Mengambil Jeda

1909 Words
Tidak ada pilihan selain kembali ke kamar tidur, mematikan lampu dan menangis sepuasnya. Violeva telah melakukan itu lebih dari satu jam dan sekarang merasa lebih baik. Belum sepenuhnya memang, tangan Vio masih berdenyut sakit. Alan memeganginya terlalu keras sampai memerah seperti ini, bahkan hanya disentuh permukaan kulitnya pun perih sekali. Namun dadanya cukup longgar, tidak ada desakan air mata untuk keluar atau pun keinginan untuk meraung. Benar ternyata, air mata adalah obat dari segala jenis obat. Akhirnya, ia diam dalam kegelapan di kamarnya, sambil sesekali mendengar dan ikut melantunkan lagu Don’t watch me cry yang disenandungkan Jorja Smith mengalun, memberinya penghiburan. Violeva tersentak saat pintu kamarnya dibuka dari luar, cahaya lampu dari ruang tengah ikut merangsak masuk, sedikit menyilaukan. Ia mengernyit sedikit dan merasakan kelopak matanya berat sekali. Mata Vio pasti bengkak sebesar telur besok pagi. Ada sedikit perasaan ngeri dan takut di sudut hatinya. Mungkin hanya naluri perempuannya saja sedang sensitif. Dia yang biasanya dilindungi oleh Alan baru saja dibentak-bentak dan dicengkeram keras. Bagaimanapun, Alan punya bobot dan postur yang jauh lebih besar dari Vio. Bagaimana kalau dia sampai dipukul karena sikap menjengkelkannya tadi? Ya, setelah cukup tenang dan bisa berpikir, ia tahu kalau sikapnya sangat menjengkelkan, Alan pantas marah. Untung hanya dicengkeram, bukan ditampar bolak-balik, Vio bisa langsung pingsan dan pendarahan di kepala. Mengerikan sekali kalau kisah cinta mereka yang berbunga-bunga dulu akan berakhir dengan saling membunuh. Perasaan takut seperti ini tidak bisa ia hindari, begitu Alan beringsut naik ke tempat tidur mereka, detik itu juga Vio—yang membelakanginya, tersentak kaget. Penuh antisipasi. Bagaimana kalau dia dicekik dari belakang? Atau ditusuk pisau daging? “Vi, udah tidur ya?” Alan memegang tangannya yang masih berdenyut sakit, membuat Vio menggigit bibir menahan ringisan, ia duduk dengan kaki diluruskan tepat di samping Violeva. “Belum tidur?” Dia kembali bertanya, saat Vio berbalik dan sekarang berbaring terlentang di sebelahnya. Benar, suasana sudah tenang sekarang. Vio sudah puas menangis sampai tidak merasakan apa pun lagi dan Alan, nada suaranya kembali normal. Tidak seperti tadi. Artinya, tidak ada yang perlu Vio takutkan lagi. Alan tidak mungkin membunuhnya saat suasana kembali kondusif. Kemudian, lelaki itu menautkan jari-jari mereka, tangannya masih tetap hangat, seperti dulu. Tapi hati Violeva tidak sehangat waktu itu. Vio membiarkan tangannya digenggam dengan perasaan yang dingin dan kaku. “Maafin aku, Vi,” kata Alan sejurus kemudian. Seperti memang butuh banyak sekali tenaga untuk datang ke kamar ini dan bicara kepadanya. “Maaf kalau kamu ngerasa aku terlalu memihak Dion, enggak, Vi. Aku gak mihak dia, aku tahu kamu bercanda. Cuma ... aku sangat menyayangkan sikap kamu yang langsung nolak begitu aku suruh minta maaf.” Violeva diam, tenang, tidak membalas ataupun membantahnya, tidak memberi pembelaan seperti biasanya. “Maaf kalau aku susah banget diajak ngobrol waktu kita marahan. Seperti mau kamu, jangan sampai masalah diinapkan, jangan sampai kita pisah tidur. Maaf, aku belum bisa memenuhi ekspektasi kamu itu.” Alan memainkan jari-jarinya di antara celah tangan mereka, meremasnya sesekali, seolah memberi kekuatan pada dirinya sendiri untuk bicara lebih banyak. Vio mengerang saat Alan menyentuh kulit tangannya yang perih. “Sakit? Maaf ya, Vi. Aku ambilin obat ya sebentar.” “Terusin,” ujar Vio dengan suara serak sambil menyentuh lengan suaminya, meminta Alan untuk tidak pergi lagi secepat ini. Takut Alan butuh waktu lama untuk kembali. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Akhir-akhir ini, kita sering berantem. Sering banget, rasanya kacau. Ngeliat kamu stres, capek, sampai marah-marah karena direcokin sama Mami, aku kasian banget sama kamu, Vi. Aku yang salah gak bisa bikin kamu bahagia, aku yang salah karena gak mampu, kamu yang kena getahnya.” Alan menjeda, tadi ia bicara dengan suara yang berat. “Aku pikir, kita udah gak cocok sama-sama lagi,” katanya—dan kalimat itu sukses membuat Violeva seperti ditendang oleh kenyataan. Kemarin-kemarin, Vio belum lupa sama sekali, dia lah yang selalu berpikir seperti ini. Di luar dugaan, Alan juga memikirkannya, merasakannya. Tentang betapa, hubungan mereka sudah tidak terasa nyaman lagi.  “Kamu itu banyak yang suka, aku yakin. Dan lihat yang aku lakuin? You desserve a better life, Vi. Orang secantik dan sebaik kamu—“ Alan menjedanya sebentar. “But, aku mau minta maaf karena udah mikir kayak gitu diam-diam, di belakang kamu. Mikirin kita pisah. Maaf, ya? Maafin, ya?” Alan mengusap-usap kepalanya, merengkuhnya lembut, Vio bisa merasakan tubuh dingin suaminya itu. Mungkin efek lama di luar rumah. Tapi bukan itu masalahnya, kalimat terakhir Alan justru tidak memberi efek yang berarti. Kejujuran Alan soal hubungan mereka yang akan dibawa ke mana, adalah satu-satunya alasan Violeva menangis lagi saat ini. Jadi, sebenarnya dia tidak memikirkan itu sendirian. Alan juga merasakan kekosongan yang sama. Vio menyadari kekurangannya dalam memainkan peran sebagai istri di rumah ini. Dia selalu ingin jadi perempuan yang independen. “Mau maafin aku kan, Vi? Besok HP nya aku benerin, ya? Kamu— “Alan.” Violeva memotong ucapan suaminya, dia melepaskan rengkuhan Alan pada kepalanya. Melepas tautan tangan mereka. Memandang langit-langit kamar yang gelap dan samar. Mulai menyusun kata di kepalanya. Mungkin seperti ini Alan, butuh waktu lama untuk mengajak bicara. Agar kalimat yang keluar enak didengar, mungkin itu alasannya selalu butuh waktu untuk bicara saat bertengkar, Alan tidak mau melukainya. Hal yang tidak bisa Vio lakukan, kelemahannya. “Boleh aku bicara sebentar?” Tanyanya pelan. “Iya,” jawab Alan, penuh antisipasi. “Kemarin itu, sadar gak? Rekor diam-diaman paling lama. Rekor aku mengabaikan kamu, rekor aku gak pengen kita baikan.” Alan memandang ke arahnya, Vio bisa merasakan tatapan itu. “Kayaknya, kita butuh waktu, Al.” Violeva mengatakan beban yang menggantung di dadanya akhir-akhir ini. “Kita—aku, butuh waktu buat sendiri, buat introspeksi. Ayo pikirin lagi gimana baiknya buat kita.“  Vio menatap lekat langit-langit samar di kamarnya, dengan pikiran menerawang entah ke mana. “Hari ini, hal sekecil itu bisa bikin kita berantem hebat, ya ampun.” Violeva tertawa kecil, merasa miris. “Sampai kamu merusak barang, saking marahnya, saking gak bisa menolelir lagi sikap keras kepalaku. Ini udah parah banget, Al. Walau pada akhirnya kita sekarang baikan lagi, bisa ngomong dengan cukup waras, tapi ... aku gak sanggup bayangin di depan nanti akan ada masalah yang kayak gimana dan harus gimana kita mengatasinya? Sedangkan, karena hal sereceh salah paham sama Dion aja bikin kita gontok-gontokan.” Violeva memegangi tangannya yang berdenyut nyeri, hari ini juga pertama kali Alan menyakitinya secara fisik, meskipun mungkin ia tidak sengaja melakukan itu. Tapi Vio tetap tidak bisa menerima semuanya begitu saja, rasa percayanya hancur sudah. Alan adalah lelaki yang melindunginya setelah mendiang papa, tapi tanda merah di tangannya ini mengaburkan semua keyakinan itu. Dia tidak bisa terus-terusan berkeyakinan bahwa orang yang melindunginya adalah Alan, orang yang juga bisa menyakitinya sampai seperti ini. Sepertinya Vio memang sudah berada di titik khawatir dan ketakutan. Seolah nanti akan ada monster yang menunggu jika pernikahan dan hubungan mereka diteruskan. Walau sebenarnya, membayangkan hal itu terjadi saja tidak boleh. Bukankan ketakutan sering jadi kenyataan, pada akhirnya? Dia sudah lelah berjuang, lelah menjalani proses baikan dengan suaminya, apalagi kalau sampai seperti ini. “Sekarang HP yang hancur,” sambungnya. “Nanti apa lagi?” “Maaf, Vi.” Ada jeda yang sangat lama di antara keduanya. Seolah pembicaraan mereka sudah selesai, namun masing-masing masih menunggu ada kata lainnya. “Kamu setuju, kan?” Kata Vio, pada akhirnya. Alan beringsut sedikit, ada bunyi napas dihembuskan agak keras dibanding normalnya ia bernapas. “Iya, kalau kamu maunya gitu,” jawabnya, seperti biasa. Mengikuti keputusan Violeva. “Kamunya mau gak?” “Iya, aku mau,” katanya lagi. “Kita memang butuh waktu, harus banyak berpikir.” “Oke.” Vio agak menggeser posisi tidurnya. “Jadi, mulai besok, kamu gak usah ngerjain kerjaan rumah lagi. Aku ngerasa mulai kehilangan diri sendiri akhir-akhir ini. Terlalu banyak yang kamu handle sendirian.” “Itu karena aku ngerasa harus berguna buat kamu, Vi—seenggaknya. Aku tahu diri, kamu yang nanggung biaya hidup kita selama bertahun-tahun, ngasih uang belanja ke Mami juga. Jadi, aku pengen banget berguna sedikit aja buat kamu. Biar kamu gak merasa sia-sia banget udah nikah sama aku dan ngasih makan aku sama Mami.” “Al ....” Vio meminta suaminya berhenti. Dia sering mengungkit hal itu, Violeva menyadarinya. Kata-katanya menyakitkan sekali, pasti. Melukai harga diri Alan sedangkan lelaki itu berkali-kali juga, menahan semuanya. “Maaf, ya.” Violeva merasakan sakit di tenggorokannya. “Aku durhaka banget. ” Dia menahan tangis sambil mengakui betapa kasar dan egois dirinya selama ini kepada Alan. Selalu ingin dimengerti tanpa mengerti, selalu ingin didengar tanpa mendengar, selalu ingin dihargai tanpa melakukan hal yang sama pada pasangannya. “Sampai cicilan mobil habis, aku mohon kamu bertahan.” Alan menjeda sebentar. “Dan soal Mami, kenapa kamu gak percaya kalau orang bisa berubah, Vi?” Violeva diam dan berpikir, kenapa sekarang jadi ada Mami dalam topik mereka? Apakah Alan memang sudah menyimpan, menumpuk dan mengkalkulasikan amarah terpendamnya pada Vio selama ini? Tidak ada yang membahas Mami sejak tadi, hanya Dion pemicunya, kenapa Alan mengungkit soal Mami pada masalah mereka yang tidak ada sangkut pautnya? “Kamu marah soal Mami yang aku jutekin di nikahan Dion waktu itu?” Dalam remang-remang cahaya di peraduan mereka, Vio mencoba menatap mata suaminya. Membiarkan lelaki itu mengambil alih tangannya yang perih dan ngilu, mengusap-usapnya lembut tanpa suara. “Maaf,” ujarnya sesaat kemudian. “Aku tahu, Mami banyak salah sama kamu. Mami selalu ngerepotin kamu, dan sengaja atau enggak ... Mami banyak menyakiti kamu.” “Tapi?” Violeva bisa menebak arah pembicaraan ini. Ia menarik tangannya yang sakit dari genggaman Alan, mengusapnya sendiri, dadanya berdebar hebat. Entah kenapa, Vio selalu tidak suka pada ibu mertuanya. Egois memang, ia ingin menguasai Alan untuk dirinya sendiri saja. “Tapi Mami tetap orangtua aku, Vi. Ada rasa kesal waktu kamu gituin Mami di tempat umum, meski cuma Dion yang dengar. Aku tahu kamu kesal sama Mami, hanya— Cukup. Violeva memegangi lengan Alan sebentar, menyuruhnya berhenti. Untuk kedua kalinya hari ini ia merasa tersisihkan, merasa tidak berharga bagi Alan. Jadi waktu itu, kata-kata simpati Alan kepadanya hanya di mulut saja, minta maaf atas nama Mami hanya karena mereka sedang di pesta Dion saja. Dalam hatinya, Alan memendam rasa benci pada Vio karena sudah berkata kasar pada Mami. Violeva tidak menyangka kalau Alan semunafik itu. “Harusnya kamu marahin aku di sana, waktu itu, kalau gak suka sama caraku menjawab Mami.” “Aku gak mau bertengkar sama kamu.” “Ini justru lebih fatal, Alan. Mendam terus sendiri dan baru dimuntahin pas kamu udah gak kuat lagi, jadinya sangat fatal. Kayak sekarang ini.” Vio beringsut bangun dari posisi berbaringnya. “Aku kira masalah hari ini cuma karena Dion pemicunya, aku gak tahu kalau kamu punya banyak amarah terpendam sama aku.” “Vi ...” “Aku minta maaf.” Violeva menyentuh telapak tangan suaminya yang dingin, sedangkan tangannya sendiri gemetaran. “Maafin aku, aku janji gak akan ulangi lagi.” “Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Mami, aku bersumpah kita baik-baik aja meskipun gak ada anak sampai saat ini, Vi. Aku— “Kita gak baik-baik aja, Al.” Violeva memotongnya. “Hubungan kita gak sehat. Kamu tertekan banget, tapi nahan itu semua. Kita saling introspeksi dulu, harapan aku kita bisa balik lagi dengan versi terbaik dari diri kita masing-masing.” “Maksudnya kita break? Menjauh dulu sementara waktu?” “Iya.” Vio mengelus rambut suaminya yang punya tekstur kecil, tipis dan lembut seperti rambut bayi. “Kita butuh waktu.”   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD