Usai pertemuan dengan CEO dari JB Company selesai, Dion langsung mengarahkan mobil menuju rumah pribadi Keluarga Maurinho seperti yang Rafael perintahkan. Perjalanan itu membuat Aleysha terserang rasa kantuk yang luar biasa. Mungkin karena efek lelah yang bertumpuk atau mungkin juga akibat dari kurangnya waktu tidur wanita itu karena pekerjaan yang bertumpuk. Kedua matanya terpejam perlahan-lahan hingga ia benar-benar terlelap di kursi depan mobil yang bersebelahan dengan Dion.
"Setelah aku beristirahat, kita akan lanjutkan lagi jadwalku hari ini Aleysha. Pastikan kalau kita takkan melewati satu jadwal pun sore nanti," ujar Rafael, yang tak tahu kalau Aleysha telah lelap tertidur.
Dion melirik sekilas ke arah Aleysha karena wanita itu tak kunjung memberi jawaban pada Rafael yang sudah terlihat menunggunya melalui kaca spion.
"Dia tertidur Bos, akan saya bangunkan lebih dulu," ujar Dion.
"Jangan!" cegah Rafael dengan cepat.
Dion melihatnya kembali secara sekilas melalui kaca spion seperti tadi. Ekspresi Rafael terlihat tak seperti biasanya, ada raut kekhawatiran yang begitu jelas di sana. Dion telah menghadapi jutaan ekspresi di wajah Rafael selama ini, dan raut wajah pria itu kali ini belum pernah sama sekali ia temukan sebelumnya.
"Biarkan dia istirahat, kinerjanya akan memburuk kalau dia kurang istirahat," ujar Rafael.
Dion pun menuruti apa yang Rafael inginkan, meskipun di dalam hatinya terbersit sebuah ganjalan mengenai sikap atasannya yang berbeda pada Aleysha. Sebelumnya, Rafael tak pernah memberi kelonggaran pada siapapun yang bekerja dengannya. Lalu mengapa tiba-tiba sikapnya seakan melunak pada Aleysha? Apakah akan ada perubahan yang terjadi dalam diri seorang Rafael hanya karena kehadiran Aleysha meski baru beberapa bulan?
Rafael menatap rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Pikirannya melayang pada apa yang ia dengar beberapa jam yang lalu, usai dirinya melaksanakan Shalat Dzuhur.
Flashback On
Rafael baru saja selesai menuntaskan do'anya di akhir Shalat, kakinya baru saja akan melangkah meninggalkan mushala ketika ia mendengar suara Avanti–salah satu office girl kepercayaannya–yang tengah bertanya pada seseorang.
"Bu Aleysha yakin tidak apa-apa? Kaki Ibu kelihatannya sangat bengkak, dan Ibu terlihat kesakitan," tanyanya.
Rafael mendengarkan itu dari balik tirai pembatas yang memisahkan tempat shaf pria dan shaf wanita.
"Insya Allah saya tidak apa-apa Mbak. Tumit saya hanya cidera sedikit saja, besok atau lusa pasti akan sembuh," jawab Aleysha.
Rafael pun mengintip ke balik tirai, di mana ia mendapati sosok Aleysha yang sedang tersenyum ke arah Avanti.
"Bu Aleysha jangan memaksakan diri, saya tahu betul kalau Ibu sedang sakit. Katakan saja pada Pak Rafael. beliau pasti akan mengerti dan memberi izin pada Bu Aleysha agar libur beberapa hari. Lihat ini, tumit Bu Aleysha sangat bengkak."
Avanti terlihat sedang memeriksa tumit Aleysha yang benar-benar membiru sekaligus bengkak. Rafael tak percaya kalau hal itu benar-benar nyata dan ia sedang melihat dengan mata kepalanya sendiri. Aleysha terluka dan kesakitan, namun lebih memilih diam demi pekerjaan.
"Kalau saya libur, kasihan Pak Rafael Mbak. Beliau pasti akan sangat pusing sekali dengan pekerjaan yang bertumpuk dan tidak terjadwal. Saya takut, nanti karyawan yang lain akan kena imbas kemarahannya kalau semua pekerjaan tidak selesai tepat waktu. Kasihan mereka, Mbak," jelas Aleysha mengenai kekhawatirannya.
"Kalau begitu, Bu Aleysha harus ke Dokter. Periksakan tumit Ibu agar tidak terjadi apa-apa nantinya. Agar tumit Ibu bisa diobati dengan cepat," saran Avanti. serius.
