Sukarmin Menghilang

1122 Words
Pov Jaya "Kang....! kang Jaya.....! bangun kang, bangun.....! ada orang yang berteriak minta tolong," ujar Saidah istriku sambil menggerak-gerakan tubuh. Aku yang sedang terlelap akibat kecapean, seharian penuh digunakan untuk berburu. perlahan membuka mata, kemudian memindai keadaan sekitar yang terlihat remang-remang karena lampu di dalam kamar dimatikan. "Ada apa Saidah? kamu mengganggu saja!" Jawabku sambil menatap tajam ke arah istri yang sudah duduk di tepian ranjang. "Di luar ada orang yang minta tolong, dan para warga Kayaknya sudah keluar. Nah dengar Mang Amid saja sudah menjemput," jawab Istriku yang benar dari arah luar terdengar orang yang memanggil namaku. "Jaya.....! Jay.....! bangun Jay......! Kampung kita sedang ada keributan." teriak orang yang berada di luar memberitahu. Mendengar suara orang-orang yang terus mengobrol, saling bertanya. aku pun bangkit dari tempat tidur dengan gontai perlahan mendekat ke arah pintu lalu membukanya. "Ada apa Mang Amid kok orang-orang pada ribut?" "Tidak tahu Jay, namun yang jelas terdengar suara wanita yang minta tolong dari sebelah Selatan." "Kira-kira siapa yang minta tolong malam-malam seperti ini?" "Kurang tahu, ya sudah kita cari tahu saja!" "Sebentar saya mau mengambil golok terlebih dahulu." jawabku meski merasa lelah, namun kewajiban untuk menjaga kenyamanan dan ketentraman kampung dengan terpaksa kembali ke dalam untuk memakai celana panjang, karena keadaan di luar terasa sangat dingin apalagi malam itu terlihat seperti hendak turun hujan. Hahaha! Terdengar suara orang yang tertawa, seperti merasa bahagia, memenuhi penjuru Kampung membuat bulu Kuduk berdiri. "Kang sukarmin, Kang Kamin, Kang Kamin....a Kang ke mana kamu kang.....! kang.....! tolong....! Tolong.....! tolong.....!" Suara tertawa itu diikuti dengan suara wanita yang memanggil suaminya, aku yang sudah bisa menebak Siapa orang yang meminta tolong. dengan segera menutup pintu Kemudian berlari menuju ke arah datangnya suara, terlihatlah di salah satu teras rumah yang berantakan ada seorang wanita yang terus berteriak. "Ada apa Ati, ada apa?" Tanyaku setelah sampai ke teras rumah sahabatku sekaligus saudara sepupu yang bernama sukarmin. "Kang Jaya! tolong Kang Karmin Kang, tolong, tolong Kang sukarmin!" jawabnya sambil menunjuk ke arah utara membuat semua orang terkejut belum mengerti dengan apa yang disampaikan. "Iya menolong bagaimana, Ada apa dengan sukarmin?" Tanyaku dengan nada pelan supaya Ati bisa tenang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Tidak tahu, tapi tadi terdengar suara orang yang sedang berkelahi. Namun ketika aku panggil, namanya tidak ada yang menyahuti yang jelas terdengar suara tertawa yang menuju ke arah utara." jawab Ati yang tidak bisa memberikan keterangan dengan jelas mungkin pikirannya sedang kacau. Orang-orang yang datang saling menatap tidak mengerti dengan apa yang disampaikan. sedang kebingungan datanglah Pak RT dan Mbah Mijan bapaknya Amin, bapaknya Ajo dan para warga lainnya sudah memenuhi halaman rumah. Langit yang mendung tiba-tiba terlihat gemerlap cahaya kilat, disusul dengan menggelegarnya suara petir, diikuti dengan gemuruh angin yang membawa air hujan dengan begitu deras, sehingga keadaan pun semakin terasa panik. "Ini Ada apa?" tanyanya dengan suara yang kencang supaya terdengar. "Pak RT, katanya Mang sukarmin kecelakaan, ada yang menculik." jawabku meski belum paham namun sedikit mengerti dengan apa yang disampaikan oleh istrinya bahwa sukarmin sedang diculik. "Dibawa sama siapa dan ke mana?" "Untuk orang yang membawanya Saya tidak tahu, yang jelas menurut Bi Ati sukarmin dibawa ke sebelah utara." "Coba tolong jelaskan secara rinci agar mudah menolongnya!" Pinta Pak RT menatap ke arah Ati yang terlihat masih gugup. Mendapat pertanyaan dari ketua kampung Bi Ati terlihat terdiam seolah mengingat-ingat apa yang terjadi, orang-orang yang berkumpul terdiam memberikan keleluasaan untuk berpikir, hanya suara hujan yang turun dibarengi dengan angin yang bergemuruh. "Tadi setelah makan malam Kang sukarmin merasa cemas, dia pun mengambil golok lalu keluar dari rumah. tidak lama Semenjak itu terdengar suara orang yang sedang memukul tiang dan dinding rumah, sampai terasa bergetar. dari arah halaman depan terdengar suara orang yang sedang berlari dan bertarung, diakhiri dengan suara tertawa yang terbahak-bahak menuju ke arah utara." ujar Ati menjelaskan kejadiannya. "Oh begitu Terus kenapa bangku sampai hancur tak berbentuk seperti ini?" Tanyaku yang memindai keadaan sekitar. "Mungkin terkena serangan orang yang sedang bertarung bahkan rumah pun terasa bergetar seperti digerakkan oleh gempa. apalagi ketika suara dinding sedang dipukul semakin menambah ketakutan." "Para warga sekalian, Ayo kita cek ke arah samping rumah! siapa tahu saja ada jejak yang tertinggal di sana." perintah Pak RT mulai menyusun rencana. Orang-orang yang berkumpul mulai membubarkan diri tidak memperdulikan hujan yang turun begitu lebat, air comberan memenuhi halaman rumah menyamarkan jejak-jejak sisa pertarungan, hanya ada bekas sabetan golok di dinding ataupun di tiang. sesekali terlihat gemerlap cahaya kilat yang diikuti oleh suara petir. "Ada golok, ada golok......!" teriak seseorang dari sebelah utara sambil mengacungkan benda temuannya. Mendengar ada orang yang berteriak semua mata pun tertuju ke arah datangnya suara, cahaya senter mulai mendekat mengerumuni benda yang dipegang. Aku yang tiba paling awal dengan segera mengambil golok yang dipegang, kemudian memperhatikannya dengan teliti dan sangat paham, karena sering dibawa oleh sukarmin ketika berburu. "Ini kayaknya golok sukarmin kenapa matanya terlihat gompal digunakan untuk menghajar apa sampai rusak beguni?" ujarku sambil tetap memperhatikan golok yang berada di tangan. "Sekarang tidak usah memikirkan golok, mendingan kita cari Mang sukarmin takut terjadi sesuatu yang buruk menimpanya." ujar pak RT yang terlihat tidak sabar Semua orang setuju dengan pendapatnya, akhirnya kami pun berjalan menuju ke arah utara mau menyusul sukarmin. orang-orang yang kuat tidak ada satupun yang tertinggal cahaya senter menerangi keadaan sekitar, menembus lebatnya air hujan, tidak takut dengan gemerlapnya kilat bahkan terdengar suara guntur yang menggelegar. Pak RT memberikan komando untuk berpencar memaksimalkan orang yang begitu banyak, semakin lama orang-orang yang mencari semakin jauh dari arah Kampung cisuren. melewati sawah, menyusuri kebun, terus naik ke atas bukit yang ditumbuhi oleh kebun kacang dan kebun jagung. "Sebenarnya makhluk apa yang membawamu sukarmin, kalau manusia-manusia apa yang mau hujan-hujanan pergi ke gunung, kalau setan setan yang bagaimana yang tidak memiliki pekerjaan mengganggu kehidupan manusia?" Aku berbicara sendiri sambil terus berjalan mencari jejak, Siapa tahu bisa dijadikan petunjuk Namun sayang usaha yang dilakukan terasa sia-sia, karena hujan yang begitu lebat menghilangkan semua jejak yang ada. "Aduh bagaimana mencarinya, kalau dalam kondisi hujan terus turun." ujar Pak RT yang terlihat kebingungan tidak jelas Ke mana arah tujuan pencarian. "Kita harus terus mencarinya, Jangan mudah putus asa!" jawabku memberi semangat, merasa kasihan dengan kejadian yang menimpa sukarmin. Warga kampung cisuren semuanya terus berjalan menyusuri kebun kacang tanah, dalam keadaan gelap dibarengi dengan hujan yang begitu besar. semua orang terlihat basah kuyup bahkan ada beberapa senter yang sudah mati kehabisan baterai atau mungkin konslet terkena air hujan. Meski keadaannya sangat menyusahkan, tidak terdengar ada orang yang mengeluh, semua orang terlihat bersemangat mencari keberadaan sukarmin keadaan semakin terasa sangat mencekam, suara gemuruh angin ditambah dengan hujan yang dibarengi petir. Hahaha! Terdengar samar-samar suara orang yang tertawa dari arah jauh membuat kecurigaanku semakin bertambah, kalau yang menculik sukarmin bukanlah Manusia Biasa melainkan makhluk yang tak kasat mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD