“Pernikahan itu jenis hubungan memberi dan menerima, take and give. Bukan hanya ajang amal untuk membahagiakan salah satunya saja.”
Priska: Tolong antar Arvin sampai kelas, jangan sampai pagar doang. Lihat Arvin duduk sama siapa, pastiin dia nyimpen sepatunya di rak sebelum masuk, suruh dia pake sendal, pelototin kalo—
“And bla bla bla gue udah hafal semuanya.” Vio bergumam. Ia segera membalas sekaligus memberitahu Priska bahwa Arvin aman bersama mereka. Kadang-kadang kita memang harus sedikit membual untuk membuat teman berhenti tidak enak hati. Tidak apa-apa. Violeva juga mengetik sebuah pesan untuk Mina, agar gadis mungil itu semangat menghadapi interview hari ini. Kemudian menggulirkan layar ponselnya lagi untuk membaca pesan masuk yang lain.
Mami : Vio, Mami minta transfer lagi dua juta ya. Mau ada acara di rumah besok sabtu. Kalian kan ndak bisa datang, nyumbang dananya aja kalau begitu.
Here we go, nerakanya sudah muncul sepagi ini. Mami adalah sebutan untuk Kanjeng Mertua nan Agung yang ia sematkan mengikuti panggilan dari suaminya untuk wanita itu. Violeva meniup poni yang bertengger di dahinya demi melampiaskan rasa jengkel. Mami, memangnya kalau Vio memaksakan datang ke sana, bisa terbebas dari sumbang menyumbang? Baik, mari tidak memunculkan perang dunia di pagi yang indah ini.
Alan : Vi, kamu udah baca chat dari Mami? Kasih dulu ya, Sayang. Nanti aku ganti.
Seriously? Kenapa nggak pakai uang kamu aja, Sayang?
Dan lagi-lagi, kalimat itu hanya menggantung di kepalanya tanpa realisasi. Alan mengirimkan pesan tepat setelah Violeva menutup surel yang dikirim oleh mertuanya. Mereka sekongkol memang, untuk menjadikan Vio ATM berjalan.
Masalah finansial selalu jadi kompor panas dalam biduk rumah tangga. Apalagi jika posisinya terbalik seperti ini, istri pekerja dan suami serta ibu mertua dinafkahi dari hasil kerja kerasnya. Sudah pasti, bukan barang aneh lagi letupan kecil hingga ledakan-ledakan medium bersiap mengguncang kedamaian keluarga. Dia memilih berhenti, urung membalas pesan suaminya. Hal kecil bisa jadi besar jika dibahas melalui pesan, bukan lisan. Dan itu sering terjadi, kali ini ia ingin menghindarinya.
Vio mengerem mobilnya begitu sampai di sekolah Arvin, untung bukan injakan bar-bar karena hatinya sedang kesal. “Gue mesti sabar sedikit lagi. Gusti nu Agung berilah hambamu ini kesabaran. Suami gue nggak becus nyari duit, numpang makan sama doyan ML doang.”
“Lo ngomong apa, sih?”
Gawat, Vio melotot kaget karena ia pikir suaranya tidak sekeras itu. Bahkan Arvin si bocah PAUD juga mengerjap ke arahnya. Ah, sial .... bisa mampus dia kalau Arvin bertanya pada Priska apa itu ML seperti kata Aunty Vio? Padahal maksudnya Mobile Legend, tapi Priska pasti berpikir yang bukan-bukan.
“Zi ...” Vio menyerong sambil menatap mata mengantuk Zia. “Gue mau pisah deh sama Alan,” bisiknya pelan.
“Lo gila, ya? Otak udah dipakai buat modal tambahan?”
Zia keluar lebih dulu setelah bicara dua kalimat tanpa empati itu, dan meski kalimatnya pendek, tapi cukup membuat Violeva memikirkan kata-katanya ulang. Benarkah gagasan untuk berpisah dengan Alan adalah pertanda bahwa dia sudah gila?
***
Rasanya ada yang aneh dengan benda itu, roda empatnya yang biasa bundar tidak menarik, kini berkilauan lebih menyilaukan dari tiara buatan Zia—bagi Violeva. Berusaha untuk tidak mengindahkannya, Vio masuk ke rumah dan menemukan sang pemilik. Laki-laki brewokan, dengan tubuh padat berisi, kulit sawo matang manis yang tengah asyik bermain game—seperti biasa, dan berstatus sebagai suaminya tiga tahun belakangan.
“Alan,” panggilnya dingin.
Orang yang dipanggilnya mendongak, langsung membuat kontak mata dan menyunggingkan senyum selamat datang. “Udah pulang, Vi?”
Apa sih yang dipikirkan orang-orang saat menanyakan pertanyaan paling bodoh di dunia itu?
“Ya, kamu pikir?”
Alan tertawa dengan deretan gigi putih secerah bintang iklan pasta gigi di televisi sambil menjulurkan tangan untuk merangkulnya.“Mobil diapain?”
Menyadari bahwa pertanyaan itu mengandung sesuatu yang fatal, Alan segera melepas rangkulannya barusan, bergerak mundur satu langkah ke belakang.
“Eh ... itu ya?”
Jelas sekali ia sedang memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian. Matanya seolah berbicara, kapan juga Violeva sadar soal velg barunya itu? “Iya, Al. Mobil kamu apain jadi kinclong begitu, udah kayak istri baru aja.”
Violeva meninggalkannya untuk masuk ke kamar, tahu bahwa suaminya tidak ingin membahas itu. Sebenarnya ia tidak buta untuk sekadar tahu bahwa, Alan baru mengganti pusaran pada keempat ban mobilnya. Ada rasa penasaran tentang sumber dana yang dipakai Alan untuk membeli benda itu. Karena Violeva tahu, Alan dan pendapatannya itu nyaris selalu defisit.
“Maaf ya, Vi. Aku—”
Vio mengerutkan alis, kenapa Alan menggantung kalimatnya?
“Itu temen, lagi kena musibah jadi aku bantu.” Suaranya mencicit pelan.
Dalam suasana seperti ini, siapa pun akan percaya kalau Alan adalah tipikal suami takut istri, padahal sebenarnya dia bebal bukan main. “Oh, gitu.” Vio tersenyum sambil mendudukkan diri di sofa dekat tempat tidur, melepas ikatan rambutnya yang lepek seharian ini. “Temen kamu yang punya toko velg mobil mana yang kamu bantu? Kamu sedekah ceritanya?” Ia menyindir halus. “Padahal sedekah paling baik itu ke istri lho.”
“Bukan, Vi. Kamu marah, ya? Jangan marah dong ...”
Lo pikir aja deh sendiri.
Violeva menarik napas panjang sebelum membuangnya kasar dan memandang Alan penuh tanda tanya, menahan diri untuk tidak membedah otaknya dan menahan rasa ingin tahu tentang apa yang dipikirkan oleh kepala sebesar itu. “Udah ya, aku mandi dulu, habis itu kita makan. Aku beli capcay sama udang saos padang buat makan malam.”
“Oke, kalo gitu aku siapin dulu, ya? Kamu mandi aja.”
Sepeninggal suaminya, Vio mengkhayal tentang berendam air hangat dan mencuci rambutnya sampai segar kembali. Dia kelelahan dan sangat kacau hari ini. Berpikir soal keramas sambil memijit kepala mungkin bisa merontokkan sedikit amarahnya dan dia akan makan malam dengan tenang tanpa harus merapatkan rahang. Tapi khayalan tidak akan terwujud semudah itu, yang ia dapati di kamar mandi adalah botol sampo yang sudah menungging dan kering kerontang tidak berisi. Seseorang yang sudah ia amanatkan untuk membeli tidak memenuhi tugas itu lagi kali ini.
Ini serius, apa Alan tidak mau ikut berkontribusi untuk rumah tangga mereka? Hal sekecil membeli sampo, ya Tuhan ... dan barusan, dia kedapatan membeli velg mobil? Violeva tersenyum kecut sambil menutup pintu kamar mandi, menguncir rambutnya kembali dan melupakan gagasan terbaiknya untuk keramas sore ini.
“Vi, nggak jadi mandi? Mau ke mana?”
“Beli sampo dulu.” Vio mengambil kunci mobilnya sebelum bergerak ke luar rumah.
Alan seperti tikus yang tercebur dalam kubangan air langsung melotot ngeri. “Aku lupa beli, maaf, Vi …”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu ke minimarket? Mau dianter?”
“Nggak usah, sampoku kayaknya nggak ada di minimarket deket sini. Aku ke supermarket aja sekalian belanja yang lain.”
Violeva berjalan mendekati mobilnya—Neng Eti yang selalu setia menemani, hanya membawa dompetnya tanpa printilan apa pun. Biasanya, dia membawa tas kecil dengan banyak peralatan lenong di dalamnya. Melirik mobil putih mengkilap itu sekali lagi, yang parkir di depan Neng Eti, dan menghitung diam-diam nominal uang yang dihabiskan suaminya untuk benda itu, Vio iri sekali. Mobil yang begitu disayang dan didandani Alan sampai seperti ini. Sementara nasibnya sendiri? Menyebalkan sekali karena harus bersaing dengan sebuah mobil.
“Kamu marah, Vi?” Alan memegangi lengannya, mencoba menahan Vio pergi.
“Kalo kamu laper, makan duluan aja. Aku kayaknya bakal lama. Di kotak obat, ada tablet alergi siapa tahu kamu gak tahan pengen makan udangnya juga, minum tabletnya sebelum makan. Aku berangkat dulu, ya?”
Mengindahkan suaminya, Violeva berniat menaiki Neng Eti yang parkir agak menjorok ke luar garasi. Namun alih-alih mengiakan seperti biasa, Alan justru mencegatnya. Dia memegangi tangan Vio erat. Ini pertanda, adegan ala-ala film India akan segera terjadi. Mari sebisa mungkin mengindarinya, malu pada tetangga.
“Aku antar, ya? Mau kan?”
“Aku sendiri aja deh, Al.” Violeva berbalik dan mengambil jeda, menahan amarahnya yang sudah menggelegak dalam d**a. “Kamu mana mau keluar bawa mobil aku. Terus, aku lagi gak pegang uang lebih buat gantiin bensin mobil kamu, misalnya nanti aku diantar naik mobil itu. Kamu—”
Violeva memejamkan mata. “Kamu selalu begitu.”
“Kamu marah banget ternyata.”
Vio tahu, dia keterlaluan karena mengatakan hal itu meski tidak sambil berteriak walaupun sebenarnya sangat ingin. Seperti adegan film, Alan mengendurkan pegangan tangannya dan menggelengkan kepala, membiarkan Violeva pergi. Dia butuh waktu untuk tenang disaat seperti ini. Membeli sampo ke supermarket memang keterlaluan, tapi Alan tahu kalau istrinya sedang ingin melepaskan penat dan menenangkan pikiran, shoping dan jalan-jalan biasanya sangat ampuh membuatnya tenang.
Siapa pun yang mengenalnya, pasti tahu kalau Violeva sangat suka belanja, bahkan hanya membeli pewangi pakaian dengan label tag; buy one get one saja bisa membuatnya tersenyum cerah seharian. Tiga tahun menikah membuat Vio khatam bagaimana menjadi emak-emak idaman pemburu diskonan.
***
“Gue turun di sini!” Zia sedikit berteriak sambil memegangi tangan Violeva. Seketika, dengan refleks yang baik Vio membelokkan stir serampangan, menginjak pedal rem secepat yang ia bisa, menghentikan mobil di bahu jalan ala-ala bus Kopaja.
“Lo kalo mau turun itu ngomong dari jauh, Maemunah!” Ia mengomel marah.
Zia tidak menjawab—memang biasanya juga begitu, dia keluar dari mobil sambil menyisir rambut biru pepsinya dengan jari, berdiri di bahu jalan.
“Beneran lo turun di sini?”
“Gue ada urusan,” jawabnya datar dengan mata setengah terpicing. Matahari pukul sembilan pagi memancarkan panas yang cukup brutal hari ini. “Lo boleh pergi sekarang.” Zia mengibaskan tangan, menyuruh Violeva pergi seperti mengusir supir angkot yang tidak memberinya uang kembalian.
“Oke deh, makasih ya udah nemenin gue.”
Zia mengibaskan tangan sekali lagi, kali ini langsung melipat tangannya di d**a dan memasang ekspresi dingin. Sampai tiba-tiba saja Violeva tertawa geli, mengingat aksi mereka berdua di kantor Ekspedis tadi. Sejujurnya, punya teman dengan kadar kejudesan seperti Zia ada hikmahnya juga. Gaun pesanan Violeva dari Korea yang tidak tahu di mana rimbanya, langsung di follow up dengan cepat akibat semburan maha dahsyat dari mulut keduanya. Cukup untuk memperbaiki mood yang rusak karena pagi-pagi sudah ditodong oleh Mami.
“Gue mau ke dokter kandungan deket sini, nggak mau bareng aja?” Violeva menunjuk deretan ruko tempat praktek ahli kandungan yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
Zia menggeleng. “Mau ngapain? Lo hamil? Apa kena kanker serviks?”
“Eh, please attention ya itu language! Nggak ada bagus-bagusnya bener. Gue mau cek alat kontrasepsi, lo tau kontrasepsi, kan? Itu yang dipasang di perut gue loh!” Vio misuh-misuh sambil menunjuk-nunjuk bagian perut dan berharap Zia mengerti apa yang sedang dibicarakannya.
“Kontrasepsi itu di rahim, Oon.” Zia menipiskan bibir. “Udah bawel, bego lagi.” Ia bergumam, tapi demi apa pun tidak ada orang yang bergumam sejelas itu.
Apa katanya tadi? Hamil? Kanker? Dua-duanya sama mengerikan, jangan sampai Violeva mengalami salah satunya. Vio menarik napas sambil memakai seatbealtnya, mencuri tatap pada Zia yang masih anteng berdiri di trotoar. “Ya udah, gue pergi.”
Zia mengangguk. “Jangan ngelamun terus lo,” katanya terakhir kali.
Sepertinya Zia sudah bilang ingin turun di sini sejak tadi. Vio hanya sedang melamun sambil mengemudikan mobilnya dan kurang fokus mendengarkan. Kejadian beberapa hari yang lalu dengan Alan, cukup membuatnya banyak berpikir dan melamun sendirian. Rumah tangga mereka selalu diwarnai oleh kelamnya masalah finansial. Sudah tahun ketiga, dan Violeva belum merasakan dimana manisnya pernikahan, karena hal ini.
Ares: Ayu, selamat siang. Jangan lupa makan dan istirahat, have a nice day.
Vio menyimpan ponselnya di dasbor setelah Zia pergi, membuka layarnya yang menyala-nyala beberapa detik. Pesan itu adalah bukti, bahwa ia bermain api dalam pernikahannya sendiri. Dengan seseorang yang belum pernah dia temui, tapi membuatnya nyaman dan merasa merasa bebas tanpa digelanyuti beban.
***
“Udah transfer ke mami belum, Vi?” Alan menyambutnya saat pertama kali datang, tidak seperti biasa. Karena Alan yang biasanya pasti langsung bermain game begitu mendudukkan p****t di kursi rumah, tanpa mengganti pakaian, hanya menggulung lengan kemejanya sampai ke siku saja.
“Belum,” jawab Violeva enggan. Ia duduk di kursi ruang tamu, tepat di sebelah suaminya sambil membuka kancing kemeja.
“Kok gitu? Nanti aku ganti, Vi abis gajian. Transferin dulu ya, tolong. Mami berisik banget, masa cuma dua juta aja susah katanya.”
Pergerakan di sekitar Vio seolah terhenti. Cuma? Cuma dua juta katanya? Nampol mertua, dosa nggak sih? Mami tahu tidak, bagaimana susahnya mencari uang dua juta di kota ini? Dia harus banting tulang, memutar otak, memeras pikiran dan bekerja lebih keras dari suaminya. Pulang malam, lupa makan, begadang dan berangkat lagi saat pagi buta.
Tangan Vio terulur untuk membantu Alan membuka kemeja kerjanya, ia sedang malas mengomel. Berdekatan dengan Alan setidaknya membuat Vio bisa mengatur napas sebelum menyahuti. “Kamu ganti pas gajian, terus pertengahan bulan sebelum gajian kamu kehabisan uang pegangan, dan kamu pinjem lagi ke aku, dibayarnya abis gajian lagi. Terus kamu bakal pinjem ke aku lagi. Aku hafal banget siklus ini, Alan.”
“Jadi semua ini perkara balas membalas?” Suara Alan terdengar bergetar, tangannya melepaskan Violeva dari kancing-kancing kemeja yang belum sempat ia jamah.
“Balas membalas apa, sih?” Vio menarik diri, bersandar di sofa, masih dalam mode mengatur napas agar tidak meledak-ledak. “Aku cuma beberin kenyatannya, khawatir kamu lupa.”
“Aku tadi udah ngomong baik-baik ya, kamu yang keluar jalur dan mulai menyinggung perkara gali lobang tutup lobang itu.”
“Aku ngomongin kenyataan, kan?”
“Vi … itu Mami aku, orang yang udah ngelahirin aku. Kamu nggak bisa bantu banget gitu kali ini? Aku yakin kamu nggak mungkin nggak pegang uang segitu.”
Violeva mengerjap. “Bentar deh, Al. Maksudnya nggak bisa bantu banget itu, gimana sih?” Ia memasang ekspresi pura-pura bingung, menjulurkan tangannya kembali pada Alan untuk meneruskan kancing-kancing kemeja yang belum terlepas, kemudian melanjutkan ucapannya yang belum tuntas.
“Jatah bulanan buat Mami kamu, aku yang nanggung. Sebulan lima juta, Alan. Aku nyarinya nggak gampang itu, dan belum habis bulan minta tambah lagi dua juta dan juta-juta lainnya yang nggak semuanya kamu tahu.” Kancing kemeja itu sudah lepas seluruhnya, sekarang Vio bisa menggeser posisinya agak menjauh.
“Kamu kira cuma kamu yang punya orangtua di sini? Kamu pikir cuma Mami yang harus dibantu? Aku punya Varrel, dan mamaku juga udah janda. Kalau pun aku pegang uang dua juta saat ini, itu bukan uang dingin, Alan. Kamu tahu aku bisnis dan modalku harus diputar. Kamu yang harusnya hati-hati pakai uang kamu, kan? Kamu jajan velg mobil baru dan—”
Vio menjeda, merasa harus berhenti sekarang. Rasanya sangat lelah karena banyak menahan diri akhir-akhir ini, jiwanya penuh, ia capek lahir dan batin. Kalau ingin mengungkit semuanya, tidak akan cukup satu episode untuk membeberkan hal ini. Vio bahkan tidak lagi menghitung atau mengungkit berapa anggaran untuk biaya hidupnya berdua dengan Alan yang ia tanggung sendiri.
“Oke, aku ngerti.” Alan bergerak mundur untuk kemudian membuka kemejanya dan melemparnya ke kursi. “Aku kira kita bisa sama-sama ngadepin Mami, Vi. Membalas budi.”
“Lima juta sebulan untuk biaya hidup di Yogya sendirian, aku rasa cukup.” Itu caranya Violeva menghadapi ibu mertua, membalas budi kepadanya. Lima juta perbulan, bentuk kompensasinya karena sudah merebut anak laki-laki yang beliau besarkan bertahun-tahun. “Lagi pula, Al, kalau orangtua cuma pengen anaknya dilahirkan buat balas budi, harusnya Mami nggak ngelahirin kamu.”
“Okay, that’s going too far, Vi. Enough.”
****