4. Reg atas nama sultan

2653 Words
1 bulan kemudian Hubungan pernikahan vania dan arvin tidak ada perubahan sama sekali, tetap saja tidak ada cinta dari kedua insan tersebut, berbeda balik dengan sosok arvin yg sangat mengharapkan vania agar mau membalas cintanya. Tapi sayangnya gadis itu tidak pernah mau membuka hati untuk dirinya. Walau hanya sedikit saja. Seperti hari ini, keduanya tengah duduk di sofa panjang, "Vania. Kapan cintamu itu tumbuh untuk diriku? Ini sudah 1 bulan vania, tapi kau tetap saja tidak ada perubahan sama sekali?" Tanya arvin penuh harap. "Entahlah arvin. Aku belum berpikir terlalu jauh saat ini," Balas vania enteng." Kenapa tidak pergi saja sih, aku mau bermain ponsel saja tidak bisa," Batin vania menahan rasa kesalnya saat dirinya melihat arvin masih betah duduk di sampingnya. "Tapi sampai kapan vania?" Tanya arvin yg sungguh tidak tahan lagi menjalani hubungan seperti ini." Apa arti sebuah pernikahan vania? Jika tanpa adanya cinta dan justru hanya ada kebohongan saja di antara kita," Ungkapan arvin membuat vania tersentak kaget sambil menoleh untuk menatap arvin. "Maksudmu aku berbohong, begitu? Maksudmu aku menipu dirimu begitu?" Tanya vania yg merasa tersinggung akan perkataan arvin barusan. "Tidak vania. Aku hanya ber..!! Ucapan arvin terhenti saat bentakan vania pada dirinya. "Alah. Kau itu pria maunya apa sih? Mau menang sendiri saja. Begitu?" Bentak vania murka. "Vania jaga sikapmu. Kau tahu kau sedang berbicara pada siapa?" Tanya arvin sambil bangkit dari duduknya. Bahkan arvin menatap tajam sosok vania yang tengah berdiri di hadapannya. "Oh. Jadi karna kau orang kaya aku harus terus menghormati dirimu layaknya seorang pelayan. Begitu," Kata vania sambil menunjuk wajah tampan arvin. "Bu...Bukan begitu. Vania, hanya saja sikapmu itu tidak sopan padaku. Bahkan cara bicaramu bukan seperti seorang gadis yg mengerti tata bicara saja," Ujar arvin dirinya berniat menasehati vania yang kini sudah menjadi istrinya. "Itu memang aku. Suka tidak suka inilah sikap seorang Vania Keisya," Ujar vania sambil menatap sinis pada pria yg ada dihadapannya saat ini. "Baiklah. Terserah kau saja," Gerutu arvin sambil berjalan meninggalkan vania dengan rasa tidak percaya saat melihat sikap gadis yg selama ini ia puja - puja. Ternyata jauh diluar pemikirannya selama ini. "Dasar pria munafik. b******k. Gara - gara dia hidupku jadi hancur seperti," Batin vania sambil berjalan keluar dari mansion dan menaiki mobil mewah miliknya. Salah satu tujuan vania adalah rumah sang kekasih tercintanya. *** Perusahaan Arentino Arvin tengah duduk di dalam ruangannya saat ini. Sungguh pikiran dan hatinya tengah kacau, arvin duduk dalam diam, hati dan jiwanya saat ini tengah terluka parah. Mengingat sifat asli dari gadis yg ia nikahi itu. Gadis yang sempat ia pilih untuk ia jadikan sebagai istrinya. Tok Tok Tok Suara ketukan pintu membuat arvin menatap seseorang yg baru masuk kedalam ruangannya. Membuat arvin sedikit merupakan kesedihannya itu. "Rico. Ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku atau ada informasi penting yg ingin kau sampaikan padaku?" Tanya arvin dengan wajah masamnya, sungguh saat ini suasana pria itu tengah kacau balau. "Apa tuan arvin tahu jika selama 1 bulan ini. Nona vania telah mentransfer uang bermilyar rupe ke rekening seseorang?" Tanya rico selaku direktur keuangan di perusahaan Arentino dan selaku orang kepercayaan arvin selama ini. Rico Arven Kelvin adalah tangan kanan arvin selama ini, dirinya dan arvin sudah bersahabat sejak dulu, Mendengar laporan dari Rico Arven Kelvin membuat arvin tersentak kaget sambil menatap fokus ke arah tangan kanannya. Yang masih dengan setianya berdiri dihadapannya. "Apa maksud dari ucapanmu itu rico? Kau sadar dengan ucapanmu itu? Rico aku tahu vania selama ini tidak mencintaiku. Tapi aku juga tahu bahwa selama ini dia memang telah bermain di belakangku, tapi aku tidak percaya jika vania berani mentransfer uang ke rekening orang lain tanpa seizin ku," Kata arvin dirinya sungguh tidak percaya dengan prilaku istrinya itu yg tega melakukan hal segila ini di belakangnya. "Sudah kuduga tuan tidak akan pernah mempercayai ucapanku. Tapi semua yg aku katakan ini memang adalah kenyataannya, asal tuan tahu saja selama 1 bulan ini uang yg di transfer nona vania sudah mencapai bermilyaran rupe. Dan perlu tuan tahu jika nama pemilik rekening tersebut sudah atas nama sultan," Kata rico sambil menatap arvin dengan beraninya, sungguh rico merasa kasihan pada majikannya itu bagaimana mungkin majikannya bisa di bohongi sampai seperti ini. "APA? Siapa sultan?" Tanya arvin sambil berdiri dari duduknya," Aku tahu jika vania selama ini memang sudah menyimpan rahasia padaku, tapi sultan. Siapa dia?" Tanya arvin sungguh ia ingin tahu siapa sosok sultan yang dimaksud oleh tangan kanannya itu. **** Flashback On Saat vania tengah menelepon sultan. Arvin sempat mendengar semua ocehan vania, tapi tidak semuanya. Karna vania sudah terlebih dahulu mematikan sambungan teleponnya. Dan tadi pagi arvin tidak sengaja mendengar kata - kata pahit yg dilontarkan oleh vania untuk dirinya, Membuat Air mata arvin secara tidak langsung menetas karna tidak tahan dengan kebohongan vania pada dirinya selama ini. Flashback Off *** "Jadi selama ini kau bukan hanya berbohong atas cintamu vania. Tapi kau juga berbohong lebih dari ini," Ujar arvin terduduk lemas sambil menahan isakan tangisnya." Siapa sultan? Apa kau tahu siapa dia?" Tanya arvin sambil menatap tangan kanannya itu. "Tuan arvin bisa melihat di sini," Ujar rico sambil memberikan sebuah kaset yang sudah ia letakkan di atas meja milik arvin selaku atasannya di kantor. "Apa ini rico?" Tanya arvin sambil menatap ke arah rico. "Tuan bisa melihatnya dan tuan akan mengetahui semuanya," Ucap rico sambil memasukan kaset itu ke dalam laptop miliknya. **** Isi kaset On Terlihat di dalam rekaman itu ada seorang pria tengah mengobrol bersama teman - temannya. "Wah. Sultan, kekasihmu itu kaya raya sekali ternyata. Bahkan dia sampai memberikan uang setiap hari padamu," Ujar seorang pria seusianya. "Hahaha. Kekasih apaan, aku hanya berniat memeras uangnya saja. Aku tidak pernah mencintai dirinya. Dia saja yg terlalu bodoh. Apa lagi suaminya itu yg sangat bodoh hahaha. Tidak bisakah dia melihat siasat burukku dan istrinya itu. Kau tahu selama 1 bulan ini dia mentransfer uang bermilyaran rupe padaku. Bahkan dia menyuruhku untuk membuka usaha tapi jangan harap aku mau menuruti keinginannya, mending uangnya aku pakai buat hura - hura saja hahaha," Ucap sultan dengan bangganya. "Wah...Wah sultan kau sangat cerdas sekali kawan hahaha," Kata para sahabat nya. Bukan hanya di club saja, Tapi juga di rumah sultan. Terlihat jelas jika sosok vania tengah berciuman begitu mesra dengan sosok sultan yg merupakan kekasihnya itu, Dan bukan hanya itu saja. Bahkan saat sultan dan vania tengah berada di bank juga terekam jelas di dalam mall dan tempat - tempat lainnya, hanya kartu kredit dan ATM yg terus mereka gunakan. Tentunya untuk memuaskan mereka karna kartu - kartu yang diberikan oleh Arvin sangat berguna bagi mereka berdua. "Sayang. Jika 1 hari hanya 10 juta mana cukup buat modal usaha kita, kalau kau mentransferku milyaran mungkin lebih cepat kita akan sukses," Kata sultan berusaha untuk membuat Vania menuruti keinginannya.. "Tapi aku sangat takut sultan. Bagaimana jika arvin sampai tahu? Itu akan mempersulit keadaaan kita," Kata Vania sesungguhnya ia mulai ketakutan. Takut jika apa yg telah ia lakukan justru diketahui oleh sosok Arvin. "Tenanglah. Kau sendiri yg mengatakan jika dia itu bodoh," Ujar sultan sambil tersenyum sinis tanpa diketahui oleh Vania. Di dalam rekaman itu terlihat jelas jika uang terus saja keluar dari mesin ATM itu. Arvin yg sudah menonton kaset itu hingga selesai membuat hati arvin terasa begitu sakit saat ini. Sungguh hatinya saat ini bagai di tusuk beribu - ribu pisau yg tajam tepatnya di urung hatinya. Air mata yg di tahan arvin selama 1 bulan ini kini menetes deras tanpa dirinya minta. **** Flashback On Sebenarnya arvin sudah lama tahu jika sosok vania selama ini telah berbohong pada dirinya. Setiap arvin bertanya kenapa vania tidak pernah kemana - mana, jawaban vania selalu sama jika vania tidak pernah kemana - mana. Padahal arvin tahu jika kartu CREDIT DAN ATM yg ia berikan sudah setiap hari disentuh oleh vania, tapi sayang gadis itu tetap bersikukuh mengatakan tidak pernah kemana - mana. Ingin sekali arvin menegur istrinya itu, tapi diurungkan niatnya karna arvin merasa yakin bahwa vania akan berubah tapi hari demi hari. Tidak ada perubahan sama sekali, bahkan uang yg ditarik vania dari nilai 10 juta menjadi 50 juta semakin melimpah ganda di setiap harinya. Flashback Off ***** "Sungguh kau sangat keterlaluan vania. Sungguh kau sangat menjijikkan bagiku, aku menyesal karna sudah mendengar semua alasanmu selama ini hiks," Desis arvin kini pria itu kembali terisak karna merasa di tipu selama ini oleh istrinya sendiri. "Tuan saya mohon. Tuan harus segera bertindak, jika ini terus berlanjut tuan bisa bangkrut," Ujar Rico menasehati majikannya itu. Rico bisa melihat betapa menyediakannya sosok arvin saat ini. "Bukan hanya itu saja tuan. Yg perlu tuan tahu bukan hanya uang perusahan Arentino saja, bahkan perusahan Dirgantara juga telah disentuh oleh nona vania. Nona vania mentransfer uang dari perusahan Dirgantara sebesar 50M, Dan sekarang perusahan Dirgantara sudah terancam bangkrut untuk kedua kalinya. Karna ulah tuan rohit dan nona vania sendiri," Ungkap rico sambil terduduk dihadapan arvin." Tuan. Tolong hentikan kebaikkan tuan ini. Bukan tuan yg akan hancur bahkan perusahan yg jelas - jelas tuan beli itu juga akan ikut hancur," Kata rico berharap atasannya atau majikannya mau menerima nasehatnya," kenapa tuan tidak cabut saja perusahan Dirgantara dari tangan tuan rohit. Lihat, karna ulah nona vania perusahan Dirgantara hampir bangkrut untuk kedua kalinya. Karna uang yg di transfer setiap bulannya oleh tuan sendiri sudah ditarik oleh nona vania dan ke rekening siapa lagi jika bukan atas nama sultan," Ujar rico dirinya sungguh sakit saat melihat kelakuan istri dari majikannya Itu. **** Flashback On Sebenarnya perusahan ayah vania itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Tapi arvin lah yg mengambil alih perusahan Dirgantara dan berpura- pura mengatakan jika perusahan itu masih milik ayah vania, Selama 2 tahun ini uang yg dipakai oleh Rohit dan vania adalah uang dari arvin. Bukan dari hasil kerja keras ayah vania sendiri. Karna ternyata perusahan Dirgantara yg dikelola oleh ayah vania itu tidak satupun yg ingin bekerja sama dengan sosok rohit, Dengan kebaikan arvin. Arvin menyuruh salah satu rekan bisnisnya untuk membantu perusahaan Dirgantara, tapi itu pun adalah modal dari arvin sendiri. Flashback Off **** "Kau benar Rico. Aku akan bangkrut jika terus seperti ini, selama bertahun - tahun aku bekerja keras dan hasilnya dalam 1 bulan aku akan kehilangan semuanya," Ungkap arvin dengan lemas." Kau tahu rico, aku pernah dihianati tapi itu tidak sesakit ini. Tapi hari ini aku menerima rasa sakit yg lebih dalam bahkan hingga urung hatiku yg terdalam. Dulu aku tidak Begitu sakit tapi kali ini istriku sendiri yg telah menghianati aku, betapa bencinya dia padaku ternyata," Kata arvin hatinya semakin hancur bahkan sangat hancur. Saat mengetahui keburukan istrinya sendiri. **** Flashback On Arvin pernah dihianati oleh mantan kekasihnya sendiri, terutama juga karna perselingkuhan dan uang. Arvin selalu memberikan apa yg diminta sang kekasih tapi akhirnya mantan kekasihnya justru tega berselingkuh darinya. Tapi itu tidak sampai membuat arvin hancur, tapi justru kali ini vania yg merupakan istrinya telah tega membuat hati arvin hancur untuk kedua kalinya. Flashback Off **** "Tuan. Harus sabar, Aku tahu apa yg tuan rasakan Tu...!!!! Ucapan rico terhenti. "KELUAR Rico. KELUAR," Teriak arvin secara tidak langsung dirinya telah mengusir bawahannya sendiri," TINGGALKAN aku sendiri, pergi Rico. Pergi Aaarrrggh," Teriak arvin sambil mendorong kasar laptop miliknya yg memiliki harga cukup mahal. Plaaaaaakk Puuuuusss Laptop seharga berjuta - juta rupe hancur dalam hitungan detik, membuat rico tersentak kaget saat melihat aksi majikannya sendiri. Sungguh untuk pertama kalinya rico melihat arvin semarah ini. "Tuan. Tuan tolong tenanglah, jangan emosi seperti ini. Tuan, aku pasti akan menyelesaikan semua ini, tuan tenang saja," Ujar rico dirinya mencoba untuk menenangkan hati arvin yg tengah terluka parah saat ini. "Aaaarrrghhh. Plaaaak. Plaaak," Suara bingkai foto pernikahan dan foto - foto vania di lempar oleh arvin ke arah tembok, mengakibatkan bingkai foto itu pecah seketika dan menimbulkan suara yang cukup nyaring di telinga sang pendengar." Sungguh kau lebih dari seorang perempuan murahan vanila, sungguh kau sangat menjijikkan bagiku," Teriak arvin membuat para staf tersentak kaget sambil mengintip ke dalam ruangan arvin. Bisa mereka lihat jika rico tengah berusaha untuk menenangkan atasan mereka. "Tuan sabarlah, tolong jangan seperti ini tuan bisa celaka nantinya," Kata rico sambil memegang tangan arvin yg tengah memegang kaca bingkai yg baru saja dipecahkan oleh arvin sendiri," Tuan, jangan tuan. Jika tuan seperti ini justru tuan akan terlihat lemah di hadapan mereka," Ujar rico dengan perasaan takut - takut, takut jika majikannya sampai berniat mengakhiri hidupnya. "Aaarrrghh. Lepaskan aku rico," Teriak arvin sambil mendorong tubuh rico hingga terhempas ke sisi tembok," Lihat ini vania. Aku pastikan akan memberimu pelajaran yg tidak akan pernah kau lupakan sampai kapanpun. Aaarrghh," Teriak arvin sambil membuang kaca bingkai yg pecah itu sambil berjalan keluar dari ruangannya, membuat para staf yg mengintip dibalik pintu tersentak kaget saat melihat tatapan atasan mereka. "Sedang apa kalian," Bentak arvin yg kini sudah gelap mata. Membuat para staf untuk pertama kalinya melihat kemarahan arvin, Rico segera berjalan sambil memegang pinggangnya yg baru saja keseleo karna ulah dari Arvin yang mendorongnya dengan begitu kasar. Dirinya segera melangkah keluar dari ruangan arvin untuk melihat apa yang tengah atasannya lakukan saat ini. "Tuan. Tahan emosi tuan, saya tahu tuan sakit hati tapi tuan harus tegar dalam melawan semua masalah yang tengah tuan hadapi saat ini," Kata rico sambil membawa arvin keluar dari kantor untuk memasuki mobil yg sudah disiapkan oleh para pengawal arvin sendiri. "Kau tahu. Rico, hatiku hancur sekali saat melihat orang yg sangat aku cintai telah tega menghianati aku, hanya karna seorang pria dan uang, sungguh aku tidak percaya jika ayah dan anak bersekongkol untuk menguras semua hartaku. Bisa - bisanya mereka melakukan hal serendah ini, aku kira masih ada seorang wanita yg tidak mencintai uang. Tapi aku salah, uang adalah segala - galanya bagi seorang wanita dan semua wanita itu murahan hanya uang dan jabatan yg mereka incar." Kata arvin berapi - api sambil menahan rasa sakit dihatinya saat ini." Kau lebih murahan dari wanita malam Vania, aku membencimu, aku sangat membencimu," Ucap arvin dirinya terus mengoceh hingga lama kelamaan arvin mulai tertidur di dalam mobil, tentunya di sampingnya rico yang tengah menatap majikannya dalam diam. Sungguh dirinya sangat tahu bagaimana rasa sakit yg di derita oleh majikannya itu. "Sungguh malang nasibmu tuan. Kenapa nona vania begitu kejam padamu mengapa ia tega melakukan ini pada dirimu?" Batin rico menatap iba pada sosok arvin." Kau. Bawa kami ke villa yg berada di puncak," Perintah rico dan langsung dibalas anggukan kepala dari sang supir. Sang supir mengendarai mobil menuju puncak di mana villa milik arvin berada. Keduanya telah sampai di villa arvin yg baru saja terbangun sambil menatap sekeliling villa. "Rico. Untuk apa kau membawa aku kemari?" Tanya arvin dengan tatapan terluka bahkan kedua matanya masih memerah saat ini. "Tuan. Aku membawa tuan kemari karna ini adalah tempat yg cocok untuk tuan saat ini," Balas rico sambil keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk majikannya itu. "Kau benar rico. Aku harus beristirahat terlebih dahulu di sini," Kata arvin sambil melangkah tertatih - tatih memasuki villa mewah miliknya. "Kau lakukan semuanya dan jangan sampai ada kesalahan sedikitpun," Ujar rico yg tengah berbicara pada orang yg ia hubungi saat ini. **** Di dalam kamar Arvin menjatuhkan tubuh besarnya dan mulai menangis di atas ranjang king size miliknya. Salahkan jika seorang pria menangis? Salahkan jika seorang pria merasa patah hati? Salahkan seorang pria membenci seorang wanita? Tentu itu tidak ada yang salah sebab apapun yang terjadi mungkin adalah hal yang tidak patut untuk diceritakan. "Mengapa kau sekejam ini padaku vania? Mengapa?" Tanya Arvin seakan dirinya tengah berhadapan dengan sosok vania. Kring Kring Suara ponsel arvin membuat arvin menatap ke balik layar ponselnya, terlihat nama si penelpon dengan cepat arvin mengangkat sambungan telepon itu. "Ha...hallo. Nek a...pa ka....bar," Sapa arvin dengan suara serak menahan isakan tangisnya. "Nenek baik arvin. Oh ya, Bagaimana kabarmu nak? Sepertinya kau tengah menangis apa itu benar nak?" Tanya wanita paru baya yang merupakan nenek dari arvin sendiri. "Ti...dak nek. Siapa yg menangis," Balas arvin bersih keras untuk menahan isakan tangisnya yang berusaha ia tutup - tutupi dari wanita tua itu. Tbc,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD