Ayah merupakan sosok yang sangat aku banggakan. Bahkan di saat anak -anak lain sibuk berkeluh kesah tentang Ayahnya yang terlalu protektif aku malah sebaliknya. Ayahku sangat berbeda seperti ayah mereka. Apapun keinginanku jika Ayah memiliki uang pasti akan menurutinya. Seperti saat ini. Aku dan Ayah berada di pasar malam. "Ayah, aku mau beli boneka itu," tunjukku ke salah satu boneka kuda poni yang sangat cantik. Ayah pun menatap ke arah boneka yang kutunjuk. Terlihat sebaris senyuman di wajahnya walau hanya sesaat lalu lengkungan garis itu seakan menghila dan terdengar suara mendesah dari bibir Ayah. "Ayah kenapa?" tanyaku penasaran. Ayah hanya diam dengan tatapan mata sedih. "Apa Ayah sakit?" tanyaku lagi. Ayah menggelengkan kepalanya perlahan lalu menatapku, "nanti yaa Vi

