23 — Aku Hanya Ingin Semua Selesai

2091 Words
Sudah dua hari pertengkaran dingin antara Daru dan Yara. Sudah dua hari juga tanda tanya mengisi kepala Yara, pertanyaan bagaimana jaket itu bisa bertengger di tubuhnya kala hujan itu? Jika mereka benar-benar bertengkar, mengapa Daru masih memperhatikannya meski itu masih saling membisu. Yara bingung, apakah ia harus membenci Daru atau masih meyakininya. Kehidupan mereka tetap tidak berubah, mereka masih pergi ke kampus seperti biasanya. Daru tetap melakukan syuting, Yara tetap bertemu Mita--meski ia belum mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya. Sebenarnya, sekali dua kali Mita bertanya tentang kondisi Yara yang sering pendiam dari pada sebelumnya, namun Yara masih bisa menyembunyikan dan menjelaskan alibi dengan baik. "Gue lagi haid, kalau haid emang gini." jelas Yara yang membuat Mita percaya, memang Yara belum pernah melihat bagaimana Yara haid karena perkenalan mereka yang baru satu bulan. Yara memang masih ceria, tetap bercanda bersama teman-temannya di kelas. Daru kembali jadi pendiam di kelasnya, seperti awal ia masuk kampus, karena memang dasarnya ia introvert. Aktivitas mereka yang menjadikan satu sama lain tidak berinteraksi apapun. Mereka juga dengan sengaja untuk tidak bersimpangan atau berada dalam satu forum yang sama. Orang yang paling menyadari bahwa ada perbedaan di antara Yara dan Daru adalah Braga, ia adalah teman dari dua manusia itu. Sejak Daru mengabaikan Yara tempo lalu, Braga sudah merasakan aura dingin itu. Braga sebenarnya ingin sekali bertanya pada Daru apa alasan mereka berdua merenggang. Tapi seperti tidak ada kesempatan. Daru sibuk dan waktunya terbatas. Akhirnya, siang ini Braga mendekati Yara. Yara yang saat itu sedang mengobrol dengan Brillia dan Kesya langsung menoleh. "Ada apa Ga?" "Gue boleh ngomong sesuatu sama lo. Tapi nggak di sini, bisa kan?" ucap Braga pelan. Ucapan itu mendadak langsung mendapat tatapan aneh dari Brillia. "Lo mau nembak Yara?!" celetuk Brillia tanpa di filter. Membuat Yara dan Braga langsung menatapnya kaget, jangan lupa Kesya di sana juga ternganga. "Beneran?" Kesya ikut kaget. Mereka memang sering terlihat bersama, tapi tidak tahu akan sedini ini untuk menjalin hubungan "Heh!" sanggah Braga cepat. "Gue enggak naksir Yara tahu!" Yara langsung melirik Braga, seperti ada yang salah dengan kalimatnya. "Lo kok bilang gitu seakan-akan gue jelek sih." "Nggak gitu maksudnyaaa." sahut Braga frustasi. Kata-kata itu sebenarnya dè javu bagi Braga, tapi itu tidak saatnya untuk bercanda. "Jadi lo ke sini mau bilang apa Braga?" Yara akhirnya menyahuti dengan serius. "Ikut gue, ada rahasia besar yang pengen gue bagiin ke lo. Tanpa. Dua. Manusia. Itu." Braga membisikkan kata itu di telinga Yara, bahkan di kalimat terakhirnya ia mengatakannya dengan perlahan-lahan, seperti nyari gara-gara. Namun sebelum dua gadis itu membakarnya hidup-hidup, Braga segera menggeret tangan Yara keluar kelas. "Ga! Gue abisin ya lo!" Brillia berdiri dan memberikan bogem di udara. Kesya juga tidak kalah tersinggung, ia melempar pulpennya ke arah Braga yang sudah cukup jauh, sehingga pulpen itu malah mengenai seseorang yang sedang sibuk dengan naskahnya, Daru Han. "Aw!" Daru segera meringis karena itu tepat mengenai kepalanya. Kesya yang merasa bersalah segera menghampiri Daru. "Daru, maafin gue!" "Rasain lu!" Brillia tertawa melihat kesalahan Kesya. "Ru, maafin gue, berdarah nggak?" Kesya melihat dengan teliti kepala Daru, bahkan ia juga reflek memegang rambut teman artisnya. "Gue nggak papa kok Sya." jawab Daru menenangkan Kesya yang panik. "Beneran nggak papa?" Kesya masih sangsi. "Iya gue nggak papa. Jadi tolong, izinkan gue buat lanjutin belajar." "Sorry kalau gue udah ganggu lo." Kesya mundur beberapa langkah ke belakang. Memungut pulpen yang jatuh dengan perlahan-lahan, takut itu semakin mengganggu Daru yang sedang fokus membaca naskah syutingnya. ••• Braga menarik Yara menuju belakang gedung, lokasi yang jarang terjamah oleh banyak orang. Yara memang sejak tadi kebingungan dengan tujuan Braga, namun ia juga tidak menolak ketika Yara ditarik menuju tempat sepi. Saat ini istirahat, jadi mereka bisa kabur sejauh ini. Ketika tangan Braga sudah melepas genggaman, ia duduk di bangku rusak, bangku yang sering di taruh di dekat gudang. Yara sendiri juga ikut duduk di sana, seperti tidak ada pikiran prasangka yang membuatnya takut berada di samping Braga di lokasi yang sepi. Bukankah tadi jelas, Braga bilang nggak naksir sama dirinya. Lalu apa yang membuat ia ditarik sampai ke sini. "Gini. Gue harap lo nggak berprasangka buruk kepada gue." Braga mengawali percakapan dengan perkataan warning. Memperingatkan untuk tidak berpikir macam-macam. Yara mengangguk-angguk manut. Menunggu perkataan Braga selanjutnya. "Gue mau ngomong sama lo." "Apa?" "Tapi lo jangan tersinggung ya." Perkataan Braga membuat Yara menatapnya heran. Apakah benar Braga mau nembak Yara? Tapi nggak mungkin, Braga kan jelas-jelas tahu bagaimana hubungannya dengan Daru—meski sekarang sudah enggak baik-baik saja. "Lo ada masalah?" ucap Braga pelan, ia bahkan menatap wajah Yara dengan lekat. Ingin mengetahui apa yang ia sembunyikan dengan wajahnya yang begitu ceria. "Eung?" Yara langsung membulatkan pupilnya. Namun secepat kilat ia mengelak. "Nggak ada masalah apa-apa kok." sahutnya. "Jangan bohong." Yara menelan ludahnya pelan, apa Braga tahu apa yang menjadi kegelisahannya. "Lain kali kalau nggak mau orang tahu masalah lo, actingnya yang bener-bener. Percuma kalau nggak pinter acting." "Gue satu kelas sama lo, secara jelas gue bisa tahu karakter lo Ra. Lo yang ceria, dan ekspresif seperti ini, nggak mudah untuk menyembunyikan masalah. Lo sendiri kan dulu yang bilang bahwa komunikasi non verbal nggak bisa bohong, maka gue juga tahu lo lagi merasakan sesuatu yang bermasalah." "Lo bisa cerita sama gue Ra, gue cowok, dan lo tahu, cowok enggak bakal ember," Braga memegang tangan Yara yang saat itu sedikit dingin. Yara sendiri hanya bisa terpaku. Ia tidak tahu harus bagaimana, Braga bukan Mita yang bisa dibohongi, ia tahu betul bagaimana komunikasinya dengan banyak orang terjadi. "Lo ada masalah sama Daru?" pertanyaan itu terlontar dengan telak di hati Yara. Benar, Braga memang nggak bisa ditipu. "Lo bisa cerita Ra, kalau lo mau nangis bisa kok." Braga masih belum menyerah untuk mempertanyakan segala keresahan Yara. Dan tanpa sadar itu memancing air mata Yara. Matanya memerah dan napasnya tiba-tiba tercekat. "Lo bisa pakai topeng di depan orang, mengatakan semua baik-baik aja, tapi selamanya makai topeng itu nggak bagus Ra. Emosi yang lo sembunyikan harus dicurahkan, jika nggak semua itu bakal membengkak." perkataan Braga semakin membuat air mata Yara mengalir deras. Braga mengelus-elus pundak Yara, mungkin dengan itu bisa meredakan sedikit rasa pedihnya. Braga tersenyum tipis, memandangi Yara yang masih sibuk dengan tangisannya. "Tapi lo jangan bilang ke siapa-siapa ya soal ini." Yara menghentikan tangisnya, ia menatap Braga dengan selidik. "Iya, gue nggak bakal ngomong. Kan tadi gue udah bilang ke elo kalau gue bakal rahasiain ini." ucap Braga meyakinkan. "Ga, salah nggak sih kalau gue suka sama Daru." serak dan begitu lirih. Yara ingin perasaannya yang terpendam harus keluar. Mungkin dengan cerita ke Braga bisa meringankannya, Braga juga orang yang tahu segalanya sejak awal. "Perasaan sejak kemarin banyak banget masalahnya." "Udah gue duga." Yara langsung mengangkat wajahnya, "Lo tahu kalo gue suka sama Daru?" Braga mengangguk, wajahnya terlihat seperti mengejek. "Jadi lo tahu juga kalau gue ada masalah sama Daru?" Braga mengangguk lagi. "Terus kenapa lo nanyain gue?!" Yara berdiri. Suasana yang tadinya dramatis kini sirna. Braga tertawa pelan. "Ya emangnya lo nggak kaget tiba-tiba gue bilang kalau gue tahu semuanya. Nanti lo malah nggak jadi curhat karena malu." "Iya juga sih." Yara mengangguk-angguk. Yara pasti juga ngerasa bakal nggak nyaman kalau langsung to the point. "Jadi gimana? Kalian belum akur?" Braga mencoba untuk lebih santai. Yara menghela napas panjang, air matanya sudah mulai mengering di pipinya. "Gimana mau akur? Kita aja enggak berantem." "Tapi kalian nggak deket." "Daru yang menghindari gue." Yara mulai terbuka. Meskipun banyak orang yang belum tahu tentang perang dingin itu. "Tapi kemarin lo pake jaketnya. Gue kira udah akur." Yara tersenyum tipis, jaket itu memang menjadi tanda tanya sampai sekarang. "Gue juga nggak tahu Ga. Maunya Daru tuh apa, kalau dia mau menjauhi gue kenapa dia ngasih jaket." "Barangkali lo kedinginan paling." Jawaban itu benar, tapi kenapa harus Daru yang ngasih? Itu yang menjadi tanda tanya dari segala keresahannya. "Tapi Daru nggak ngomong apa-apa setelah itu?" Yara menggeleng. "Tapi Daru juga nggak ngomong apa-apa sama gue sih." Braga menghentikan ucapannya. "Kayaknya emang Daru lagi sibuk kali." Yara merasa tidak puas dengan jawaban Braga. Apa benar, Daru sibuk? Tapi akhir-akhir ini memang Daru sering baca naskah sih, pasti sibuk banget. Tapi kenapa dia dingin juga? Sebenarnya kenyataannya apa. "Ga, lo kan sahabatnya Daru. Bisa nggak lo tanyain dia gitu." "Sebenarnya gue juga mau nanya Daru, tapi karena yang ada cuma lo yaudah nanyain lo lah." "Yaaah, sama aja dong." Akhirnya obrolan itu tidak menemui titik terang. Namun paling tidak, Yara cukup merasa lega ada orang yang bisa ia ajak berbagi cerita. ••• Hingar bingar lokasi syuting hanyalah suara saja, itu tidak bisa mengisi kekosongan di hati Daru. Sejak perkataan Kak Hana tiga hari lalu, saat itu juga Daru kehilangan serinya. Kepalanya berkecamuk di kala ia diterpa banyak kesibukan. Besok ia harus libur kuliah dulu untuk berangkat pemotretan. Sungguh melelahkan sekali ketika itu semau dibarengi dengan kepala yang ingin pecah. Daru juga manusia, ketidakfokusannya selalu menyebabkan masalah. Ia kerap kali ditegur oleh sutradara karena sering kehilangan emosi ketika memainkan peran. Namun sama sekali tidak ada perubahan. Daru tetap tidak bisa me-recovery dirinya, ia tetap merasa sepi dan tidak bersemangat. Sampai rumah, ia juga tidak bisa tidur. Ia merasa lelah tapi tidak tahu ingin melakukan apa. Tapi yang sebenarnya, Daru hanya ingin memiliki pundak dan telinga. Namun orang terdekatnya kini yang membuat masalah itu ada. Kak Hana. Daru duduk di dapur, meneguk air dingin yang mungkin bisa saja meredakan isi kepalanya yang runyam. Namun itu tidak berhasil. Ia menggenggam botol minum itu. Hari yang berat sudah berlalu dua hari. Sejak ucapan Kak Hana kemarin, Daru juga menarik diri. Sebisa mungkin mereka tidak berinteraksi meski terkadang Daru juga harus ngobrol untuk hal pekerjaan. Selain itu, sisanya hanya diam. Malam ini, setelah Kak Hana merasa lelah diabaikan Daru, ia mendekati adiknya, ingin menanyakan permasalahan yang sebenarnya terjadi. "Kamu sampai kapan mau diemin kakak?" Kak Hana duduk di samping Daru yang sedang melamun di dapur. Daru tidak menoleh, ia malah meneguk air minumnya. "Hanya karena kakak minta kamu buat nggak pacaran, kamu kayak gini sama kakak?" Kak Hana masih saja mengajak Daru berbicara. "Hanya?" Daru tersenyum miring. "San, kamu udah bukan anak-anak. Untuk apa kamu mempersalahkan hal ini?" Daru menoleh ke arah kakaknya. Mencari celah rasa bersalah di manik mata Kak Hana, namun sama sekali tidak ditemukan. Kak Hana masih keras kepala seperti semula. "Umur kakak sekarang berapa?" tanya Daru. Membuat Hana mendelik heran. "27 tahun." "Umur Sasan berapa?" Daru masih bertanya. "20 tahun." Kak Hana masih menjawab, "Kamu kenapa mengalihkan pembicaraan?" Daru menggeleng pelan, "Aku nggak mengalihkan pembicaraan. Aku cuma memperjelas apa yang kata Kak Hana salah." "Maksud kamu apa sih San? Kakal nggak ngerti." "Aku lebih nggak ngerti dengan maksud Kak Hana." "Jangam berbelit-belit deh! Kamu udah gede." Kak Hana sepertinya mulai tersinggung dengan cara bicara Daru. "Aku udah gede? Tapi kenapa untuk pacaran aja aku nggak boleh?" Daru menatap tajam kakaknya. Bahkan kata-kata itu seperti menusuk d**a Kak Hana. "Katanya aku udah gede? Tapi kenapa untuk memutuskan suatu masalah pribadi aja aku nggak boleh?" Daru masih belum puas dengan tanda tanyanya yang membuat hatinya terluka. "Jika itu semua nggak boleh, artinya aku belum dewasa buat kakak. Dan sekarang? Kakak minta aku jadi dewasa?! Maaf, Sasan nggak bisa." Daru bangkit, ia ingin meninggalkan Kak Hana dan mengusaikan percakapan ini. Dua hari berlalu dan semuanya semakin berantakan. Jika awalnya ia menyadari perkataan kakaknya benar, namun lama kelamaan ia tidak mampu. Ia tidak bisa mengerti perasaannya. Jauh dengan Yara sama saja menyiksa raganya. Perasaan senang itu bagai candu. Harusnya ia tidak bisa memisahkan semua ini. Namun kini, ia malah tersiksa, dengan keputusannya dan peringatan Kak Hana. "Sasan. Kakak cuma pengen yang terbaik buat kamu. Kakak punya alasan untuk itu semua!" Kak Hana setengah berteriak. Melihat Daru meninggalkannya menjadikannya sedikit terluka. Daru berhenti ketika Kak Hana mengatakan itu. Saat ini dan dulu sama, Kak Hana sama-sama membatasinya untuk berhubungan secara perasaan dengan siapapun. Mungkin benar, baiknya Daru sama sekali tidak ada berita miring bahkan skandal. Daru tidak pernah terlibat perasaan dengan siapapun karena peraturan itu, namun Daru tetaplah manusia. Ia juga bisa jatuh cinta dan ingin dicintai. Ia ingin merasakan bagaimana romansa anak muda. Daru menoleh ke arah Kak Hana. Matanya memerah karena menahan amarah. "Aku cuma pengen ini semua berakhir. Jika Kak Hana begini karena masa lalu Kak Hana yang pahit, aku minta ini dihentikan..." jeda Daru. "Karena aku dan Kak Hana beda." Daru berbalik arah, menuju kamarnya. Meninggalkan Kak Hana yang mematung di sana. Bibirnya terkunci rapat dan perkataan Daru seperti serangan telak. Malam itu, pukul satu malam, Kak Hana meneteskan air matanya. Ingatan pahit itu menggerogoti hatinya, menyisakan perasaan yang selalu berusaha kuat. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD