Aleysha tiba di rumahnya tepat pukul delapan malam. Pekerjaan di kantor sangat menumpuk, terlebih karena mood Rafael yang terus saja naik-turun seperti roller coaster - tiada henti - membuat pekerjaan yang seharusnya selesai lebih awal menjadi mundur beberapa jam.
Ia tak mengeluhkan itu, ia sudah sangat terbiasa dengan sifat Bos-nya sejak awal pertama kali bekerja di GEC. Lagipula bagi Aleysha, semua hal di dunia ini selalu memiliki konsekuensi, dan Rafael memiliki konsekuensi mood yang naik-turun. Jika saja bukan karena tuntutan hidup yang semakin mencekik, Aleysha mungkin hanya akan meneruskan usaha butiknya sendiri yang sejak dulu telah ia bangun. Namun kenyataan bahwa hidup semakin sulit membuatnya harus melamar pekerjaan, dan pekerjaan itu adalah menjadi sekretaris seorang Rafael Maurinho, yang lebih tepatnya sekaligus menjadi baby sitter pria itu.
Usai mandi, Aleysha beranjak ke dapur di rumah kecilnya yang sudah ia tinggali sejak lahir. Ia meraih selada, tomat, dan peterseli yang masih tersedia, lalu berniat membuat salad sebagai makan malam. Saat ia sedang mengolah bahan-bahan itu, pintu depan terdengar diketuk beberapa kali. Aleysha pun bergegas membetulkan hijabnya yang agak berantakan, akibat pemakaian yang asal-asalan sehabis mandi tadi. Ia melangkah cepat-cepat ke arah depan untuk membukakan pintu.
Krekkk!!!
Sosok Rafael ia dapati tengah berdiri di depan pintu rumahnya, menatap ke arahnya dengan alis setengah naik ke atas. Keningnya mengerenyit.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas Aleysha, pelan.
"Hmm..., kalau tidak salah ini adalah wangi bunga magnolia. Kau baru saja selesai mandi? Kau pasti belum makan malam, aku membawa makanan," ujar Rafael, sambil melangkah menuju ke dalam rumah.
Aleysha mengerejap beberapa saat, ia berusaha meyakinkan diri bahwa Rafael memang datang ke rumah kecilnya dan sosok pria itu memang nyata. Pintu ia biarkan terbuka lebar, untuk mencegah adanya berita miring yang akan disebar oleh tetangga, jika mereka tahu kalau dirinya sedang kedatangan tamu pria.
Rafael duduk di salah satu kursi yang tersedia di dapur, setelah melihat apa yang sedang Aleysha buat. Aleysha sendiri muncul di dapur itu dan segera membuat kopi untuk Rafael.
"Bapak tidak pulang ke rumah? Kenapa tiba-tiba Bapak datang ke rumah saya malam-malam begini?" tanya Aleysha tanpa menatap Rafael.
Rafael bangkit dari kursi yang ia duduki, lalu mulai berjalan keluar dari dapur untuk melihat-lihat isi rumah itu.
"Aku memang jarang pulang ke rumah, karena rumahku bukanlah rumah yang pantas untuk dijadikan tujuan pulang. Maaf karena aku datang ke sini malam-malam, aku hanya masih merasa tidak enak atas apa yang kutanyakan tadi siang, padamu," jawab Rafael.
Matanya tertuju pada deretan gaun-gaun cantik yang terpajang di salah satu sudut rumah. Ia juga melihat banyak sketsa yang tergeletak di atas meja kerja Aleysha. Aleysha keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi yang dibuatnya untuk Rafael.
"Sebelumnya, kau seorang desainer? Kau punya butik sendiri?"
Rafael terlihat menunjuk ke arah sebuah bingkai foto yang terpajang di dinding dekat meja kerja Aleysha yang lama. Aleysha tersenyum singkat.
"Ya, sebelumnya memang demikian, Pak. Tapi kini tidak lagi," jawab Aleysha.
"Kenapa?" Rafael sangat penasaran.
Aleysha terdiam beberapa saat.
"Karena butik itu bukan lagi milik saya, sekarang. Pemilik gedungnya menaikkan harga sewa, dan saya merasa sudah tidak mampu lagi membayar. Jadi, sejak itu saya memutuskan untuk melamar pekerjaan, hingga akhirnya bekerja di perusahaan milik Bapak," jelas Aleysha, jujur.
Rafael kini gantian terdiam di tempatnya, sambil memikirkan apa yang baru saja dituturkan oleh Aleysha. Terkadang, beban hidup seseorang selalu memaksa orang tersebut untuk keluar dari zona nyamannya. Memaksa untuk meninggalkan cita-cita dan impian yang pernah dibangun, hanya untuk bertahan hidup. Itulah yang Aleysha lakukan.
Rafael beranjak dari meja kerja Aleysha menuju sofa sederhana di ruang tamu. Ia menyesap kopi yang dibuat oleh Aleysha, menikmati manisnya sebuah kepahitan dalam cangkir berwarna putih polos di tangannya. Aleysha sendiri sedang menyajikan makanan yang Rafael bawa tadi ke atas meja. Tak lupa, ia juga menyediakan satu buah piring lain untuk Rafael agar bisa makan bersamanya. Saat ia keluar kembali dari dapur, sosok Rafael ternyata telah pergi. Pria itu telah menghabiskan kopinya dan meninggalkan sebuah catatan kecil di samping cangkir putih yang telah kosong.
Terima kasih, kopinya sangat enak. Tidak terlalu manis, persis seperti yang aku sukai. Makanlah, jangan hanya makan salad di malam hari. Kau butuh banyak energi untuk kembali bekerja besok pagi. Maaf karena tak berpamitan secara langsung, aku takut kau akan mengajakku untuk makan bersama. Assalamu'alaikum.
Aleysha hanya bisa menatap datar pada tulisan di atas kertas itu. Ia melipatnya, lalu meraih cangkir untuk dibawa ke dapur. Perasaannya begitu hampa, sehampa kenyataan yang terbentang bebas di hadapannya.
"Terkadang seseorang datang dalam hidup kita hanya untuk menjadi simbol, bahwa kita tak hidup sendiri di dunia ini. Namun yang terpenting adalah, jangan pernah berharap seseorang itu akan menetap selamanya di dalam hidup kita. Karena yang sudah jelas adalah bagian dari hidup kita pun, bisa saja pergi meninggalkan diri kita dalam kesendirian."
* * *
Rafael menutup pintu rumah setelah tiba. Tak lupa ia menguncinya dengan rapat sebelum beranjak ke dalam.
"Kau dari mana?" tanya Renata, yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Rafael terdiam sesaat ketika melihat sosok Kakaknya, jantungnya berpacu cepat selama beberapa detik akibat rasa kaget yang dialaminya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?" tanya Rafael.
Cring..., cring...!!!
Renata mengayun-ayunkan kunci cadangan yang pernah Rafael titipkan pada wanita itu. Rafael pun lega sekali saat tahu kalau Renata masuk menggunakan kunci cadangan, jika tidak, maka kelakuan wanita itu sungguh perlu dipertanyakan lebih lanjut oleh psikiater.
"Kenapa kau kemari?"
Rafael membuka kulkas lalu meraih sekotak s**u sebagai campuran dalam kopi s**u yang akan dibuatnya.
"Aku menghubungi ponselmu, tapi tidak aktif. Lalu aku menghubungi Dion untuk menanyakan keberadaanmu. Dia bilang kau pulang dari kantor sendirian entah menuju ke mana. Jadi, aku berinisiatif ke sini untuk menunggumu pulang, dan seandainya kau tidak pulang aku akan segera menelepon Polisi untuk membuat laporan kehilangan," jawab Renata, lengkap sekaligus dengan rencana yang sudah disusunnya.
Rafael meringis pelan saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kakaknya tersebut. Ia membawa dua cangkir kopi s**u ke ruang tamu dan memberikan salah satunya pada Renata.
"Aku berharap itu tidak terlalu manis," ujar Renata.
"Tenanglah, aku bahkan tak punya gula di rumah ini," balas Rafael sambil bersiap menyesap kopinya.
Renata pun terkekeh mendengar hal tersebut. Ia ikut meraih cangkir berisi kopi s**u itu, lalu mulai meminumnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, El. Kau dari mana?" Renata tetap ingin tahu.
Rafael menatapnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang empuk. Ia terlihat menarik nafasnya selama beberapa saat, lalu menghembuskannya dengan tenang.
"Aku dari rumah Aleysha. Aku membawakan makan malam untuknya," jawab Rafael dengan jujur.
Renata tersenyum selama beberapa saat.
"Ini pertama kalinya El, sejak enam tahun lalu ketika kau ditinggalkan oleh Indira. Ini benar-benar pertama kalinya kau membuka diri pada seorang wanita," tutur Renata.
"Tolong jangan sebut lagi namanya di depanku. Aku tak ingin mendengarnya," pinta Rafael.
"Maaf..., aku tak bermaksud menyinggungmu, El. Takkan kuulangi lagi," janji Renata.
Rafael memejamkan kedua matanya. Pria itu kembali menghela nafasnya.
"Aku merasa hidupku kurang bersyukur kepada Allah," ujarnya.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Renata ingin tahu.
"Aku melihat-lihat apa saja yang ada di rumah Aleysha tadi. Ternyata sebelum dia bekerja di kantorku, dia adalah seorang desainer dan memiliki butik sendiri. Hasil karyanya sangat bagus, gaun-gaun khusus pengantin muslimah buatannya sangat indah. Sayangnya, dia harus kalah dengan kenyataan bahwa dia tak mampu lagi membayar biaya sewa gedung yang di tempatinya saat si pemilik gedung menaikkan harga sewa. Dia harus mengubur mimpinya dan menjelma menjadi sosok lain demi bertahan hidup," tutur Rafael.
Renata mendengarkan dengan baik, seraya mengamati ekspresi Adiknya yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bagaimana Ibunya bisa meninggalkan wanita sebaik dan sesabar dia? Bagaimana Ibunya bisa setega itu terhadap putrinya sendiri?" tanya Rafael.
Renata meraih tangan Rafael untuk digenggamnya dengan lembut. Rafael tak menolak, ia memang selalu membutuhkan kehangatan dari keluarganya, namun keinginannya itu tak pernah ia ucapkan selama ini.
"Jalan pikiran seseorang itu berbeda-beda, El. Kita tak pernah tahu apa yang disembunyikan oleh Ibu kandung Aleysha sehingga dia harus meninggalkan putrinya. Itulah mengapa aku menyarankan pada Aleysha untuk membicarakan masalah itu pada Ibunya," jelas Renata.
"Tapi apa gunanya? Apakah setelah Aleysha tahu alasan yang sebenarnya lalu dia akan mendapat kebahagiaan? Atau dia hanya akan semakin terluka setelah tahu kebenarannya?"
Mereka berdua terdiam dalam keheningan malam yang semakin larut.
"Di dunia ini takkan ada kebenaran yang terkuak, jika kita tidak mencarinya, El. Begitupula dengan apa yang Aleysha alami. Dia tidak akan tahu kebenarannya, jika dia tidak mencoba untuk membicarakannya. Dia hanya akan terus tenggelam dalam pemikiran bahwa dirinya tidak berharga. Dia hanya akan terus memupuk lukanya hingga tidak akan pernah mendapatkan penawar atas luka itu. Satu-satunya jalan bagi Aleysha adalah dengan menanyakan alasan sebenarnya pada Ibunya sendiri. Menyakitkan ataupun tidak, itu adalah alternatif lain yang memang sudah seharusnya dia lalui," terang Renata.
Rafael membuka kedua matanya dan pandangannya segera tertuju pada langit-langit rumah mewah itu tanpa terhalang apapun.
"Entahlah..., entah mengapa aku merasa sangat tak rela jika dia harus merasakan kesakitan lainnya di dunia ini. Aku tidak ikhlas jika dia harus melalui hal itu," tolak Rafael.
Renata masih mendengarkan.
"Aku mungkin bukan siapa-siapa di dalam hidupnya, tapi aku tidak menginginkan dia terluka lebih dalam lagi setelah tahu bagaimana hidupnya selama ini. Aku benar-benar takkan ikhlas jika akhirnya dia harus kembali ke dalam kubangan derita di hidupnya."
Rafael kembali meraih cangkir untuk meminum sisa kopi susunya. Begitupula dengan Renata, yang sudah jelas sangat tak suka membuang-buang makanan serta minuman.
"El, cobalah tanyakan pada dirimu, apakah kau mencintai Aleysha?" saran Renata.
* * *
Dion melihat Aleysha datang ke kantor pagi-pagi sekali, di saat ia bahkan belum menjemput Rafael.
"Assalamu'alaikum, kenapa datang ke kantor pagi-pagi sekali?" tanya Dion.
"Wa'alaikumsalam. Saya mendapat telepon dari B&Z Corp, mereka meminta pertemuan hari ini juga dengan Pak Rafael. Jadi saya datang pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan materi yang akan dirapatkan pagi ini dengan mereka. Apakah Pak Dion bisa menjemput Pak Rafael lebih awal?" pinta Aleysha.
"Oke, saya akan menjemputnya lebih awal," jawab Dion yang segera meraih kunci mobil dari mejanya.
Aleysha segera menuju ke mejanya sendiri dan mulai mempersiapkan segalanya. Dion berusaha menghubungi Rafael untuk memberitahu kalau dirinya akan datang menjemput lebih awal, namun pria itu tak kunjung mengangkat teleponnya.
Rafael baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang masih basah. Ia meraih ponselnya yang terus saja berbunyi sejak tadi dari atas nakas di samping tempat tidurnya.
"Assalamu'alaikum. Ada apa pagi-pagi sekali menelepon?" tanya Rafael, santai.
"Wa'alaikumsalam. Saya sedang dalam perjalanan menuju rumah Bapak untuk menjemput, jadi tolong Bapak segera bersiap-siap," jawab Dion.
"Menjemput?" Rafael menoleh ke arah jam dinding yang tentu saja tidak sedang menertawainya karena terlambat bangun, "ini baru jam setengah enam pagi, Dion. Aku bahkan belum shalat dhuha karena matahari belum tinggi," protesnya.
"Shalat dhuha di kantor saja, Pak. Aleysha sudah tiba di kantor sejak tadi karena ditelepon oleh B&Z Corp yang meminta pertemuan hari ini juga dengan anda, Pak," jelas Dion.
Rafael menghela nafasnya selama beberapa saat. Ia ingin sekali menolak, namun tak tega karena Aleysha sudah berada di kantor lebih awal demi mengutamakan pekerjaannya.
"Ya, baiklah. Datanglah menjemput, dan aku akan shalat dhuha di kantor untuk pertama kalinya," balas Rafael, setengah tak ikhlas.
"Baik, Pak."
Sambungan telepon pun terputus. Rafael segera memakai bajunya dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dion belum juga muncul, membuat Rafael tergelitik ingin menghubungi Aleysha yang selalu saja begitu rajin dalam urusan pekerjaan.
"Assalamu'alaikum Pak Rafael, apakah Bapak sudah dalam perjalanan menuju ke kantor?" tanya Aleysha ketika mengangkat teleponnya.
Seulas senyuman pun terbit di wajah Rafael tanpa ia sadari, saat mendengar suara wanita yang selalu saja memberondonginya dengan pertanyaan setiap kali mereka terlibat pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam Aleysha, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sudah di jalan. Tapi sayangnya, Dion belum tiba di sini dan aku mulai berkeringat karena cuaca pagi yang panas," jawab Rafael, berusaha menjadi sedatar mungkin.
Aleysha pun menepuk keningnya sambil berpikir keras tentang cara mengirim Rafael ke kantor lebih cepat dari biasanya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Rafael.
"Eh..., be..., belum, Pak. Saya tidak sempat sarapan tadi karena sangat terburu-buru pergi ke kantor," jawab Aleysha.
Rafael pun menghela nafasnya pelan-pelan agar Aleysha tak mendengar bentuk kekesalannya akibat jawaban yang wanita itu berikan.
"Lalu bagaimana caranya kau akan bertahan sampai nanti siang? Kau akan berdiri dalam waktu cukup lama selama rapat nanti, kau juga akan bolak-balik mengambilkan berkas yang aku minta. Banyak tenaga yang akan kau keluarkan, tapi kau belum memakan apapun. Aku tidak mau tahu Aleysha, kau tidak boleh pingsan hari ini!" tegas Rafael, memberi perintah.
Aleysha terpaku selama beberapa saat setelah mendengar ultimatum yang Rafael tegaskan.
"I..., iya Pak Rafael, akan saya usahakan agar saya tidak pingsan sesuai dengan keinginan Bapak," balas Aleysha, sekenanya.
Senyuman di wajah Rafael semakin mengembang luar biasa, wajahnya terlihat sangat bahagia. Dion melihat ekspresi itu saat tiba di halaman rumah Rafael. Ia mengerenyitkan keningnya selama beberapa saat sebelum turun dari mobil.
"Dion sudah datang, aku akan segera tiba di sana sebentar lagi. Assalamu'alaikum," pamit Rafael.
Dion segera membukakan pintu untuk pria itu lalu bergegas kembali pada tempat duduknya semula.
"Ayo berangkat, tapi tolong singgah sebentar di resto yang biasa," pinta Rafael.
"Baik, Pak," jawab Dion, patuh.
Rafael menatap ke arah luar jendela seperti biasanya. Namun kali ini, senyuman itu tak memudar sama sekali dari wajahnya.
"Entah mengapa, rasanya ada yang begitu berbeda ketika aku mengingatmu."
* * *