Selepas makan malam, Aretha bergegas memanjat pohon mangga di halaman belakang, tidak berani masuk kamar Attar lewat pintu depan. Ia mengetuk pintu lalu menunggu sejenak sebelum Attar membukakannya. Bayangan berduaan bersama Attar membuat semangatnya meluap-luap seperti gelembung soda. "Kenapa nggak masuk lewat pintu depan aja, sih?" tegur Attar setelah membukakan pintu. "Ada kamera, Mas." "Kamu, kan, bisa ngirim pesan dulu? Lain kali jangan manjat lagi. Kalau kamu jatuh, gimana? Kamu mau tulangmu patah?" omel Attar keberatan. Aretha nyengir. "Kan, ada Mas Attar yang jadi dokternya." "Ck!" Attar berdecak sembari menutup pintu di belakangnya. "Oh ya, berapa skor TOEIC-mu?" "990, Mas." "Itu yang kamu bilang dikit?" Attar mendengus menutupi keterkejutannya, Aretha mampu memperoleh nila

