Malam yang Panjang

1048 Words
Angin malam yang dingin menyelinap lewat celah kecil bingkai jendela, membuat suhu ruangan sedikit turun, namun hawa panas yang tercipta di antara dua orang yang berdiam diri di sana membuat rasa dingin itu tidak terasa sama sekali. Di kamar tidur utama yang luas dan mewah itu, keheningan terasa begitu berat, seolah ada ribuan pertanyaan yang menggantung di udara namun tidak ada yang berani mengucapkannya. Kalila duduk di tepi ranjang beralaskan seprai sutra berwarna krem, jemarinya meremas pelan ujung gaun tidur yang ia kenakan, sementara matanya tidak lepas menatap punggung tegap pria yang berdiri membelakanginya di dekat perapian. Arga menatap api yang menyala di dalam batu bara, kedua tangannya tersembunyi rapat di dalam saku celana panjangnya, seolah sedang menahan sesuatu yang berat, beban yang tidak sanggup ia bagi bahkan dengan istrinya sendiri. Sudah hampir satu jam mereka berada di ruangan yang sama, namun tidak ada satu pun kata yang terucap. Saling hadir, namun terasa sejauh langit dan bumi. "Kamu menungguku bicara?" tanya Arga tiba-tiba, suaranya berat dan datar. Namun kali ini tidak ada nada kemarahan atau perintah yang biasanya menyertai setiap kalimatnya. Ia berbalik perlahan, menatap Kalila dengan tatapan yang begitu sulit diartikan, antara kerinduan yang tidak mau ia akui, kebingungan yang mendalam dan sesuatu yang samar tampak seperti rasa bersalah uanh menyakitkan. Cahaya api memantul di wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas, bayangan lelah di bawah matanya, serta sorot mata gelap yang selalu membuat Kalila merasa sekaligus aman dan takut. "Aku hanya bertanya-tanya, Arga," jawab Kalila pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tegar. "Apakah benar-benar ada tempat untukku di hatimu dan hidupmu? Atau... aku hanya sekedar pelengkap yang kamu butuhkan saat kamu merasa kesepian atau bosan?" Arga melangkah mendekat, langkahnya begitu pelan. Ia berhenti tepat di hadapan Kalila, lalu berjongkok perlahan hingga ketinggian wajahnya sejajar dengan gadis itu. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh pipi Kalila dengan ujung jari yang dingin namun sentuhanbya begitu hati-hati. "Kamu terlalu banyak berpikir, Kalila," bisiknya, kalimat itu terdengar lebih seperti pembelaan yang lemah daripada jawaban yang menyakinkan. "Kamu istriku, istri sah secara agama dan hukum. Tentu saja kamu punya tempat yang tetap dan khusus di sini." "Tempat yang kamu penuhi dengan kebisuan, jarak, dan ketidakpastian?" balas Kalila, air mata mulai mengenang di pelupuk matanya. "Kamu memelukku, menciumku, membuatku merasa begitu dicintai dan dimiliki sepenuhnya, tapi detik berikutnya kamu menutup dirimu sepenuhnya, membangun tembok setinggi langit agar aku tidak pernah benar-benar bisa mengenal siapa dirimu yang sebenarnya." Arga terdiam lama, ia menatap matanya yang mulai berkaca-kaca. Perlahan ia berdiri, lalu menarik tangan Kalila agar ikut berdiri, hingga tubuh mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia merangkul pinggang gadis itu erat, menariknya menempel penuh pada dadanya yang bidang. Kalila merasakan detak jantungnya berdegup dengan kencang, merasakan kehangatan tubuhnya yang mebembus lapisan pakaian, dan aroma wangi khas dirinya yang selalu membuatnya merasa pulang sekaligus cemas akan kehilangan. "Jangan tanya hal-hal yang tidak sanggup aku jawab saat ini," bisik Arga tepat di telinganya, nada suaranya melembut namun masih menyisakan tekanan yang berat. "Percayalah saja pada apa yang kamu rasakan saat bersamaku. Itu sudah cukup untuk sekarang." "Bagaimana aku bisa percaya jika kamu sendiri tidak mau terbuka padaku?" tanya Kalila pelan, tapi ia tidak berusaha melepaskan diri. Sebaliknya, tangannya perlahan merambat naik melingkar di leher pria itu, jemarinya menyentuh rambut hitam yang sedikit berantakan. "Aku ingin tahu siapa Arga yang sebenarnya. Bukan pria dingin, berkuasa, dan tidak tersentuh di luar sana, tapi pria yang berdiri di depanku sekarang, pria yang sesekali menatapku dengan tatapan yang seolah menyimpan rubuan luka." Arga menunduk perlahan, menatap bibir Kalila sebentar sebelum kembali menatap lurus ke dalam manik matanya. "Kamu tidak ingin tahu semua itu, Kalila. Sebagian besar dari diriku gelap, penuh luka lama, penyesalan, dan hal-hal kelam yang tidak pantas kamu ketahui atau kamu bawa ke dalam hidupmu yang suci." "Kamu salah besar," potong Kalila tegas, meski suaranya tetap lembut dan penuh keyakinan. "Aku mencintaimu dengan segala bagianmu, baik dan buruknya, terang dan gelapnya. Aku hanya takut... aku takut sepanjanh ini aku jatuh cinta pada bayangan yang kamu ciptakan untuk menutupi dirimu yang asli." Kata-kata itu seolah memukul sesuatu yang tersembunyi paling dalam di dalam diri Arga. Ia mendesah berat, bahunya merosot sejenak, lalu tanpa peringatan Arga menciumnya, bukan dengan kasar atau penuh nafsu, melainkan lembut, dalam dan penuh rasa yang tidak terucap, seakan ia berusaha menanamkan kepastian meski hatinya sendiri penuh keraguan dan pertentangan batin. Kalila memejamkan matanya, membalas sentuhannya dengan segala kerinduan fan cinta tulus yang ia simpan, membiarkan dirinya hanyut dalam rasa yang membuatnya begitu bahagia sekaligus rapuh dan tidak berdaya. Tangan Arga merambat perlahan di punggungnya, menciptakan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, sementara tangan lainnya menopang tengkuknya dengan lembut, tidak membiarkan jarak sekecil apa pun tercipta di antara mereka. Di luar, hujan mulai turun dengan deras, namun di dalam ruangan itu hanya ada suara napas yang saling bersahutan dan detak jantung yang berpacu dengan cepat. Arga mencium keningnya, kelopak matanya, ujung hidungnya, lalu kembali menatapnya dengan tatapan yang terasa begitu dekat namun tetap menyisakan jarak. "Kamu milikku, Kalila," ucapnya lirih, kalimat yang terdengar seperti janji abadi sekaligus peringatan yang tidak bisa dibantah. "Apa pun yang terjadi, apa pun yang kamu temukan nanti, ingatlah hal ini, kamu akan tetap menjadi milikku." "Dan apa kamu milikku?" tanya Kalila dengan berani. Ia menatap lurus tanpa berkedip ke dalam manik mata gelap yang menutupi begitu banyak rahasia. Arga terdiam cukup lama, jemarinya mengusap lembut garis rahang gadis itu berulang kali. "Aku sedang berusaha menjadi milikmu sepenuhnya," jawabnya pelan. "Sekarang, biarkan aku menemanimu melewati malam ini. Jangan biarkan keraguan merusak apa yang kita miliki saat ini." Malam itu berjalan begitu panjang, penuh dengan kehangatan sentuhan yang bercampur dengan berbagai pertanyaan besar yang masih menggantung tidak terjawab. Arga menemaninya hingga mengantuk, memeluknya erat sepanjang waktu seolah takut ia akan lenyap jika melepaskannya sedikit saja. Namun di dalam pelukan yang hangat itu, Kalila sadar satu hal, ada rahasia besar yang disembunyikan dari pria itu, rahasia yang mungkin akan mengubah segalanya. Dan setiap kelembuatan yang ia berikan terasa dibayangi oleh sesuatu yang kelam dan menyakitkan. Ia memejamkan mata, berharap suatu hari nanti tembok pertahanan itu akan runtuh dengan sendirinya, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, rasa cemas mulai merayap perlahan, bahwa mungkin kebenaran yang ia cari adalah hal yang paling tidak ingin ia temukan nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD