Pov Sukarmin
"Niatmu tetap salah Jang, karena kamu ingin bertarung." jawab aki Nanang tetap menasehati anakku Dudung.
"Terus niat yang benar seperti apa?" tanya Dudung dengan wajah yang serius.
"Jangan ingin bertarung, seharusnya yang jadi tujuan kita adalah keamanan dan kenyamanan kampung kita, supaya Desa tidak diganggu oleh setan pocong. itulah niat yang tepat dan benar karena kalau cita-cita hanya ingin bertarung dengan setan pocong itu tetap salah."
"Yang jadi tujuan bertarung dengan setan pocong untuk menjadikan Kampung kita aman, nyaman dan tertib. Terus di mana salahnya aki?" Tanya Dudung yang terlihat tetap Kukuh dengan pendiriannya.
"Emangnya hanya satu cara, menjaga Kampung kita dari setan pocong. Apakah tidak ada cara yang lain?"
"Nggak tahu aki, aku juga bingung."
"Nah ini yang harus kita pelajari, karena kalau menurut aki bertarung itu hanya akan menimbulkan kerugian. Bahkan ada peribahasa yang Kalah jadi abu, yang menang jadi arang. tidak ada untungnya sama sekali namun kalau tujuannya ingin mengusir setan pocong, cari jalan yang lain yang bisa menyelamatkan diri kita, dibarengi dengan hasil yang dimaksud."
Dudung terlihat terdiam merasa kalah berbicara dengan sepuh yang sudah banyak peluang dan pengalaman, yang lain terlihat mengulum senyum. Sedangkan aku merasa setuju dengan apa yang disampaikan oleh aki Nanang karena bertarung itu bukan pekerjaan yang harus diinginkan, melainkan hanya untuk membela diri supaya selamat dari ancaman yang akan mengganggu ketentraman hidup.
"Aku mengakui kepintaran aki, karena aki sudah tua Pasti sudah banyak pengalaman." ujar Dudung yang terlihat mengulum senyum.
"Iya aki memang sudah lama hidup di dunia ini, mungkin jangankan ilmunya menginjakkan kaki di atas tanah Akilah yang paling banyak. untuk itu bagi anak muda seperti Jang Dudung seharusnya banyak bertanya dengan orang tua, karena hidup itu berdasarkan dari pengalaman tidak ada buku ataupun tulisan yang mengajarkan Bagaimana cara menjalani kehidupan. buku hanya mengatur bagaimana cara untuk hidup yang baik dan benar, tapi buku tidak mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan itu supaya tetap berada dalam koridor ketentuan yang sudah ditetapkan."
"Terima kasih banyak aki atas semua petuahnya. Semoga saya yang muda, bisa mengikuti kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan oleh orang tua orang tua terdahulu."
Akhirnya obrolan pun semakin seru, banyak ilmu-ilmu kehidupan yang tersirat di dalamnya. ditemani oleh secangkir kopi dan Singkong bakar yang dibuat oleh Ati, apalagi ketika mendengar ceritaku yang sangat aneh dan luar biasa. Amin yang awalnya dia tidak akan lama sampai lupa dengan tujuan awalnya, mungkin merasa senang dengan obrolan-obrolan yang dibicarakan oleh orang tua.
"Obrolan itu, sekali diganti dengan Kang Jaya yang menceritakan bagaimana keberanianku ketika memisahkan anjing dengan seekor babi. Dia bercerita dengan begitu baik, sehingga orang-orang yang mendengarkan terlihat manggut-manggut, seolah merasa kagum dengan apa yang mereka dengar.
Obrolan yang seru itu terpisahkan oleh suara adzan zuhur yang berkumandang dari arah masjid, aki Nanang membangkitkan tubuh, Begitu juga dengan Pak RT Kang Jaya dan amin, Mereka pun berpamitan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, dengan membawa hati yang bahagia, melihat kondisiku yang sudah kembali pulih hanya membutuhkan waktu beristirahat yang cukup.
Hari itu aku tidak pergi kemana-mana, aku terus mengobrol dengan anak dan istriku, sampai akhirnya waktu maghrib pun tiba. aku melaksanakan kewajibanku di rumah sedangkan Dudung pergi ke masjid, setelah melaksanakan salat Isya kita sekeluarga berkumpul setelah melaksanakan makan malam bersama.
Keadaan di luar terlihat sangat cerah, bintang-bintang Sudah mulai bertebaran menampakan diri, jangkrik dan anjing tanah di sauti suara kodok dari arah sawah mulai terdengar riang dengan teman-temannya. tubuhku semakin terasa segar hanya masih terasa pegal sedikit, itu tidak jadi masalah karena sudah menjadi kebiasaan setelah bekerja keras, maka badan kita akan terasa pegal-pegal. anakku Dudung, hari itu dia tidak pergi ke mana-mana dia sudah berjanji dengan teman-temannya bahwa malam itu tidak akan keluar, akan menemani keluarga masing-masing.
"Dung, sekarang malam apa?" Tanyaku sambil menatap Dudung yang berada di hadapanku.
"Malam ini, malam Selasa Pak. Emangnya ada apa?" jawab Dudung sambil menatap ke arahku yang sedang menikmati rokok tembakau mole kiriman dari Kang Jaya.
"Malam ini bapak ke giliran ngeronda. Tapi bapak bingung, soalnya tubuh bapak masih terasa kaku dan pegal, belum pulih seutuhnya." Aku menjelaskan, meski keadaan dalam kondisi yang kurang baik namun kewajiban tidak aku lupakan.
"Jangan berpikiran ke mana-mana bapak! orang-orang pada tahu kalau bapak itu sedang sakit, kenapa harus memikirkan ngeronda? sesekali libur tidak apa-apa karena bukan disengaja." Timpal Istriku yang sejak dari tadi terdiam memperhatikan.
"Bukan masalah Akang ingin mendapatkan pujian atau memaksakan diri, tapi keadaan Kampung kita yang akhir-akhir ini sangat genting. kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pasti ronda lah yang akan dimintai pertanggungjawaban." jawabku yang masih Kukuh teringat dengan kewajiban meronda.
"Kalau bapak tetap Kukuh ingin memaksakan diri, biarkan untuk malam ini aku saja yang pergi ngeronda." jawab anakku menawarkan diri.
"Benar kamu saja yang pergi Dudung, namun kamu harus berhati-hati jangan gegabah dalam bertindak, nanti kamu bisa celaka!" Jawab istriku membenarkan pendapatnya.
"Iya Bu, Dudung akan berhati-hati."
"Syukur kalau begitu." jawab Ati yang terlihat sumringah, anaknya mulai bisa dijadikan andalan dalam keluarga.
"Yah bapak nitip pesan sama Kang Jaya, Mang Ari dan Abah Diding, kalau malam ini Bapak belum bisa ikut ngeronda, tubuh bapak masih lemah ingin beristirahat dulu."
"Yah nanti aku akan sampaikan." jawabnya sambil mengambil dompet tembakau kemudian mengambil selembar daun Aren yang diisi oleh tembakau mole, kemudian dibakar asapnya mengepul memenuhi kepala menghilang tertiup oleh angin.
Untuk sementara waktu keadaan pun menjadi sunyi, aku menyandarkan diri ke atas tumpukan bantal sambil menghembuskan asap rokok ke arah atas. agak lama suasana itu berlalu, sehingga aku pun menarik nafas dalam kemudian menatap ke arah anakku.
"Daging kijang untuk kakekmu sudah dikirimkan?"
"Sudah Pak tadi." jawabnya sambil mematikan rokok ke asbak.
"Syukur kalau sudah dikirimkan. Bapak mau nitip pesan sama kamu, nanti kalau kamu memiliki keinginan atau hobi berburu, jangan mengikuti kelakuan bapak. mendingan kamu berburu yang menghasilkan banyak uang, jangan Berburu ke hutan yang banyak bahayanya. kalau mau berburu kamu bisa pergi ke pasar ataupun ke kota." ujarku mulai menyisipkan nasihat kehidupan.
"Kalau berbicara itu suka bikin orang bingung. Emangnya berburu apa di kota?"
"Maksud Bapak bukan berburu hewan buruan, melainkan berburu uang atau kata lainnya bekerja di kota, jangan bekerja di hutan. kalau kita memiliki domba ataupun sapi ataupun ayam ketika kita mau menjualnya bawa langsung ke kota, karena di sana tempat berkeliarannya uang. punya talas, punya labu, punya singkong jual ke kota. uangnya pasti besar karena kalau dijual di kampung tidak akan menjadi uang hanya menjadikan amal sholeh."
"Oh jadi maksud bapak, Dudung bekerja di kampung tapi hasil pekerjaannya dibawa ke kota supaya mendapatkan uang yang lebih atau uang besar?."
"Nah begitu, syukur kalau kamu mengerti."
"Bagaimana kalau aku ingin berburu setan pocong? nanti hasilnya dijual ke kota pasti uangnya akan besar." ujarnya yang selalu coklat ceplos ketika berbicara.
"Kalau berbicara denganmu rasanya orang tuamu ini harus menggunakan urat nadi, karena kamu menanggapinya tidak dengan serius." tanggap Ati dengan mendelik membuat Dudung mengulum senyum.
"Iya kamu memang benar-benar aneh Dudung. orang lain menginginkan uang kamu malah ingin berburu setan pocong." sahutku sambil menggeleng-gelengkan kepala sifat-sifat ku yang dulu, mungkin turun penuh dengan anakku yang hanya satu-satunya.