Pantai Pandawa adalah pantai yang sangat Theresa sukai. Meski ada begitu banyak pantai di Bali, khusus yang satu ini benar-benar favoritnya. Itu sebabnya Theresa meminta Tiara agar mereka pergi ke pantai Pandawa hari ini. Masih pukul sepuluh dan seharusnya masih ada cukup waktu untuk singgah ke tempat perbelanjaan untuk memberi beberapa oleh-oleh. Meski sudah pergi dan membeli beberapa oleh-oleh bersama Regina pada hari jumat, tetap saja terasa kurang. Ia pergi bersama Regin yang tidak mengetahui referensi tempat belanja murah di Bali. Sementara Tiara menawarkan tempat yang menjual barang-barang bagus serta masih bisa ditawar. Bahkan Tiara memiliki langganan yang bisa memberinya harga murah.
“Kak Theresa sama kak Adit kenapa putus sih? Padahal keluarga kak Adit udah setuju banget kayaknya. Apalagi tante Dewi.”
Entahlah, Theresa juga tidak paham kenapa dulu Adit bisa-bisanya memutuskan hubungan. Padahal saat itu mereka sedang baik-baik saja. Sedang tidak dalam keadaan bertengkar. Adit mengatakan ia benar-benar sibuk dalam hal mempersiapkan promosi jabatan dan pesan-pesan yang Theresa kirimkan terasa begitu mengganggu. Padahal Theresa sebenarnya bisa saja menahan diri untuk tidak menghubungi Adit beberapa waktu. Bukan dengan cara langsung putus begini. Sayangnya Adit seolah tidak memberi kesempatan untuk mencoba karena menurutnya kemajuan karir Adit saat itu tidak bisa menunggu. Tidak bisa mengubah keputusan Adit, Theresa pun mengalah dan mengikuti keinginan lelaki itu. Bukankah terlalu memaksakan kehendak dari satu pihak tidak baik? Tidak ada gunanya juga Theresa tetap memaksa bertahan padahal Adit bahkan sudah pergi.
“Sudah tidak cocok.”
Hanya itu jawaban yang bisa Theresa berikan. Menjelaskan keadaan sesungguhnya kepada Tiara tentu akan rumit.
“Padahal keliatannya cocok banget loh.”
Theresa juga merasa demikian. Ia sudah secocok itu dengan Adit dalam berbagai aspek. Tapi yah, mau bagaimana lagi, itu di luar dugaan dan sudah terjadi lima bulan lalu bukan. Kecocokan bukanlah jaminan mereka berjodoh. Juga meskipun keduanya saling mencintai.
“Kalo jodoh juga nanti balik lagi.”
Theresa hampir terkekeh setelah mengucapkan hal itu. Tidakkah kelihatannya ia masih mengharapkan Adit? Tentu saja iya. Meski hampir terbiasa selama lima bulan ini tanpa berhubungan dengan Adit. Tetap saja dalam hati kecilnya, Theresa sungguh masih menginginkan Adit.
“Aku doain kakak sama kak Adit jodoh deh.”
-------
“Halo, Juan. Kamu bilang ke Mama balik hari jumat. Tapi ini sudah minggu, loh.”
Juan hanya tersenyum kikuk ketika mamanya menelpon seperti itu. Juan memang sudah mengosongkan jadwalnya setelah acara anniversary perusahaan. Akan tetapi siapa sangka pada malam jumat ia justru menghabiskan malam dengan Theresa. Alasan yang membuatnya tetap berada di Bali hingga hari ini. Agendanya hanya berdiam diri dan menanti kabar dari Andi terkait perempuan itu. Bisa dibilang rencana liburannya tetap berjalan. Meskipun berubah dari yang awalnya berniat liburan bersama mama tercinta, kini ia justru menikmati kegiatan liburan di Bali.
“Andi bilang kamu lagi ada misi rahasia di Bali. Kenapa nggak ngabarin Mama? Bukannya kerjaan kamu udah pada beres. Lagi ngerjain apa?”
Untuk urusan keluarga, Juan selalu berusaha menomorsatukannya. Termasuk ketika mamanya bilang ingin menghabiskan waktu bersama Juan. Sayangnya semua ini terjadi di luar dugaan. Memikirkan Theresa terus-terusan membuat Juan lupa dengan janji yang dibuatnya sebelum pergi ke Bali.
“Juan lagi deketin cewek, Ma.”
Ia memutuskan untuk mengatakan kebenaran itu. Mama dan papanya memang tidak pernah mempermasalahkan pilihan Juan untuk melajang hingga kini. Akan tetapi, orang tuanya sudah memberikan kode kepada Juan agar segera menikah. Nampaknya sudah tidak sabar untuk memiliki menantu.
“Pantesan. Ya ampun! Ya udah gencerin ya. Tapi buruan kenalin ke Mama. Biar ada temen ke salon. Biar ada temen ngabisin uang Papamu.”
Juan terkekeh mendengarkannya. Mamanya itu sebenarnya kesepian jadi melakukan hal-hal menghamburkan uang untuk mengisi hari-harinya. Baik Juan serta papanya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Asalkan mamanya bahagia, tentu saja uang bukanlah masalah. Juan adalah anak kedua, ia memiliki kakak perempuan. Namanya Inggrid. Kakaknya itu sudah menikah akan tetapi tinggal di kota lain. Juga jarang pulang. Padahal mamanya siap memberikan banyak uang, termasuk kepada cucunya. Meski sudah memiliki cucu, tetapi cucunya tinggal jauh. Mamanya lebih membutuhkan menantu perempuan, jadi bisa tinggal bersamanya. Menantu perempuannya tentu bisa menemani mama Juan untuk melakukan hal-hal yang disukai. Seperti pergi ke salon misalnya, atau shopping di mall. Bagi perempuan mata duitan, itu pastilah adalah bonus yang menyenangkan karena selain bergelimang harta, menikah dengan Juan juga sekaligus mendapatkan mertua yang sangat baik hati dan royal mengenai uang.
“Doain ya, Ma.”
Juan sungguh berharap Theresa setuju dengan gagasan hubungan serius yang dirinya tawarkan. Bisa dibilang, Juan Christoper tengah memperjuangan perempuan itu saat ini. Ah, rasanya lucu sekali. Padahal Juan bisa saja tinggal memilih perempuan-perempuan yang berjejer mengantri karena terpesona padanya. Sayangnya itu tidak berlaku bagi Theresa. Perempuan itu perlu diperjuangkan dan juga menarik. Hal yang membuat Juan semakin merasa tertantang untuk memilikinya.
“Pasti! Siapa perempuan itu? Mama jadi penasaran pengen cepet ketemu.”
“Lagi Juan perjuangin. Semoga cepet diterima.”
“Nggak mungkin anak Mama yang ganteng ini ditolak. Apalagi kamu kaya dan punya Mama sebaik ini. Kalo perempuan itu nolak, pasti dia nggak waras sayang.”
Juan kembali terkekeh. Mamanya benar. Juan tampan dan kaya. Ia juga pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Masalah kepribadian, Juan sungguh bersedia jika Theresa ingin mengenal dirinya secara pelan-pelan. Mereka bisa memulai hubungan ini dengan cara apapun yang Theresa sukai. Akan tetapi meski dengan segala yang Juan miliki, ia tidak yakin Theresa benar-benar tertarik kepadanya.
“Mama gimana kabarnya?” tanya Juan kemudian.
“Selalu sehat. Kamu cepetan yah bawa calon menantu Mama itu. Atau kalau perlu bantuan Mama, kabarin aja. Kamu kalo mau nikah sama dia besok juga nggak papa. Mama setuju banget. Asal itu yang cewek nurut dan mau Mama ajak jalan-jalan.”
Juan yakin mamanya sudah terlalu tidak sabar untuk memiliki partner belanja dan travelling. Tetap saja, mamanya itu pasti memiliki standar sendiri untuk calon istri Juan. Selain penurut, mamanya tentu membutuhkan menantu yang baik dan segala standar yang tidak akan diberitahu kepada Juan. Jika merasa tidak cocok, mamanya pasti akan mengatakan dengan langsung kepada Juan setelah meneliti calon menantunya sendiri. Semoga saja kepribadian Theresa juga membuat mamanya jatuh cinta.
"Jadi nggak papa kalo Juan ngurusin cewek itu dulu disini?"
"Tadinya Mama kesel karena kamu ingkar janji. Tapi karena lagi ngurusin calon mantu Mama, jadi nggak apa."
Juan menganggukkan kepalanya.
"Maaf ya, Ma."
Juan sungguh tidak bermaksud ingkar janji. Khusus untuk yang satu ini ia tidak bisa meninggalkannya. Meskipun Juan bisa kembali ke Jakarta dan tetap mengetahui aktivitas Theresa melalui informasi dari Andi. Tetap saja Juan memilih menetap di Bali dan akan kembali di waktu yang sama dengan Theresa kembali ke Jakarta nantinya. Ia ingin bertemu Theresa lagi. Ingin menyelidiki apakah perempuan itu mengingat malam menggairahkan yang telah mereka lewati bersama.