Dua siswa laki-laki berjalan sejajar di koridor kampus. Hampir seluruh pasang mata memperhatikan gerak-gerik mereka. Sebab ini termasuk pemandangan terlangka yang pernah ada di Universitas Jaya. Sosok cowok di sebelah kanan Alviando konon adalah Adik dari salah satu alumni yang sewaktu masih kuliah disini merupakan pentolan Universitas Jaya. Kini dia satu jurusan dengan Alviando si tampan yang sebenarnya lahir di kota Bandung. Dia, sebut saja namanya Lion, sempat mengibarkan bendera permusuhan kepada Alviando.
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Lion merasa nama bekennya yang diwariskan sang Kakak perlahan hilang diganti oleh Alviando. Dan memang itu tujuan Alviando. Cowok itu selalu mencari cara untuk mengalahkan Lion. Nyatanya, baik dari segi otak dan juga tampang, Alviando masih di atasnya Lion.
Alviando dan Lion bermusuhan tiga tahun lamanya, dari kelas sepuluh sampai dua belas, namun permusuhan tersebut sekarang sudah tidak ada lagi. Entah apa yang membuat mereka akhirnya memilih untuk berdamai. Mungkin mereka sudah tobat.
“Guys, kayaknya cogan-cogan lagi pada ngumpul di kantin. Kesana yuk, kita cuci mata, perih mata gue liat rumus terus, butuh yang seger-seger,” ajak cewek rambut pendek. Namanya Najwa. Ia yang tadinya sedang mengerjakan tugas kuliahnya agar bisa kumpul cepat, seketika fokusnya buyar akibat lewatnya Alviando beserta temannya di depan kelas.
"Ikut apel lebih berfaedah daripada ngeliatin cogan," cetus Tessa---Cewek paling jutek seangkatan. Selain jutek, ia juga misterius. Bahkan Alviando sempat tertarik pada Tessa. Bukan tertarik karena suka, melainkan Alviando ingin mengulik lebih dalam informasi pribadinya Tessa.
Alviando menerka-nerka kalau dibalik sifat misterius Tessa ia adalah anak konglomerat. Alviando butuh perempuan seperti itu. Perempuan cantik yang punya orang tua kaya agar Alviando bisa memoroti uangnya.
"Mentang-mentang lo udah putus sama Alviando jadi lo kayak gitu. Oh..., lo takut gagal move on, ya? Hahaha." Najwa menertawakan Tessa.
"Gue enggak pernah pacaran sama Alviando," sangkal Tessa. Refleks ia mencengkram pulpen yang tadi ia gunakan untuk menulis.
Najwa tertawa untuk kedua kalinya, "Tessa, kabar pacarannya lo sama Alviando jadi topik terhangat pada saat itu, begitu pula kabar putusnya lo sama Alviando, terus sekarang lo bisa-bisanya ngomong lo enggak pernah pacaran sama Alviando? Lawak lo, Sa!"
Tessa beranjak dari tempat duduknya. Cewek itu menatap Najwa. Seperti ada percikan api di mata Tessa.
"Oke, gue ngaku kalau gue emang pernah pacaran sama Alviando. Tapi lo juga harus tau, pacaran sama cowok b******k kayak dia adalah penyesalan terbesar gue," ungkap Tessa bikin Najwa kaget sekaligus bungkam mulut.
Tessa menambahkan, "Rekam omongan gue di otak lo atau boleh juga lo rekam di handphone lo, dan sebar ke media sosial supaya enggak lo doang yang tau."
Setelah sekian purnama, Tessa memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia pendam. Tepat di depan semua orang.
***
Padatnya lapangan saat apel membuat Alviando memberengut sebal. Setetes keringat muncul di dahi cowok itu. Sedari tadi kedua kakinya tidak bisa diam. Ia ingin kabur ke kantin, namun dosen-dosen tak kunjung berhenti mengawasinya.
"Do, mau ikut cabut enggak?" tanya Lion pada Alviando.
"Mau, sih, tapi banyak orang yang mata-matai gue mulu. Jadi susah gue cabutnya," jawab Alviando merasa risih dan kesal dalam waktu bersamaan.
"Gampang itu mah. Kita cuma perlu mengalihkan perhatiannya," ujar Lion. Mengikuti taktik Kakaknya dulu ketika sedang kabur ke kantin.
"Lo yang atur, gue ngikutin lo aja," balas Alviando. Ia yakin, Lion pasti lebih menguasai segala jenis kenakalan daripada dirinya.
"Do, lo liat cewek di seberang sana." Lion menunjuk ke arah cewek yang memakai cardigan biru muda.
Alviando mengikuti arah tunjuk Lion. Cowok itu langsung protes, "Loh, kok, dia boleh pakai cardigan pas apel harusnya, kan, pakai almamater? Kenapa kalau gue enggak boleh?! Wah, enggak adil. Gue mesti menegakkan keadilan, nih."
Lion menepuk pipi Alviando, "Sabar, protes terus hidup lo."
"Dia teman gue. Dia dibolehin pakai cardigan karena dia lupa bawa almamater. Tapi yang penting itu dia penyakitan. Dia sering banget pingsan. Pingsannya enggak tau tempat, bisa di toilet, di jalanan, atau disini---" Dua detik setelah Lion berkata. Cewek itu terjatuh. "---Tuh, kan, pingsan beneran baru diomongin."
Seluruh orang-orang yang berada disini segera mengalihkan perhatian mereka pada cewek itu. Kesempatan dalam kesempitan, Alviando dan Lion ngibrit ke kantin, teman-temannya mengekor di belakang. Alhasil, segerombolan murid-murid pembuat onar secara serempak memenuhi kantin.
"Akhirnya bisa lepas dari penderitaan," gumam Alviando, disusul mengembuskan napas lega.
"Hebat banget lo, Lion. Lo kayak punya ilmu melihat masa depan," ucap Alviando kagum seraya merangkul pundak Lion.
"Lion anak indigo," sambar cowok yang sedang mengikat rambut gondrongnya ke atas. Lalu ia memandang Alviando dengan senyum merekah. "Eh, ada Abang jago kembaran Lion. Kenalin, gue Nino. Kita sering papasan di jalan, tapi enggak pernah nyapa. Hahaha."
Alviando terkekeh kecil, "Gue Alviando. Kembaran dari mana, jelas-jelas gue lebih ganteng dari Lion."
Lion mendelik kesal, "Iya, iya Alviando yang paling ganteng seantero kampus. Puas lo?"
"Gue tambahin, Alviando yang paling playboy seantero kampus. Eh, playboy atau fucekboy, ya?" sambung Nino mengundang tawa Alviando dan Lion.
"Dua-duanya biar mantap," sahut Alviando sambil memamerkan smirknya yang begitu memabukkan.
"Hampir semua cewek Universitas Jaya aya tergila-gila sama lo, Do, dari yang jomblo sampai udah punya pacar aja kadang khilaf," ujar Nino.
"Peletnya kuat," celetuk Lion mendapat geplakan dari Alviando.
"Padahal gue enggak suka tebar pesona. Soalnya pesonanya udah ketebar sendiri," ucap Alviando. Kini gantian ia yang digeplak Lion. "Gaya lo sengak, Do," cibirnya.
"Gue dengar-dengar sekarang lo pacaran sama ketua cheerleader . Benar enggak, Do?" tanya Nino kepo. Karena Alviando dan Lion sudah tidak bermusuhan, Nino jadi bebas bertanya banyak hal pada Alviando guna menuntaskan rasa penasarannya.
"Iya, No, tapi udah putus," jawab Alviando bikin Nino terbelalak.
"Gila! Lo pacaran sama dia cuma sehari?" selidik Nino yang dibalas anggukan kepala oleh Alviando.
"Gue jadi ngeri nanti kalau lo udah nikah, sebulan kemudian lo talak Istri lo," papar Lion sambil mengaduk es tehnya yang kemanisan.
"Enggak mungkinlah, Li. Gue, kan, nikahin cewek yang benar-benar gue cinta. Lagian kalau udah nikah, gue enggak bakal main-main." Alviando mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Sekalipun nikahnya karena terpaksa?" tanya Lion, melirik ke arah Alviando.
Ternyata betul kata Nino tadi, Lion memang anak indigo. Ia dikaruniai kemampuan dapat melihat masa depan atau meramal. Namun sayang, ia tidak bisa meramal dirinya sendiri.