hitam pas badan yang membungkukkan badan sembilan puluh derajat ke hadapan seorang anak laki-laki sebayaku. Aku berhenti, mengintip. “Anak itu….” Aku menyerngitkan mata tidak yakin. Ekspresi wajahnya tampak sangar, tatapannya tajam. “Tidak mungkin dia bukan?” ucapku pelan tidak mempercayai apa yang kulihat. Anak laki-laki itu mengeluarkan kotak kacamata dari dalam tasnya. “Sudah kubilang jangan lakukan hal itu di sini, kalian boleh pergi,” perintah anak itu pada sekelompok pria yang mulai meninggalkan lokasi. Anak laki-laki itu memakai kacamatanya dan mulai berjalan ke arahku. Aku segera berlari menuju kelas sebelum anak laki-laki itu berjalan mendekatiku. *** Pelajaran pagi itu sangat membosankan. Aku termenung mengingat hal yang kulakukan tadi pagi. Sebuah gedung berwarna putih menjulang tinggi di depanku. Aku menatap amplop coklat di tanganku. Meyakinkan diri melangkah menaiki anak tangga satu per satu. Pagi itu, aku menggunakan topi dan masker menuju kantor Lembaga Kementerian Pendidikan Indonesia. Khawatir ada yang memergoki diriku yang sudah terkenal ini. Seorang anak konglomerat pemilik yayasan terbesar di kotaku. Aku memilih memasukkan amplop itu ke dalam kotak yang telah disediakan sebagai anonim. Berkali-kali aku meyakinkan diri. Memasukkan dan mengeluarkan amplop itu dari kotak secara bergantian. “Ya sudahlah, semoga ini pilihan terbaik,” bisikku pelan meninggalkan amplop di kotak merah itu. Sebuah ketukan meja membuat lamunanku pecah. Aku menoleh. “Kau dipanggil,” ucap anak laki-laki berkacamata di sampingku. “Mino, kau bisa bantu Jia menulis di depan,” perintah Bu Hani yang tengah mengajarkan Sastra Bahasa Indonesia. Aku menyerngitkan dahi dengan tatapan bingung. Mino sudah berada di depan papan tulis. Tidak ada pilihan mengelak. Aku pun maju. Sastra Bahasa Indonesia termasuk pelajaran sulit bagiku. Apalagi membuat sepotong syair. Jangan pernah mengalah dengan ketidakadilan Mino sudah kembali ke tempat duduk. Aku ngasal menyambung kalimat yang sudah ditulisnya di papan tulis. Jangan pernah mengalah dengan ketidakadilan, Aku tidak suka kalah, Aku tidak akan kalah. Aku kembali ke tempat duduk. Menatap papan tulis. Sederhana. Tapi penuh akan ambisi. Aku membatin. “Aku akan wujudkan itu.” Aku berbalik menoleh ke samping. Mengetuk meja tiga kali. “Boleh pinjam pulpen warna merah?” ucapku pelan pada Mino. Mino menoleh tapi mengabaikan perkataanku. Ya sudah. Aku mengambil pulpen merah yang ada di mejanya. Tanpa melirik wajahnya yang tengah menatapku heran. Aku menulis namaku di sebuah kertas. Jianada Melody. Lalu meletakkannya kembali di meja anak laki-laki itu. Mino menatap dalam kearahku. Tampak jelas bola mata hitamnya menyimpan banyak pertanyaan terhadapku. Tapi entah kenapa, tidak ada interaksi sama sekali. Apakah ini juga termasuk tradisi tidak masuk akal yang ada di sekolah ini? Aku melipatkan tangan di d**a. Menatap balik matanya dengan tajam. Seakan aku menjawab pertanyaannya diam melalui tatapan mata yang sudah semakin dalam. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD