Putih Abu-abu

2170 Words
Violeva dengan semangat kemerdekaan mengoleskan benda berbentuk pasta di bibir sahabatnya, Priska Yudwinta. Kemarin barang kiriman dari Kak Vero—sepupunya Vio, sudah mendarat. Ada banyak cat kuku dan peralatan berhias lainnya, berhubung Vio sangat suka benda-benda itu. Di dalam tas sekolahnya pasti saja ada minimal 3 botol kutek, hand cream, cologne, sisir, lip balm dan kali ini ditambah dengan adanya lip gloss baru berbentuk tube yang berasal dari merek terkenal, Victoria Secret. Meski awalnya Vio mengira itu bajakan karena setahunya brand tersebut mengeluarkan koleksi pakaian dalam, bukan? “Asli, Vi. Ini berat banget di bibir gue.” Priska menggerutu tapi tidak bisa berkutik karena Vio menjepit kedua pipinya sambil sesekali melotot pada gadis itu kalau dia mencoba untuk berontak. “Demi Rafid!” Violeva meyakinkannya. “Lihat tuh gengnya Nadine, pada kece semua. Mereka tuh pake lip gloss!” Ia melepaskan Priska yang kini sibuk memanyunkan bibir lalu beralih pada Mina, tersenyum licik sebelum memegangi wajah anak itu dengan kejam. “Diem lo ya,” gumamnya dengan suara menggeram. Yang tidak Vio ketahui bahwa Mina adalah jenis orang yang pasrah-pasrah saja dijadikan tikus percobaan. Selama dia diam dan tidak perlu mengeluarkan tenaga, sepertinya Mina bersedia. “Jangan dilap!” Vio mewanti-wanti, meletakkan telunjuknya di hadapan wajah Mina. “Sekarang giliran lo.” “Enggak.” Gadis terakhir di gengnya menolak mentah-mentah. “Gue gak level ya make barang kayak begituan.” “Eh, ini Victoria Secret ya, please deh help woy! Diem, tutup mulut lo.” Tanpa menunggu Zia setuju, Vio kembali melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada Priska, duduk di depan gadis itu, menjepit kedua kakinya dengan lutut dan memegangi wajah Zia dengan sebelah tangan sedangkan tangan yang lain mengoleskan pasta mengkilap itu ke bibirnya. “Cuih!” Zia langsung meludah begitu mereka selesai dan mengelap bibirnya dengan tissue basah, kemudian Vio menjepit pipinya lagi dan mengoleskan pasta lengket itu untuk kali kedua. Dan setelahnya Vio mengambil Iphone Zia, satu-satunya pemilik Iphone di kelas mereka, lalu mengambil gambar berempat. Zia cemberut, Mina melongo, Priska tersenyum sampai matanya hilang berbentuk sabit, dan Vio di jajaran terdepan memasang senyum lebar sambil mengangkat dua jari berbentuk V. Komposisi ini sudah paling pas, jangan pedulikan Zia karena dia sudah cantik dari lahir tanpa banyak usaha meski di foto itu bibirnya seperti habis dicelup dalam minyak goreng, apalagi Mina yang selalu terbengong polos dan menggemaskan. Hanya Vio dan Priska yang bermasalah di sini, mereka akan terus mengulang pemotretan amatir itu sampai mendapat pose paling pas, paling cocok, paling cantik dengan kemiringan dan angle sempurna. Setelahnya, Zia kembali meludah ke tissue kering sebelum mengelap bibirnya dengan tissue basah, diikuti oleh Mina diam-diam. Hanya tersisa Priska yang masih bertahan dengan mulut bebek mengkilapnya menunggu jam istirahat dan menunjukkan keindahan itu pada pacarnya saat ke kantin bersama. “Nah, selesai sudah tugas negara yang gue emban.” Vio tersenyum puas, walau dua dari tiga orang itu sudah merusak kerja kerasnya. “Sekarang giliran gue nih, gue juga harus cantik pas nanti dijemput sama Alan.” “Pulang bareng Alan lo?” Suara Zia berdengung di telinganya. “Hm.” Vio sibuk bercermin sambil mengoles-oles bibir. “Titip salam buat Mang Endang, siapa tahu kangen hehe.” Mang Endang adalah supirnya Zia, dan mobil antar jemput Zia adalah mobil antar jemputnya juga. Sudah sepatutnya Vio mengumumkan bahwa ia akan pulang dengan Alan hari ini, berhubung mereka jarang bertemu karena Alan sekolah di tempat lain. Vio lupa bagaimana caranya ia dan tiga manusia ini berteman, mungkin awalnya karena nama mereka berderet di absen kelas. Mina, Priska, Zia dan Violeva paling belakang. Mereka duduk berdekatan dan tidak jarang ditempatkan dalam kelompok kerja yang sama. Kalau tidak salah, itu awal mulanya mereka jadi dekat dan bersahabat. “Sayang banget, padahal Mami hari ini masak galantine. Dia mau bagi resepnya ke elo.” Priska mengerang pelan. “Ah, Vio sayang banget! Padahal ya Mami Zia jarang-jarang masakin kita, ini lagi pake mau ngasih resep segala.” Tiba-tiba saja Vio menjadi bimbang, acara makan-makan di rumah Zia selalu menyenangkan dan mewah. Apa dia harus mengorbankan waktu pacarannya dengan Alan hari ini? “Bentar, gue bilang dulu sama Alan.” Vio merogoh saku roknya, mengambil Blackberry lalu membuka aplikasi messangers untuk berniat menghubungi Alan—pacar barunya. “Alan yang itu kemarkhen, ya? Yang item gendut itu, kan?” Sejak kapan anak bungsu di geng mereka belajar menghina? “Mimin ih!” Priska menyenggolnya pelan. “Bener, Lin yang itu.” Violeva berdiri dari tempat duduknya sambil berkacak pinggang. Sungguh, ia tidak tersinggung karena memang itu kenyatannya. “Dia emang gak ganteng sekarang, tapi gue yakin dia akan ganteng pada waktunya. Kayak cowok dekil yang suka ngintilin lo itu, yang lo benci setengah mati, dia juga bakal ganteng kalo ada dananya. Karena sesungguhnya di balik pria yang sukses, ganteng dan kaya raya, ada sosok perempuan hebat, dan gue mau jadi salah satu dari jenis perempuan itu, kayak Ibu Ainun.” “Mimpi lo ketinggian.” Priska menoyor kepala Vio sambil tertawa jijik. “Tapi gue juga mau dong, jadi sosok hebat di belakang Rafid.” Si tidak konsisten itu mengajak Vio ber-high five yang justru dibalas Vio dengan menoyor kepalanya balik, sementara Mina mencebik dan Zia pura-pura tidak mendengar. “Eh, Alan bales BBM gue.” Vio segera mengambil ponselnya, lalu Priska dan Mina ikut mengerubungi. “Apa katanya?” “Boleh.” Vio tersenyum senang. Seolah izin dari Alan lebih penting dari izin ayahnya sendiri. “Ih, enak banget izinnya langsung dikabulin begitu aja.” Priska menunjukkan mimik tidak suka, berhubung dia punya pacar yang protektif dan levelnya setara dengan satpam sekolah. Galak dan suka bertanya aneh-aneh kalau izin keluar sebentar. “Tapi gue ke sana di antar sama Alan, ya? Jadi lo bertiga naik mobil sama Mang Endang, gue sama Alan nyusul pake motor di belakang. Dia kangen sama gue katanya, emang ngangenin sih gue.” Zia membuat gesture ingin muntah, Mina menyengir lebar dan Priska mencubit pipi Vio yang merona merah sambil ikut tertawa. “Jangan ketawa-ketawa sekarang lo, izin dulu sama Rafid sana. Tau sendiri kan lagaknya kayak Pak RT yang tiap jam wajib lapor saking ribetnya.” Priska memeletkan lidah sambil terkekeh pelan. “Itu tandanya Rafid sayang sama gue. Oke deh oke, gue izin lagi ke Rafid buat yang ke dua puluh kalinya hari ini. Bentar, ya.” Setelah bel istirahat berbunyi, Priska keluar dari kelas bersama dengan Rafid yang selalu memegang tangannya ke mana-mana. Terlihat romantis memang, tapi kadang Rafid agak berlebihan, dia mengatur dan mengunci Priska layaknya peliharaan, hal yang Vio syukuri tidak ada dalam diri Alan. “Gak ke kantin?” tanya Zia sambil mengeluarkan bekalnya. “Enggak,” jawab Vio dan Mina serempak, tidak melepaskan pandangan mereka dari kotak bekal Zia, dan ikut menikmati bekal yang ia bawa. Zia selalu menyisakan 3 buah jatah blueberry untuk Vio dan sepotong apel untuk Mina tiap jam makan siang. Mereka tidak perlu repot-repot ke kantin untuk membeli makanan dan menghabiskan uang. ***   Kalau Vio tidak salah ingat, itulah hari terakhirnya memakai lip gloss dan naik motor dengan Alan di tengah panas teriknya Jakarta Timur sembilan tahun yang lalu. Beragam jenis polusi serta debu bertebaran kemudian menempel di bibirnya. Sangat lengket, berat dan tidak nyaman. Tapi hari itu juga lah ia tahu bahwa definisi cantik, berani sakit dan tidak nyaman itu tidak jauh beda dengan yang dialaminya. Beruntung Alan dengan pengertian membelikan es kelapa muda saat setengah perjalanan mereka menuju rumah Zia, lip gloss sialan itu ikut luruh dan pudar bersamaan dengan berkurangnya air kelapa di dalam gelas. Banyak hal berubah, Priska putus dengan Rafid dan menikahi Mas Ayan di usia sembilan belas, Mina kuliah dan lulus dengan nilai yang memuaskan, Zia sempat kuliah dan akhirnya berhenti karena sakit punggungnya makin parah serta lebih fokus bekerja menata berlian ke dudukan tiara. Mungkin hanya Vio yang tidak banyak berubah, dia kuliah tentu saja tapi kisah cintanya dengan Alan masih berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya, hingga mereka bekerja dan menikah pada tahun 2016. Mina, Vio dan Priska, berempat dengan Arvin baru saja keluar dari rumah sakit karena mendengar Zia dilarikan ke Unit Gawat Darurat sore ini. Menggosip di lift sampai ke lobi, membahas Rafid, Nadine hingga Raishaka, dan tertohok pilu saat bertemu Inang Zainab kemudian dibisiki perihal hadiah ulang tahun, yang belum sempat Vio setorkan. Dan sekarang ia sudah berpindah tempat, menghabiskan akhir minggu dengan suaminya untuk berbelanja kebutuhan bulanan. “Aku nggak tahu kalau dunia menyempit seukuran daun kelor.” Vio berkomentar sambil memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam trolley yang didorong Alan. “Enggak sih, daun kelor masih kegedean,” ungkapnya dramatis, lalu tiba-tiba berhenti dan menghadap Alan, melihat sekeMiming sebelum menangkup kedua buah dadanya dengan tangan. “Dunia seukuran d**a aku, Al. Sempit banget.” Alan tertawa sambil melepaskan tangan Vio dari dadanya. “Sekecil itu?” “Kurang ajar.” Vio mengumpat pelan. “Nih ya, aku ceritain rentetan kejadian hari ini. Zia kambuh lagi sakit punggungnya, udah parah emang harus dioperasi. Terus, kamu tahu gak? Dokternya Zia ganteng banget! Dan dia ngusir kita semua yang pada ribut gak bisa jagain Zia hari ini. Inang aja mau belanja berlian ke Kalimantan, aku kan sibuk, Priska apa lagi.” “Lah, terus Mimin?” Alan mengambil kesempatan untuk menyela obrolan istrinya, agar percakapan ini tetap menjadi percakapan dua arah. “Dia disuruh bersihin dan jagain apartemen,” ujar Vio setelah memutuskan untuk membeli selai cokelat saja bukan selai cokelat kacang seperti biasanya. “Dan kamu tahu nggak, kabar paling hebohnya?” Alan menggeleng. “Diem makanya nggak usah nyela omongan aku.” Perasaan dari tadi Alan diam saja, kan? “Priska ketemu sama Rafid, kamu inget Rafid, kan? Pacar Priska waktu SMA yang sering jalan bareng kita dan makan jagung bakar di pinggir jalan, yang pake kawat gigi itu dan kalo habis makan jagung jigongnya banyak banget terus Priska harus bantu bersihin demi menjaga kesucian kawat giginya. Inget nggak kamu?” Alan sibuk mengulum tawa sampai badannya bergetar dan mengangguk-angguk ke arah istrinya. “Nah, Al tadi kita ketemu sama dia di parkiran rumah sakit.” Vio meneruskan. “Rafid sekarang ganteng banget, ya ampun puberty dia sukses besar. Kayaknya dia mau balikan sama Priska deh, aku dukung.” Vio maju selangkah dan mengambil dua pint es krim kesukaan Aru yang sempat dijanjikannya waktu itu, meletakkan semuanya di trolley. “Terus ada kabar soal Raishaka, kamu inget nggak aku suka nyebut-nyebut nama itu pas reuni sekolah?” Tidak ada jawaban, Alan memandangnya dengan mimik manusia bodoh. “Dia itu orang yang suka ngintilin Mina lho!” “Oke.” Alan menanggapi. “Sini tas kamu aku bawain,” ujarnya sambil mengulurkan tangan, mengambil tas kuning yang Vio sandang di bahunya. Alan menyampirkan tas perempuan itu di bahu, menjepit dengan ketiak dan kembali mengikuti langkah Vio sambil mendorong trolley mereka. “Raishaka itu, Al, kamu harus nyebut namanya Wrayshaka ... dia buka kafe, kan? Dan kamu tahu nggak, sekarang Mina kerja di kafenya jadi tutor bahasa Inggris! Gila banget! Dunia ini bener-bener sempit sampai rasanya d**a aku jauh lebih besar.” Lagi, Alan harus mengulum tawa saat Violeva menganalogikan dunia ini dengan d**a mininya. “Kenapa bisa-bisanya Priska ketemu lagi sama Rafid dan Mina malah kerja di kafenya Wray? Mereka ini jodoh yang delay, kan? Aduh, aku gak ngerti lagi deh harus bilang apa pokoknya hari ini itu amazing banget, asli! Ditambah lagi nih ya, Al. Si Mimin cari mati nyetirin Audinya Zia, gila nggak tuh? Audinya dong dua koma sembilan milyar itu, edan! Dapet lima belas biji Neng Eti itu mobil kalau dijual.” Alan tertawa sepanjang jalan menyusuri lorong-lorong supermarket sambil mengikuti langkah istrinya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Bagi Alan mungkin Violeva tak ubahnya komika stand up komedi dadakan gratis yang tidak berbayar.  “Eh, aku lihat parfum kamu habis. Beli sekarang?” Vio tiba-tiba berhenti dan menyejajarkan langkahnya dengan Alan ketika melihat drugstore brand parfum favorit Alan terpampang di seberang mereka. “Gak usah nanti aja. Aku pake cologne dulu aja.” Tepat seperti dugaannya, Violeva berhenti, berbalik menatapnya penuh curiga. Dan Alan dengan kualitas akting yang buruk menampakkan seolah tidak terjadi apa-apa, yang Vio artikan sebagai pasti ada apa-apa, hal itu pasti berkaitan erat dengan isi dompet Alan sekarang, ataupun jumlah saldo dalam rekeningnya. Mencurigakan sekali membiarkan parfum favoritnya sejak tiga tahun belakangan habis dan tidak buru-buru membeli lagi padahal harga parfum itu hanya berkisar dua juta rupiah saja. Vio memang sudah lama tidak mengurusi pendapatan suaminya, toh semua habis untuk cicilan dan uang pegangannya selama sebulan. Rekening Alan hanya jadi tempat lalu lalang. Vio tidak bersedia memegang rekening yang hanya menyisakan saldo nol rupiah untuknya. “Aku beliin deh kalau uang kamu habis,” ujarnya cuek setelah lama diam-diaman dan membuat wajah Alan merah kuning hijau, salah tingkah. “Tapi kamu janji ya jangan boros-boros banget, kurangi kopi terutama dan sesekali tuh nebeng siapa kek kantor biar irit bensin dikit, kan? Atau naik trans aja berangkat pagi dari rumah. Ini sih main game mulu sampe subuh kan giliran mau kerja malah ngantuk, gak fresh, kesiangan dan bla bla bla. ****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD