BAB 02

1067 Words
BAB 02 Ocha begitu bersemangat karena pada akhirnya di SMA ia satu kelas dengan Leon. Dia tentu saja ingin duduk di dekat Leon, tapi siapa sangka kalau ternyata Ocha memiliki banyak saingan cinta. Mengingat wajah rupawan seorang Leonardo Artawira Xavender yang tidak perlu diragukan lagi. Belum lagi Leon adalah tipe cowok cool dan keren, idaman para cewek banget. “Ih, pada kegatelan banget sih deketin Leon. Padahal Leonnya risih juga dideketin sama mereka!” kesal Ocha saat melihat para cewek di kelasnya caper di depan Leon. “Dih, apa bedanya sama elo, Non?” sindir Herman, salah satu sahabat Ocha sejak SMP. “Maksud lo apa, Herman?” protes Ocha tidak terima. “Ya, lo kan sama aja kaya mereka juga, ngedeketin Leon mulu padahal dianya risih dideketin sama lo.” Herman memang blak-blakan pada sahabatnya, dia bukan tipe anak yang selalu mendukung apapun yang temannya lakukan. Pokoknya Herman itu adalah teman ternyablak yang Ocha punya. “Beda dong, Ocha kan udah suka sama Leon sejak kita masih kecil.” Ocha dengan percaya diri mengelak, tentu saja hal itu membuat Herman hanya bisa mencibir saja. “Terserah lo!” kesal Herman pasrah. “Ocha mau samperin Leon dulu deh, bye!” Ocha menhentakan kakinya lalu berbalik sambil mengibaskan rambutnya yang tergerai sampai mengenai wajah Herma. “Duh, Non, biasa aja dong!” protes Herman namun Ocha tidak peduli, matanya hanya focus menatap Leon seorang. “Hay, Leon. Nanti siang kita makan bareng ke kantin yuk!” ajak Ocha percaya diri. “Gak!” jawab Leon ketus. “Kenapa sih? Padahal Ocha kan pengin banget makan bareng sama Leon!” protes Ocha sebal. “Soalnya lo berisik!” jawab Leon tetap dingin. “Tapi kalo lagi makan, Ocha bakalan diem kok, sumpah deh, janji!” bujuk Ocha. “Heh, Tuan Putri yang manja tapi murahan, sejak dulu lo gak ada harga dirinya banget terus-terusan ngejar Leon. Udah jelas-jelas Leonnya gak mau, jual mahal dikit kek jadi cewek!” sindir Mia, salah satu musuh bebuyutan Ocha sejak SMP. “Dih, Mia, denger ya. Ocha jual murah aja Leonnya gak mau, gimana kalau Ocha jual mahal. Apa perlu Ocha obral biar Leon mau?” ujar Ocha dengan polosnya membuat Mia kehabisan kata-kata saking tidak habis pikirnya dengan Ocha yang kadang begitu lemot. “Otak lo kenapa sih, Ocha? Gue sampai gak bisa berkata apa-apa lagi saking gak jelasnya elo!” pekik Mia. Tanpa sadar Leon tersenyum tipis memperhatikan kepolosan Ocha yang sampai-sampai membuat orang lain kehilangan kata-kata. Leon yang sudah mengenal Ocha sejak kecil juga masih tidak habis pikir dengan isi kepala mungil Ocha. Bel masuk pun berbunyi, seluruh anak kembali focus dengan pelajaran. Meskipun otak Ocha terkadang nge-lag, tapi dalam hal pelajaran dia tidak b**o-b**o banget. Ocha selalu masuk sepuluh besar meski tidak seperti Leon yang selalu juara satu. Bagi Ocha, Leon itu paket komplit, selain pintar dalam pelajaran tapi dia juga jago dalam olahraga. Hari ini mereka dibuat pusing oleh pelajaran matematika dan fisika yang disatukan dalam satu hari diwaktu pagi sampai siang. Jam istirahat telah tiba, bagi teman-teman kelas Ocha, suara bel itu terdengar seperti lonceng kebahagiaan yang menolong mereka dari siksaan angka-angka. “Leon, kita makan bareng, ya?” bujuk Ocha, tapi sayangnya Leon tidak menjawabnya, dia malah pergi meninggalkan Ocha. “Leon, tungguin!” pekik Ocha sambil berlari mengejar Leon. “Kenapa sih sejak dulu lo selalu ngintilin gue ke manapun gue pergi. Sumpah, risih banget tau gak!” pekik Leon kesal. “Ocha kan cuma pengin deket sama Leon. Ocha udah suka sama Leon sejak kita masih kecil, rasanya kalau dihitung-hitung sudah hampir sepuluh tahunan gak sih? Itu waktu yang sangat lama. Kalau diibaratkan ambil cicilan, kayanya Ocha udah berhasil lunas cicil motor, mobil, atau bahkan rumah.” Ocha selalu blak-blakan di depan Leon. “Tapi gue gak cinta sama lo, Cha!” pekik Leon berusaha membuat Ocha mengerti. “Kenapa sih Leon? Kenapa Leon gak bisa balik cinta sama Ocha?” Ocha tidak mengerti mengapa Leon tidak bisa mencintainya, padahal sudah sejak kecil Ocha mencintai dan mengejar cinta Leon. “Cinta itu gak bisa dipaksa, Ocha. Lagi pula gue udah anggep lo kaya adik gue sendiri.” Leon menjelaskan alasannya. “Tapi kita kan seumuran, lagi pula kayanya tuaan Ocha beberapa bulan deh. Tapi kalo Leon maksa, ya, udah deh kita jadi kakak adikan dulu aja. Sekarang kan hubungan kakak adean, TTM-an, teman rasa pacar, sama HTS-an lagi ngetrend.” Rupanya Ocha masih tidak mengerti yang Leon maksudkan, tentu saja Leon sampai menepuk jidatnya karena gemas melihat tingkah Ocha yang tidak pernah paham akan apa yang dia coba jelaskan. “Ter-se-rah!” ujar Leon sambil menekan setiap katanya saking lelahnya berdebat dengan Ocha. Pada akhirnya Ocha mengikuti Leon ke kantin, dia bahkan membeli menu yang sama dengan yang Leon beli. Duduk tepat di depan Leon, bahkan saat sedang makan, meski mulutnya mengunyah, tapi mata Ocha tetap tertuju pada Leon. Bahkan Ocha menatapnya tanpa berkedip, tentu saja atmosfernya jadi tidak nyaman untuk Leon karena tidak henti-hentinya ditatap oleh Ocha dengan tatapan berbunga-bunga. Rasanya seperti ke luar bunga-bunga dari mata dan sekeliling Ocha. “Uhuk … uhuk …” Leon sampai tersedak kuah baksonya. “Leon kenapa? Nih, minum!” seketika Ocha dengan peka langsung memberikan botol minum air putih di depannya. Seketika Leon langsung menyambar botol di tangan Ocha dan meminumnya. “Cha, bisa gak sih lo gak ganggu gue!” pekik Leon ketus. “Loh, Ocha kan dari tadi diem, Ocha gak ngomong sama sekali soalnya mulut Ocha lagi dipakai buat ngunyah makanan.” Ocha tentu saja protes karena dibilang mengganggu padahal sejak tadi dia tidak bersuara sama sekali. “Lo emang diem, tapi dari tadi lo gak berhenti liatin gue, risih tau!” protes Leon. “Habisnya mukanya Leon enak dipandang, kan nafsu makan Ocha jadi bertambah kalo liatin Leon.” Ocha menanggapinya dengan santai. “Kalo lo masih mandangin gue terus-terusan, mending lo pergi deh sana jauh-jauh!” ketus Leon. “Iya deh, maaf, Ocha janji gak akan liatin Leon terus-terusan pas lagi makan.” Ocha berjanji sambil mengarahkan jari kelingkingnya pada Leon, berharap Leon akan membalasnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Ocha. Namun, harapan hanya tinggal harapan, Leon justru malah menatapnya dengan sinis sambil mengangkat sebelah alisnya. “Leon mah gak peka, kalo Ocha ngasih jari kelingking buat berjanji, harusnya Leon tautin kelingking Leon ke kelingkingnya Ocha dong!” pekik Ocha kesal, tapi Leon malah merespon dengan hanya memutar bola matanya malas. Ocha yang kesal segera menarik tangan Leon, lalu mengaitkan jari kelingkinya di kelingking Leon. Pria itu memang kesal, tapi rasanya dia sudah semakin terbiasa dengan semua pemaksaan Ocha karena ini bukan pertama kalinya. Leon sudah saling mengenal dengan Ocha sejak mereka masih kecil, atau mungkin sejak mereka masih dalam kandungan? Karena kedua orangtua mereka adalah sahabat dekat. Sejak kecil Ocha memang sudah menyukai Leon, selalu mengikuti ke manapun Leon pergi. Kebisingan Ocha sudah mengisi keheningan Leon sejak lama. Sering kali Leon merasa frustasi karena Ocha begitu bebal, dia sudah menolak dengan cara baik-baik, bahkan dengan cara kasar. Tapi tetap saja Ocha tidak berhenti mengejarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD