Prolog

707 Words
Ayu : Ares, dia butuh kamu. Kamu tega ninggalin dia sendirian melalui masa-masa terberatnya? Hamil itu gak gampang, dan kamu terlibat penuh dalam proses produksi itu, masa kamu mau ninggalin dia pergi hanya karena ngerasa gak pantes lagi? Kenapa kamu gak mengambil kesempatan kedua dan tetap ada buat dia untuk lebih memantaskan diri? Buktikan sama dia kalau kamu layak, kamu pantas buat dia. Ares : Apa masih ada kesempatan buat orang yang pernah mencoba gak setia sama pasangannya? Ingatannya terbang ke masa-masa itu, kehamilan pertama yang luar biasa menyiksa. Hyperemesis gravidarum atau morning sickness yang berlebihan membuatnya tidak bisa berjalan, tidur, apalagi makan. Tidak pernah tahu jika mengandung bayi akan semengerikan ini. Kalau tahu dan kalau bisa, boleh kan di-cancel saja? Sekarang ia hanya bisa berbaring sepanjang siang dan malam, melakukan berbagai kegiatan sambil rebahan, tidak seperti orang hamil kebanyakan. Ia sekarat, tinggal menunggu ajal mendekat. “Orang hamil kok pemalas? Baru hamil saja sudah berhenti kerja. Bagaimana anak kalian hidup nanti? Inget, bojo-mu iki anak lanang, harus tetep tanggung jawab sama orang tua.” Berhenti dari pekerjaan bukan lagi pilihan, memangnya perusahaan mana yang mau mempertahankan perempuan hamil level mengerikan ini untuk terus bekerja di tempat mereka? Ia wajib keluar sebelum dipecat betulan. “Maaf, ya. Belum bisa membahagiakan Mami.” Lelaki itu menunduk lesu, kenapa ia hanya minta maaf pada ibunya saja? Dia pikir hanya Mami yang belum bahagia di sini? Lalu istrinya? Apa terbaring lemas seperti mayat hidup ini termasuk definisi bahagia? Tidak lucu, mereka membuat anak berdua tapi yang menderita hanya pihak perempuan saja. “Memangnya yang hamil di dunia ini cuma bojo-mu? Orang lain bisa semua, hamil, sehat-sehat, bisa tetep kerja dan urus rumah.” Perempuan itu menyeka wajahnya yang basah, ia menangis entah sejak kapan. Beban mentalnya besar dan beban fisiknya tidak bisa ia bagi kepada siapa-siapa, bahkan kepada suami yang harusnya mengambil tanggung jawab bersama. “Aku mau mati aja udah,” gumamnya saat melihat bayangan sang mertua menghilang ditelan pintu kamar. “Nggak ada yang pengen hamil juga, anak ini pun nyusahin aja. Bikin sakit dan harus berhenti kerja.” Ia memukul keras perutnya, merasa marah atas semua. Namun lelaki itu tentu tidak akan ia pilih jika tidak bisa membuatnya tenang. Dia segera berlutut, merapalkan banyak sekali maaf dan terima kasih yang terdengar manis di telinga. “Aku sayang kamu,” ujarnya terakhir setelah rentetan kalimat yang panjang. “Tapi sayang dan cinta aja nggak cukup, kita butuh waktu untuk jadi orangtua dan butuh uang buat hidup bertiga. Kabar baiknya, aku udah gak kerja sekarang.” “Nggak papa, Sayang. Biar aku aja yang kerja.” Lelaki itu mengelus kepalanya dengan sayang, tidak peduli pada kalimat sarkasme barusan. Mungkin pikirnya anak dan istri akan kenyang hanya dengan makan cinta.  Kehamilan dan segala drama ini melelahkan. Akan ada adu pendapat tentang siapa perempuan seutuhnya dari caramu mengeluarkan bayi. Dan pengorbanan mengandung selama sembilan bulan itu tidak termasuk saat kau memilih anakmu lahir dari perut yang terbelah, bukan lewat jalan yang seharusnya. Bagi mereka, kau tetap bukan seorang ibu yang utuh. Tahu begitu, tidak usah capek-capek hamil, pergi saja ke petshop dan adopsi bayi-bayi kucing menggemaskan. Setelah bayimu ada di tangan, apakah semuanya lantas selesai dan kehidupanmu sempurna? Belum cukup, Marimar. Mereka akan berdebat tentang cara paling bijak dalam mengasuh anak. Memberinya makan dengan s**u tepung atau membiarkan bayi kalian menyedot langsung dari gentongnya. Belum lagi drama bergadang dan baby blues yang menyerang. Dan setelah itu semua, muncul spesies orang yang dengan isengnya bertanya, “Kapan punya adik nih anaknya?” Masih menjadi misteri kenapa jutaan perempuan di dunia ini sangat ingin hamil dan melahirkan meski tahu dirinya harus menjalani kehidupan yang mengerikan. Untungnya, atau entah itu sialnya, kehamilan itu berhenti di bulan keempat hingga kehidupan ibu baru beranak satu itu tidak sempat menjadi nyata. Tepat setelah syukuran empat bulanan, janinnya luruh begitu saja tanpa memberi kesan apa-apa. Seolah ia tidak memiliki ikatan sama sekali dengan yang mengandungnya. Tidak apa-apa, perempuan itu akan bebas. Tidak akan ada bayangan kehidupan mengerikan yang menantinya di masa depan karena janin itu sudah tiada. Hanya saja, saat malam-malam sunyi menemani sepinya, ia merasakan mata yang memanas, d**a yang sesak, dan tangan yang gemetar menyentuh kulit perut, di dalamnya sudah tidak ada siapa-siapa. Dia merasa kehilangan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD