Kala mentari telah terbenam. Cahaya jingga yang tembus ke dalam gedung akademi sirna dengan perlahan. Cahaya rembulan ingin bertukar. Tapi sayang, mendung hitam datang menutupinya. Tiada izin cahaya ta sampai. Kerlap kerlip bintang sedikit yang bisa melewatinya dan terlihat di akademi. Lamban laun segala penjuru langit menguasai penjuru langit. Air yang turun bersamaan membentuk hujan. Segala yang ada di bawa menjadi basah. Para siswi telah kembali ke kelasnya tapi Disti Raven malah sebaliknya. Sedikit murid yang masih tinggal. Itu pun karena telat makan.
"Bu, bisa pesankan makanan dan minuman untuk orang yang dipenjara," kata Disti Raven.
"Oh, naga elemental itu. Kok ada siswa yang seperti itu. Baru awal saja sudah berani memberontak dan melawan mentor. Aku tak bisa membayangkan jika dia lama di sini. Tapi anehnya para siswi di sini malah menyukainya," kata penjaga kafetaria.
"Yang aku dengar dari mentor garuda dia hanya takut saja dibentak-bentak. Arsada memiliki kenangan buruk, karena itu dia memberontak dan menyerang balik," kata Disti Raven.
"Kasihan sekali dirinya. Tolong antarkan ini." Penjaga kafetaria memberikan sebungkus makanan dan minuman. "Aku sebenarnya kasihan padanya. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Aku juga harus patuhi hukum di sini," imbuhnya.
"terima kasih, Bu."
Waktu makan memang sudah telat. Rasa tak tega terus bersemayam di dalam hatinya. Tiada cari lain agar cepat sampai tujuan. Berkonsentrasi dan menjadi macan kumbang pilihannya. Dengan begitu langkah gerak larinya bisa lebih cepat. Berlari semakn kencan mempersingkat waktu tempuhnya. Tibalah sekarang di tempat Arsada. Pintu jeruju terbuka dan Anwu telah menyiapkan jarum suntik. Disti Raven kembali menjadi manusia.
"Pak, apa yang anda lakukan?" tangan Disti Raven.
"Aku akan menyuntikkan cairan ini kepada Arsada," jawab Anwu.
"Tapi Arsada belum makan,"ucap Disti Raven.
"Tak apa-apa."
Baju lengan Arsada disingsingkan. Jarum suntik telah tertanam ke dalam tengan sebelah kiri. Sedikit demi sedikt cairan kimia terinjeksi ke dalam tubuh Arsada. Lamban laun cairan kimia menyebar ke seluruh tubuh. Sebagian ada yang menyatu ke dalam sel Arsada. Tanpa sepengetahuan dari mereka semua. Cairan kimia bereaksi dan bertarung dengan cairan sebelumnya serta butiran naga elemental yang belasan tahun lebih dahulu bersemayam di dalam tubuh Arsada. Hasil pertarungan tersebut membuah panas yang berlebihan.
Cairan kimia telah pindah ke dalam tubuh Arsada. Secara mendadak tubuh Arsada memanas. Anwu yang berada di dekatnya langsung mengingkir. "Argh!" teriak Arsada sambil bergulingan.
"Arsada, ada apa?" tanya Anwu.
Perkataan sang mentor tak didengarkan. Terus saja dia mengeram kesakitan. Suhu di ruangan tersebut memanas. Anwu tak berani mendekatinya.
"Busa pemadam, cepat ambilkan!" teriak Anwu.
Bergegas Nina langsung berlari dan mengambil tabung busa pemadam. Dilempar saja tabung itu. hanya saja tenaga Nina tak sampai di sana. Rosmina meneruskan hingga tabung masuk ke dalam.
Arsada kini telah berubah menjadi naga elemental. Suhu panas yang tak wajah membuatnya menyembur kesana kesini hingga terkena alarm kebakaran. Terpiculah sistem pemadaman api otomatis. Air keluar dari atas tapi tak juga memapamkan panasnya tubuh naga. Tiada lagi daya Arsada menahan penderitaan. Angin timbul mengelilinginya. Air menjadi hangat membuat suasana mengerikan. Terpaksa semua orang mundur ke belakang. Untung saja masing ada busa pemadam. Dalam keadaan terdesak dan terjepit Anwu berubah menjadi garuda. Terbang mencengkeram dan merusak tutup tabung. Dilemparlah tabung itu ke dalam angin tornado.
Cairan busa menadam menyebar kemana-mana sehingga angin yang bercampur air panas bersatu dengan busa. Tercipta jenis angin baru yang berwarna putih hingga tubuh Arsada tak kelihatan lagi. Tapi beberapa angin keluar dari tornado secara acak. Terpaksa mereka semua menghindarinya.
Lamban laun angin semakin kecil. Serangan acak telah menghilang. Kian lama kian terlihat jelas wujud yang ada di dalamnya. Membeku, tubuh naga terselimut es yang cukup keras dan tebal. Pemadam kebakaran otomatis berhenti total. Kilau cahaya dari lampu memantulkan keindahan bak sebuah kristal.
"Arsada!" teriak Angelia dalam tangisan, Nina pun demikan. Tak kuat rasanya menahan ini. Berdua mereka jatuh ke tanah. Makanan yang mereka bawa juga jatuh tanpa terasa. Ketiga temannya memegang tangan berdua.
"An, Nina, yang sabar," kata Janisha.
"Mentor, apa yang kau lakukan? Apakah obat itu aman? Kok bisa jadi begini?" tanya Disti Raven.
"Aku juga tak tahu. Kalian berlima jaga di sini terlebih dahulu. Kami akan segara memanggil mentor lain." Anwu segera pergi mencari mentor lain. Hempasan sayapnya menerbangkan beberapa benda yang ada d sana.
"Anak-anak, aku titipkan naga kepadamu." Disti Raven kembali menjadi harimau kumbang. Makanan yang dia bawa ditinggalkan begitu saja.
"Teman-teman, bagaimana kalau kita panaskan es ini," kata Rosmina.
"Kau buka rok kecilmu belum bisa memanaskan suasana hati Arsada. Apalagi kita tak ada yang memiliki elemental api," kata Janisha.
"Kau kira saudaraku play boy. Saudaraku ini lebih sering sendirian daripada bersama denganku," kesal Angelia dalam tangisannya.
"Sudahlah, jangan buat Angelia bersedih. An, yakinlah bahwa saudaramu itu tak akan apa-apa. Sebentar lagi dia akan bisa keluar dari bongkahan es tersebut," kata Antika.
Terdiam diri mereka dalam kesedihan. Makanan yang terbuang ke tanah mereka kumpulkan lagi. Terlihat sendok yang berserakan di lantai. Antika mengambil sendok tersebut. "Sis, masih ada harapan. Kita ambil sja satu persatu," katanya.
"Sis, kamu ini gila apa. Jika gunakan sendok berapa bulan selesainya. Lagipula kita sudah mepet nih," cerca Janisha.
Nina berkonsentrasi dengan penuh. Berubahlah dirinya menjadi sesosok makhluk berkuku tebal dan panjang. Tubuh dengan bulu coklat memantulkan cahaya lampu. Tubuhnya mirip dengan bebek tapi tanpa sayap. Dialah shifter amphibi, sesosok platypus. "Jika sendok cukup lama maka bagaimana dengan ini," katanya masih dalam tangisan. Berlarilah Nina dengan air mata masih mengalir dan beterbangan di udara. Penjara tempat tinggal Arsada dia masuki. Meskipun sempat terjatuh tapi Nina terus bangkit dan berlari. Bongkahan es telah berada di depannya. Tusukan demi tusukan dia lancarkan. Tapi es yang dia pukul hanya sedikit yang terkelupas. "Naga elemental, keluarlah!" teriaknya masih dalam tangisan. Tusukan demi tusukan masih tetap dia lakukan.
Air mata yang ada di pipi Angelia dihapus. Angelia bangkit lagi. "Jika Nina yang bukan siapa-siapa sangat peduli terhadap Arsada maka aku harus lebih peduli. Selama ini aku yang paling mengerti tentang Arsada. Akulah saudarinya!" teriak Angelia sambil tubuhnya berubah menjadi fairy bertangan empat dan bersayap enam. Kunci yang tertancap dia ambil. Dari atas dia menggosokan es beku tersebut.
"Teman-teman, ayo kita berpencar untuk mencari benda tajam lainnya," ajak Rosmina. Segera mereka bertiga menyebar untuk mencari benda yang mereka inginkan.