Malam itu, hujan turun deras memukul kaca jendela kamar yang luas, membawa serta udara dingin yang menusuk hingga ke dalam ruangan.
Kalila duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulannya sendiri di cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Ia mengenakan gaun tidur berwarna putih gading yang disiapkan Arga, bahan sutra yang lembut, pas di tubuhnya, namun terasa begitu asing di kulitnya.
Pintu kamar terbuka perlahan, Arga melangkah masuk membawa aroma hujan dam wangi parfum mahal yang selalu menyertainya.
Jas kerjanya sudah dilepas, digantikan kemeha putih yang kancing bagian atasnya terbuka, memperlihatkan garis leher yang kokoh. Tatapannya jatuh tepat pada sosok Kalila yang duduk menunduk tampak gugup.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan mendekat. Kalila merasakan kehadirannya begitu dekat, membuat jantungnya berdegup kencang, seperti setiap kali pria itu ada di dekatnya.
Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda dari caranya memandangnya. Bukan lagi tatapan tajam yang menuntut, atau tatapan dingin yang penuh perhitungan.
"Kamu gemetar," ucap Arga pelan, suaranya terdengar lebih rendah dan lebih lembut.
Sebelum Kalila sempat menjawab, tangannya yang besar dan hangat sudah menyentuh bahu gadis itu. Sentuhan itu membuat Kalila menahan napas, biasanya sentuhan Arga selalu penuh gairah, kasar, dan penuh kepemilikan, seolah ia sedang menandai apa yang menjadi miliknya.
Tapi kali ini, jari-jarinya hanya menelusuri garis bahu dengan lembut, menghangatkan kulit yang terasa dingin.
"Apakah kamu kedinginan?" tanyanya lagi, sambil duduk di samping Kalila. Tubuhnya sedikit mendekat, namun ia tidak melakukan hal apa pun.
"Sedikit," jawab Kalila pelan. "Hujan di luar sangat deras."
Arga menatapnya lama, ia melihat wajah itu. Polos, penuh kepercayaan, dan tanpa sadar mulai menaruh harapan pada pria yang sebenarnya sedang merencanakan kehancuran bagi keluarganya. Rasa bersalah yang tiba-tiba menyerap dadanya.
Ia teringat rencana yang telah disusunnya matang-matang, dendam yang telah ia pelihara selama belasan tahun. Namun setiap kali ia menatap mata Kalila yang jernih itu, rasanya seolah ada sesuatu yang merobek dinding pertahanan hatinya.
"Kamu tidak perlu takut," ucapnya pelan. "Selama kamu bersamaku, tidak ada yang akan menyakitimu."
Kalila tersenyum tipis, senyum yang begitu tulus hingga membuat hati Arga terasa semakin sesak. "Aku tidak takut padamu, Mas. Aku hanya... masih terbiasa dengan semua ini."
Arga mengangguk pelan, tangannya bergerak naik, menyisir rambut Kalila yang terurai ke belakang telinga.
Sentuhan itu begitu halus, penuh perhatian, sangat berbeda dari sentuhan kasar yang biasa ia berikan. Arga menelusuri garis pipi gadis itu, menyentuh sudut bibirnya yang merah merona.
"Kamu cantik, Kalila," gumamnya, kalimat itu terucap jujur, bukan sekedar kata-kata manis.
Wajah Kalila merah merona, ia mendekatkan diri sedikit lagi, hingga bahu mereka saling bersentuhan. "Terima kasih, Mas."
Arga menatap bibir itu, ada keinginan yang membara di dalam dirinya untuk menciumnya, untuk memiliki dirinya seperti malam yang sebelumnya.
Namun kali ini, ia menahannya. Ia tidak ingin merasakan gairah semata malam ini, Arga ingin merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang selama ini ia hindari.
Arga mencium kening Kalila dengan lembut. Ciuman yang panjang, hangat, dan penuh dengan perasaan rumit yang tidak bisa ia jelaskan. Kalila memejamkan matanya, merasakan ketenangan yang belum pernah di a rasakan sebelumnya.
Di pelukan itu, ia merasa aman, merasa dicintai. Ia tidak tahu bahwa di balik kelembutan itu, Arga sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Tidurlah," ucap Arga saat ia melepaskan ciumannya. "Aku akan berada di sini."
Arga berbaring di samping Kalila, menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Kalila dengan berani menyandarkan kepalanya di d**a bidang Arga, mendengarkan detak jantung pria itu yang awalnya berdegup cepat, perlahan menjadi tenang.
Arga membiarkannya, bahkan melingkarkan lengannya erat di pinggang gadis itu. Seolah takut jika ia melepaskannya, wanita itu akan menghilang.
Di tengah keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara hujan di luar, Arga menatap langit-langit kamar yang remang. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sejak kapan ia mulai bisa menyentuh seseorang dengan lembut? Sejak kapan ia mulai peduli apakah seseorang merasa nyaman atau tidak? Dan yang paling menakutkan, sejak kapan kehadiran wanita ini mulai membuat hatinya yang dingin kembali berdenyut?
Arga tahu ini salah, ia tahu seharusnya dirinya tetap dingin, tetap kejam, tetap menjalankan rencananya tanpa ragu. Namun sentuhan Kalila, kehangatan tubuhnya, dan kepercayaan yang diberikan gadis itu padanya, semuanya perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Kalila yang mulai mengantuk memeluk pinggang Arga lebih erat. "Selamat malam, Mas," bisiknya pelan sebelum akhirnya terlelap.
Arga mengecup puncak kepalanya sekilas, "Selamat malam, Kalila."
Namun ia tidak bisa memejamkan matanya, ia terus menatap wanita yang tidur tenang di pelukannya itu, menyadari satu hal yang mulai membuatnya takut.
Sentuhan yang berbeda ini bukan hanya sekedar perubahan sikap. Ini adalah awal dari kehancuran rencananya sendiri, dan mungkin juga awal dari kehancuran hatinya.
Di luar pintu kamar, Dimas berdiri diam sejenak sebelum akhirnya berjalan pergi. Ia melihat semuanya, dan ia tahu sahabatnya itu mulai melangkah ke jalan yang paling berbahaya, jalan yang tidak lagi dipenuhi dendam, tapi dipenuhi perasaan yang akan menyakitinya kelak.