Lagi-lagi, Aleysha tersenyum. "Insya Allah Mbak, pasti saya akan ke Dokter jika sudah memiliki waktu luang."
Flashback Off
Rafael sangat tak mengerti dengan jalan pikiran Aleysha. Bagaimana bisa dia lebih mengkhawatirkan semua pekerjaan di kantor–termasuk mengkhawatirkan Rafael sendiri–namun mengabaikan kesakitan yang dia rasakan pada tumitnya. Bengkak dan membiru, Rafael tahu betul bagaimana rasanya sakit seperti itu. Dulu, ia juga pernah merasakannya.
"Pak Dion, tolong putar arah. Bawa kami ke Rumah Sakit," pinta Rafael.
"Baik Bos," jawab Dion yang sebenarnya masih kebingungan.
Mobil melaju cepat di lajur kanan yang mengarah menuju Rumah Sakit setelah Dion memutar arah. Rafael membuka ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang. Tak lama berselang, mereka pun tiba di Rumah Sakit. Renata–Kakak kandung Rafael–terlihat sudah menunggu kedatangan mereka di depan Rumah Sakit. Kemungkinan besar karena Rafael telah menghubunginya tadi.
"Jadi, siapa yang sakit?" tanya Renata, dengan wajah panik saat melihat Adiknya.
Rafael tak menjawab, ia hanya diam sambil membuka pintu mobil bagian depan, tempat di mana Aleysha tengah tertidur sejak tadi. Renata menatap ke arah Aleysha yang masih pulas, lalu kembali menatap ke arah Adiknya dengan wajah bingung.
"Dia... ."
"Sekretarisku," ujar Rafael, datar seperti biasanya.
"Dia sakit?" Renata benar-benar ingin memastikan.
"Ya. Tumitnya bengkak dan membiru di balik high heels serta kaus kakinya. Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya, yang jelas dia sangat kesakitan namun tetap tak mau mengakuinya," jawab Rafael dengan jelas.
Renata pun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia segera membangunkan Aleysha yang begitu pulas terlelap tanpa merasa terusik sama sekali sejak tadi. Pipi wanita itu ditepuk-tepuk lembut oleh Renata, hingga ia mengerejap perlahan lalu mulai membuka kedua matanya.
"Hai, ayo kita masuk ke dalam dan obati tumitmu. Apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Renata, yang kini juga ikut merasa khawatir terhadap kondisi Aleysha.
Aleysha nampak sangat kebingungan saat melihat wajah Renata yang begitu asing baginya. Ia sempat menoleh ke arah Rafael dan Dion, namun kedua pria itu malah tidak mengatakan apa-apa sama sekali padanya. Renata mulai memapahnya perlahan untuk dibawa ke dalam Rumah Sakit, Rafael terus memperhatikan sosok Aleysha yang mulai menjauh secara diam-diam.
"Jadi, apakah kita akan ke rumah Keluarga anda sekarang, Bos?" tanya Dion.
"Tidak. Kita akan menunggu di sini sampai Aleysha selesai diperiksa dan diobati," jawab Rafael, datar.
Renata membantu Aleysha berbaring di atas ranjang yang ada di ruangan pribadinya. Ia menyodorkan airminum pada wanita itu agar tidak terlalu gugup saat di periksa nanti.
"Kamu terlihat bingung. Ada apa?" tanya Renata sambil mempersiapkan peralatannya.
"Maaf, kalau boleh tahu anda siapa, ya?" Aleysha berbalik mengajukan pertanyaan, namun tetap sopan.
Renata pun tersenyum ke arah Aleysha.
"Saya Renata Maurinho, Kakak kandung dari Rafael Maurinho, rekan kerjamu," jawab Renata.
"Ah..., saya Aleysha, Sekretarisnya Pak Rafael, bukan rekan kerjanya," Aleysha meralat apa yang Renata katakan karena takut terjadi salah paham.
Renata terkekeh pelan. "Tenang saja, saya tidak akan berpikiran macam-macam tentang kamu. Saya tahu kamu adalah Sekretarisnya Rafael. namun saya lebih suka menyebutmu rekan kerjanya. Hal itu terdengar lebih sopan dan sangat baik jika diartikan oleh orang lain."
High heels yang Aleysha kenakan pun dibuka perlahan-lahan oleh Renata termasuk kaus kakinya. Tumit Aleysha yang membengkak dan membiru pun menjadi pusat perhatian Renata.
"Tapi kenapa tiba-tiba saya dibawa ke sini ya, Dok? Perasaan tadi tujuan Pak Rafael adalah pulang ke rumah Keluarganya. Kenapa jadi tiba-tiba berbelok ke Rumah Sakit, ya?" Aleysha benar-benar penasaran.
"Kalau itu saya kurang tahu. Intinya, Rafael bilang sama saya tadi kalau kamu harus diobati karena tumitmu bengkak dan juga membiru," jawab Renata.
Aleysha kini benar-benar mengerenyitkan keningnya. Ia terus saja memikirkan perihal Rafael sampai lupa bahwa seharusnya ia tidak terlalu banya membicarakan pria itu di depan Kakak kandungnya.
"Tapi Pak Rafael tahu darimana kalau tumit saya bengkak dan membiru? Selama ini saya tidak pernah lupa memakai kaus kaki dan tidak pernah melepasnya sembarangan."
Renata tersenyum diam-diam. Ia cukup bersyukur karena perhatian Aleysha teralihkan pada Rafael saat pengobatan yang dilalukannya dimulai. Wanita itu jadi tak perlu merasakan sakit karena pikirannya tak dipenuhi oleh rasa takut yang biasanya sering mengganggu jalannya pengobatan terhadap pasien.
"Nah, itu juga saya tidak tahu. Mungkin dia mendengar gosip di kantor mengenai keadaan kakimu sehingga dia akhirnya tahu mengenai kondisi kamimu yang sudah hampir memburuk ini," Renata menunjukkan bagaimana bagian tumit Aleysha sudah mengalami infeksi.
Aleysha pun kini mulai meringis kesakitan saat teringat pada apa yang sedang dideritanya.
"Sekarang akan saya obati ya Mbak Aleysha. Jangan takut, saya tidak akan menggunakan pisau bedah sama sekali," bujuk Renata.
Aleysha pun hanya bisa mengangguk patuh, meskipun rasa takut sudah menguasainya. Renata tahu betul akan ketakutan itu, ia merasakannya melalui kaki Aleysha yang mendadak sedingin es. Namun pengobatan itu tak boleh berhenti, atau akibatnya akan sangat fatal bagi kaki Aleysha.
"Dulu, Rafael juga pernah mengalami hal seperti ini," ujar Renata, mencoba mengalihkan perhatian Aleysha dari rasa sakit.
Aleysha terlihat terkejut setelah mendengar apa yang Renata katakan.
"Mengapa bisa demikian, Dokter?" tanya Aleysha.
Renata tersenyum. "Dulu, Ayah kami tak suka jika anak-anaknya menjadi atlet. Beliau akan menghukum kami jika sampai ketahuan mencoba-coba berlatih. Ayah ingin saya menjadi Dokter dan ingin Rafael menjadi penerus perusahaan yang sudah turun-temurun diwariskan pada generasi selanjutnya," Renata benar-benar mengenang semua itu.
Aleysha mendengarkan dengan baik tanpa melewatkan satu hal pun.
"Tapi Rafael keras kepala, dia diam-diam pergi berlatih sepak bola. Lalu suatu hari dia pulang dengan cidera di pergelangan kakinya, tapi dia hanya diam dan menyembunyikan cideranya sendirian. Dia tak ingin Ayah marah, hingga akhirnya Ibu yang menemukan kondisi kakinya yang sudah parah."
"Lalu? Apa yang terjadi, Dokter? Apakah Ayah anda benar-benar marah saat tahu yang sebenarnya?" tanya Aleysha.
Renata terdiam sejenak, kedua tangannya terus mengobati tumit Aleysha namun hatinya merasa sesak saat mengingat kenangan tentang masa lalu.
"Jangan Dokter ceritakan jika terlalu berat untuk diingat. Lupakan saja, masa lalu bukan untuk terus diingat, melainkan untuk dilupakan agar kita bisa melangkah ke masa depan," saran Aleysha.
Renata kini menatapnya seraya memikirkan apa yang Alesyha sarankan.
Kreekkk!!!
Sosok Rafael muncul di ambang pintu, sehingga membuat Renata maupun Aleysha menoleh ke arah pintu.
"Kenapa lama sekali? Bagaimana kondisi kakinya?" tanya Rafael, datar dan dingin.
Renata tersenyum melihat bagaimana ekspresi Adiknya yang selalu saja begitu setiap saat.
"Bersabarlah, sebentar lagi selesai," jawab Renata.
Tak lama kemudian, pengobatan terhadap tumit Aleysha yang membengkak dan membiru benar-benar selesai. Dion membantu Aleysha berjalan menuju ke apotek untuk menebus obat yang harus diminum oleh wanita itu. Renata menatap ke arah Rafael yang masih berada di ruangannya.
"Dia wanita yang baik," ujar Renata.
Rafael mengerenyitkan keningnya selama beberapa saat.
"Apa maksudmu?" tanya Rafael.
"Maksudku, jika kau peduli pada seseorang maka kau harus menunjukkan padanya. Bukan terus-menerus berlari dari luka lama yang kau biarkan bersarang di hatimu selama ini. Semua sudah berlalu, sekarang saatnya kita menjejaki jalan yang baru," jelas Renata.
Rafael tetap memasang wajah datarnya. Ia tak menunjukkan emosi atau apapun, sehingga Renata tak bisa menebak apa yang ada dipikiran Adiknya.
"Melangkahlah. Jangan tunggu aku. Aku masih belum siap melangkah dari apa yang pernah kulalui. Maaf," balas Rafael.
Pria itu keluar dari ruangan milik Renata tanpa berpamitan. Renata hanya bisa mendesah lelah dengan kekerasan hati yang sudah mendarah daging pada diri Rafael, akibat dari semua hal yang Ayah mereka tanamkan. Buliran bening nan hangat mulai menjalari pipinya yang putih. Kesedihan di dalam hatinya tak lagi bisa ia sembunyikan, meskipun ia sangat ingin menyembunyikannya. Rasa sakit itu telah melingkupi seluruh perjalanan hidupnya hingga tak memberi celah pada Rafael dan dirinya sendiri untuk merasakan bahagia.
"Andai saja aku tak terlahir sebagai wanita, maka mungkin kau tak harus menjalani semua penderitaan yang Ayah berikan," sesalnya.
* * *
Rafael menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang. Di kepalanya terlintas apa yang Kakaknya katakan tadi sebelum ia pergi dari Rumah Sakit. Ia memang selalu berniat untuk melupakan apa yang menjadi luka di masa lalu, namun entah mengapa setiap kali ia berusaha melupakan maka luka itu akan semakin terasa menyakitkan di dalam hatinya.
Semua hal yang pernah ia lewati, semua hal yang pernah menjadi bagian hidupnya, tiba-tiba menjadi kesakitan yang begitu hebat, yang harus ia hadapi sendiri. Apa yang pernah dijanjikan oleh Ayahnya di masa lalu, nyatanya tak pernah membawa rasa bahagia ke dalam hidupnya.
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan pintu membuat pandangan Rafael berpaling dari jendela kantor ke arah pintu yang sudah terbuka setengahnya. Sosok Aleysha yang sedang memegangi setumpuk berkas membuatnya kembali teringat pada apa yang Renata katakan.
"Dia wanita yang baik."
Ya, Rafael pun tahu akan hal itu. Aleysha adalah wanita yang sangat baik, jauh dari prilaku buruk, dan bahkan tak pernah mengeluh tentang sikap dan mood Rafael yang berubah-ubah. Dia sangat sabar dalam menghadapi Rafael, dan itulah yang membuatnya bisa bertahan di sisi Rafael.
"Maaf Pak Rafael, apakah saya sudah boleh masuk?" tanya Aleysha.
Lamunan Rafael pun buyar seketika saat Aleysha menyadarkannya kalau ia sudah membuat wanita itu menunggu di ambang pintu sejak ketukan tadi terdengar.
"Oh..., ya..., masuklah Aleysha," jawab Rafael, setengah kebingungan.
Aleysha pun masuk ke dalam ruangan itu lalu menyerahkan setumpuk berkas yang ada di tangannya ke atas meja milik Rafael.
"Itu adalah laporan yang sudah saya selesaikan. Semua pekerjaan hari ini sudah selesai, bolehkah saya pulang lebih awal, Pak Rafael?"
"Ya. Boleh. Beristirahatlah, dan jangan lupa minum obatmu," pesan Rafael.
"Insya Allah saya tidak akan lupa meminum obatnya Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum," pamit Aleysha.
"Wa'alaikumsalam."
Aleysha pun berjalan meninggalkan ruangan milik Rafael dan tak lupa menutup kembali pintu ruangan itu. Rafael membuka laci mejanya untuk meraih sebuah bingkai foto yang sudah lama ia simpan di dalam sana.
"Seharusnya aku tak pernah mempercayai kata-katamu. Seharusnya aku tak perlu tahu kalau semua hanyalah kebohongan semata. Jika saja Allah tak menyadarkanku lebih awal, maka mungkin saat ini aku sudah berkubang dalam derita yang jauh lebih buruk," ungkap Rafael.
* * *